Masa Mudaku

Masa Mudaku
Orang Masa Lalu


__ADS_3

POV HILDA


Hari ini kami akan kembali ke kota,liburan hanya sehari namun aku senang,bersyukur di tengah kesibukan Dian,masih menyempatkan untuk membawaku liburan.


Pukul 10 pagi semua sudah siap,tinggal manunggu dian sedang di toilet saja.Sambil menunggu aku duduk di teras vila sambil melihat pekerjaan di ponselku.Tiba tiba seorang kurir datang mengantarkan sebuah paket ukuran sedang,aku heran.Perasaan kami tidak memesan online.


Namun kata kurirnya kiriman untuk Dian yang sudah di bayar,setelah menerima paket,aku masih tetap fokus pada gawaiku,namun aku terusik,penasaran apa isi paket dan siapa pengirimnya.


Kuperhatikan nama pengirimnya,alangkah terkejutnya aku ternyata Fani.


Akupun tambah penasaran dibuatnya,ingin membuka takut lancang.Tapi rasa penasaran ku tak bisa hilang.


Tiba tiba Dian sudaha ada di belakangku.


"Ini paket siapa?"


"Kamu"Jawabku singkat.Ia terlihat bingung.


"Tapi aku gak pesan online"


"Itu dari Fani"


Ia cukup terkejut.Apa mereka benar ada hubungan dulu.Dia mengehela nafas.


"Kok dia tau kita ada disini? kamu kasih tau?"


"Mungkin dia bertanya pada sekretarisku,makanya dia tau aku liburan"


"Tapi disini jauh dari keramaian,aku saja tak tau tempat ini,masa kamu kasih tau liburanmu ke sekretaris mu se detile ini?"Intimidasiku.


Lagi lagi ia menghela nafas,aku yakin setelah kami lulus dulu,mereka ada hubungan.Membuat aku kesal saja.


"Ko diam? apa kita pas lulus sekolah kalian dulu,kalian ada hubungan?"


Desakku.


"Aku pernah membuat kesalahan,aku tak tau mengapa aku bisa dekat nya.Tapi kami tak ada hubungan spesial,hanya sebagai teman saja"


"Jadi dia sudah tau tempat ini?"


Selidikku.


"Iya, dulu saat aku sibuk mengejar target untuk memenangkan perusahaan,kami mengerjakan nya disini,kebetulan ayahnya sebagai salah satu kepala cabang yang mengajukan kerja sama.Karna ayahnya sibuk,Fani lah yang menggantikannya.


Dan saat itu dia tau kalo aku menyukai tempat ini,dan aku rasa dia sudah lupa karna kejadiannya tiga tahun lalu"


"Buktinya?"


Terangku singkat.


Sejenak dia tersenyum,lalu memegangi kedua bahuku.


"Istriku cemburu"Godannya.


"Gak"


"Kamu cantik kalo lagi cemburu"


"Jangan gombal"


"Aku serius"

__ADS_1


"Aku penasran dengan paketnya,apa jangan jangan dia tau banyak hal tentangmu"Selidikku dengan wajah mengintimidasi.


"Sudah...kita bukanya di rumah aja,yuk"


Aku memilih mengalah nanti jug akan tau sendiri apa isinya.Fikirku.


Penduduk kota sudah mulai terlihat,itu artinya beberapa menit lagi kami akan sampai.Sebelum pulang kerumah,kami memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran.


"Kamu pesan apa?"Dian bertanya.


"Umm..apa aja deh"


"Mana ada di menu apa aja?"


"Aku gak mood apa aja yang datang aku makan"Ucapku pasrah.


Kulirik Dian yang tengah memperhatikan ku.Dia tersenyum lalu mengagguk.


Sambil menunggu pesanan,aku pamit ke toilet.Saat menuju toilet aku merasa melihat sosok Fani dari pantulan cermin kecil yang tergantung di dinding.Dengan cepat ku lihat kebelakang namun sudah tak ada.Aku bingung,


''apa aku salah lihat"Gumamku.


Selesai mencuci tangan,aku balik ke meja dimana Dian menunggu.Aku terpaku saat melihat siapa wanita bersamanya.


"Berarti benar,tadi aku tidak salah lihat"Bisikku.


Mereka terlihat membicarakan sesuatu,dilihat dari raut wajahnya Dian sepertinya itu hal serius.Fani duduk dengan posisi membelakangi ku jadi ia tak melihatku.


Namun aku mengenalinya,walapun kami sudah lama tak bertemu.


Aku berdiri di tempat tanpa melanjutkan langkah,hingga Dian menyadari keberadaanku.


Aku terus mengayunkan langkah namun pandanganku tak lepas dari Dian.


"Di...Dian? Hilda?"


"Ia aku sudah menikah dengan Hilda"


"Hai Fan apa kabar"Sapaku lalu mengulurkan tangan.


"Kabar baik, kalian sudah lama menikah? ko aku gak tau?"


"Iya kami menikah baru beberapa minggu yang lalu.Pernikahannya juga sederhana,tak mengudang banyak orang,hanya kerabat saja"Ucap Dian.


"Dari mana kalian bisa bertemu kembali,setauku Hilda kuliahnya disini?


Apa kalian memang sudah ada janji?"


Sepertinya Fani merasa tak terima,terdengar dari pertanyaan nya,belum lagi dengan pandangan dan ekpresinya saat menatapku.


"Awalnya kami di jodohkan,kami tidak saling tahu dengan siapa kami dijodohkan tapi alhamdulillah ternyata Hilda lah jodoh saya"Ucap Dian dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya.


"Oia..kamu belum makan kan,kita makan siang barang aja"Ajakku kepada Fani.


"Tak usah,saya sudah makan tadi,ini lagi ada kerjaan banyak jadi gak bisa lama lama"


"Yaudah kalau gak mau kapan kapan kalo bagitu"Ucapku


"Iya"jawabnya dengan senyum.


Setelah kepergian Fani,kudengar celotehan Dian.

__ADS_1


"Katanya dah makan,tapi tadi ngajak makan barang"


Seketika aku menoleh padanya dengan muka cukup kesal.


"Jadi karna ada aku kalian gak jadi makan?"


"Ya ampun sayang bukan begitu"


"Terus, tapi kamu bilang dia ngajak makan barang,setelah aku datang gak jadi.Berarti dianya pengen berdua sama kamu"


"Gak sayang,mana mau aku makan sama wanita lain selain istriku"


"Halahh...Dasar perempuan ganjen,dari dulu gak pernah berubah"Umpatku.


Dian tersenyum lalu menggeleng melihat tingkahku yang cemburuan.


"Udah dong sayang, kita makan ya.Gak baik marah marah depan makanan gak baik"


Aku mengangguk berusaha tenang.


Selesai makan siang,kami langsung pulang untuk istirahat.Karna perjalanan dari vila ke kota cukup jauh.Membuat badanku pegal karna terlalu lama duduk.


Di kamar aku merebahkan diri di kasur sambil memainkan gawaiku.Tiba tiba aku teringat lagi akan paket Fani.


"Apa ya isi nya?"Gumamku.


"Kenapa?"Ternyata Dian menyadari diriku yang sedang bingung.


"Mmmmm...Aku boleh buka paket nya gak?"


Dian terkekeh lalu mencium keningku.


"Boleh aku ke dapur dulu,haus"


Setelah Dian pergi,aku mengambil gunting di laci,lalu mulai membuka isi paketnya.


Sedikit bingung dengan bentuknya kotaknya yang agak besar.Setelah membuka lapisan kotak pertama,ternyata masih ada kotak lagi,namun kali ini kotaknya agak kecil.


Setelah kubuka,ternyata Fani mengirim sebuah jam tangan mahal.Terlihat dari merk yang masih menempel di kotak beserta jamnya.


Ada juga sebuah surat kecil yang terselip di dalam kotak jamnya.Berlahan kubuka lalu kubaca.


'Hai Dian,semoga kamu suka dengan jam tangannya,aku beli ini saat di paris kemarin.Ini aku beli khusus buat kamu'.


Ada yang terasa panas di dada ini saat membeca surat kecil dari fani.Rasanya ingin menghubungi dia lalu mengatakan padanya untuk jangan mengganggu rumah tangga ku.Aku cukup emosi dibuatnya.


Kuremas surat di genggamanku lalu melemparnya kesembarang arah.Tepat saat Dian membuka pintu,Surat itu tepat mengenai wajahnya.


Dia cukup kaget lalu menghampiriku yang di rundung emosi.


Tanpa bertanya dia melihat apa benda di atas nakas,aku tau ia pasti faham mengapa aku marah.


Terdengar helaan nafasnya lalu duduk di sampingku,dia merangkul bahuku.


"Aku tau kamu pasti marah,jangan khawatir besok aku akan pulangkan jam tangannya"


"Apa tidak sayang kalo di balikin,itu jam tangan mahal lo,limitid edition"Tanyaku dengan nada sedikit mengejek"


Lagi lagi ia terkekeh,membuat aku tambah geram saja.Apa dia tidak bisa serius saat aku serius.


"Jam tanganku banyak,bahkan ada juga yang belum kepake,jadi buat apa jam tangan ini.Lagipula aku tidak akan menerima barang dari seorang wanita selain istriku"

__ADS_1


Aduh kalo menggombal Dian memang selalu bisa.Lagi lagi marahnya cuma sebentar gara gara kebijakan nya mengambil sikap.


Mohon dukungannya man teman 😊


__ADS_2