MATI

MATI
Bagian 32


__ADS_3

Wanita itu memandang apa yang ada di depannya dengan pandangan takjub. Setelah tiba di pelabuhan Batavia selama berhari-hari melakukan perjalanan laut dari Netherland, wanita itu langsung dijemput oleh seorang pria berpotongan tubuh gagah dan tegap. Wajahnya memiliki ciri khas orang-orang Hindia Belanda. Berkulit sawo matang, mata besar yang tajam bagaikan elang, dan hidung yang juga besar, tapi sedikit mancung. Rahangnya tegas, sesuai dengan kepribadiannya yang awas.


“Permisi, apa Anda adalah Anna van De Beele?” tanya pria itu dengan bahasa Belanda yang lancar, membuat si wanita terkejut.


“Ya, saya adalah orang yang Anda maksud,” jawab wanita yang ternyata Anna dengan bahasa Belanda juga.


“Perkenalkan, saya adalah Yusuf, salah satu pekerja di rumah Tuan William. Tuan William sendiri yang mengutus saya untuk menjemput adik istrinya, karena beliau lumayan sibuk akhir-akhir ini untuk bisa menjemput sendiri. Beliau cukup menyesal karena hal itu.”


“Saya sudah mengatakan di surat agar dia tidak pelu menjemput saya. Saya tahu bagaimana sibuknya kakak ipar saya itu, tapi dia memang lelaki yang baik, bukan? Nah, ke mana kita harus pergi sekarang?”


Pria yang mengenalkan dirinya sebagai Yusuf itu membawa Anna bersamanya, melakukan perjalanan darat yang cukup melelahkan. Tidak banyak yang mereka bicarakan sepanjang perjalanan, dan semua Anna-lah yang mulai mengajak Yusuf bicara.


Anna adalah wanita terpelajar, yang dibesarkan oleh keluarga yang terhormat. Namun dia berbanding terbalik dengan kakaknya, Sophie. Dia sama sekali tidak pernah memandang seseorang dengan cara pandang Sophie, yang selalu menempat-nempatkan orang sesuai derajat. Dan bagi wanita itu, orang yang derajatnya tinggi adalah orang-orang yang berasal dari keturunan bangsawan, keluarga terhormat atau orang-orang yang punya banyak harta karena kerja keras. Sementara itu, mereka yang bekerja sebagai pelayan, pembantu, jongos atau apa pun sebutan mereka, hanyalah orang-orang yang derajatnya rendah, yang tidak pantas dia ajak bicara.


Karena itulah Anna datang ke sini, untuk membuat kakaknya mengubah pandangan kalau semua orang sama derajatnya di mata Tuhan. Tuan William yang langsung memintanya sendiri, dengan cara yang terhormat untuk segera datang. Anna tidak sulit untuk mendapatkan izin dari ayahnya, karena pria itu sangat menyukai menantunya yang banyak menghasilkan uang untuknya. Tentu saja Anna tidak mengatakan apa alasan sebenarnya dia datang ke Hindia Belanda, karena sikap Sophie sebenarnya turun langsung dari ayahnya. Mereka sama-sama orang yang menganut paham feodalisme.


Anna hanya mengatakan kalau dia ingin sesekali menjenguk kakaknya yang setelah menikah jarang sekali datang ke rumahnya. Beberapa hari kemudian dia sudah berada di atas kapal, menatap laut dengan semringah. Anna juga wanita yang periang dan suka berpetualang, tipe wanita anggun dan kuat sekaligus.


“Bahasa Belanda Anda lancar sekali, saya sempat mengira Anda berasal dari Netherland juga,” kata Anna lagi, tetap memilih panggilan Anda-saya, ingin menunjukkan bahwa dia juga menghormati Yusuf.


“Tuan William sendiri yang mengajari saya. Butuh waktu lama sampai saya bisa selancar ini. Kami semua harus bisa bahasa Belanda, karena Nyonya Sophie … belum bisa berbahasa Melayu.”


Anna bisa menangkap ada keragu-raguan saat Yusuf mengambil jeda kalimatnya, mungkin memilih kata yang cocok. Tentu saja pria itu harus berhati-hati dalam berbicara, apalagi dengan Anna, adik majikannya. Anna mengerti betul tentang itu, karenanya dia bicara lagi.

__ADS_1


“Yusuf, tidak perlu sungkan pada saya. Asal kamu tahu saja, saya ini berbeda dengan kakak saya.”


Yusuf tersenyum, selanjutnya sikap canggungnya perlahan menghilang, tapi tetap berusaha untuk tidak terlalu akrab. Pria itu masih tahu diri dan menempatkan posisinya dengan benar.


***


“Kau sungguh datang?” Sophie memandang Anna tidak percaya.


“Mana pernah aku bercanda denganmu,” balas Anna. “Di suratku sudah tertulis kalau aku akan datang, jadi aku benar-benar datang. Bukankah kau sudah merindukanku? Kau lama sekali tidak datang mengunjungi kami. Ayah dan mama sudah sangat merindukanmu, saking lamanya tidak melihatmu.”


Sophie mendelik sebal. “Apa kau menyindir? Kau terdengar sarkastik.”


“Tentu saja tidak. Mana pernah aku melakukan hal seperti itu padamu. Sudahlah, aku tidak pernah bermaksud begitu. Jangan kau rusak pertemuan kita dengan prasangkamu itu.”


Sophie membawa Anna menuju lantai dua. Pelayan yang berpapasan dengannya segera menunduk sampai Sophie lewat.


“Mereka sangat menghormatimu. Aku kira punggung mereka akan kesakitan jika akan menunduk terlalu dalam dan lama begitu.” Anna mencoba bercanda.


Sophie menyeringai puas dan dengan angkuh berkata, “Bukankah mereka memang harus bersikap begitu? Aku majikan mereka, mereka bekerja denganku. Memang sepatutnya mereka membungkuk seperti itu, karena jika tidak sudah pasti aku akan mengusir mereka.”


 “Jangan terlalu keras dengan mereka, Sophie. Dan lagi, jangan mengatakan seperti itu, mereka ‘kan mengerti bahasa kita.”


“Anna, karena kau baru pertama kali datang ke sini, aku akan memperingatkanmu. Jangan mudah tertipu oleh sikap mereka. Orang-orang rendahan ini tidak ada yang benar-benar menghormatiku, mereka bersikap hormat karena uang. Mereka akan melakukan apa pun demi mendapatkan uang. Ya, mereka memang seperti itu. Rendahan dan menyedihkan. Hanya soal uang, uang dan uang!”

__ADS_1


“Sophie ….”


“Dan dari mana kau tahu kalau mereka semua bisa berbahasa Belanda? Kau ‘kan tidak bicara dengan mereka tadi. Aku langsung melihatmu saat kau masuk.”


“Aku tahu dari Yusuf, bahasa Belandanya lancar sekali. Aku sempat mengira dia dari Netherland.”


“Oh, adikku yang malang. Anna, jangan lagi kau menyama-nyamakan kita dengan orang-orang seperti mereka. Mereka itu tidak bisa dibandingkan dengan kita. Hanya karena mereka bisa bahasa Belanda, bukan berarti kau bisa menganggap mereka berasal dari Netherland. Bukankah kita terlihat sangat berbeda?”


“Aku tidak begitu melihat bedanya, semuanya hampir terlihat sama.”


“Omong kosong! Kau harus memeriksa matamu nanti. Aku akan menemanimu.”


Anna hanya tersenyum, sepertinya tugas yang berat untuk membuat Sophie bisa menghargai para pelayannya. Namun bagi Anna terlalu cepat baginya untuk menyerah sekarang. Dia akan melakukannya dengan baik, berusaha sekeras mungkin.


“Aku tahu betul pemikiran kita sama dan aku ingin Sophie bisa lebih menghargai orang-orang yang tinggal di sini, meski hanya sedikit. Aku hanya ingin membuat semua orang di rumah merasa nyaman. Tentu mereka akan semakin senang bekerja jika tuan rumahnya juga ramah.”


Itu kalimat kakak iparnya dalam suratnya yang memintanya datang.


“Ini kamarmu. Kuharap kau suka tinggal di sini, tentu saja kau akan suka. Aku kembali ke kamarku dulu,” kata Sophie saat mereka sudah sampai di depan pintu kayu yang terlihat mahal dan berukir. “Kalau kau butuh sesuatu, panggil saja orang-orang rendahan itu untuk mengurusmu agar aku tidak sia-sia membayar mereka. Ingat, panggil mereka, bukan aku.”


“Aku masih ingin mengganggumu.”


“Jangan, Anna. Aku serius. Malam nanti aku akan bertemu dengan teman-temanku, wanita-wanita yang berasal dari Netherland dan istri orang bangsawan. Orang berderajat tinggi. Kau bisa ikut kalau kau mau, tapi jangan menggangguku. Aku akan merias diri dan mempersiapkan agar nantinya aku tidak membuat malu. Oh, tentu saja tidak akan. Aku ‘kan wanita terpelajar dan anggun, semua tahu itu. Aku ke kamar dulu. Nikmati istirahatmu, Adikku sayang.”

__ADS_1


Anna masuk ke kamarnya setelah Sophie tidak lagi terlihat di koridor. Kakaknya memang memilih-milih orang yang diajak bergaul, tapi dia tahu kalau kakaknya sebetulnya adalah orang yang baik dan sangat sayang padanya. Ya, Sophie sangat sayang padanya.


__ADS_2