
Buku itu. Ya, buku itu! Dari penglihatan yang Anna berikan padanya, Rena melihat wanita itu sedang menulis buku harian ketika Sophie muncul dan ingin membunuhnya. Anna saat itu baru saja pulang dari rumah Gunawan bersama Tuan William, habis membahas masalah arwah Sophie yang terus gentayangan.
Dari penjelasan Gunawan, Sophie sudah melakukan ritual dan menggunakan suatu benda sebagai tempatnya bersemayam. Mereka harus melenyapkan benda yang Sophie pilih sebagai media untuknya tinggal jika ingin melenyapkan Sophie. Begitulah cara yang Anna tahu, yang dia tidak tahu adalah benda apa yang menyimpan jiwa Sophie. Lebih menyedihkannya lagi, wanita itu meninggal oleh arwah kakaknya sendiri sebelum bisa menemukan benda yang dia cari-cari.
Namun Rena tahu sesuatu, dia melihat sesuatu yang menjadi jawaban atas pertanyaan besar Anna. Saat Sophie membunuh Anna setelah mencungkil kedua bola mata wanita itu, Sophie melakukan sesuatu yang sangat aneh—yang jujur saja bagi Rena tidaklah terlalu mengejutkannya karena sudah terlalu banyak hal aneh yang terjadi belakangan ini. Sophie entah bagaimana caranya melebur masuk ke dalam buku harian Anna, membawa serta arwah adiknya.
Dan semenjak saat itu, Sophie terus bersemayam di dalam buku itu bersama Anna. Rena kembali teringat, Sophie pertama kali muncul dan hampir membunuhnya ketika dia menemukan dan membaca buku itu. Dara diganggu di rumahnya waktu membawa buku itu pulang dan Arysa bermimpi buruk karena buku itu ikut bersamanya. Dia hanya perlu menghancurkan buku itu.
Rena keluar kamar dan langsung masuk ke kamarnya, mengambil buku itu dan kembali lagi ke kamar Daffa.
“Sophie, lepaskan mereka!” teriaknya sambil mengacungkan buku di tangan kanannya. “Kau akan mati sekarang juga, aku akan melenyapkan buku ini!”
Tadinya Rena ingin langsung berlari ke dapur dan membakar buku itu, tapi mendadak dia menjadi tidak begitu yakin. Bagaimana kalau buku itu bukanlah benda yang betul dibutuhkannya? Bukankah semua terasa begitu mudah? Hal untuk melenyapkan sosok yang nyaris membunuhnya ternyata sudah berada di genggamannya selama ini.
Jadi dia kembali ke kamar Daffa untuk melihat respon Sophie dan ternyata memang benar. Saat dia mengangkat buku itu, Sophie membelalak terkejut. Cengkeramannya di leher Arsya dan Marvin terlepas, tangannya jatuh ke lantai. Dan apa pun yang sudah dia lakukan pada Kakek Han berhenti saat itu juga.
Marvin menendang lengan yang ada di depannya dengan keras sambil mengumpat jijik. Sedang Arsya mengambil napas banyak-banyak sambil batuk-batuk. Kakek Han mendorong Sophie dengan kuat sambil mengucapkan suatu mantra lagi.
Benda mirip ceker ayam tadi kembali dimasukkan ke saku karena sudah tidak berguna lagi. Benda itu hanya bisa digunakan untuk memaksa suatu arwah yang masuk ke dalam tubuh manusia untuk keluar. Sekarang Sophie sudah keluar dari tubuh Rana. Dia butuh benda lain untuk melenyapkan Sophie dan sekarang dia tahu apa yang dibutuhkannya.
__ADS_1
Sophie memang terdorong, tapi dengan gerakan secepat kilat dia muncul kembali di depan Rena, merebut buku itu. Arsya yang ada di samping gadis itu sudah mengerti kalau kunci untuk membuat Sophie hilang dari muka bumi adalah buku itu. Karena jarak yang cukup dekat, dia berhasil mengambil buku itu dari tangan Sophie.
Sophie marah dan terjadilah aksi rebut-rebutan buku di antara mereka. Arsya melempar buku itu pada Marvin ketika Sophie berdiri di depannya sambil melayangkan dua lengan yang siap menahan pergerakannya. Hal itu membuat Sophie berteriak keras. Kaca jendela pecah dan benda-benda di dalam kamar kembali bergerak, kali ini melayang seperti sengaja di lontarkan ke sembarang arah.
Marvin tidak sempat menghindar saat lampu meja menghantam kepalanya dengan keras. Buku di pegangannya diambil oleh lengan kiri Sophie, tapi langsung direbut lagi oleh Kakek Han.
“Sudah berakhir. Sudah terlalu lama bagimu gentayangan dan melakukan perbuatan jahat. Sekarang waktumu kembali, menebus semua apa yang kau lakukan selama ini.”
Rupanya pria tua itu sudah membuka tutup korek api dan menyalakan pemantiknya. Sophie meraung marah, tapi terlambat. Buku itu sudah terbakar. Kakek Han masih memegang buku itu, memastikan apinya tidak mati.
Sophie tertahan di tempat, meracau sambil menarik-narik rambut frustasi. Belatung berjatuhan dari giginya dan darah terus mengucur dari rongga kosong di matanya. Lengannya yang bebas di lantai terbakar dan bergerak-gerak, sama seperti Sophie yang dilahap api.
Kakek Han menyimpan buku yang sudah terbakar separuh itu di lantai, sambil terus mengucapkan mantra. Rena diam di tempat, tanpa sadar mendekat pada Arsya. Marvin yang terduduk di lantai menyaksikan hal itu sambil memegang kepala yang berdenyut sakit.
Setelah hilangnya Sophie, Rena segera mendekati Rana dan Daffa yang tidak sadarkan diri sejak tadi. Arsya dan Marvin—yang masih sakit kepalanya—mengangkat Rana ke atas ranjang. Rena mengangkat Daffa, membaringkannya di samping mamanya.
Mereka semua bisa bernapa lega sekarang. Arsya dan Marvin sempat terkejut saat satu persatu arwah yang menghuni rumah itu muncul. Bahkan Marvin mengumpat dan mengambil lampu meja yang menabrak kepalanya tadi, siap-siap melempar jika ada yang menyerang. Namun sosok-sosok itu hanya tersenyum ramah pada mereka.
Rena pernah melihat mereka semua, pria bertopi fedora, Anna, gadis berambut panjang yang memakai baju pelayan, gadis kecil berkepang dua dan gadis dengan setelan baju bergaya kuno dalam bentuk mengerikan. Namun kali ini mereka muncul dalam wujud yang menyerupai manusia, tidak menakutkan sama sekali.
__ADS_1
“Terima kasih,” kata Anna, disusul ucapan sama dari yang lain.
Rena hanya tersenyum tanpa menjawab, tapi senyuman itu penuh arti. Marvin lebih terkejut lagi ketika sosok-sosok tadi menghilang tanpa jejak.
“Mereka sudah pergi?” tanya Arsya.
“Iya, selama ini yang menahan mereka adalah Sophie,” jawab Kakek Han.
Tidak lama kemudian Marvin pergi untuk menjemput Dara. Setelah Arsya datang ke rumah mereka dan meminta bantuan pada Kakek Han, gadis itu bersikeras ingin ikut. Namun karena tahu bahaya yang sedang dihadapi, Kakek Han melarang Dara untuk ikut. Sebagai gantinya, dia akan mengizinkan Dara datang setelah semua masalahnya selesai.
Dengan kaki yang masih terkilir, Dara menghampiri Rena. Dia menangis, bukan air mata sedih, melainkan bahagia.
“Akhirnya kakek buyut bisa tenang,” kata Dara di sela isakannya.
“Maksud kamu?”
“Ayah saya, kakek buyut Dara meninggal setelah berusaha melenyapkan Sophie. Karena itu Dara sangat terobsesi pada rumah ini, lebih tepatnya apa yang menghuninya dan ingin melenyapkannya.” Lagi-lagi Kakek Han yang menjelaskan.
“Jadi kamu ceritanya pengen balas dendam?”
__ADS_1
Dara mengusap air matanya, lalu memandang Rena. “Gue bukannya mau manfaatin lo, kok. Emang bener gue ngelakuin ini karena kakek Gun, tapi juga sekalian bantuin lo.”
Rana sadar tidak lama kemudian, menyusul Daffa. Rana sengaja tidak menelepon Yudha, menunggu suaminya pulang dulu baru menceritakan semuanya. Tentu saja Yudha sempat merasa takut, lalu marah karena tidak dikabari secepatnya. Hal itu hanya berlangsung sebentar. Yang terpenting semuanya baik-baik saja sekarang, menurut mereka.