Marsha

Marsha
11. Di panggil keruang kepsek??


__ADS_3

Part 11


"Marsha..??" Panggil sang kakak.


"Kenapa kak?" Tanya Marsha yang sibuk menonton film favoritnya, Minions.


"Lo buat keributan ya tadi disekolah?" Tanya Meysha.


"Keributan apa emang?" Tanya Marsha balik tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV.


"Lo bua masalah sama Kak Frans kan tadi?"


"Oh.. yang itu. Gue ngerasa gak ada masalah sama dia, dia nya aja yang ganggu gue sama temen-temen gue. Ya.. gue nggak terima dan bales dia.." jelas Marsha masih dengan posisi yang sama.


"Lo sadar tahu nggak sih? Bokapnya Kak Frans itu pemilik sekolah!! Gimana kalau lo dikeluarkan dari sekolah nanti?!" Lo mau?"


"Santai aja kali.. otak gue encer.. bakal ada aja nanti sekolah yang bakal terima gue jadi muridnya."seru Marsha dengan santai.


"Kalau nama lo di blacklist gimana? Lo mau apa hah?!"


"Ya udah.. gue tinggal cari kerja aja. Jadi pelayan restoran juga lumayan gajinya." Marsha masih santai, membuat Meysha kesal dibuatnya.


"Kalau lo dapat masalah, jangan lo bawa-bawa gue!!" Ucap Meysha.


"Emang setiap gue ada masalah lo ikut campur? Enggak kan!! Udahlah.. gue bisa mengatasi semua masalah yang gue buat. Lagian kalau gue nggak bisa menyelesaikan masalah itu, Runa dengan lapang dada bakal bantu gue.." seru Marsha.


Meysha hanya menganggap perkataan Marsha sebagai angin lalu saja. Meysha pun pergi ke kamarnya.


***


Marsha menjalankan paginya seperti biasanya. Memasuki kelas dengan tenangnya. Namun, tampak beberapa mata meliriknya dan menatap nya aneh. Ia berusaha acuh saja, tapi lama-kelamaan ia jadi jengah. Disaat waktu istirahat ia pun mencurahkan kekesalannya.


"Heh!! Kalian semua ada apa sih hah?? ngeliatin gue kayak gitu??" tanya Marsha dengan kesal.


"Hehe.. nggak apa-apa kok Sha.." gadis bernama Sekar cengengesan.


"Iya Sha.. nggak ada apa-apa kok. Kita cuman membicarakan masalah kemarin, lo kelihatan keren banget. Nggak pernah ada yang berani lawan Kak Frans bahkan guru dan kepala sekolah sekalipun.." sahut pria kurus yang berada di sebelah Sekar, pria berkacamata bernama Bima.


"Iya.. kemarin gue juga menyaksikan kejadian itu. Lo keren banget sumpah!! melintir tangan Kak Frans, menjambak rambutnya, siram dia pake kuah bakso, terus minta dia beliin seragam buat Sisi, terus yang paling berkesan di gue itu ya.. pas lo maksa Kak Frans bayar belanjaan lo di kantin dan ngan cam dia kalu dia nggak bayarin!! Sumpah gue takjub banget!! Hahaha.." seru gadis bernama Yuri dengan antusias.


"Oh karena kejadian kemarin, gue pikir kalian gibahin gue yang nggak baik." seru Marsha mula mereda rasa kesalnya.


"Tapi Sha, kalau lo berurusan sama bokapnya gimana?? Lo bisa aja langsung di keluarin dari sekolah ini!!" sahut pria lain bernama Gerry.


"Ya.. gue juga nggak tahu. Cuman nggak usah dikawatirkan juga. Lagian otak gue lumayan encer, gue bisa aja sekolah di sekolah lain." ucap Marsha santai seperti biasa.


Runa, sebagai sahabat lama sebenarnya merasa khawatir juga kalau-kalau Marsha memang akan berurusan dengan orang tua dari senior nya, Frans. Bagaimana jika Marsha memang akan dikeluarkan dari sekolah? Bagaimana reaksi orang tua Marsha nanti? Satu yang pasti, Runa akan tetap berada disamping Marsha apapun kondisinya.


Tiba-tiba orang yang tidak ingin ditemui Marsha malah menghampiri gadis itu, yang membuat mood nya kembali turun.


"Kak Radit...!!" Seru Sisi antusias. Gadis itu juga langsung menghampiri Radit dan menggandeng tangannya.


"Kak Radit tumben kesini? Cari Sisi ya?" Tanya Sisi dengan percaya dirinya dan gadis itu juga menyandarkan kepalanya di bahu Radit.


"Idih.. najis. Gue kesini mau cari Marsha bukan elo!! Lepasin ih!!" Seru Radit terus berusaha melepas lengannya dari Sisi. Namun, rasanya Sisi begitu kuat menggandeng lengan pria itu.


"Sisi lapasin ih!!"

__ADS_1


"Nggak mau..!!" Ucap Sisi makin mempererat gandengannya.


" Terserah lo dah!! Marsha!!" Panggil Radit.


"Ck.. lo bisa nggak sih sehari aja nggak muncul didepan gue untuk menganggu ketenangan hidup gue hah!!" ucap Marsha berdecak kesal.


"Yeee..GR banget!! Heh.. Gue kesini cuman mau kasih tahu elo kalau lo dipanggil pak kepsek." ucap Radit memberi tahu tujuannya datang ke kelas Marsha. Sedangkan gadis itu hanya memutar mata malas, sebenarnya ia merasa malu. Hanya saja ia tidak mau memperlihatkan pada orang lain apalagi pria didepannya itu.


"Kalian duluan aja. Nanti gue nyusul.." pamit Marsha langsung pergi diikuti Radit dibelakangnya yang sudah terlepas dari Sisi.


"Iiisshh.. Kak Radit mah gitu mulu deh..!!" Sisi menggerutu kesal.


"Apa Marsha bakal baik-baik aja ya nanti??" gumam Runa khawatir.


"Nggak usah khawatir lah Run.. lo tahu kan sifat sahabat lo kayak gimana!!" sahut Sisi.


"Kalu gitu kita ke kantin aja yuk.. Marsha bilang nanti bakal nyusul kan?!" seru Funny. Mau tak mau Runa hanya bisa ikut dengan Funny juga Sisi.


***


Marsha mengetuk pintu ruangan kepala sekolah. "Masuk..!!" sahut orang yang ada didalam ruangan itu. Marsha pun masuk dan masih diikuti Radit.


"Lo ngapain ikutan masuk?" Tanya Marsha yang benar-benar jengah melihat tampang Radit.


"Terserah gue dong!!" Jawab Radit yang langsung masuk keruangan itu meninggalkan Marsha yang menggerutu.


"Ish.. nyebelin banget sih jadi orang!!" gumam Marsha. Gadis itupun ikut masuk kedalam.


Dalam ruangan itu, Marsha dapat melihat beberapa orang yang ia sudah tahu pasti siapa. Ada pak kepsek tentunya, senior nya yaitu Frans dan Radit yang sudah duduk santai, juga dengan seorang pria paruh baya dengan gaya modis memakai jas mewah yang bernama Burhan. Tentu saja Marsha tahu, karena nama pria itu selalu ada dihalaman depan majalah perbisnisan.


"Jadi.. ada apa bapak panggil saya kesini?" Tanya Marsha basa-basi. Padahal sebenarnya ia ingin to the point saja, karena ia ingin segera ke kantin menyusul teman-temannya.


"Oh.. pasti karena kejadian kemarin kan." Marsha pun mengalihkan pandangannya pada pria berjas mewah itu.


"Saya tahu. Bapak pasti orang tua nya Kak Frans. Bapak mau hukum saya, akan saya terima, bapak ingin mengeluarkan saya its ok.. tapi yang jelas, dalam posisi ini saya tidak bersalah, justru anak bapak yang bersalah karena dengan seenaknya menginjak-injak orang lemah, dengan seenaknya melakukan apapun sesuai keinginan nya padahal sangat merugikan. Saya tidak habis pikir, anak bapak ini ntah emang tidak bisa diajari atau mungkin bapak sendiri yang tidak bisa mengajari hal-hal baik pada putra bapak. Maaf bukan saya menghina bapak. Saya hanya menyampaikan yang saya perlu sampai kan. Munkin banyak orang disekolah ini yang sudah dirugikan oleh anak bapak, tapi mereka takut untuk bersuara. Jadi saya hanya mewakili mereka.. dan satu lagi!! Menurut saya anak bapak begitu lemah dan ia hanya merasa kuat karena harta milik bapak, bahkan untuk melawan saya yang memiliki tubuh kecil seperti ini ia tidak mampu dan malah memohon ampun!!" Marsha sedikit tertawa mengingat kejadian kemarin. Perkataan Marsha membuat Radir, pak kepsek dan Frans terperangah. Marsha benar-benar berani mengatakan semua itu pada pemilik sekolah.


Burhan nampak tidak marah, bahkan pria itu malah tersenyum pada Marsha.


"Kamu memang benar nak.." Burhan mulai bersuara. Radit, pak kepsek dan Frans kembali menganga tak percaya.


"Maksud bapak?" Tanya pak kepsek.


"Ya.. gadis ini memang benar. Putra saya Frans ini memang bangga akan harta yang saya miliki. Dan dia memang lemah, karena dia pikir harta bisa menyelamatkan segalanya, padahal tidak. Dan gadis ini juga benar, saya salah dalam mendidik Frans. Saya juga kehabisan akal untuk merubah sifat Frans. Saya sangat berterimakasih pada kamu nak Marsha. Karena kamu membuat saya datang kemari dan mengetahui semua yang dilakukan Frans selama ini." seru pria itu tersenyum kearah Marsha.


"Pa..?? papa kok malah belain dia?? Harusnya papa belain aku dong!! Tuntut dia karena buat tangan aku hampir patah!!" Frans protes.


"Diam kamu Frans!! Mulai detik ini papa akan menarik semua fasilitas mewah yang kamu miliki, termasuk memotong uang jajan kamu" ucap Burhan datar.


"Nggak bisa dong pa!! Kalau papa tarik semua fasilitasku nanti, aku pakai apa kesekolah!! Masa jalan kaki?! Dan aku nggak terima papa potong uang jajan aku!!" Frans tambah protes.


"Seharusnya kamu sadar diri!! Yang cari uang siapa?! Yang memberikan kamu fasilitas siapa?! Dan papa berhak mengambil semua itu kalau-kalau kamu melakukan yang tidak sesuai dengan ap yang papa harapkan!! Jika kamu proses lagi.. jangan harap papa kasih kamu uang jajan sepeserpun. Kalau kamu mau ngadu pada ibumu.. silahkan saja!! Bahkan dia tidak bisa melakaukan apapun sekarang!!" Ucap Burhan. Frans pun diam dari pada ia tidak diberi uang jajan sedikit pun.


"Baik lah Marsha. Untuk permintaan maaf saya pada kamu. Kamu boleh meminta apapun yang kamu mau.." ucap Burhan tersenyum membuat mata Marsha berbinar mendengar kata 'Kamu boleh meminta apapun yang kamu mau..'.


"Beneran pak??" Tanya Marsha antusias.


"Tentu.." jawab Burhan.

__ADS_1


"Baik.. karena anak bapak ini sangat merugikan saya dan teman-teman saya. Saya akan meminta ganti rugi sebesar-besarnya. Yang pertama bapak harus bayarin makanan saya yang kemarin, saya memang sudah meminta Kak Frans membayar nya tapi saya yakin Kak Frans belum bayar. Yang kedua saya ingin bapak membiayai makan saya dengan teman-teman saya di restoran mewah dengan fasilitas VIP. Yang ketiga karena kemarin Kak Frans menjambak rambut teman saya sampai rontok, saya ingin bapak juga membiayai saya dan teman-teman saya kesalon dengan fasilitas VIP juga. Dan yang terakhir.." Marsha terhenti dan berpikir.


"Dan yang terakhir saya ingin bapak membiayai saya untuk membeli beberapa sembako yang akan saya bagikan pada orang-orang yang membutuhkan. Dan itu selama satu Minggu berturut-turut." Kata Marsha tersenyum senang.


"Kamu ini memiliki sifat keibuan dan kemanusiaan yang besar ya.." ucap Burhan.


"Jangan bilang kalau saya punya sifat keibuan, bapak bakal jadiin saya istri bapak!!" Seru Marsha tertawa kecil.


"Haha.. kamu ini ada-ada saja. Saya bukan pedofil. Lagian saya masih mencintai istri saya.." Burhan tertawa. Menurutnya gadis itu memang benar-benar memiliki sifat baik, bijak adil dan keibuan.


"Jadi gimana pak? Bapak bakal memenuhi semua yang saya mau??" Tanya Marsha.


"Tentu saja. Apa yang kamu minta itu tidak akan menghabiskan harta saya." Jawab Burhan dengan dagu terangkat.


"Idih sombong amat!! Kalau gitu saya tambah aja jadi dua Minggu" Marsha ikut menantang.


"Sebulan pun tidak masalah.." seru Burhan.


"Beneran pak? Serius??" Burhan mengangguk.


"Kalau gitu sebulan aja. Kan enak makan di restoran mewah selama sebulan dengan fasilitas VIP pula.." seru Marsha dengan senang.


"Tapi.. apa jaminan nya pak. Kalau bapak bohong gimana?!" Tanya Marsha.


"Nih.. pakai kartu kredit milik saya. Kamu boleh memakai ini kapanpun dimanapun sesukamu.." Burhan memberikan dua buah kartu kredit pada Marsha.


"Beneran ini pak?? Nggak ada maksud terselubung kan?" Marsha memastikan.


"Tidaklah Marsha. Saya serius. Nih ambil.." Burhan menyodorkan dua buah kartu kredit.


"Kalau gitu saya ambil satu aja deh pak. Nanti kalau misalnya ada orang minta-minta pajak atau apapun itu yang merugikan saya. Saya bakal tuntut bapak ya.." kata Marsha.


"Iya.." jawab Burhan.


"Kalau gitu saya anggap masalah ini selesai. Saya boleh pamit kan pak kepsek?? Teman saya pasti nunggu lama di kantin.."


"Ya.. boleh. Kamu beh pergi sekarang." Burhan yang menjawab.


"Kalau gitu saya pamit pak.. permisi.." Marsha berdiri dari duduknya. Entah kenapa Marsha juga menarik lengan Radit agar ikut keluar dengannya.


"Lo kenapa narik-narik gue hah? Lo nggak bisa jauh dari gue ya..??" Radit menggoda gadis itu.


"Heh.. gue sengaja narik lo biar ikut keluar dari sana!! Emang lo mau duduk diam nggak jelas aja disana?! Ya udah sana gih.. masuk lagi kesana!!" Marsha mendorong-dorong Radit agar masuk lagi.


"Hehe enggak deh. Bener juga sih kata lo. Ngapain juga gue duduk didalam kan.. tapi gue bisa ikutan dong makan di restoran mewah bareng elo. Lo juga dibayarin pak Burhan kan.."


"Huu.. enak aja. Ini khusus untuk gue dan temen-temen gue. Lo nggak termasuk!!" Seru Marsha tak mau.


"Ya elah.. bawa gue lah sekali dua kali. Lagian lo kan dikasih waktu sebulan.!" Radit tetap memaksa.


"Lagian tiap gue pergi kan pasti ada Sisi. Emang lo mau ditempelin terus sama si Sisi?" Tanya Marsha.


"Ya nggak apa-apa. Yang penting gue bisa ikut makan mewah gratis. Dan gue.. bisa lihat elo.." goda Radit dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Iiiii.. jijik!!" kata Marsha yang langsung berlari kecil. Radit hanya tertawa melihat respon Marsha dan mengikuti Marsha dengan berjalan santai.


Tbc..

__ADS_1


Jangan lupa Vote, Like juga Follow..😁


Ig: @fasya1616


__ADS_2