MATI

MATI
Bagian 25


__ADS_3

Rena menarik selimut menutupi tubuhnya. Dia duduk di ranjang, bersandar pada dinding. Di luar sedang hujan deras, hujan pertama setelah dia datang ke rumah kakaknya. Setiap kali mendengar bunyi hujan, gadis itu akan merasa kedinginan. Bahkan ketika dia tidak disentuh oleh air atau apa pun yang bisa membuatnya dingin, dia akan tetap merasa kedinginan selama hujan.


Biasanya setiap hujan dia akan memikirkan alasan kenapa dirinya bisa kedingingan, tapi kali ini tidak. Dibanding hal itu, ada hal yang lebih menguras pikirannya. Sepulang dari rumah Dara, dia terus memikirkan tentang sosok hantu yang dia curigai sebagai Sophie yang sudah mengganggu Dara sampai ke rumahnya.


Sekarang ada satu hal lagi yang mengambil tempat di kepalanya, menambah-nambah sesak pikirannya yang sudah penuh. Tadi Yudha mengatakan kalau ada seorang gadis berambut panjang, dengan pakaian bermodel kuno keluar dari rumahnya dan mengaku sebagai teman Rena.


Tentu saja gadis itu berbohong. Rena tidak punya kenalan lain di perumahan ini selain Dara, Arsya dan Marvin. Dia juga tidak merasa kalau gadis itu adalah kenalan tiga temannya. Dara sendiri pernah mengatakan kalau dia tidak punya teman perempuan. Arsya dan Marvin … Rena tidak begitu yakin dengan dua pemuda itu, tapi rasanya mereka berdua juga tidak mengenal gadis yang datang ke rumahnya. Yang lebih mengherankan lagi, dari mana dia bisa mengenal Rena?


Gadis itu sudah jelas bukan teman kampusnya. Teman kampusnya tidak ada yang berpenampilan seperti orang-orang zaman dulu dan tidak ada yang tahu alamat rumah Rana. Lagi pula teman kampusnya biasanya menghubungi Rena melalui ponsel jika ada apa-apa, tidak langsung menemuinya. Kembali lagi ke pertanyaan besar yang mengisi kepalanya: Siapa gadis itu? Dan kenapa dia bisa mengenal Rena?


Tadi, setelah Rena mengatakan kalau gadis itu bukanlah temannya, Rana sempat mengira kalau gadis itu adalah pencuri. Namun setelah Yudha memeriksa rumah, tidak ada barang apa pun yang hilang. Jika pencuri pun, dari mana dia tahu tentang Rena?


“Ah, kepalaku rasanya kayak mau pecah mikirin ini semua.”


Rena baru saja ingin mengambil ponsel di meja kecil di samping tempat tidur, ketika mendadak dia teringat akan buku harian milik Anna yang dia ambil kembali dari rumah Dara. Dia memang memutuskan untuk membawa kembali buku itu agar Dara aman di rumahnya. Baginya, cukup rumah kakaknya saja yang berhantu, tidak perlu rumah Dara juga.


Rena juga ingin melanjutkan membaca buku itu. Dia tadi habis mendengar cerita lain dari kakek Dara dan jadi ingin lebih tahu sosok Anna dan Sophie. Namun di mana buku itu sekarang? Dia ingat betul membawa buku itu keluar dari rumah Dara, tapi kenapa malah tidak ada di rumahnya.


“Ah, kayaknya ketinggalan di mobil Arsya, deh.” Rena teringat kalau saat keluar mobil tadi, dia tidak membawa buku itu bersamanya. Kemudian dia tersadar, buku itu didiami oleh dua arwah. Anna dan … Sophie. Dara saja yang membawa buku itu ke rumahnya mendapat gangguan. Tidak menutup kemungkinan Arsya juga akan mengalami hal yang sama.

__ADS_1


Dengan cepat Rena mengambil ponsel, ingin menghubungi Arsya. Namun gerakannya terhenti karena mendengar suara kayu yang dicakar, berasal dari arah lemari. Awalnya Rena pikir hanya perasaannya saja, tapi lama-lama dia sadar kalau suara itu memang ada. Meski hujan deras, suara itu sangat jelas terdengar.


Dia keluar dari dalam selimut dan berjalan menuju lemari. Lantai sangat dingin terasa di kakinya yang telanjang. Dia merasa déjà vu. Perlahan, Rena mengangkat tangan, berniat membuka lemari.


Sedetik kemudian dia sadar. Jika pintu lemari terbuka dan sosok mengerikan muncul dari sana, dia harus bagaimana? Tentu saja mengabaikan suara itu dan tidur adalah pilihan paling baik. Namun dia berpikir kembali, bagaimana seandainya saat dia tidur, sesuatu yang ada di dalam lemari ini keluar dan menghantuinya? Sama saja dia tidak bisa tidur dengan tenang.


“Kayaknya emang gak bisa tidur dengan tenang selama masih tinggal bareng mereka di sini,” gumam Rena. “Aku harus nemuin apa yang Kakek Han bilang tadi, biar mereka semua bisa pergi.”


Tepat setelah Rena mengatakan itu, suara cakaran tadi berhenti. Lalu perlahan pintu kamar mandi di belakangnya terbuka. Rena ingat betul kalau engsel pintunya masih bagus, setiap membuka atau menutup pintu juga tidak pernah menimbulkan suara. Namun kali ini pintu itu berderit, terdengar menyeramkan.


Rena melihat ada siluet yang berdiri di ambang pintu. Lama-kelamaan menjadi semakin nyata. Menjelma membentuk sosok wanita berambut panjang dengan gaun selutut yang penuh renda dan bermotif bunga-bunga putih. Rena sadar kalau gadis inilah yang dilihat kakak iparnya tadi. Tidak salah lagi, pakaiannya memang terlihat kuno.


Rena seketika merasa merinding. Jadi sosok yang dilihatnya di cermin saat pertama kali datang itu adalah gadis ini? Lalu kenapa dia memunculkan diri di depan Yudha dan mengaku-ngaku sebagai teman Rena?


“Sebenarnya mau kamu apa?” tanya Rena. Jujur saja dia masih merasa merinding dan sedikit takut, tapi dia berusaha untuk memberanikan diri.


“Tolong … saya ….”


“Tapi kamu kenapa? Kamu juga ‘kan yang ngaku-ngaku jadi temanku?”

__ADS_1


“Tolong … saya … mau—arghh!”


Tiba-tiba sosok itu memegang lehernya sambil berteriak kesakitan. Suaranya sangat keras sampai Rena takut kalau kakaknya akan mendengar suara itu dan mengira dirinya yang berteriak. Kakaknya pasti akan ketakutan jika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di rumahnya.


Rena tidak tahu harus melakukan apa. Di sisi lain dia ingin agar sosok itu diam, tapi dia juga tidak tahu bagaimana membuatnya terdiam. Akhirnya dia hanya memandangi sosok itu dengan raut ketakutan di wajahnya.


“Ja—jangan!” Sosok itu berteriak lagi.


Rena menyaksikan dengan mata membelalak saat sosok itu melayang ke tengah ruangan dan jatuh membentur lantai, seperti dibanting dengan keras oleh sesuatu yang tidak terlihat. Tanpa sadar dia juga ikut memekik ketika sosok itu terseret ke sana-kemari.


Rena langsung berlari naik ke tempat tidur, menutup badannya dengan selimut dan memeluk dirinya sendiri. Dia masih menyaksikan kejadian aneh tapi menyeramkan itu.


Sosok itu kembali melayang beberapa senti dari lantai sambil memegang lehernya. Rena memucat ketika dari leher sosok itu keluar banyak darah, membasahi gaunnya sampai berwarna merah. Saat pekikan sosok itu tidak terdengar lagi, Rena benar-benar merasa kalau jantungnya sedari tadi berdetak sangat cepat dan badannya gemetar.


Di depan Rena, kini berdiri sosok itu sambil menghadap ke arahnya. Gaunnya sepenuhnya bermandikan darah. Tangannya yang pucat memegangi kepalanya yang sudah terlepas dari badan. Darah keluar dari wajahnya yang retak-retak dengan mata yang hampir putih semua. Hanya satu titik hitam kecil yang ada di tengahnya, menatap getir pada Rena.


“Tolong … saya ….”


Kemudian di belakang sosok itu ada sosok lain yang menatap dengan seram sekaligus jahat dari mata kanannya yang mencuat. Tangannya yang terlepas dari badan menahan sosok gadis tadi. Mulut robeknya menyeringai, dengan suara serak dan dalam berkata, “Mati ….”

__ADS_1


__ADS_2