
POV DIAN
Sungguh pagi ini aku benar benar bahagia,beginikah rasanya dimabuk kenikmatan,sampai aku lupa menahan diri.
Setelah selesai membersihkan diri,aku melihat Hilda masih tertidur,lalu ku hampiri dia.
Dia tersipu seolah lupa kejadian beberap jam lalu.
Setengah jam ku menunggu di meja makan,akhirnya Hilda datang dengan gamis yang berbeda.Aku tak bisa menyembunyiakan senyumku kala melihatnya.
"Kamu keterlaluan Dian"Sungutnya tiba tiba dengan bibir manyun.
"Kenapa? aku salah apa?"
Tanyaku dengan bibir yang masih tersenyum.
"Kamu jahat,kamu keterlaluan"
"Kenapa? apa yang ku perbuat?"Tanya ku yang tak tahu apa yang dia maksud.
"Kamu menyakiti kulitku"
"Hah?"
"Ini"
Seketika dia menarik Hijabnya,lalu memperlihatkan bekas yang menempel do leher dan dadanya.Seketika aku terbelalak.
"Apa? ini apa?"
Kamu masih nanya ini apa?"
Tanya nya kesal.
"I..iya tapi sebanyak ini,mana mungkin"
Seketika wajah Hilda berubah menjadi marah.
"Jadi maksud kamu ini ulah siapa,setan?"
Ucapnya geram.
Aku terkekeh lalu meraih tangannya.
"Jangan marah dong sayang,nanti juga hilang"
"Iishh..kamu mah,aku malu Dian"Rengeknya
"Hehehe...kan kamu pake hijab mana keliatan"
Dia cemberut dengan memalingkan muka.
"Kamu jangan marah lagi dong,ini aku mau kerja mana fokus kalau istriku marah gini"
Bujukku.
Dia pun menatapku lalu mengangguk,dan meraoh tanganku,setelah mencium tanganku lalu ku cium keningnya,kemudian berlahan turun menuju bibirnya.Seketika Hilda menjauh dan menatapku dengan kesal.
Akupun keluar rumah dengan sisa tawa karna melihat ekspresi wajahnya.
Sepulang kerja aku menyempatkan membeli sesuatu untuk Hilda,aku mempir ke sebuah toko berlian,membeli sebuah kalung untuk dirinya.
Setelah selesai membayar,akupun melajukan mobil araha pulang.Melihat Hilda yang sudah menunggu di teras rumah membuat aku tersenyum.
"Kamu sudah pulang"Dia menyalami ku.
"Iya"Jawabku sambil mengecup keningnya.
Lalu aku menuntunya masuk kedalam rumah.
"Kamu ko nunggu diluar,nanti kamu masuk angin loh"
"Gak papa,aku baru aja keluar rumah"
"Lain kali nunggunya di rumah aja ya"
"Iya"Ucapnya dengan senyum.
Aku menuntunnya duduk di sofa.Lalu menyuruhnya duduk.
"Uuumm...kita kan dah menikah,coba deh jangan panggil kamu"Ucapku kepadanya
"Aku manggil apa?"
"Uumm...gimana kalau sayang"
"Aaaa..Sayang? aku malu"
"hehhehe..awalnya malu nanti juga terbiasa"
"Gak bisa aku malu"
__ADS_1
"Yaudah,kamu mau panggil apa,abang atau mas?"
"Is abang? aku gak terbiasa kita kan seumur"
"Enak aja,aku lebih tua dua tahun darimu"
"Masa..berarti waktu itu kamu tinggal kelas dong"Ejeknya sambil tertawa.
"Enak aja,dulu mami sama papi sering pindah jadi kelas nya gak beraturan"
"Oh..kirain gak naik kelas"Ulang nya masih tertawa.
"Diam gak,ku cium nantin"Kuperingati dia dengan nada menggoda.
"Seketika dia terdiam dengan melipat bibir nya yang masih menahan tawa"
"Ahh..kamu minta di cium"Ucapku sambil mendekat ke arahnya.
"Ih...jangan ah"Rengeknya.
"Mmmm...coba tebak aku bawa apa?"
"Apa?" Tanya nya sambil melihat kebelakang ku.
"Tebak dulu"
"Uumm...apa ya,makanan kesukaaanku"
"Gak"
"Terus apa?"
"Tutup mata dulu"
"Ngapain"
"Tutup mata dulu"
Berlahan dia menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Jangan ngintip"
Berlahan ku mendekat ke arah nya dan memegang wajahnya,kemudian
Cup!
Kekecup bibir nya,Hilda membuka mata ingin memberontak,dengan cepat kuraih tengkuknya lalu mengulanginya.
"Kamu bohong"
"Hahha.. bohong apanya"
"Ihh.."Dengan kesal dia berlari ke kamar.Meninggalkan ku yang masih tertawa.
Sampai di kamar kulihat Hilda duduk di tepi ranjang sambil melihatku dengan wajah kesalnya.
Kudekati dia lalu memegang tangannya.
"Kali ini aku seriu sayang"
Dia menatapku serius.
"Iya,aku ada kejutan biat kamu"
"Gak mau"Tolaknya keras.
"Benar nih"
Godaku
"Iya"Jawabnya spontan
"Beneran nih"
"Ia Dian"Ucapnya geram.
Akupun menyerah lalu pamit ke kamar mandi.
"Yaudah,aku mandi dulu ya"Ucapku lembut lalu mengusap lembut kepalanya yang masih di balut hijab.
Setelah selesai mandi,kulihat Hilda sedang berada di meja rias,kali ini ia sudah tidak malu lagi membuka hijab di hadapan ku.Apa karna kami sudah melakukannya? entahlah.
Keperhatikan ia sedang sibuk mengolesi cream ke wajahnya,lalu menyisir rambutnya yang panjang.Sangat cantik.
Akupun mendekat lalu berdiri di belakangnya,ia menatapku dari pantulan cermin dengan kebingungan.Berlahan ku sapuh wajahnya dengan sebelah tangan.Lalu memakai kan kalung yang kubelikan tadi.
Hilda tampak tercengang,sesaat ia mematung melihat apa yang menggantung di lehernya.
Kemudian berbalik menatapku dengan wajah terharunya.Aku berjongkok untuk menyesuaikan nya.
"Kamu suka?"
__ADS_1
Ia mengangguk kuat,lalu keluar setitik cairan dari sudut matanya.Kuhapus lembut cairan itu dengan kasih sayang.
"Makasih,ini pasti mahal"
"Gak ada kata kata mahal untuk istriku"
"Tapi...Ini"
"Aku sudah membelikannya untukmu,ini milikmu.Aku ingin istriku memakai ini,gak salah kan?"
"Nggak..aku senang bangat,kamu pintar milih"
"Itu mba pelayannya yang milih,aku bilang untuk carikan kalung terbagus untuk istriku yang cantik ini,lalu ia memberikan kalung ini.Dan saya rasa juga tidak jelek lalu saya ambil"
Hilda memelukku,ini pertama kalinya memelukku.Aku benar benar bahagia.
"Lalu...bagaimana dengan yang tadi"
Seketika ia mengurai pelukannya
"Yang mana?"
"Kami jadi panggil aku apa?"
"Kamu nyogok"
"Gak juga"Jawabku terkekeh.
"Aku gak tau"
"Aku sedikit risih di panggil kata kamu,padahal teman teman sekantorku yang pada nikah pasti manggil suaminya tidak dengan sebutan kamu"
"Terus aku harus panggil apa?"Ulangnya
"Kamu panggil aku sayang"
"Ta..tapi aku gak terbiasa"
"Lama lama juga akan terbiasa,boleh ya"Ucapku memohon.
"Iya"Setelah berfikir iapun mengiyakannya.
Kupeluk Hilda lalu mengecup keningnya.
"Makasih sayang"
"Mmm...."
"Kenapa?"Tanya Hilda dengan skpresi bingung.
"Kita lanjut lagi yuk"
Bisikku.
"Apanya?"
"Yang tadi pagi"
Mata Hilda terbelalak,kemudian berusaha menjauh dariku.
"Kenapa?"
"Aku...aku gak bisa?"
"Kenapa?"Tanya ku dengan menautkan alis.
"Aku takut"Ucapnya lalu menunduk"
"gak apa apa,aku tidak akan menyakitimu"
Ucapku meyakinkan.
"Kamu kan baru mandi,baru pulang kerja"Ulurnya
"Aku gak capek,lagipun aku capek ubatnya cuma kamu"
"Kamu gombal terus"
"Aku tidak menggombal,memang inilah kenyataannya".
Dia hanya menatapku.
"Kenapa? Aku tau aku tampan"Ucapku dengan percaya dirinya.
Dia tertawa dengan ekpresi mengejek.
"Mau ya sayang?"
Tanpa menunggu jawabannya lagi,ku angkat dia menuju tempat tidur,kulihat ia hanya menunduk tak berkata apa apa.
Mohon Dukungannya Man teman teman.
__ADS_1