
Yudha terbangun dan tidak mendapati Rana di sampingnya. Tentu saja, istrinya itu memilih tidur bersama Daffa setelah pertengkaran mereka tadi malam. Pertengkaran itu … Yudha kembali memikirkannya untuk beberapa saat, merenung, lalu mengembuskan napas panjang.
Dia sudah melewati batas, pikirnya. Selama ini dia memang tidak pernah kasar pada Rana, selalu mengalah atau mengambil jalan tengah. Apa saja selain membuat Rana marah apalagi sampai bertengkar dengannya. Namun tadi malam, dia sudah melakukan apa yang tidak pernah dia lakukan pada istrinya, marah.
Pria itu berpikir seharusnya dia bisa mengatakan semuanya dengan cara yang lebih halus, yang mana pikiran itu segera ditepisnya. Rana tipe orang yang keras kepala dan teguh pada pendiriannya, akan susah mengubah pendapat wanita itu meski dengan cara halus sekali pun, apalagi dengan emosi. Sudah pasti istrinya itu akan marah sekali.
“Tapi kenapa juga aku sampai segitunya kemarin?” monolog Yudha yang segera membangunkan diri dan berjalan ke arah kamar mandi. Kepalanya pusing, kerjaan di kantor lumayan banyak sampai menguras tenaga dan pikiran, membuatnya harus pulang terlambat. Mendengar kabar buruk dan melihat keadaan anaknya membuat Yudha kelepasan emosi.
“Ya, pasti karena itu. Aku cuma capek dan khawatir ngelihat Daffa jadi marah begitu ke Rana. Kayaknya aku harus cepat-cepat minta maaf ke dia.”
Yudha menyalakan keran dan mencuci muka. Setelah merasa segar, dia keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju pintu balkon. Disibaknya tirai violet tebal yang bergantung menutupi pintu, dan membuka pintu kaca. Masih malam, mungkin sudah dini hari. Entahlah, Yudha tidak melihat jam, tapi yang jelas di luar sana masih gelap.
Dia hanya ingin menenangkan pikiran dengan mendapatkan angin segar di jam-jam seperti saat ini. Kamarnya berada di lantai dua, di bagian yang berbeda dengan kamar Rana dan Daffa. Satu-satunya kamar yang memiliki balkon. Dari sana Yudha bisa langsung melihat ke arah jalan di depan rumah, pohon-pohon besar yang tumbuh dipinggiran jalan dan atap-atap rumah tetangganya yang berjarak tidak terlalu dekat dari rumahnya.
__ADS_1
Jarak antar bangunan di perumahan ini memang tidak terlalu dekat—karena pekarangan setiap rumah cukup luas—apalagi rumahnya yang katanya sudah tidak ditempati bertahun-tahun, agak sedikit terpencil. Setidaknya rumah-rumah lain ada yang saling berhadapan atau bersebelahan, tapi rumahnya tidak. Hanya ada pohon besar, pohon besar, dan pohon besar di sekelilingnya. Di atas sana, bulan bersinar dengan terang, terang sekali.
Yudha sendiri tidak masalah dengan itu, dia suka dengan suasana sepi seperti ini setelah seharian berkutat dengan keramaian yang padat di kantor. Apalagi Rana langsung jatuh cinta dengan rumah ini begitu melihatnya pertama kali. Memang yang mengurus kepindahan mereka adalah Yudha, tapi yang memilih tempat tinggal adalah Rana.
Waktu itu dia masih disibukkan dengan pengurusan berkas-berkas kenaikan pangkat dan kepindahannya ke kantor pusat, jadi dia meminta bantuan Rana untuk mencari rumah baru untuk mereka. Rana tidak keberatan pindah ke sini, meski jaraknya ke kantor akan lebih jauh dari sebelumnya.
Mengingat istrinya, Yudha menghela napas berat. Dia masih menyesali perbuatannya dan memutuskan untuk minta maaf besok pagi. Merasa sudah tenang, Yudha kembali masuk kamar, berniat tidur. Namun karena merasa haus, Yudha pergi ke dapur dulu.
Lampu dapur menyala, hal yang tidak biasa karena mereka selalu mematikan semua lampu sebelum tidur. Yudha melangkah dengan cepat, samar-samar mendengar suara wajan beradu dengan sodet. Pikirnya mungkin Rana atau Rena yang ada di sana, memasak sesuatu karena lapar. Sampai di sana malah tidak ada siapa pun. Dapur kosong, kompor sedang tidak menyala dan tidak ada wajan di atasnya. Tidak ada orang yang habis memasak.
Perlahan Yudha menoleh ke samping. Cahaya bulan yang masuk dari celah jendela samar-samar menunjukkan punggung seseorang yang berdiri di depan kompor, Yudha bisa melihat tangan sosok itu bergerak-gerak. Sontak dia terkejut, sangat terkejut.
Tentu saja saat itu Yudha sendirian, tidak ada orang yang berdiri di sana dan harusnya tidak ada di sana. Yang Ada di dapurnya pasti bukan manusia. Yudha dengan cepat keluar dari dapur. Tidak ingin berlama-lama dengan sosok yang bukan berasal dari dunia yang sama dengannya.
__ADS_1
Yudha bukan tipe pria yang penakut, dari kecil dibesarkan sebagai sosok yang pemberani oleh ayahnya. Namun dia juga tetap tidak ingin melibatkan diri atau diam saja jika ada hal-hal aneh yang terjadi di sekitarnya. Apalagi kalau menyangkut yang seperti ini, Yudha memilih untuk pergi dan menjauh. Menurutnya sosok itu tidak akan mengganggu kalau tidak diganggu.
Dia sampai di ambang pintu ketika sosok itu muncul tepat di depannya, membuat Yudha melompat mundur ke belakang karena terkejut. Dapur tidaklah terang, hanya remang-remang karena pencahayaan dari luar yang minim. Anehnya, dengan terang yang tidak seberapa itu, Yudha bisa melihat jelas rupa sosok yang berdiri di hadapannya.
Rambut panjang lusuhnya yang jarang-jarang menutupi wajah hitam dengan mata yang seluruhnya putih. Lingkaran di sekitar matanya lebih hitam lagi dari wajahnya. Tangan sosok itu menjulur ke depan, dengan urat-urat hitam yang menyembul dari balik kulit pucatnya.
Tidak sampai di situ, pintu di belakangnya yang menghubungkan dapur dengan halaman belakang digedor-gedor dengan keras. Ini sudah ketiga kali Yudha dikejutkan dalam waktu yang berselang hanya beberapa menit saja, dan dia merasa sudah cukup untuk itu semua. Dia ingin segera kembali ke kamar, tapi sosok berambut panjang di depannya ini menghalangi jalan.
Yudha tidak ingin peduli lagi dengan apa yang berdiri di balik pintu itu. Dia ingat waktu hari pertama tinggal di rumah ini juga ada yang mengetuk pintu. Waktu itu memang tidak ada siapa pun yang berdiri di sana, tapi sekarang Yudha yakin kalau dia berbalik dan membuka pintu, pasti dia akan mendapati satu sosok mengerikan lainnya yang entah kenapa menampakkan diri dan mengganggunya.
Dan benar saja. Pintu di belakangnya seketika terbuka dengan keras, padahal Yudha tidak membukanya, pintu itu tentu saja sebelumnya dalam keadaan terkunci. Karena suara pintu yang menabrak dinding, Yudha berbalik. Dugaannya benar, di sana, berlatar pohon-pohon besar dan langit hitam, berdiri pria tanpa sehelai pakain menutupi tubuhnya. Badannya bersimbah darah dan ada lubang besar di bagian dada kirinya, tempat seharusnya jantung berada. Wajahnya bengkak dan membiru, mengeluarkan aroma busuk. Matanya merah semua, melotot marah.
Refleks Yudha mendorong pintu dan kembali menguncinya, lalu dengan cepat berlari menerjang hantu yang berdiri di ambang pintu. Sebenarnya dia hanya ingin kembali ke kamar, tidak bermaksud menyerang atau apa. Melihat Yudha yang berlari ke arahnya, hantu itu sontak menghilang. Yudha tidak peduli lagi, langsung naik ke lantai dua. Di saat-saat seperti ini dia butuh istrinya, jadi alih-alih ke kamarnya, Yudha malah berlari ke kamar Daffa.
__ADS_1
Alangkah terkejutnya dia ketika melihat Rana berbaring di lantai, bukannya di atas ranjang bersama Daffa. Dari posisinya Yudha tahu kalau Rana tidaklah sengaja tidur di sana, sudah ada sesuatu yang terjadi di kamar ini. Ya, pasti ada sesuatu!
Diangkatnya Rana dan ditidurkannya kembali di ranjang. Sungguh malam yang berat.