
Dara kecelakaan? Sepanjang perjalanan Rena tidakpernah berhenti khawatir, meski Arsya dari tadi menenangkannya. Daffa yang duduk di jok belakang hanya diam melihat Rena yang gelisah. Dalam hati bocah itu juga terkejut mendengar kabar Dara. Jujur saja, Daffa sebenarnya masih sedikit takut mendengar kata kecelakaan atau semacamnya.
Sesampainya di rumah Dara, Rena ke luar mobil dan ingin langsung masuk ke dalam rumah. Namun dia teringat akan Daffa. Gadis itu kembali lagi untuk membawa Daffa masuk bersamanya. Arsya bergerak lebih cepat. Setelah keluar dari mobil, dia langsung menuju pintu belakang dan menggendong Daffa.
“Biar aku aja,” kata Arsya. Rena hanya mengangguk pelan, sambil tersenyum sebagai tanda terima kasih.
Marvin sudah berdiri di depan pintu masuk. Ternyata dari tadi dia menunggu Arsya dan Rena di ruang tamu.
“Kalian dari mana?” tanyanya begitu melihat Rena dan Arsya berjalan bersama.
Bukannya menjawab pertanyaan Marvin, Arsya malah balik bertanya. “Dara gimana?”
“Kalian dari mana?” Marvin tetap kukuh untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaannya yang diabaikan tadi.
“Kami dari mana gak penting, Marvin. Sekarang keadaan Dara gimana?” Kali ini Rena yang bicara, dia tidak sabar lagi ingin segera masuk tapi Marvin berdiri di ambang pintu, menghalangi mereka berdua.
“Kalau gak penting harusnya sih gak susah juga buat ngejawabnya,” sahut Marvin datar.
“Kami dari taman hiburan dekat sini,” jawab Rena cepat. “Nah, sekarang kamu minggir. Kami mau masuk.”
Marvin mengangguk-angguk kecil, lalu bergeser sedikit, memberi akses pada Rena dan Arsya yang menggendong Daffa untuk masuk.
“Tapi kalian gak usah khawatir. Dara udah baik-baik aja sekarang,” ujar Marvin lagi setelah Rena dan Arsya melewatinya. “Gak mungkin aku main-main kayak barusan kalau Dara kenapa-napa.”
Saat itu, dari dalam salah satu ruangan di lantai satu, seorang pria tua keluar sambil mendorong kursi roda. Dara duduk di atasnya sambil tersenyum lebar, tapi Rena tahu betul kalau Dara pasti sudah mengalami kejadian yang cukup mengerikan. Beberapa hari mengenal Dara, Rena tahu kalau gadis itu cukup kuat dalam menghadapi sesuatu. Dia cukup terkejut melihat Dara tanpa riasan nyentrik. Gadis itu ternyata cantik seperti dugaannya
jika tanpa riasan.
Rena langsung mendekati Dara. Setelah tersenyum sopan pada pria yang berdiri di belakang gadis itu, Rena beralih pada Dara dan bertanya, “Ra, kamu kenapa bisa kayak gini?”
__ADS_1
Alih-alih menjawab pertanyaan itu, Dara memperkenalkan Rena pada pria tua yang mendorong kursi rodanya.
“Na, kenalin ini kakek. Kek, ini Rena, yang kuceritain tadi itu.”
“Saya Hanif, kamu bisa panggil saya kakek atau Kakek Han,” kata kakek Dara yang ternyata bernama Hanif.
“Saya Rena, Kek. Kalau boleh saya tahu Dara kenapa, yah?”
“Untuk itu kamu bisa tanya langsung sama Dara saja. Saya mau ke kamar, nanti sebelum kamu pulang, saya mau bicara sama kamu sebentar. Bisa?”
Rena mengangguk mantap, walaupun tidak tahu kenapa kakek Dara mau berbicara dengannya.
“Kalau begitu saya ke kamar dulu.”
Sepeninggal Kakek Dara, Rena segera memberondong Dara dengan banyak pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, tapi gadis itu hanya menjawab dengan singkat.
“Jatuh dari tangga,” ucapnya seolah itu bukan hal yang harus dikhawatirkan. Karena melihat wajah Rena yang masih saja khawatir, Dara melanjutkan lagi. “Udahlah, gak usah dipikirin lagi. Ini gue ‘kan udah gak apa-apa. Masih parah Daffa malah. Ini seminggu lagi gue udah sembuh. Jangan pasang tampang kayak gue gak bisa jalan lagi aja.”
“Iya, nih. Kita samaan.”
Arsya menghela napas panjang. “Gue kira lo kecelakaan parah.”
Dara memasang wajah datar dan menatap Arsya. “Jadi lo harap gue kecelakaan parah, gitu?”
“Bukan gitu maksudnya. Cuma tadi waktu Marvin nelepon, dia bilang lo kecelakaan, bukan jatuh dari tangga. Jadi yang gue pikirin itu lebih parah dari ini.”
“Hei, Bung. Jatuh dari tangga itu juga kecelakaan. Gue gak salah, dong,” celetuk Marvin yang sudah berdiri di belakang Dara, menggantikan Kakek Han. Nada bicaranya terdengar sewot.
“Ini ngomong sama kalian berdua emang bikin nguras tenaga, yah. Bikin urat jadi tegang tahu, gak. Yang gue maksud lain, yang kalian tangkap juga lain.”
__ADS_1
“Iya, deh. Ngomong sama kita emang gak senyaman ngomong sama Rena. Gue mah tahu maksud, lo. Paham bener, kok.” Marvin mengatakan itu seolah-olah merasa sedih, tapi jelas sekali kalau dia bermaksud menggoda Arsya.
Rena yang mendengarnya hanya terdiam, tidak tahu harus merespon seperti apa. Sedangkan Arsya langsung meninju pelan lengan Marvin, membuat pemuda itu mengaduh kesakitan sambil mengelus-elus pelan lengannya.
“Lo kasar sekarang, Sya. Beda banget sama dulu. Mentang-mentang habis jalan sama Rena,” ujar Marvin lagi, dengan gaya dramatis.
“Apaan sih, Vin. Gak sakit juga tuh lengan. Gue tonjok lagi, nih!”
“Jadi lo berdua habis jalan? Serius?” Dara terlihat terkejut. Rena tidak tahu apakah itu respon sungguhan ataukah hanya bermaksud menggoda mereka.
“Kami gak jalan berdua doang, kok. Ada Daffa juga,” jawab Rena pada akhirnya. Jujur saja, dia merasa malu sekali saat itu karena menjadi pembahasan. “Lagian Arsya ngajak Daffa main, bukan ngajak aku jalan. Udah, ah. Kenapa jadi bahas aku sama Arsya, sekarang ini yang harusnya dibahas itu kamu, Ra.”
“Nah, Rena benar,” timpal Arsya. “Lo kok bisa-bisanya jatuh dari tangga?”
“Kepeleset,” jawab Dara singkat.
“Kepeleset? Menurut gue sih lo gak seceroboh itu buat kepelesetdan jatuh dari tangga.”
“Emangnya cuma orang ceroboh yang bisa kepeleset? Gue juga bisa, lah. Udah, ah. Gak usah dibahas lagi. Intinya gue baik-baik aja sekarang. Lo harusnya bersyukur, bukannya malah banyak nanya.”
Arsya tidak bertanya lagi, begitu juga dengan Rena. Meski begitu, Rena tidak sepenuhnya percaya dengan alasan Dara. Dia masih berpikir kalau ada sesuatu yang sudah terjadi, sesuatu yang lain, yang lebih parah dari sekadar terpeleset.
“Ngomong-ngomong lo ngapain nyeritain tentang Rena ke Kakek Han?” tanya Marvin sambil mendorong kursi roda Dara ke arah sofa. Agar mereka bisa duduk sambil bercerita.
“Ya mau aja. Lo ngapain kepo?” balas Dara. “Na, gue mau minta tolong ke lo, bisa? Bantuin gue bikinin minum buat nih dua curut, sekalian buat lo sama Daffa juga, sih.” Dara beralih pada Arsya dan Marvin. “Kalian berdua gak usah ikut, di sini aja. Awas kalau masuk dapur, yah.”
Rena menangkap kalimat itu sebagai kode agar mereka menjauh dari Arsya dan Marvin, sepertinya Dara ingin bicara berdua dengannya. Jadi dengan cepat dia mengangguk. “Oke.”
Dia berdiri dan mendorong kursi roda Dara ke dapur. Sampai di sana, Dara menoleh ke arah pintu sebentar. Memastikan Marvin atau Arsya tidak mengikuti mereka. Setelah tidak melihat pemuda itu muncul, Dara mengatakan sesuatu yang membuat Rena terdiam.
__ADS_1
“Anna, gue tadi ketemu sama dia.”