
Saat Hilda melangkah untuk keluar,aku mengehentikannya.
"Tunggu"
"Kenapa?"Tanya nya dengan wajah bingung.
"Aku ganti baju dulu,kalo kamu dandanan seperti ini,masa aku pake jas dan kemeja gini,gak serasi nanti orang mengira aku om mu lagi"
Hilda terkekeh mendengar ucapanku.Aku menuntunnya masuk ke kamar untuk menungguku,namun seketika ia menolak.
"Aku tunggu disini aja ya"
"Kenapa?" bertanya dengan raut dahi mengerut.
"Ya..kamu kan mau ganti baju,masa aku harus ikut"
"Memangnya kenapa? bukan nya kita suami istri ya boleh boleh aja kamu liat aku ganti baju,siapa tau kamu tergoda"
Godaku dengan menaik turunkan alis.Dia tersipu dengan cepat ia buang muka.
"Sudah lah Dian,kamu ganti baju sana,katanya mau pigi"
"Iya sabar sabar,bentar ya?"
"Iya"
Setelah selesai,kupandangi penampilan ku di cermin besar sudut kamar.Dalaman kaos putih,jaket hitam,celana jens warna senada dengan sepatu hitam.
Aku memang suka warna hitam,kebetulan sekali dengan warna kulitku putih,jadi terlihat bagus.Menurutku
"Tidak terlalu buruk"gumamku.
Penampilanku sederhana tak harus berdandan berlebihan karna aku nyaman nya memang seperti ini.
"Ayo"Ajakku kepada Hilda,terlihat ia terlihat diam saja dan memandangiku dari atas sampai bawah.
"Kenapa?"
"Ng...nggak gak ada"
"Ayo kita pergi"
"Aaa...iya"
Sambil berjalan menuju mobil,aku terus menggeng gam tangannya rasanya tak ingin lepas.
Begitupun di mobil aku terus meng genggam erat tangannya,kulihat ia hanya tersipu sesekali curi pandang padaku.
"Kenapa? apa aku terlihat buruk?"
"Tidak,kamu terlihat berbeda,biasa pake kaos tambah celana panjang,kalo gak kemeja sama jas.Ternyata kalo berpenampilan begini,terlihat bagus"
"Gak bilang tampan nih?"Memperjelas ucapannya.Ia lagi lagi tersipu.
"Kamu juga terlihat cantik malam ini,biasa pakai gamis tau taunya dandanan nya seperti anak remaja saja"
Sampai di sebuah Caffe,kamipun turun dan masuk kedalam,lalu memesan makanan.Caffe ini di rekomdasi untuk anak anak remaja.Terlihat nuansanya banyak ruang untuk selfi dan anak band yang selalu menyanyikan lagu percintaan riquest para pengunjung.
"Hil,aku ketoilet bentar ya"
"Iya,jangan lama lama ya?"
Aku pun tersenyum lalu pergi ke toilet,sepulang dari toilet ku lihat pemandangan yang membuat aku seketika marah lalu menghampiri kemeja yang kami tempati.
__ADS_1
Kulihat ada seseorang yang duduk di tempat ku lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya.
"Hhmmm"
Kulihat Hilda seprti takut dan menunduk.
"Ada apa?"
"Tidak,aku hanya ingin berkenalan dengan nona ini,siapa tau dia mau memberikan nomornya padaku"jawab pria itu.
"Untuk apa?"Tanya ku dengan nada dingin.Seolah melayaninya berbicara.
"Ya...siapa tau kita cocok,kebetulan aku lagi mencari calon istri,masnya mau duduk boleh di kursi lain"Mataku terbuka lebar,mengepalkan tinju yang siap menghantam wajah sok tampannya itu
Kulihat Hilda cukup kaget,seketika melihat kearahku.Ia terlihat berusaha untuk tidak tersenyum,namun saat melihat tanganku dia jadi takut.Mungkin dia tidak ingin menimbulkan keributan.
"Kamu bilang apa tadi,calon istri? apa tidak ada wanita lain lagi selain istri orang hah?"Geramku
"Maksud masnya apa?"
"Dia istriku jangan coba coba merayunya atau kamu akan kuhabisi"Ucapku dengan menunjukkan tinjuku padanya.
"I..iya mas maaf kira tadi belum menikah maaf mas,mbak"Setelah minta maaf dia pun pergi
"Enak saja dia,bosan hidup dia"Upatku sambil duduk.
"Kamu kenapa diam saja?"Tanyaku dengan nada datar.
"Aku..aku gak tau kalau dia ada maksud ya aku diam saja"
Aku menghela nafas pelan.
"Hilda,kamu polos bangat,dia itu suka sama kamu,harusnya kamu bilang kalo kamu sudah punya suami"
"Gini amat kalo makan diluar,kemarin aku sekarang kamu,ada ada aja yang buat mood berantakan"Umpatku lagi.
"Jangan marah lagi Dian,kita makan yuk"Ajaknya
Selesai makan malam,akupun mengajak Hilda pulang,karna hari sudah malam,aku takut besok aku terlambat kerja.
Sampai di kamar aku men dudukkan bokong di sofa ,sambil menikmati angin malam yang masuk dari jendela kamar.
Kulihat Hilda sedang memilih baju untuk kenakan tidur,aku terus memperhatikannya.Setelah dapat,iapun bersiap ke kamar mandi.
"Tunggu"
"Ada apa?"
"Kamu salin baju di kamar mandi?"Tanya ku dengan dahi mengerut.
"I..iya kenapa?"
"Kenapa tidak disini saja"
"Aku...aku malu"
"Kenapa harus malu,kamu kan istriku"
"Bu..bukan begitu,aku belum terbiasa"
Aku bangkit dari sofa lalu mendekat kearahnya.Ku tuntun ia duduk di tepi ranjang.
"Kamu tidak perlu malu,apa aku tidak boleh melihat?"
__ADS_1
Hilda terlihat gelagapan.
"Hilda,aku suamimu,aku berhak melihat.Aku tau kamu tidak terbiasa,tapi sampai kapan? aku lelaki normal.Aku tak tau sampai kapan aku bisa menahannya"
"Aa..Aku aku tidak tau Dian"
"Kenapa,masa halanganmu sudah selesai mengapa tidak memberi tahuku?"
Aku coba beranikan diri,jangan tanya jantungku bagaimana,akupun bingung mengepa bisa pertanyaanku seterbuka ini.
"Aa...aku minta maaf Dian,aku tau aku berdosa karna telah mengabaikan kewajibanku,tapi aku belum siap"Ucapnya gemetar.
"Kenapa,aku tidak akan melukaimu"
Dia diam menunduk tanpa berani menatapku.Menghela nafas berkali kali untuk mengurangi kegugupan.
Berlahan kuraih dagunya dan kuhadapkan wajahnya untuk menatapku,kami saling diam dan berlahan ku daratkan ciuma*n dibibir nya yang terasa dingin.
Untuk beberapa saat kami menikmatinya,kemudian Hilda tersadar dan menjauh lalu berlari ke dalam kamar mandi.
Aku masih tidak percaya apa yang baru saja terjadi.Ini bagitu menyenangkan.Ku usap bibirku pelan,masih terasa nikmatnya apa yang baru saja kami lakukan.Aku senyum senyum sendiri memikirkan keberanianku tadi.
karna ini adalah ciuman pertama bagiku.
POV HILDA
Aku benar benar tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi,nafasku memburu aku tak bisa mengatur nafas dan jantungku lagi.
Berlahan ku elus bibirku,kupandangi wajahku dicermin,merah bak kepiting rebus.Aku tersenyum mengingat kejadian tadi.
Pasalnya ini adalah pertama kali bagiku.
Awalnya aku menikmati,namun aku takut bila Dian mulai meminta haknya,aku merasa berdosa karna tidak memenuhi kewajibanku.Namun sungguh aku benar benar takut.
Malam pertama jauh dari benakku,tak pernah memikirkan bagaimana nanti bila Dian memintanya.
Aku masih mematung di depan cermin,tanpa sadar aku tersenyum sendiri,gegas aku mandi lalu mengganti baju tidur panjangku.
Saat ingin mengambil hijab,yah aku lupa bawa.Memakai yang lama pasti tidak nyaman karna sudah kena keringat.
Jujur untuk saat ini aku juga belum pernah menampakkan rambutku,bukan menutupi namun karna kesibukan.
Kadang aku sudah siap rapi tapi Dian masih tertidur,dan untuk malamnya Dian kadang tidur lebih awal daripada aku.
Karna aku masih asik memantau butik dari rumah.
Untuk saat ini aku berfikir keras,aku harus memakai apa.Melihat handuk yang tergantung,akupun memakainya untuk keluar.
Kulihat Dian sedang sibuk dengan ponselnya,dia begitu gagah,terlihat dari kaosnya yang transparan.Mungkin karna gerah dia melepas jaket nya.
Aku berjalan dari hadapannya menuju lemari hijab dan berlalu ke meja rias.
ku lirik dari pantulan cermin,Dian tetap fokus pada ponselnya,kesempatan untuk memakai hijab.
Saat memasukkan kepalaku sedikit kesulitan,tiba tiba sebuah tangan kekar manahanku.Aku tau itu Dian aku gugup,takut bila ia melepas hijabku.
"Kamu pakai hijab di kamar?"
"Ii..iya"
"Lepaslah,hanya aku di sini"
Berlahan ku lepaskan hijabku dan nampaklah tambutku yang panjang.
__ADS_1
Mohon dukungan nya man teman๐๐