Masa Mudaku

Masa Mudaku
Sibuk


__ADS_3

Revan tersenyum kearah ku lalu berdiri dari sofa.


"Hilda,apa kabar?"


"Aku baik"Ucapku dingin.


"Aku kesini ingin menemuimu karna hal penting"


"Sepenting apa?"


"Ini masalah hati"


Kutarik nafas berlahan,muak dengan kata katanya.Sekuat hati aku menerimanya dulu,karna aku merasa Dian tak kunjung datang,setelah aku luluh dan mulai membuka hati,namun dia mempermain kan ku.Dia menjadikan aku wanita kedua karna ia kesepian di tinggal kekasihnya.Sungguh aku sakit kala mengingatnya.


"Sudahlah kita sudah tak ada urusan lagi,aku sudah melupakan mu"


"Aku benar benar minta maaf Hil,aku...aku khilaf"


Khilaf katanya? setelah lima bulan lamanya dengan mudah ia katakan khilaf.


"Sudahlah lupakan saja"


"Hilda,kali ini aku serius,benar benar serius"


Aku geram melihat wajahnya yang sok mengiba,mengingatkan aku kepada wajahnya dulu yang telah meyakin kan ku agar menerimanya.Aku benar benar muak.


"Serius apa maksudmu"


"Tentang kita"

__ADS_1


"Kita?"


Dia menangguk.


"Revan,lupakan saja.Aku sudah menikah dan sudah tidak ada rasa lagi padamu"Ucapku tegas.


Revan cukup terkejut mendengar penjelasanku.


"Me..menikah?"


"Iya menikah,dan aku harap kamu tak usah membahas tentang hati kepadaku,karna itu semua percuma saja"


"Aku tak peduli"


Ucapnya yakin,membuat aku terkesiap.


"Aku tak peduli apa kau sudah menikah atau tidak,aku tunggu saat dimana kau kembali padaku"


"Kau mengusirku?"Tanya nya dengan wajah mengiba.


"Silahkan anda keluar dari butik saya,kalo memang sudah tak ada lagi yang lain"


"Tunggu Hilda,tunggu saatnya akan ku buat kau pisah dengan suami mu itu"


Itulah ucapan terakhirnya sebelum benar benar keluar dari butikku.


Aku menarik nafas berat.Tak menyangka Revan sekeras itu,ingin menghancurkan rumah tanggaku.


Hari ini aku cukup sibuk,dari menyiapkan gaun untuk pelanggan,memeriksa data bulanan,memeriksa barang yang baru di kirim dari pusat sampai melayani pelanggan jauh.

__ADS_1


Jam setengah lima semua pekerjaan selesai,rasanya capek dan lega.Karna pekerjaan siap juga dalam satu hari,walaupun cepeknya luar biasa.


Sejenak ku regangkan otot yang sudah berasa putus,tiba tiba santi mempersilahkan seseorang masuk keruanganku.


Aku yang enggan membuka mata,dengan posisi tubuh ku kurebahkan di sofa ujung ruangan,tiba tiba kerasakan seseorang mengecup pucuk kepalaku.Spontan ku bangkit,dan melihat siapa yang telah lancang menciumku.


"Dian?!"


"Kayaknya capek bangat"


Sungguh kedatangan Revan tadi pagi membuat fikiran ku sedikit bermasalah,serba takut dan mudah was was.


"I...iya pekerjaan nya lumayan banyak"


"Tapi kamu tetap ingat makan kan?"


"A..aku?"


Aku melirik jam di tangan,karna saking sibuknya aku lupa mengisi perut sampai se sore ini.


Terdengar Dian menghela nafas pelan.Lalu mengelus kepalaku yang tertutup hijab.


"Sesibuk apapun,harusnya kamu harus ingat kesehatan itu jauh lebih penting,atau kamu mau gak usah kerja lagi?"


Aku sedikit terkejut mendengar penuturan Dian.Ku gelengkan kepala cepat.Tak mau hanya diam dirumah seperti yang kulakukan selama dua minggu terakhir rasanya sungguh membosankan.


"Ya sudah kita makan yuk"


Ajaknya.

__ADS_1


Akupun mengangguk tanda ia,lalu kami keluar dari butik mencari makan siang untukku,entahlah lah kalo Dian,di kantor dia pasti disediakan makanan oleh asistennya tanpa ada kata lupa makan siang.Jadi bisa di pastikan ini sudah makan sore baginya.


__ADS_2