
Anna tidak pernah tahu kalau di rumah kakaknya ternyata sedang ada masalah yang pelik. Tuan William sama sekali tidak mengatakan hal itu di suratnya. Tentu saja, siapa pun pasti tidak akan menceritakan masalah besar yang terjadi di rumahnya jika ingin mengundang seseorang untuk datang ke sana.
Dia terkejut ketika tahu Tuan William dan kakaknya ternyata tidak seakur saat mereka berada di Netherland. Seperti pagi ini, Sophie marah-marah saat mereka sedang sarapan dan Tuan William seperti tidak peduli, tidak berusaha menenangkan istrinya seperti dulu. Dia tahu betul kalau Tuan William adalah pria penyayang yang sangat mencintai istrinya. Dulu, jika kakaknya merajuk, pria itu akan cepat membujuknya.
Satu minggu berada di rumah itu, Anna jadi sadar kalau masalah di sana lebih dari sekadar tidak ramahnya Sophie pada pelayan. Ada sesuatu yang lain yang dia tidak begitu paham.
Hari-hari selanjutnya berjalan lebih berat lagi. Sophie semakin menjadi-jadi tingkahnya, kesalahan sedikit saja dari para pelayan bisa membuatnya marah besar. Bahkan ada yang langsung dipecatnya saking kesalnya.
“Kalau kau tidak bisa bekerja dengan benar, jangan datang ke tempat ini. Aku tidak butuh orang tidak berguna sepertimu! Mulai sekarang pergi dari sini!”
Anna melihat Sophie mengatakan kata-kata kasar itu ketika baru keluar dari kamarnya. Dengan cepat dihampirinya kakaknya.
“Ada apa?”
“Orang rendahan ini membuat gaunku jadi kusut, padahal aku ingin pergi ke tempat pertemuan. Aku tahu dia ingin membuatku malu, mereka memang semuanya sama. Diam-diam mencari kesempatan agar aku bisa ditertawakan orang. Tidak tahu diri mereka, padahal aku sudah membayar banyak!”
Anna menenangkan kakaknya, lalu lewat tatapan meminta pelayan itu untuk pergi. Si pelayan dengan pandangan penuh terima kasih mengangguk patuh kemudian dengan cepat berjalan meninggalkan mereka.
“Kau jangan mau dibodohi dengan sikap mereka itu, Anna. Sungguh, aku sudah memperingatkanmu. Mereka ini kalau diberi hati, akan minta lebih dan terus begitu. Tidak tahu diri.”
“Sudahlah, Sophie. Jangan marah seperti ini lagi, nanti mukamu ikutan kusut dan orang-orang dipertemuan itu akan mengetahui kalau kau habis marah-marah. Tidakkah kau ingin mereka melihatmu sebagai orang yang baik dan ramah?”
Sophie menghela napas kasar, tapi sadar apa yang dikatakan adiknya ada benarnya juga. Dia tidak ingin seperti habis memaki-maki orang, tidak untuk kali ini. Dia harus kelihatan cantik dan segar untuk pertemuan kali ini.
__ADS_1
“Baiklah, kau ada benarnya juga.”
“Apa aku boleh ikut ke pertemuanmu itu, Sophie?”
Kakaknya membelalak, membuat Anna bingung. Harusnya tidak perlu sekaget itu, bukankah sebelumnya Sophie juga pernah mengajaknya ikut ke salah satu pertemuannya? Kenapa kali ini responnya terlalu berlebihan?
“Ada apa?”
“Tidak, untuk kali ini kau tidak usah ikut.”
Hanya itu yang Sophie katakan dan Anna memilih tidak mengatakan apa-apa lagi.
“Kau mau ke mana?”
Tuan William muncul, memandangi istrinya dengan ekspresi tidak suka. Sedang yang dipandang juga balas melayangkan pandangan yang sama.
“Atau kau ingin bertemu dengan Frederick Bloed?”
“Apa yang kau maksud? Kau ini jangan mendengar apa yang orang-orang rendahan itu katakan! Mereka hanya suka menghasut dan bergosip. Harusnya kau pecat saja mereka, lalu mencari orang yang lebih baik. Yang hanya bekerja, tanpa menceritakan majikannya di belakang.”
“Lalu jika mereka semua kupecat, apa kau akan berhenti untuk menemui pria itu?”
“William, aku tidak percaya kau berkata seperti itu ada pada istrimu sendiri! Kau kira—”
__ADS_1
“Jadi kau masih menganggap aku suamimu? Kau masih menganggap kau adalah istriku? Begitu? Setelah semua yang kau lakukan, kau masih ingin disebut sebagai istri? Kau berkencan dengan pria lain dan masih ingin menjadi istriku? Kau gila, Sophie! Kau gila!”
Itu pertama kali Anna tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi di rumah ini. Kakaknya sudah berselingkuh dengan pria lain, pantas saja sikap Tuan William berubah. Ternyata ini yang menyebabkan ada jurang besar antara mereka.
Sophie meninggalkan Tuan William dengan marah, tidak terima dikata-katai seperti itu. Meskipun sebenarnya yang dikatakan suaminya memang benar. Dia ada main dengan salah satu anggota militer yang bertugas di daerah tempatnya tinggal. Namun tentu saja dia tidak akan mengakui hal itu.
Setelah Sophie pergi, Anna mendekati Tuan William yang terdiam di tempatnya berdiri. “Jadi karena ini sebenarnya kau memintaku datang ke sini?”
“Maafkan aku, Anna. Aku tidak bermaksud seperti itu, tapi kurasa ada yang harus menyadarkan Sophie, dan itu adalah kau. Hanya kau yang bisa. Bahkan aku, suaminya pun tidak bisa. Jika aku meminta ayah atau mama yang datang, sudah pasti dia akan malu karena melihat tingkah Sophie. Aku tidak enak membuat mereka canggung, sedangkan kau … kau akan lebih bisa berpikir sehat tentang ini.”
“Tapi bagaimana bisa aku melakukannya? Kau saja sebagai suaminya tidak bisa, apalagi aku. Dulu, mungkin dia akan mendengarkanku, tapi sekarang aku tidak yakin. Kurasa dia sudah terjun terlalu dalam sikapnya yang sekarang. Aku tidak yakin bisa mengubahnya.” Anna diam, lalu melanjutkan setelah beberapa saat, “Dan jika aku bisa mengubahnya, apa kau masih mau menerima Sophie sebagai istrimu?”
Tuan William tidak menjawab. Dia sendiri tidak tahu apa jawaban dari pertanyaan itu. Sophie jelas-jelas sudah mengkhianatinya dengan main di belakang, tidak mungkin dia tidak merasa sakit hati. Dan jika nanti Sophie sadar, dia tidak tahu apakah bisa memaafkan wanita itu. Sakit dihatinya lumayan parah. Harga dirinya sebagai lelaki sekaligus suami sudah diinjak-injak.
Pria itu menghela napas panjang, lalu berjalan pergi. Anna diam memandang punggung kakak iparnya yang terlihat lesu. Baru kali ini dia melihatnya dalam keadaan yang sulit begini. Namun ternyata ada hal lebih buruk yang terjadi kemudian, yang sama sekali tidak Anna sangka akan terjadi.
Malam itu hujan turun dengan deras. Anna yang memang merasa udara di Hindia Belanda terlalu panas, langsung membuka jendela kamarnya lebar-lebar dan berdiri di sana, menikmati angin dingin yang mendinginkan tubuhnya. Sejuk sekali.
Di luar sana petir sekali-kali menyambar, tapi Anna tetap berdiri di tempatnya. Dia sedang mengusap-usap pelan lengannya ketika mendengar suara keras, seperti suara tembakan yang tidak begitu jauh. Tidak mungkin, pasti hanya guntur. Tidak mungkin itu suara tembakan, siapa pula yang menembak malam-malam begini, pikirnya.
Namun selang beberapa detik dari letusan itu, terdengar lagi suara teriakan perempuan, yang Anna tahu itu adalah suara Sophie. Tubuhnya sontak menegang. Berarti tadi benar-benar suara tembakan dan … kemungkinan ada yang tertembak. Dengan cepat Anna berlari keluar kamar, menuju kamar Sophie.
Tidak ada satu pun pelayan yang terlihat mondar-mandir atau berlari ke kamar majikannya. Apakah mereka tidak mendengar suara tadi? Tidak mungkin, dengan jarak sedekat ini mereka pasti ada yang mendengar. Atau mereka sebegitu tidak pedulinya? Atau bagaimana? Anna tidak tahu. Dia terus berlari.
__ADS_1
Pintu kamar kakaknya terbuka dan dia hampir saja terjatuh saking kagetnya. Dia bisa melihat punggung Tuan William yang bergetar, tangan kanannya menggenggam satu pistol yang membidik ke depan. Di depannya, terbaring pria telanjang dengan lubang di dadanya yang terus mengeluarkan darah. Sophie berdiri di samping pria itu, dengan wajah pucat dan selimut menutupi badan.
Anna dengan cepat mengalihkan pandangan, mendadak dia merasa mual.