MATI

MATI
Bagian 23


__ADS_3

“Saya sudah dengar semua ceritanya dari Dara, jadi saya harap kamu tidak sungkan lagi untuk menceritakan apa yang sudah kamu alami di rumah itu pada saya. Tidak perlu segan, saya akan berusaha membantumu selagi masih bisa.”


Rena memandangi pria tua di depannya sebentar, lalu menundukkan pandangan. Bukannya tidak yakin, hanya saja dia masih merasa canggung untuk berbicara dengan kakek Dara.


Sudah sore ketika Rena dan Arsya memutuskan untuk pulang dan Hanif muncul, meminta untuk bicara dengan Rena sebentar. Mereka bicara berdua di dalam ruangan yang Dara sebut sebagai ruang duduk kakeknya. Rak-rak buku berjejer, lukisan-lukisan surealisme tergantung di dinding, dan patung-patung kayu menghiasi ruangan, juga benda-benda lain yang baru pertama kali Rena lihat dan tidak begitu tahu apa fungsinya.


Ruangan itu diselimuti udara sejuk yang lembut. Mereka duduk di sofa merah yang empuk di sudut ruangan, di dekat jendela kaca besar yang tidak bisa dibuka. Dari sana mereka bisa melihat jalanan besar di depan rumah yang tersentuh cahaya matahari sore.


“Saya tidak tahu dari mana harus bercerita,” kata Rena kemudian setelah beberapa lama berpikir harus mengatakan apa.


Hanif tersenyum, senyum yang menenangkan dari wajah tuanya.


“Kamu bisa mulai dari awal kamu datang ke rumah itu.”


“Saya datang ke rumah itu untuk menjaga keponakan saya yang jatuh dari tangga,” terang Rena, lalu menceritakan semua yang dia alami. Mulai dari suara air di kamar mandi dan bayangan hantu di cermin saat pertama dia datang, mimpi-mimpi buruk, sampai kejadian aneh saat Dara menginap di rumahnya. Semuanya, tanpa terkecuali.


Hanif mendengarkan dengan saksama. Raut wajahnya berubah-ubah tergantung cerita Rena. Dia mengernyit heran ketika Rena mulai bercerita tentang keran air dan bayangan hantu di cermin, juga mimpi-mimpi buruknya. Ketika Rena mulai menceritakan saat dia membaca buku harian milik Anna dan hampir dibunuh oleh sosok menyeramkan di rumahnya, Hanif sedikit membelalak dan terkejut.


“Jadi waktu mendengar Dara kecelakaan, saya takut kalau hantu di rumah mengikuti Dara sampai ke sini dan mengganggunya,” kata Rena mengakhiri cerita.


“Dia datang ke sini karena Dara membawa buku itu.”


“Tapi itu ‘kan buku harian milik Anna, Kek. Sedangkan Dara bilang kalau yang mengganggunya itu bukan hanya sosok Anna saja, tapi ada yang lain juga.”


“Memang benar pemilik buku itu adalah Anna, tapi sosok yang satu ini juga bersemayam di dalamnya. Entah bagaimana saya tidak tahu, karena mereka biasanya hanya tinggal di benda atau tempat yang berhubungan dengan kematiannya.”


“Jadi buku ini ada hubungannya dengan kematian sosok itu?” tanya Rena.


“Bisa jadi.”

__ADS_1


Rena dan Hanif terdiam. Hawa sejuk mendadak berubah, sedikit lebih panas dari sebelumnya. Hanif memandang ke luar jendela. Dalam kepalanya yang terlihat adalah pemandangan saat dia kecil dulu, ketika dia masih suka mencuri dengar percakapan ayahnya dan Tuan William. Dia jadi teringat kembali apa yang sudah terjadi saat itu.


“Dara bilang kalau dia sudah cerita tentang rumah itu ke kamu,” kata Hanif, tanpa melihat ke arah Rena.


Rena mengangguk pelan. “Iya, Kek. Dara sudah cerita semuanya ke saya.”


“Tapi sebenarnya ada hal yang tidak pernah saya ceritakan ke Dara. Hal yang memang sengaja saya sembunyikan dari siapa pun yang ingin tahu tentang rumah itu. Setelah mendengar cerita kamu, sepertinya sudah waktunya untuk saya menceritakan hal itu. Saya ingin kamu tahu satu hal penting yang pernah terjadi di sana. Hal yang selama ini menjadi penyebab angkernya rumah tersebut.”


“Bukannya itu karena kematian istri Tuan William?”


“Memang benar, tapi yang terjadi lebih dari itu.”


***


“Kamu kenapa, Na? Dari tadi ngelamun mulu.” Arsya yang duduk di belakang kemudi melihat Rena dengan pandangan bingung.


Setelah pulang dari rumah Dara, gadis itu memang tidak banyak bicara. Hanya diam sambil melamun. Jarak dari rumah Dara ke rumah Rena tidak jauh, tapi Arsya saat itu memang sengaja mengambil jalan memutar. Sepanjang perjalanan itu Arsya merasa aneh dengan suasana sepi dalam mobil padahal dia tidak sendiri.


“Beneran?” Arsya terlihat ragu dengan kalimat Rena.


“Iya.”


“Ngomong-ngomong tadi Kakek Han bicara apa sama kamu?” tanya Arsya lagi. Sebenarnya dia tidak bermaksud bertingkah seperti orang yang ingin tahu, pemuda itu hanya ingin memulai pembicaraan saja.


“Itu … eh udah sampai. Kak Rana ternyata udah pulang.”


Arsya menghentikan mobil tepat di depan rumah Rena. Mereka memang sudah sampai, di beranda sudah berdiri Rana yang baru saja pulang dari kantor. Rena dengan cepat membuka pintu mobil dan keluar, Arsya melakukan hal yang sama, lalu mengeluarkan Daffa, menggendongnya masuk ke rumah.


Rana berdiri dengan alis menaut. “Kamu dari mana?” tanyanya dengan pandangan menyelidik.

__ADS_1


“Daffa tadi dari jalan-jalan sama Kak Arsya, Ma.” Daffa yang berada di gendongan Arsya menjawab dengan riang.


“Jalan-jalan?”


“Iya, Kak. Tadi Arsya ngajak Daffa jalan-jalan ke taman hiburan yang baru dibuka di dekat sini. Terus kita ke rumah Dara, dia habis jatuh dari tangga soalnya. Oh iya, kenalin ini Arsya. Dia juga tinggal di perumahan ini,” jelas Rena.


Arsya mengulurkan tangan untuk bersalaman setelah menurunkan Daffa. “Arsya.”


Rana membalas uluran tangan itu sambil tersenyum lebar. “Rana. Daffa sering cerita tentang kamu. Terima kasih yah, sudah baik sama Daffa selama ini.”


Arsya tersenyum sambil mengangguk kecil. Setelah meminta diri, dia kembali ke mobil dan segera pulang.


Cahaya matahari senja berusaha menembus celah dedaunan dari pohon-pohon besar yang tumbuh di pinggir jalan. Belum petang, tapi jalanan sudah lebih dulu menggelap. Arsya masih senyum-senyum sendiri, ketika terdengar bunyi keras dari kap di atasnya, seperti ada yang jatuh dan menimpa mobilnya.


Arsya menginjak rem, lalu keluar. Tidak ada apa pun di sana. Tidak ada bekas benda jatuh, atap mobilnya mulus seperti biasa. Jadi apa? Suara sekeras itu jelas sekali berasal dari benturan di mobilnya, Arsya yakin itu. Dia melihat ke jalanan di belakang, juga tidak ada apa-apa. Kosong, lengang.


Dia kembali masuk ke mobil, masih bingung. Saat tancap gas dan mulai berjalan pun Arsya masih belum bisa menemukan jawaban atas kejadian barusan. Aneh sekali menurutnya.


Dia iseng menyapu pandangan dan lagi-lagi mengernyit heran saat mendapati ada buku usang di tempat duduk Rena tadi. Diambilnya buku itu dengan tangan kiri, sementara yang kanan masih sibuk menyetir.


“Ini punya Rena?” tanya Arsya pada dirinya sendiri.


Diamatinya sebentar buku itu. Hanya sebentar, kemudian melemparkannya kembali ke kursi samping. Tepat saat itu ada seorang perempuan yang tiba-tiba muncul dan menyeberang jalan. Arsya yang sudah terlalu dekat dengan perempuan itu dengan cepat mengarahkan mobilnya ke samping, berusaha menghindari perempuan itu.


“Gila, tuh orang mau nyeberang apa bunuh diri, sih? Muncul tiba-tiba gitu.”


Mobilnya berhenti. Arsya menoleh ke belakang, tapi perempuan itu sudah hilang.


“Cepat amat hilangnya?”

__ADS_1


Berusaha untuk tidak ambil pusing, Arsya kembali menjalankan mobilnya. Dia tidak tahu saja, kalau di kursi belakang sudah duduk perempuan yang terus menatap tajam padanya.


__ADS_2