Marsha

Marsha
17. Radit sialan 1


__ADS_3

"Udah berkalai-kali gue berusaha hubungi bokap gue, tapi nggak ada satupun yang diangkat." Gerutu Frans.


"Yah.. gimana mau cari kebenarannya dong.." Keluh Marsha.


"Kenapa kak Frans nggak tanya ke sekretarisnya gitu?" Tanya Marsha.


"Udah Sha.. tapi tetep aja, tu sekertaris bilang tuan sedang sibuk. Bahkan udah beberapa hari ini bokap gue nggak pulang kerumah." Jelas Frans.


"Sebegitu sibuknya ya.. pak Burhan." Seru Marsha.


"Oh ya kak.. gimana kalau kita langsung cari tahu keruangan papanya kakak aja, tanpa harus bertemu atau mengganggu nya? Foto itu kan ada diruangannya pak Burhan, jadi kita langsung lihat aja kesana." Marsha berpendapat.


"Iya juga ya. Gimana kalau besok kita pergi kesana. Besok kan hari minggu."


"Ok." Jawab Marsha semangat.


"Mau kemana kalian?" Tanya seseorang yang sangat-sangat tidak ingin Marsha lihat batang hidungnya. Siapa lagi kalau bukan Radit.


"Bukan urusan lo!!" Frans yang menjawab.


"Ini jadi urusan gue." Seru Radit tak terima.


"Hello.. emang lo siapa mencampuri urusan gue? Bokap gue bukan, abang gue juga bukan, temen aja kagak!!" Kata Marsha.


"Gue teman kakak lo!! Jadi.. gue bisa aja turun tangan mencampuri urusan lo." Seru Radit.


"Dengar yah Raditya Dwika.. gue bahkan nggak mau punya kakak. Apalagi kakak macam elo!! Kita cabut aja yuk kak Frans." Ajak Marsha. Frans hanya menuruti Masha, karena pria itu juga berasa terganggu dengan kehadiran Radit.


Radit hanya menatap kepergian Marsha bersama Frans sambil tersenyum sinis. Jelas jika ia merencanakan sesuatu.


***


Keesokan paginya Marsha sudah bersiap untuk pergi. Seperti perjanjiannya bersama Frans sebelumnya.


"Marsha!!" Panggil sang kakak, Meysha. Marsha pun menghentikan langkahnya dan menatap sang kakak.


"Apa??" Tanya Marsha dengan ekspresi malas.


"Lo mau ke mana?" Tanya Meysha.


"Mau pergi. Ada urusan bentar.." jawab Marsha seadanya.


"Lo janjian sama kak Frans?" Tanya Meysha. Marsha tersenyum kecut, ia tahu siapa yang memberitahu rencananya kepada sang kakak.


"Si Radit ngadu ya?" Tebak Marsha.


"Lo nggak perlu menyalahkan orang lain. Lo nggak boleh pergi kemana-mana!!" Larang Meysha.


"Gak bisa gitu dong kak!! Gue udah janji sama kak Frans dari kemarin. Lagian kan hari ini lo pergi pemotretan, ya udah pergi aja.. nggak perlu larang-larang gue kayak gini." Protes Marsha.


"Ada apa sih nih ribut-ribut?" Tanya Laura, sang ibu yang baru keluar dari kamarnya.


"Ini loh ma, Marsha mau pergi. Marsha udah janjian sama orang, tapi kak Meysha nggak bolehin Marsha buat pergi." Adu marsha.


"Ma.. si Marsha itu pergi sama cowok, yaitu kak Frans. Pasti mereka bakal pacaran. Makanya Meysha larang." Meysha membela diri.


"Nggak ma.. Marsha nggak pacaran kok. Marsha pergi itu mau bantu kak Frans cari adiknya." Marsha juga membela diri.

__ADS_1


"Lagian kak Meysha juga pacaran. Mau aku pacaran atau enggak, kenapa kakak yang sewot?" Seru Marsha.


"Sudahlah Marsha. Kamu ini dengar saja perkataan kakak kamu, itu juga demi kebaikan kamu sendiri." Seru mama Laura yang malah mendukung Meysha.


"Nggak bisa gitu dong mah!! Marsha udah janjian." Protes Marsha.


"Sehari aja kamu gak ngelawan bisa nggak sih!! Udah kamu di rumah aja jangan ke mana-mana!!" Seru mama Laura.


"Permisi.." satu seorang di luar rumah. Meysha pun membukakan pintu dan membawa orang itu masuk.


"Radit!! Lo ngapain di sini?" Tanya Marsha heran.


"Dia bakal jagain lo saat gue pergi. Dan lo nggak bisa kemana-mana." Serum Meysha.


"Nggak bisa gitu dong kak!! Gue nggak mau dia disini!! Ok.. gue nggak bakal pergi kamanapun, tapi plis.. gue nggak mau lihat orang ini." Kata Marsha.


"Nggak!! Gue nggak percaya sama lo." Kata Meysha.


"Ayo mah kita pergi.." ajak Meysha. Laura mengangguk setuju.


"Dit.. gue tititp Marsha ya.. jangan sampai dia kabur." Pesan Meysha sebelum ia memasuki mobil yang dikendarai oleh ibunya.


"Sip Buk bos.." seru Radit. Mobil Meysha pun pergi.


Dirumah hanya tinggal Radit bersama Marsha yang menatap tajam padanya.


"RADIT SIALAAAANNN!!" Teriak Marsha sambil memukuli pundak Radit. Marsha memukuli Radit dengan seluruh kekuatannya. Namun, bagi Radit itu tidak seberapa. Dengan mudahnya Radit mencengkram kedua lengan Marsha.


"LEPASIN!!" Teriak Marsha berusaha melepas lengannya dari Radit.


"Nggak!! Sekarang lo ikut gue!!" Ucap Radit terdengar datar. Marsha tentunya memberontak, tapi tidak membuahkan hasil.


"RADIT.. BUKA!! BUKA PINTUNYA ****!!" Teriak Marsha menggedor-gedor pintu kamarnya itu.


"Nggak bakal!! Lo denger kan kata kakak lo si Meysha. Gue nggak bakal biarin elo keluar rumah." Seru Radit.


"Gue nggak bakal pergi kok. Sumpah!! Plis bukain.." ucap Marsha yang berusaha meredam emosinya dengan mengubah intonasi bicaranya.


"Nggak!! Gue nggak percaya sama lo." Kata Radit.


"Tapi gue belum sarapan. Bukain pintunya dong.. gue mau makan.." seru Marsha.


"Nggak bakalan gue bukain!! Lo pasti bohong. Masa mau pergi sama si Frans lo nggak makan dulu." Kata Radit tidak percaya.


"Ya.. karena gue berencana makan diluar. Dit.. bukain dong.." Marsha terus berusaha.


"Gue bilang enggak ya enggak. Gue bakal buka pintunya kalau kakak lo udah pulang."


"Lah.. kak Meysha pulangnya malam.. masa gue nggak makan sampe malam.." Marsha mengeluh.


"Bodo amat!!" Ucap Radit dan pergi keruang tengah.


"SIALAN LO RADIT!! AWAS AJA LO. GUE BAKAL BALAS PERBUATAN LO!!" Teriak Marsha lagi. Gadis itu kembali menggedor pintu, memukuli pintu dan menendangnya. Sungguh malang, padahal pintu tidak bersalah.


Bukannya mendengar perkataan Marsha, Radit malah berjalan kearah dapur. Membuka satu persatu lemari, berharap menemukan cemilan disana.


"Gila.. rumah segede gini nggak ada makanannya." Gerutu Radit berkacak pinggang. Pria itu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Meysha.

__ADS_1


"Halo Dit.. ada apa?" Tanya Meysha di sebrang sana.


"Gue laper nih.. gue juga belum sarapan lagi. Dirumah lo nggak cemilan apa?" Gerutu Radti mengatakan unek-uneknya.


"Ada kok.. lo cari aja. Gue rasa di kulkas banyak cemilan.." jawab Meysha.


"Ck.. ya udah gue cari lagi. Kalau nggak ada lo kirim gue makanan ya.." kata Radit sambil mencari makanan lagi dan membuka kulkas.


"Kirimin pake apa dodol!! Kenapa nggak lo aja yang beli sendiri.." jawab Meysha.


"Delivery lah Mey.. lagian kalau gue pergi ninggalin si Marsha dirumah, emang lo mau kalau dia kabur nanti??"


"Ya udah lo pesan aja.."


"Lo yang bayar kan?"


"Dasar lo!! Jadi cowok mintanya dibayarin mulu.."


"Ya.. gue kayak gini juga demi lo. Kan elo yang minta gue buat jagain si Marsha."


"Itu juga ide lo sendiri kan.."


"Hehe.. iya sih, tapi lo yang bayarin kan?"


"Iya bawel."


"Ok deh kalau gitu. Makasih ya Mey.." Radit pun mengakhiri telponnya.


***


"Sialan!! Ni jendela pake tiang-tiang kayak gini lagi!! Kan jadi nggak bisa kabur gue.." gerutu Marsha memukul pelan tiang-tiang penyangga di jendela kamarnya. Gadis itu merasa lelah, usahanya tak berujung hasil. Ia pun memilih untuk menghubungi Frans.


"Halo kak.."


"Lo di mana Sha? Gue udah nungguin elo dari tadi.." tanya Frans.


"Maaf kak.. kayaknya kita nggak jadi pergi deh.." kata Marsha.


"Loh.. kok gitu?? Lo kan mau bantu gue nyari adek gue.."


"Iya.. tapi aku ada masalah sekarang.."


"Masalah apaan?"


"Kak Meysha nggak ngebolehin aku pergi. Dia suruh si Radit buat jaga aku dirumah. Sekarang aku juga kekurung dikamar." Jelas Marsha.


"Ya udah gue kesana sekarang. Biar gue hajar juga tu si Radit."


"Jangan deh kak.. kalau kakak kesini terus berantem sama si Radit, yang ada aku bakal kena imbasnya." Larang Marsha.


"Ya udah deh.. kalau itu mau lo.."


"Maaf ya kak. Besok pulang sekolah aja ya.. kita pergi." Kata Marsha tak enak hati.


"Iya nggak apa-apa." Telpon pun terputus. Marsha hanya bisa memaki Radit dalam hati.


Tbc..

__ADS_1


Jangan lupa vomentnya..


Ig: @fasya1616


__ADS_2