
Rena tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Apa yang sudah dia alami selama beberapa hari menginap di rumah kakaknya ini benar-benar membuatnya habis akal. Dari kecil Rena tumbuh dalam keluarga yang selalu berpikir rasional, hal-hal mistis seperti ini bukanlah sesuatu yang sering menjadi pembahasan.
Saat sendirian, yang membuatnya jarang tinggal di rumah juga bukan karena merasa takut atau hal semacam itu, tapi karena merasa sepi saja. Rena tidak menyangka jika sekarang, di rumah kakaknya, dia mengalami banyak kejadian mengerikan yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Ini pertama kali dalam hidupnya Rena merasa seperti ini.
“Tante kenapa?”
Pertanyaan Daffa membuat Rena tersadar dari lamunannya.
“Eh, gak apa-apa, kok,” jawab Rena cepat sambil tersenyum lebar. “Daffa, tante mau nanya sesuatu, boleh?”
Daffa dengan cepat menjawab, “Tante mau nanya apa?”
“Soal anak yang ngasih buku itu ke kamu ….” Rena menggantungkan kalimat. Dia ingin bertanya apakah keponakannya itu tahu bahwa gadis itu bukanlah manusia, tapi tidak tahu bagaimana harus mengatakannya pada Daffa.
Daffa menunggu Rena melanjutkan kalimatnya, tapi gadis itu tidak bicara lagi karena Arsya sudah berdiri di depan pintu sambil melambaikan tangan dan tersenyum lebar.
“Hai,” sapanya, “aku ngeganggu, yah?”
Rena menggeleng, langsung bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Arsya.
“Gak, kok. Ayo, masuk.”
“Lagi ngobrol apa, sih? Kok kayaknya serius banget?” tanya Arsya setelah duduk di samping Daffa. Namun belum sempat dijawab, Arsya kembali bicara ketika melihat gambaran Daffa di atas meja. “Ini Daffa yang gambar?”
Daffa mengangguk dengan wajah semringah. “Bagus?”
“Bagus banget, tapi ini siapa?”
Baru saja Daffa ingin menjawab ketika Rena melayangkan pertanyaan pada Arsya.
“Oh, iya. Kamu kenapa pagi-pagi ke sini?”
Arsya seketika sadar tujuannya datang ke rumah Rena pagi-pagi begini. Tadinya dia ingin mengajak Rena serta Daffa untuk jalan-jalan, kebetulan ada taman hiburan yang baru saja di buka di dekat perumahannya. Kemarin malam, ketika Arsya melihatnya, dia langsung berpikir untuk mengajak Daffa dan Rena ke sana.
“Aku pengen ngajak kalian jalan-jalan. Di dekat sini ada taman hiburan yang baru dibuka. Siapa tahu kalian suntuk di rumah terus dan pengen nyari angin segar.”
“Daffa mau ikut. Boleh yah, Tante?”
Melihat Daffa yang kegirangan seperti itu, Rena tidak punya pilihan lain selain menerima ajakan Arsya. Lagi pula dia juga butuh menghibur diri setelah mengalami serentetan kejadian yang menyeramkan.
__ADS_1
“Oke, tapi aku ganti baju dulu, yah. Daffa juga, sini tante bantu ke kamar.”
“Biar aku aja.”
Arsya dengan cepat menggendong Daffa. “Kamar Daffa di mana?” tanyanya kemudian.
“Di lantai atas, di depan kamar Tante Rena.”
“Nanti Daffa tunjukin, yah.”
Dengan begitu, Arsya membawa Daffa menaiki tangga menuju lantai dua. Rena memerhatikan pemuda itu dari belakang. Baru kali itu dia menyadari ada sesuatu pada Arsya yang membuatnya tertarik.
***
“Makasih banyak yah, Sya. Kamu udah baik banget mau bawa kita ke sini. Daffa emang butuh banget hiburan kayak gini, sih. Kasihan dia di rumah terus.”
Rena memandangi keponakannya yang asik bermain pancingan ikan. Mereka baru saja turun dari bianglala saat anak itu melihat kolam kecil berisi ikan mainan dan anak-anak yang memancing di pinggiran kolam. Seperti sebelumnya, Daffa terus memaksa Arsya dan Rena untuk memainkan sesuatu di sana. Tentu saja tidak semua permintaan bocah itu dituruti. Mereka hanya menaiki wahana yang masih aman untuk kaki Daffa.
Arsya ikut melihat ke arah yang sama dengan Rena. Ada senyum lebar di wajahnya.
“Gak masalah, kok. Aku juga senang ngajak Daffa main. Kebetulan tingkahnya dia mirip banget sama mendiang adikku yang meninggal setahun yang lalu. Kalau dia masih hidup, mungkin udah sebesar Daffa.”
“Ehm, maaf. Aku gak bermaksud—”
Arsya memotong kalimat Rena dengan cepat. “Gak usah minta maaf. Santai aja lagi.”
Mereka duduk di bangku panjang sambil memerhatikan Daffa. Rena meletakkan kedua tangan di samping pahanya, memegang dudukan bangku. Sentuhan lembut di jemarinya membuat Rena menoleh. Arsya baru saja tanpa sengaja memegang tangannya.
Arsya hanya tersenyum canggung sambil menarik tangannya menjauh. Rena sama salah tingkahnya seperti pemuda itu. Tersenyum kikuk kemudian membuang wajah ke arah lain, malu. Dia merasa kalau saat ini wajahnya pasti memerah.
“Aku mau beli es krim, kamu mau gak? Kayaknya makan es krim enak, nih,” kata Arsya kemudian, berusaha memecahkan situasi canggung yang menyelimuti mereka.
“Boleh,” balas Rena pelan.
Arsya segera berdiri dan Rena mengembuskan napas lega ketika pemuda itu sudah berada cukup jauh darinya. Dia memegang dadanya yang sudah berdebar-debar. Ada sensasi aneh saat tangannya bersentuhan dengan tangan Arsya tadi.
Arsya memang tampan, tapi bukan itu yang membuat Rena tertarik. Sikap dan perhatiannya pada Daffa, perlahan berhasil merebut hati Rena. Gadis itu tidak menyangka kalau dia akan jatuh cinta semudah itu. Ini benar cintakah? Atau hanya kagum semata?
“Ini.”
__ADS_1
Rena menoleh dan mendapati Arsya sudah berdiri di sampingnya sambil menyodorkan es krim. Dia mengambil es krim itu masih dengan sikap yang canggung.
“Makasih.”
Arsya duduk di samping Rena dengan sikap santai.
“Jadi sebelumnya, Daffa tinggal sendirian di rumah?” tanya Arsya lagi, pandangannya lurus ke arah Daffa.
Rena menoleh dan mengernyit bingung. “Maksudnya?”
“Kamu ‘kan ke sini buat jagain Daffa. Berarti sebelumnya Daffa tinggal sendirian di rumah. Orangtuanya ‘kan kerja.”
“Oh itu. Daffa kemarin masuk TK. Pas pulang dari sana, Daffa dititipin ke taman bermain yang emang ada di samping TKnya. Semacam tempat penitipan anak gitu, sih. Aku juga kasihan sama dia. Kak Rana sama Kak Yudha terlalu sibuk kerja sampai gak bisa ngurus Daffa. Sebenarnya aku juga kurang setuju soal Kak Rana yang masih milih buat tetap kerja, tapi mau gimana lagi. Kak Rana emang dari dulu pengan jadi wanita karier, Kak Rana juga orangnya keras, kalau udah mau sesuatu bakalan susah dilarang. Gak mungkin juga ‘kan Kak Yudha yang berhenti kerja dan ngejaga Daffa. Jadi yah gini.”
“Kamu kalau udah nikah nanti pengen tetap kerja, gak?”
Pertanyaan Arsya yang tiba-tiba itu membuat Rena terkejut.
“Eh, itu … aku belum mikir ke sana sebenarnya, tapi setelah ngelihat Daffa, aku jadi mutusin bakal lebih milih ngurus anak, sih. Emang kenapa kamu nanya kayak gitu?”
Arsya menggeleng pelan. “Cuma nanya aja, kok. Ngomong-ngomong aku juga pengen istriku nanti lebih milih ngurus anak daripada kerja.”
“Eh?”
Ponsel Arsya berdering, ada panggilan masuk dari Marvin.
“Ya, kenapa, Vin?” tanya Arsya setelah menjawab panggilan itu.
Rena bisa mendengar suara Marvin di ujung sana, tapi tidak bisa menangkap dengan jelas apa yang dikatakannya. Hanya saja, apa pun yang Marvin katakan itu membuat Arsya terkejut.
“Apa? Oke-oke, gue sama Rena ke sana sekarang juga. Iya, gue emang lagi bareng Rena, sih. Nanti aja gue jelasin. Tunggu gue di sana. Oke!”
Arsya memutuskan panggilan dan memasukkan ponselnya ke saku celana.
“Kenapa, Sya?” tanya Rena penasaran.
“Kita harus balik sekarang. Dara kecelakaan.”
“Apa?!”
__ADS_1