
Setelah kejadian naas itu, Tuan William tetap bersikap seperti biasa, seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya. Para pelayan juga bertingkah biasa-biasa saja, padahal mereka yang membantu menguburkan mayat Frederick Bloed di halaman belakang, di bawah pohon-pohon besar yang sudah berumur ratusan tahun.
Hanya Anna yang merasa ngeri setiap kali membayangkan apa yang sudah terjadi di rumah itu, tapi dia juga tidak pernah sama sekali membahas kejadian itu pada siapa pun, termasuk pada Tuan William. Pembunuhan memang bukanlah hal yang bagus untuk dijadikan pembahasan saat sarapan, makan malam, duduk-duduk santai sambil meminum teh, atau saat apa pun.
Malam ini dia hanya makan malam berdua dengan Tuan William. Setelah mayat pria itu disingkirkan, Tuan William memutuskan untuk mengunci Sophie di kamarnya. Anna tidak begitu tahu sampai kapan kakaknya akan dikurung seperti itu, dia juga tidak enak bertanya. Dia berharap semua keadaan akan lebih membaik setelah semua ini.
Hari-hari selanjutnya sangat berat bagi Anna. Tuan William belum mengeluarkan Sophie dari kamar. Bahkan dia memutuskan untuk tidur di kamar lain, tidak bersama istrinya. Anggota militer itu juga sudah dicari, Anna mendengar orang-orang berseragam diam-diam mendatangi orang-orang yang cukup dekat dengan pria itu. Yang membuatnya heran adalah, tidak ada satu pun dari mereka yang datang ke rumah Tuan William.
Itu membuktikan kalau Sophie menjalin hubungan dengan pria ini secara sembunyi-sembunyi dan pria itu juga sama menyembunyikan hubungannya dengan Sophie. Tidak ada orang yang tahu, lalu dari mana Tuan William mendengar desas-desus tentang perselingkuhan istrinya kalau tidak ada yang tahu? Anna juga belum mendapat jawaban tentang ini. Tidak pernah menyangka kalau kakaknya akan melakukan hal seperti ini. Pada akhirnya semuanya menjadi buruk.
“Kondisinya semakin melemah, Tuan. Apakah tidak kita keluarkan saja? Nyonya Sophie—”
“Tidak perlu. Biarkan saja dia membusuk di sana.”
Anna mendengar Tuan William berbicara dengan pelayan menggunakan bahasa Melayu. Dia tidak begitu tahu, hanya beberapa kata yang bisa dia tangkap dari kalimat itu. Selama tinggal di sana, Anna memang belajar bahasa Melayu dari Yusuf. Jadi, mumpung masih ingat dengan kalimat lengkapnya, Anna segera menemui Yusuf dan menanyakan apa arti dari kalimat yang baru dia dengar barusan.
“Ah, jadi begitu. Terima kasih, Yusuf.”
“Nona Anna, apa sebaiknya Anda tidak pulang saja? Kondisi di sini tidak begitu baik, maksud saya ….”
__ADS_1
Yusuf membiarkan kalimatnya menggantung tanpa berniat melanjutkan. Anna tersenyum, memegang pundak pria itu dan mengelusnya pelan.
“Tidak usah khawatirkan saya, Yusuf. Saya datang ke sini untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Walaupun ternyata masalah yang terjadi lebih berat, tapi saya akan tetap berusaha. Tidak mungkin saya meninggalkan Sophie dan Tuan William dalam kondisi seperti ini. Lagi pula kalau saya pulang, saya tidak tahu harus mengatakan apa pada ayah dan mama. Saya tidak begitu hebat dalam berbohong, selama ini saya hanya diam jika tidak ingin mengatakan apa pun daripada berbohong. Dan saya tidak yakin akan sampai kapan saya bisa diam jika ditanya tentang keadaan kakak saya. Diamnya saya juga pasti membuat mereka curiga. Pada akhirnya, jika saya pulang sebelum keadaan lebih baik, saya hanya akan membuat masalah ini lebih lebar lagi.”
“Anda wanita yang baik, Nona Anna. Harusnya Anda tidak mengalami hal-hal seperti ini dalam hidup Anda.”
“Anda juga pria yang baik, Yusuf. Harusnya nasib Anda lebih baik. Kita hanya bisa mengatakan kalimat-kalimat seperti itu, bukan? Namun sekarang yang kita butuhkan adalah suatu tindakan, bukan kalimat perandaian. Nah, saya pergi dulu.”
***
Anna tahu kalau Tuan William sudah terlanjur benci pada istrinya dan Sophie terlalu keras kepala untuk mau sadar dan mengakui kesalahannya. Alih-alih meminta maaf, wanita itu malah merajuk dan memilih tidak makan sebelum Tuan William minta maaf padanya. Yang mana itu adalah sesuatu yang tidak mungkin.
Hanya Tuan William, Bu Suri—wanita yang menjadi kepala pelayan dan yang selalu membawakan makanan untuk Sophie, Gunawan—sahabat baik Tuan William, dan Anna yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sophie mati karena kehendaknya sendiri, dia memilih bunuh diri dengan cara yang tidak biasa, membiarkan jiwanya dimakan oleh iblis dan menjelma menjadi iblis itu sendiri.
Saat itulah juga mereka tahu kalau ternyata selama ini Sophie ikut dalam pertemuan yang menganut ajaran yang menyimpang, sekte sesat. Hal yang paling mengejutkan bagi mereka semua. Gunawan, yang meski bukan seorang paranormal tapi tahu tentang ilmu supranatural yang memberitahu mereka semua. Sekarang Sophie sudah bersatu dengan salah satu iblis dan berniat membalas dendam.
Kematian pertama yang terjadi setelah kematian Sophie adalah kematian si pelayan yang selalu menyiapkan masakan untuk keluarga itu. Di dapur dia kesurupan dan membunuh dirinya sendiri. Menyusul anak Bu Suri yang terjatuh dari tangga dan langsung mati. Kemudian kematian Anna.
***
__ADS_1
“Jadi ….”
Rena gemetar. Apa yang baru saja dia lihat membuatnya sadar betul apa yang sudah terjadi di rumah ini. Di depannya Anna berdiri, mengangguk kecil. Kedua matanya tidak ada lagi, hanya rongga kosong, daging yang menghitam.
“Dia yang sudah melakukan semua ini pada kami,” kata Anna dengan bahasa Indonesia yang kaku. “Dia mengambil kedua mata saya sebelum membunuh saya, kejam sekali. Dia bukan kakak saya, dia iblis.”
Rena mendengar Anna melontarkan banyak kalimat asing dengan suara yang marah. Mungkin makian atau sumpah serapah, dia tidak tahu.
“Dan sekarang dia ingin membunuh kalian juga,” kata Anna lagi dengan suara yang suram. “Dia sudah masuk ke dalam tubuh kakak Anda.”
Rena terkejut. Jadi Sophie sudah merasuki Rana. Pantas saja sikap kakaknya itu begitu aneh dan tidak bersahabat. Dipandanginya Anna dengan pandangan takut.
“Tapi kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa kau menunjukkan apa yang sudah terjadi di rumah ini padaku?”
“Saya hanya ingin Anda tahu. Dia benar-benar sudah melakukan banyak hal jahat. Pria yang Anda lihat di halaman samping itu adalah pria asing yang pernah menempati rumah ini setelah dijual oleh Tuan William. Dia membunuhnya dengan memotong kepalanya. Gadis yang ada di kamar Anda juga adalah orang asing yang sial masuk ke dalam rumah ini saat kabur dari rumahnya, sehingga Sophie juga membunuhnya dengan cara yang tidak kalah kejam. Kami semua mati dan Sophie menyukai hal itu. Saya sudah memperingatkan Anda untuk segera pergi, yang lain juga begitu, dan sekarang sudah terlambat untuk pergi.”
Anna terdiam. Rena masih berdiri di depan pintu kamar Rana dan dia mendengar kalau pintu itu sudah terbuka. Berbalik, dia melihat Rana berdiri tepat diambang pintu, menyeringai lebar dengan mata melotot. Sorot mata yang sama sekali bukan Rana. Mulutnya terbuka, mengeluarkan suara berat dan halus.
“Mati ….”
__ADS_1