
Lo udah pada tau nggak sama gue, udah kali yaa. Mungkin alakadarnya lo tau sama gue.
Disini gue bakal kenalin diri gue, nama gue Nanda Sriwijaya, gue merupakan ketua osis disekolah, gue juga merupakan kapten basket disekolah sama kayak dinda juga merupakan kapten basket cewek. Gue satu tingkat diatas dinda cewek rese, tomboy, manja apalagi kehaluannya udah melebihi batas kewajaran (Tapi gue suka). Hehmm
Gue paling gemes kalau udah lihat tingkah manjanya, pengen sesekali kalau dia manjanya juga gitu sama gue, tapi apalah daya. Boro boro manja sama gue, yang ada darah tinggi terus tu dia kalau ketemu gue.
Herman kadang gue lihatnya, salah gue dimana cobak.? Gue cuman bikin dia kesal aja, beneran deh, seriusan, nggak boong. Tapi dia malah darah tinggi terus lihat gue.
Gue juga nggak tau kenapa gue bisa seusil itu kedia, bawaan senang aja gue ngeliat dia kesal.
Yaudah sampai disini dulu deng, perkenalan sama curhatnya..
.
.
.
***
Dinda pov
Sudah 10 menit yang lalu bel pulang sekolah telah berbunyi, tetapi gue masih nyaman dengan posisi gue sekarang, tangan yang gue lipat diatas meja menenggelamkan kepala gue disana.
Perasaan gue masih sakit, ya gue tau dan sangat tau kalau bian sudah mempunyai kekasih hati, tapi yang bikin gue nggak habis pikir. Harus gitu si ketos memperjelas acara kencan bian dengan pacarnya.? Kampret banget kan.
Gue mengangkat kepala melihat sahabat gue masih setia nungguin gue, terharupun menyelimuti gue dengan kesetiaan sahabat gue lona dan lisa.
"Terimakasih kalian masih setia nungguin gue “ucap gue tulus sekaligus terharu.
"Yang namanya Sahabat, bakalan selalu ada untuk sahabatnya “ucap lona
"Lagian kalau kita nggak nungguin lo, gagal deh acara nebeng kita “ucap lisa membuyarkan rasa terharu gue.
gue sempat ngelupain tuh kalau kecoak kembar nebeng sama gue. dengan rasa kesal gue ngajak teman gue untuk pulang, nggak baik kesal lama-lama, yang ada keriputan gue nanti.
Gue pun berjalan lebih dulu meninggalkan sahabat gue. cekikikan pelan gue dengar dari belakang gue.
Nggak tau kenapa bibir gue juga ikutan terangkat melihat tingkah sahabat gue, gue tau pun kalau mereka cuman bercanda. Tapi ya gitu dah, bikin gue kesal. Nggak pernah menyesuaikan dengan situasi.
Sampainya diparkiran, kami pun langsung masuk kedalam mobil gue. Gue pun mulai melajukan sitosca meninggalkan parkiran sekolah.
Melihat suasana jalan yang agak sepi, gue menginjak kopling memasukkan gigi mobil dan gue melepaskan kopling beriringan dengan menginjak gas rada dalam, aungan sitoska membuat suasana hati gue membaik, Tak lupa gue menyetel music favorit gue dan sahabat gue.
Sudah 30 menit diperjalanan, akhirnya gue sampai diperkarangan rumah. Tak lupa gue memasukkan sitosca kedalam bagasi. gue pun berjalan menuju pintu utama.
"Assalamualaikum, mih dinda pulang “teriak gue berjalan menuju dimana mami berada, tak lupa menyalami tangan mami.
"Wa’alaikum salam.. selamat datang sayang “ucap mami sembari mengecup keningku
"Masak apa mi, “tanya gue yang melihat mami lagi memasak sesuatu
"*A*yam kecap dong, sana gih ganti baju dulu. Habistu makan “ucap mami dengan senyumannya.
__ADS_1
"Siap mamikuh sayang “akupun berlari menaiki tangan memasuki kamar yang emang berada dilantai atas.
Dengan cekatan gue langsung menganti pakaian dan tak lupa kiss calon suami yang lagi mejeng di dinding kamar, setelah menyapa calon suami gue berlari menuju meja makan, karna ayam kecap sudah menunggu buat gue santap.
Mami yang melihat gue berlari seperti orang yang nggak bakalan dapat bagian itu hanya mengelengkan kepala.
" *A*was jatoh din "ucap mami dengan wajah khawatir
"Iya mih, ni hati hati.
Mami pun mengambilkan sepiring nasi untuk gue santap. Dengan senang hati gue mulai memakan tuh ayam yang dikecapin.
Kalau sudah berhadapan dengan ayam yang dikecapin itu nafsu makan gue meningkat drastis, masalah dan galaupun hilang.
Selesai makan gue melihat jam sudah menunjukkan pukul 16.30, gue pun pamit sama mami hendak kekamar merebahkan badan dengan perut yang sudah kekenyangan.
Drrrt… drrrt…
Benda pipih itupun berbunyi, menandakan ada notif yang masuk. Gue pun mengambil benda itu dan melihat notif yang masuk.
#Kunyuk (2 massage)
Melihat nama yang tampil dilayar dahi gue pun mengkerut, tumben nih ketos gila WA gue. Gue pun melihat wa dari si nanda.
Kunyuk
"lagi dimana lo.? Nyokap ajak kerumah
"10 menit lagi gue samapai
"Ngapain.?
"Gue sendiri aja yg kesana, nggak ush lo jemput*
Kunyuk
"Nggak da penolakkan
"Ini udah perintah nyokap gue!!
Mau tak mau gue harus terima dengan ajakkan tuh kunyuk, tanpa membalas pesannya gue pun berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
20menit gue sudah siap, gue pun berjalan menuruni tangga menuju ruang keluarga yang kini gue yakini tuh kunyuk udah kesal nungguin gue.
Tebakkan gue bener, noh lihat aja tuh wajah si kunyuk memandang gue udah kayak kepiting rebus tau nggak, apalagi ditambah cabe yang banyak. Merah tuh wajah.
Gue pun berjalan santai mendekat dengan gaya acuh tak acuh tampa dosa.
Tidak menunggu lama, dia pun pamit pada mami hendak pulang dan ngajak gue, karna emang tante lia ngajak gue kerumahnya. Gue pun ikut pamit sama mami dan menyusul kunyuk yang sudah menunggu gue didalam mobilnya.
Dalam perjalanan, tidak ada salah satu dari kami yang bersuara, hanya keheningan menemani perjalanan menuju rumah tante lia, alias rumah kunyuk.
Cukup dengan perjalanan 25 menit gue sudah berada diperkarangan rumah tante lia. Kali ini perjalanannya terasa lama banget, perasaan nggak sampai 25menitan untuk kerumahnya, gue pun menyusul ketos masuk kedalam dan disambut oleh nyokapnya.
__ADS_1
"Aduuh, gadis tante udah datang, kita langsung keruang keluarga aja din, tante udah menyiapkan cemilan untuk kamu “ajak tante lia sambil merangkul lenganku
"*A*yuuk tante “ucap gue dengan senang, kami pun berlalu pergi meninggalkan nanda yang masih berada diruang tamu.
Gini nih nyokap kalau udah sama tu curut lupa sama gue “bathin nanda sambil melangkahkan kaki menuju kamarnya.
"Gimana sekolahnya sayang, nanda ada kan jagain kamu.? “tanya tante lia yang emang kami sudah di ruang keluarga.
"Gimana mau jagain tante, malah keceb… Upss (menutup mulutnya dengan tangan) maksud dinda malah bg nanda yang bikin ulah terus sama dinda tante. Masa iya dinda dibikin sakit hati terus tiap ketemu “ucapku dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.
Disini gue mau jelasin sedikit, gue memanggil nanda abang hanya didepan orang tua gue dan ortunya nanda.
Tante lia yang melihat ekspresi sedih gue langsung memanggil nanda yang berada dikamarnya. Nanda yang merasa dipanggil menghampiri gue dan nyokapnya.
"Apaan sih bun teriak teriak “ucap nanda yang sudah berada diruang keluarga.
"Kamu ini yaa, bukan jagain dinda, malah kamu sendiri yang jahat sama dia “ucap lia marah sambil menjewer telingga nanda.
"Aaaahhh… lepas bun sakiiiit.. “ucap nanda yang meringis kesakitan.
"Siapa yang jahat sih bun, abg nggak da ngapain ngapain dia “sambung nanda sambil melihat sinis gue dengan tatapan tidak suka.
Gue yang mendapat tatapan tidak suka dari nanda hanya cuek bebek bersikap acuh tak acuh melipat tangan gue didada.
" *J*angan ngelak kamu ya, dinda sendiri yang bilang kebunda “ucap lia yang sudah melepaskan jeweran tanganya dari nanda.
Nanda pun mengusap telinganya yang sudah memerah.
"Udah tan, nggak usah marahin bg nanda, dinda gapapa kok tan “ucap gue mencari perhatian tante lia
"Gapapa gimana sayang, seharusnya abang tu harus jagain kamu, bukan jahatin kamu ”ucap lia dengan memegang kedua pundak gue
" *L*o apa apaan sih, kapan gue jahatin lo “ucap nanda dengan suara rada keras karna kesal
"Tuh kan tan, bg nanda aja ngomongnya bentak gitu “ucap gue dengan ekspresi sedih memeluk lia. Belum sempat lia ngomong, nanda lebih dulu berbicara.
"Yang anak bunda siapa sih, abg atau dinda, kok abg merasa anak angkat “ngedumel nanda tidak terima karna bundanya lebih membela dinda.
" *A*nak bunda kan abang doang, cuman dinda kan udah bunda anggab sebagai anak bunda juga bg, kamu itu ya udah besar. Seharusnya ngalah sama dinda yang lebih kecil dari kamu. Bukan ngedumel kek gini. “ucap lia
"yaudah, bunda adopsi aja tuh bocah “kesal nanda berlalu pergi menuju kamarnya. Sekalian angkat jadi mantu bun, abang siap lahir bathin "Timpa nanda membathin dengan senyuman diwajahnya.
Melihat nanda yang berjalan menuju kamarnya, gue pun pamit pada tante untuk menyusul nanda, kan nggak enak aja lihat tuh bocah kesal sampai segitunya. Bukannya gue peduli, ya nggak enak aja gara gara gue tuh bocah berantem sama nyokapnya.
****
**gimana gimana, ada perkembangan nggak cerita gue.?
kasih saran doooong, butuh banget pendapat kalian. untuk menyempurnakan novel gue
jangan lupa KOMEN dan VOTE yaa guys 😘
Salam Sayang
__ADS_1
Mrs.Kim**