
Mereka mendapati Daffa terbaring tidak sadarkan diri di depan TV yang sudah dalam keadaan mati. Arsya dengan cepat mendekati bocah itu dan mengguncang-guncang pelan tubuhnya.
Arysa memeriksa denyut nadi di pergelangan Daffa, berdenyut pelan. Rena memerhatikan dengan takut. Dia cukup gelisah, tapi tidak sampai panik.
“Daffa kenapa?” tanya Rena setelah Arsya membaringkan Daffa di sofa dengan benar.
“Aku gak tahu pasti,” jawab pemuda itu, “tapi denyut jantungnya melemah. Kayaknya dia habis kaget terus pingsan. Daffa gak ada riwayat penyakit jantung, ‘kan? Atau mungkin orang tuanya?”
Rena menggeleng pelan. Arsya kemudian mengeluarkan ponsel dari saku dan langsung menghubungi seseorang.
“Halo, Dok. Iya, ini Arsya. Baik, alhamdulillah baik. Dokter sekarang di mana? Ini ada yang pingsan—bukan, bukan keluarga saya. Tetangga saya. Saya juga tidak tahu apa penyebabnya. Apa? Nanti saya jelaskan lagi kalau dokter sudah di sini. Tolong segera ke sini, Dok. Alamatnya akan saya kirim melalui sms. Oke-oke, saya tunggu, Dok. Terima kasih.”
Arsya memutuskan sambungan dan kembali mengantongi ponselnya setelah mengirimkan alamat rumah Rana pada dokter yang baru saja dia telepon. Rena membelai kepala keponakannya dengan lembut.
“Daffa, kamu kenapa lagi?” Suaranya kecil dan sedih.
Arsya menenangkan Rena dengan mengatakan segala kemungkinan baik yang bisa saja terjadi, tapi gadis itu tidak bisa benar-benar tenang sampai dokter yang Arsya panggil tadi datang ke rumahnya.
“Hm, ini cukup mengherankan sebenarnya,” kata dokter yang memeriksa Daffa. Dia seorang lelaki yang tinggi dan memiliki wajah ramah menenangkan yang kini berkerut heran. “Setelah saya periksa, anak ini tidur, bukan pingsan.”
“Tidur?” Rena tampak terkejut.
Dokter tadi mengangguk. “Iya, tidur.”
“Saya kira dia pingsan karena kaget, Dok. Soalnya tadi dia teriak, waktu kami lihat dia sudah tidak sadar.”
__ADS_1
“Tapi dia tidur.”
Arysa dan Rena terdiam. Arsya sendiri bingung. Memang bukanlah dokter, tapi dia tahu perbedaan orang yang pingsan dan tidur. Sementara Rena meski sempat bingung juga, tapi merasa lega. Baginya yang terpenting Daffa baik-baik saja. Tadinya begitu, dia berpikir kalau Daffa baik-baik saja dan hanya tertidur.
Setelah dokter yang ternyata adalah paman Arsya sendiri tadi pergi, sampai beberapa jam kemudian, Daffa masih belum bangun juga. Rena mulai merasa ada yang aneh, apalagi saat dia bangunkan untuk makan siang, Daffa tidak merespon. Masih tetap terlelap, tidur tanpa suara dan tidak bergerak. Jika saja dadanya tidak naik turun pertanda masih bernapas, Rena pasti sudah berpikir kalau keponakannya itu meninggal.
Arsya sudah pulang dari tadi dan kini Rena sendiri, merasa kalut karena Daffa tidak kunjung bangun, tidak mau bangun atau mungkin … tidak bisa bangun.
***
“Rana, kayaknya kita harus bicara.”
Yudha menatap istrinya, suaranya mengandung nada serius. Rana hanya memandang suaminya dengan kening berkerut, lalu ikut keluar mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar mereka. Yudha baru saja pulang kerja dan langsung ingin berbicara serius dengannya, tentu saja itu tentang Daffa.
Rana berdiri di depan Yudha yang kini menatap dengan pandangan tajam dan dalam, yang sebelumnya tidak pernah dia lakukan pada Rana. Memandang dalam memang sering, tapi dengan tajam, baru kali ini.
“Kayaknya sekarang kita harus bicara serius dan harus ada hasil yang jelas,” kata Yudha, memulai percakapan yang Rana rasa akan melelahkan.
“Maksud kamu? Bicara serius tentang apa?” tanya Rana. Dia tahu ini tentang Daffa, tapi tidak cukup mengerti apa yang Yudha maksud dengan kata-katanya barusan. Hasil yang jelas? Hasil apa?
“Tentang kamu dan Daffa,” jawab Yudha. “Aku rasa sekarang udah saatnya buat kamu berhenti kerja dan beneran ngurus Daffa aja.”
Rana memandang suaminya tidak percaya. “Kamu bahas ini lagi setelah beberapa hari lalu kita udah bahas ini dan udah nemu hasilnya? Bukannya hasilnya udah jelas, yah. Aku bisa ngurus kamu, rumah, Daffa, sama kerjaan sekaligus. Aku—”
“Gak, Na,” potong Yudha cepat. Pandangannya makin tajam, mulai terkesan dingin dan marah. “Kamu gak bisa ngurus semuanya sekaligus dengan baik.”
__ADS_1
“Maksud kamu? Aku bisa, kok. Aku ‘kan udah bilang—”
“Kamu selalu bilang gitu dan lihat apa hasilnya sekarang. Nyatanya kamu gak bisa ngurus semuanya dengan baik. Kalau kamu bisa, Daffa gak mungkin bakal kayak gini.”
Rana terkejut. Apa yang sudah terjadi dengan suaminya? Kenapa sikapnya jadi lain begini? Dia tidak menyangka Yudha akan mengatakan hal seperti itu pada dirinya. Rana marah. Oke, memang kali ini dia tidak memerhatikan Daffa dengan baik sehingga Daffa jatuh dari tangga, tapi sebelumnya dia mengurus semua dengan baik. Bukankah semua orang juga bisa melakukan kesalahan? Rana tidak bermaksud membela diri, tapi dia juga merasa takut saat anaknya masuk rumah sakit dan kakinya patah. Dia juga merasakan hal yang sama dengan Yudha.
Dengan kalimatnya barusan, Rana merasa kalau Yudha jelas sekali meremehkannya dan tidak menganggap semua apa yang sudah dia lakukan sebelumnya. Rana marah karena Yudha tidak menghargainya kerja kerasnya.
“Jadi kamu nyalahin aku, gitu? Daffa jatuh dari tangga karena aku dan sekarang Daffa juga belum bangun karena aku? Maksud kamu gitu, ‘kan?” Rana balas memandang Yudha marah. “Yudha kamu terlalu ngeremehin aku, ngeremehin adikku. Oke, aku salah karena waktu itu gak bisa cegah Daffa jatuh dari tangga, tapi sekarang kamu masih salahin aku? Daffa gak bisa bangun dan kamu juga nyalahin Rena karena itu?”
“Aku gak nyalahin Rena, sama sekali gak. Adik kamu itu udah baik mau jagain Daffa sementara mamanya sibuk kerja. Di sini kita gak usah bahas Rena, yang harus dibahas itu kamu.”
“Kamu kenapa, sih? Aku tahu kamu sekarang lagi capek, pekerjaan di kantor banyak dan masih banyak yang harus kamu lakuin, pulang telat dan segala macam masalah lain, tapi itu gak bisa kamu jadiin alasan buat ngelampiasin semuanya sama aku.”
“Jangan nuduh sembarangan, Na. Aku gak ngelampiasin semuanya sama kamu, cuma ngebahas apa yang harus dibahas.”
“Apa yang harus dibahas? Semuanya udah jelas menurutku.” Nada bicara Rana mulai dingin.
Yudha melotot dan dengan sedikit berteriak dia berkata, “Anak kamu sekarang gak bangun-bangun dan kamu masih keras kepala gini? Kamu tuh batu atau apa sih, Na? Kamu gak mungkin sebodoh itu sampai masih gak mikir juga maksud aku. Anak kita sekarang kenapa-kenapa! Kamu dengar kata dokter yang barusan pulang tadi? Daffa tidur, cuma tidur! Tapi sampai sekarang dia gak bangun-bangun! Kamu pikir Daffa tidur dari jam delapan pagi sampai jam enam dan gak bangun-bangun itu wajar? Aku cuma mau kamu ngurus anakmu dengan baik, biar hal-hal kayak gini gak terjadi lagi ke depannya. Bukannya uang yang kukasih udah cukup? Gajiku sendiri bisa menghidupi keluarga kita, kok.”
Sebenarnya Rana sedikit merasa apa yang Yudha katakan tadi memang ada benarnya, tapi karena sudah terlanjur marah, dia tidak mau tahu lagi.
“Kamu pikir ini cuma masalah uang? Kamu pikir aku gila uang? Kalau aku orang kayak gitu, aku gak mungkin milih nikah sama kamu!”
Setelah mengatakan itu, Rana keluar dan membanting pintu. Yudha mendengkus kasar, sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.
__ADS_1