Masa Mudaku

Masa Mudaku
Pertemuan penting


__ADS_3

Pagi ini kami sarapan seperti biasa,berbincang masalah pekerjaan dan tiba tiba Dian menyinggung tentang anak.


"Mmmm...apa kamu belum siap untuk punya baby?"


Aku cukup kaget mendengar pertanyaan nya,karan Kami belum pernah bahkan nyaris tak pernah membahas anak.


"Kalo allah menitipkan malaikat kecil untuk pelengkap diantara kita aku pasti akan senang sekali"Jawabku dengan senyuman manis.


"Aku harap itu akan segera terwujud"Ucapnya sambil meng genggam jemariku.


"Atau...Kita kurang sering melakukannya?"


Aku bingung maksud Dian,alisku bertaut melihat matanya yang berbinar.


"Maksudnya?"


"Ya...coba kita lakukan nya rutin,tiga kali sehari misal,atau paling gak tiap malam"


Mataku terbuka lebar mendengar ide gilanya.


"Apa..? Ti..tidak aku mana bisa kita kerja Dian,mana bisa melakukan nya"Protesku.


"Yaudah gimana dengan tiap malam?"


"Gak juga"Bantahku cepat dengan bibir yang mengerucut.


Terdengar Dian tertawa,entah apa nya yang lucu.


"Yasudah...kita berangkat sekarang?"

__ADS_1


Aku meng naggukkan kepala tanda ia.


"Oia..hari ini kamu sibuk?"


"Gak juga"


"Nanti jam tiga sore kami mengadakan meeting dengan klain baru,konsepnya agak berbeda,meeting di adakan di restoran.Sekalian pengenalan sekaligus membahas kerja sama.


Ini bersifat santai,sebagian mengajak kekasih,atau pasangan.Jadi nanti aku jemput kamu di butik ya? dandan yang cantik"Ucapnya dengan mengedipkan sebelah mata.


"Iya,tapi gak papa? aku belum terbiasa ikut hal semacam ini"


"Biar terbiasa"


......................


Aku memutuskan mandi di kamar mandi pribadiku,lalu memakai pakaian yang telah kupilih sebelumnya,kemudian berdandan tipis tipis biar natural.


Kebetulan,setelah dandanan ku selesai,Dian pun datang menjemput.Aku melihat penampilan nya berbeda dari saat ia berangkat tadi pagi.


"Aku ganti baju di mess kantor"Ucapnya seakan menebak isi fikiranku.


Kamipun berangkat setelah menitipkan butik kepada Santi.


"Kamu pintar dandan,pantas saja kamu selalu terlihat cantik dan muda,kamu selalu bisa menyesuaikan semuanya"Pujinya padaku.


"Inilah alasan mengapa aku memilih bekerja di bidang jahit bukan komputer,karna mungkin terbiasa dari hobi lalu jadi cita cita"


Setelah kami sampai,kami disambut begitu oleh rekan kerja Dian,semua memberi ucapan selamat datang.

__ADS_1


Setelah duduk,Dian memperkenal kan ku kepada semua rekan nya yang begitu banyak,walaupun ada beberapa wanita yang hadir,namun aku terlihat gugup.Karna kebanyakan semua notaben seumurkan ibu,atau mungkin seumuran istri kak Galang.


Hanya aku yang terlihat lebih muda.


Berasa nikah dibawah umur jadinya.


"Oia..mohon maaf kita masih menunggu satu orang lagi"Ucap seseorang


"Tak masalah,kita mempunyai waktu cukup banyak ucap"Ucap Dian ramah.


Lama berbincang santai tentang pribadi masing masing.Akhirnya yang ditunggu pun datang.


Seseorang datang minta maaf karna keterlamabatan nya,ada urusan mendadak katanya.Sejenak aku belum merespon pria itu,namun tiba tiba aku menangkap suara seseorang.Cepat ku angkat kepalaku untuk melihat.


Mataku membulat,tak percaya bahwa pria yang kami tunggu tunggu adalah Revan.Kulihat ia yang memasang wajah terkejut juga melihatku.


Lalu dengan cepat ia merubah wajahnya menjadi biasa.


Kami pun terdiam,tak lama kemudian pesanan datang.Di sela sela makan,para lelaki sibuk membahas pekerjaan,mungkin ini disebut meeting santai,entahlah.


Tiba tiba Pria bernama pak Yus bertanya.


"Mm...ngomong ngomong,kapan rencana punya anak pak Dian?"


"Insya allah segera pak"Ucap suamiku itu mantap lalu tersenyum.


"Sepertinya Jeng Hilda ini gila Fashion ya? Pak Dian pintar cari istri"


Tiba tiba terdengar sendok jatuh.Ternyata Revan memandang ke arahku dengan wajah yang kurang bagus.

__ADS_1


__ADS_2