
Marsha dan Runa sedang asik berjalan-jalan menyusuri sekolah barunya. Namun yang paling utama, mereka mencari keberadaan kantin.
"Ih.. ini kantinnya dimana sih? dari tadi kita putar-putar tapi nggak nemu juga.." gerutu Marsha.
"Sabar Sha.. namanya juga lagi nyari. Tadi sih aku suruh kamu tanya ke Kak Yogi, tapi kamu bilang malu nanya, padahalkan cuman tanya kantin dimana.." seru Runa. Marsha hanya bisa merutuki kebodohannya.
"Dasar jelek lo!! miskin lagi!!" Tiba-tiba Marsha mendengar seseorang berkata dengan bahasa yang kasar.
"Runa, kamu dengar nggak?" tanya Marsha.
"iya.. aku denger ada yang marah-marah gitu tadi." jawab Runa.
"Kita lihat yuk!!" ajak Marsha.
"Aah.. Nggak usah lah Sha.. yang ada nanti kita ikut terlibat tahu!!" tolak Runa.
"Kalau gitu aku aja yang ke sana. Kamu siap-siap rekam ya. Mana tahuan kita bisa buat suatu bukti." kata Marsha. Gadis itu melangkah kan kakinya lebih cepat.
"Marsha jangan!!" larang Runa tapi Marsha tidak mendengar dan meneruskan langkahnya. Runa yang tidak bisa apa-apa memilih untuk bersembunyi, tak lupa dengan ponsel yang siap merekam.
"Eh ini ada apa sih??" tanya Marsha ramah.
"Lo ngapain kesini?? Nggak ada urusan nya sama lo!! Sana pergi!! Nggak usah ikut campur." usir seorang gadis centil yang Marsha lihat di lapangan tadi.
"Emang nggak ada urusannya sama gue. Cuman.. nggak enak didengar aja tadi, kalau lo kayaknya marah-marah gitu."
"Gue bilang bukan urusan lo!! lebih baik lo pergi sebelum nasib lo kayak anak ini!!" ucap gadis itu penuh penekanan dan menunjuk pada gadis berkacamata yang menunduk takut. Nampak penampilannya juga sudah acak-acakan, sepertinya gadis centil itu sudah melakukan sesuatu kepada gadis berkacamata. Marsha yang melihat itu tersenyum sinis, lalu duduk santai di kursi usang yang masih bisa dipakai.
"Hei.. Lo yang berkacamata!! lo di bully ya sama dia?" tanya Marsha. sedangkan gadis berkacamata itu malah tambah membenamkan kepalanya.
"Hei.. Gue nanya sama lo!! lo dengar kan?? setidaknya lo jawab gue dengan ngangguk atau geleng gitu!! Lo di bully kan sama dia??" tanya Marsha lagi. Gadis berkacamata itupun mengangguk.
"Ya elah.. Ternyata masih zaman bully-bully_an. Yang bener aja!!" ucap Marsha.
"Eh lo!! Lebih baik sekarang juga lo pergi sebelum gue buat lo kayak anak ini!!" sahut gadis centil itu.
__ADS_1
"Hey centil.. santai dikit dong!! kenapa emosian amat sih?! Kalau lo begini hidup lo bakal kacau di tangan gue!!" ancam Marsha.
"Yang ada hidup lo bakal kacau kalau lo ganggu kesenangan gue. Gue bilang pergi dari sini!!." usir gadis centil itu lagi.
"Kalau gue enggak mau gimana?! "kata Marsha. Ucapan Marsha membuat gadis centil itu marah.
Dengan tiba-tiba gadis centil itu menghampiri Marsha, lengannya melayang akan menampar Marsha. Tapi sayang Marsha lebih gesit dan bisa menghindari serangan tiba-tiba dari gadis itu.
"Shit..!!" umpat gadis centil itu. Ia kembali berusaha untuk menyerang Marsha, namun usahanya tetap sia-sia karena Marsha mencengkram lengannya.
" Ayolah jangan bermain kasar. Kita bisa membicarakannya dengan kepala dingin." ucap Marsha masih santai. Sikap santai Marsha membuat gadis centil itu tambah kesal.
"Oh ya.. btw nama gue Marsha." Marsha memperkenalkan dirinya, ia juga merubah cengkraman pada lengan gadis itu menjadi berjabatan.
"Nggak usah ya lo pegang-pegang tangan gue!!" ucap gadis centil itu menarik lengannya dengan kasar.
"Dengar ya.. urusan kita belum selesai!!" kata gadis centil itu kepada si gadis berkacamata. gadis centil itu langsung melangkahkan kakinya untuk pergi.
"Nama lo Sisi kan? oh ya.. lo nggak bisa langsung pergi gitu aja. lebih baik kita selesaikan masalahnya sekarang juga!! "seru Marsha membuat langkah gadis centil itu terhenti.
"Tembok bisa jadi mata dan telinga gue." Jawab Marsha asal. Padahal, ia mengetahui nama si centil itu saat ia tak sengaja mendengar pembicaraannya dengan si senior nyebelin alias Raditya Dwika.
"Udah lah.. Nggak penting lo tanya gue dimana gue tahu nama lo. Yang jelas gue bisa aja laporin perilaku lo ke guru atau senior nanti kalau lo ngebully orang. lo harus ingat.. kita itu masih berada di masa PLS. Kalau nanti gue bilang sama orang-orang, belum sah lo jadi murid disini lo bakal langsung ditendang" jelas Marsha dengan sedikit ancaman. Si centil yang bernama Sisi itu tersenyum sinis.
"Emang lo punya bukti apa? mau lo laporin gue ke guru atau senior, gue nggak takut!! lo aja nggak punya bukti apapun!!" kata Sisi dengan sombongnya.
"Gue punya bukti kok. Tunggu bentar.." Marsha mengeluarkan ponsel disaku rok nya.
Runa.. kamu jadi rekam video kan?? kirim ke aku ya..- Marsha langsung mengirim pesan pada Runa. Tak lama setelah itu, yang diinginkan Marsha langsung terkirim ke ponselnya.
"Nih.. lihat deh.." Marsha dengan percaya diri memperlihatkan layar ponselnya pada si Sisi itu. Seketika mata Sisi bulat tak percaya.
Kapan dia rekam video nya..??- batin Sisi.
"Gimana? Apa masih kurang? Apa masih butuh bukti lagi?" tanya Marsha, melipat kedua tangannya didepan dada. Tampak jika Sisi salah tingkah.
__ADS_1
"Seperti yang gue bilang tadi. Kita selesaikan masalah ini sekarang juga. Kenapa lo marah-marah sama si Kacamata tadi?" tanya Marsha.
"mm.. itu karena.." Sisi ragu untuk menjawab.
"Karena apa?" tanya Marsha tak sabaran.
"Karena dia malakin aku.. Karena aku gak ngasih, dia bully aku.." Si kacamata yang menyahut.
"What? Malak? Yang bener aja!!" ucap Marsha tak percaya. Karena diambang malu, Sisi hanya bisa menunduk atau mengindari tatap mata dengan Marsha.
"Ya ampun Sisi.. Gue lihat-lihat lo lebih mampu dari si kacamata, lo juga cantik. Masa lo malak orang sih!! Kenapa lo malak dia??" tanya Marsha, tapi Sisi lebih memilih diam.
"Ok.. gue anggap masalah ini selesai. Untuk menjadi orang yang baik, lo minta maaf ke si kacamata gih.." suruh Marsha pada Sisi. Namun Sisi diam tak bergerak.
"Eh.. Sorry. Nama lo siapa?" tanya Marsha pada gadis berkacamata itu.
"Funny.." jawab gadis itu.
"Funny? nama yang unik." seru Marsha dengan senyum ramahnya.
"Sisi.. cepat minta maaf sama Funny. kalau enggak gue sebar video tadi." ancam Marsha.
"Ok!! Gue minta maaf. Udah kan!!" Sisi terpaksa.
"Lo nggak pernah diajarin minta maaf yang baik ya? Masa minta maaf kayak gitu. Minta maaf lagi, dengan lebih baik!!" paksa Marsha. Sisi berdecak kesal
"Iya deh..Gue minta maaf Funny.." kata Sisi meskipun masih terdengar terpaksa.
"Ok. Gimana Funny? Lo maafin dia?" tanya Marsha. Funny mengangguk sebagai jawaban, ia juga tersenyum senang.
"Ok.. Gue anggap ini selesai. Dan ingat Sisi.. video tadi nggak bakal gue hapus. Sewaktu-waktu bisa aja gue sebarin, kalau lo masih ngebully orang. Ingat itu!!" kata Marsha lalu ia berlenggang pergi dengan menarik Funny dari hadapan Sisi.
TBC...
Jangan lupa Vomentnya.. juga follow nya..😊
__ADS_1
Ig: @fasya1616