
POV DIAN
Aku tidak bisa berkata apa lagi,sungguh cantik ciptaan tuhan yang sudah di takdirkan menjadi milikku ini.
Berkali kali menelan seliva karna merasa tenggorokan ku kering.Aku berusaha menahan diri,namun kali ini Hilda begitu berbeda.Dia lebih dari pujian cantik yang lontarkan padanya.
Aku mungkin berlebihan,namun aku sungguh terpana,ini pertama kalinya melihat Hilda melepaskan hijabnya.
berkali kali mengerjapkan mata,agar selalu terjaga.Melihat keindahan rambut Hilda yang hitam berkilau lagi panjang.
Mungkin aku terbiasa melihat wanita dengan lakaian kurang bahannya di faris.Namun dengan Hilda memakai piyama panjang dengan rambut terurai sudah cantik luar biasa.
Membuang nafas berlahan,lalu memegang bahu Hilda dan menuntunnya menghadapku.Lalu menunduk agar bisa melihat wajahnya yang tersipu.
"Hilda,aku mohon"Aku memohon pelan,semoga Hilda mau mengerti.
Dan akhirnya Hilda mengangguk pelan.Aku tersenyum karna Hilda mau mengerti,lalu aku menggendongnya ke tempat tidur,kemudian mengikis jarang di antara kami.
Berlahan mengelus pipinya yang halus dan menci*mnya.Tiba tiba bel rumah berbunyi aku terusik karna suaranya yang tak kinjung berhenti.
Aku berdecak,lalu menghela nafas.Kulihat Hilda menutup wajahnya dengan selimut.
"Siapa yang bertamu malam malam,aku lihat dulu"Ucapku beranjak dari tempat tidur lalu pergi melihat siapa yang bertamu.
Ternyata yang bertamu adalah santi,asisten Hilda ada hal penting katanya.Memang kami satu kompek jadi santi bisa jalan kaki kemari.
Aku mempersilahkan Santi lalu memanggil Hilda,kulihat ia sedang membetulkan kancing piyamanya,aku tersenyum mengingat adegan yang tertunda tadi.
"Siapa?"
"Santi"Ucapku sambil mendekatinya,ia sedikit risih namun ku eratkan pelukan di pinggangnya .
"Aku temui Santi dulu"
Ucapnya gugup
"Pergilah jangan lama lama"Ucapku menggoda tepat di telinganya.Ia pun mengambil hijab instannya kemudian turun menemui Santi.
Tiba tiba aku merasa gerah,akupun membuka bajuku,namun aku merasa gelisah.Membuat kepala ku terasa berat.Berusaha menahan diri di kamar,mondar mandir di balkon namun tak menghasilkan apa apa.
Aku sudah tidak bisa menahan diri lagi.
POV HILDA
Aku sungguh gugup dan takut,jangan tanya dengan jantungku,aku merasa di landa serangan jantung secara tiba tiba.
Berlahan Dian men*ium pipiku,apa dia akan meminta haknya? aku benar benar takut.
Namun aku cukup lega,karna santi datang untuk membicarakan pekerjaan,sudah hampir dua minggu aku tidak masuk karna Dian memintaku tetap di rumah.
Setelah santi pergi,akupun menuju kekamar,namun Dian tidak ada kemana dia?
mencari ke balkon namun tidak ada,kulihat bajunya tergeletak di lantai membuat aku bingung.
"Apa dia di kamar mandi?"Gumamku
__ADS_1
Aku menuju pintu kamar mandi,seketika aku mendengar suara dari dalam.
"Aaaaahhh....."
Aku terkejut,menutup mulut tak percaya,buru buru aku keluar kamar takut ketahuan menguping.
Ku duduk di ruang tamu,terus memikirkan apa yang ku dengar,aku merasa kasihan,merasa tak bisa membahagiankannya.
Ada aku namun ia memilih bermain solo.Aku terus bernialog dalam hatiku.Sampai tak menyadari Dian sudah berada di sampingku.
Dia terlihat segar dengan rambutnya yang basah.
"Kenapa?"
"Ng...ngak"
Dia tersenyum lalu membelai pipiku.
"Santi sudah pulang?".
"Iya, dia cuma menyampaikan hal kerjaan"
"Ke kamar yuk aku dah ngantuk"
Akupun mengangguk tanda ia.
...****************...
Pagi ini aku bangun lebih awal dan ber aktifitas seperti biasa,menyiapkan sarapan untuk Dian lalu menyiapkan keperluan ke kantornya,seperti pakaian dan bekalnya.
"Dian? bangun"
Dia tak bergeming.
"Dian?"
Aku mencoba membangunkan nya lagi namun ia tetap diam tak bergerak.
Sejenak ku pandangi wajahnya yang menawan,bersih tanpa ada bekas,dengan posisi tidur saja tak membuat ke tampanannya berkurang.
Tiba tiba matanya terbuka membuat aku terlonjak kaget.Namun ia menahan tengkuk ku tak bisa menghindar.
"Pagi sayang?"
Ucapnya membuat aku tersipu,singguh panggilan nya membuat aku malu namun sangat senang.
"Pa..pagi"
Berlahan ia mengangkat kepalanya dan bibirnya mulai menyentuh bibirku,aku terdiam tak bisa berbuat apa apa,masih sibuk menata jantung agar tidak copot.
Cukup lama,aku mulai terbuai namun aku menyadarkan Dian.
"Kamu harus kerja"
Dian melirik arah jam yang berada di dinding lalu tersenyum.
__ADS_1
"Ini masih jam enam,dua jam lagi aku baru berangkat".
Aku beranjak dari tempat tidur lalu meninggal kannya.Namun Dian menahan tanganku,seketika menarikku kepelukannya.
Aku yang di pandangi menjadi salah tingkah aku benar benar gugup.
Ia kembali mendekat kan wajahnya dan mengulangi adegan tadi,dengan tangan yang fokus pada kancing gamisku.
Entah sudah berapa lama aku tertidur,kulihat Dian sudah tidak ada di sampingku,sejenak kurasakan setitik air menetes kewajahku.
Aku mendongak,ternyata Dian sudah mandi dan sudah siap dengan pakaian kerjanya,hanya saja ia belum memakai jas.
"Kamu sudah bangun?"
"Iya"Sahutku dengan suara khas baru bangun.
"Kamu masih ngantuk?"
Aku menggeleng.
"Ya sudah kamu mandi sana,aku tunggu ya?"
Seketika,aku mengingat permainan yang memalukan tadi,aku menarik selimut menutupi seluruh tubuku,yang ternyata tanpa sehelai benangpun.
"Kenapa?"
"Aku malu"
Dian terkekeh lalu berlahan menarik selimutku sampai batas dada.
"Jangan malu,aku gak akan bilang bilang"Godanya dengan gaya yang siap tertawa.
Dian mengecup keningku lembut,beginikah rasanya di sayang membuat aku melayang.
"Makasih ya sayang,kamu sudah mau menuruti keinginanku.Aku bahagia sekali"
Aku tersenyum bahagia melihat ia begitu senang.
"Akan ada penyemangat saat meeting nanti"Godanya sambil mengedipkan sebelah mata.
"Udah ah,kamu keluar dulu aku mau mandi"
"Kenapa? aku disini saja"
"Jangan"Rengekku
Kemudian ia bangkit lalu mengecup keningku untuk yang kedua kali,dengan sisa tawanya ia pun keluar kamar.
Setelah Dian pergi,aku gegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri,namun alangkah terkejutnya aku.
Kulihat leher dan dada ku penuh tanda merah,aku menggosok leherku berulang laki namun tidak hilang hilang.
Aku memutar tubuh dan ternyata bukan hanya di leher dan si dada,namun di punggungku juga.Aku bingung mengapa aku tidak menyadarinya tadi.
Mohon dukungannnya man teman 😊😊
__ADS_1