MATI

MATI
Bagian 22


__ADS_3

Tubuh Dara menegang. Baru kali ini dia mendengar suara nyanyian yang teramat pilu, tapi bukan itu yang membuatnya berdiam diri di tempat. Melainkan fakta bahwa sosok yang bernyanyi itu sudah pasti bukanlah manusia. Dia hanya sendirian di rumah, walau tidak sendirian pun Dara hanya tinggal bersama kakeknya. Tidak ada perempuan lain yang tinggal di rumah itu selain dirinya.


Suara itu semakin lama semakin keras, nada yang dimainkan semakin rendah. Kemudian temponya menjadi semakin cepat. Nyanyian tadi berubah menjadi gumaman tidak jelas, tapi tidak mengurangi kengerian yang ada pada suaranya. Halus dan berat, seolah suara itu berasal dari dimensi lain, dunia lain yang tidak terjangkau oleh Dara. Hanya saja begitu dekat dengannya.


Bulu kuduknya meremang, jantungnya mulai berdetak cepat. Perlahan Dara bisa mendapatkan kembali kendali atas tubuhnya, dia menoleh dengan gerakan lambat. Dalam otaknya sudah berkelebat bayangan-bayangan yang dilihatnya dalam mimpi saat dia menginap di rumah Rena. Wajah retak-retak dengan mata yang hampir putih semua, pria bertopi fedora memegang kepalanya yang lepas, tangan-tangan dan kepala-kepala yang muncul di jendela dan menggapai-gapai ke arahnya. Semua muncul dan menambah rasa ngeri dalam tubuhnya.


Kini, satu sosok lagi dilihatnya. Perempuan cantik memakai baju putih berenda yang berdiri membelakanginya. Dara bisa melihat rambut pirang yang dikepang, kemudian dijepit dan ditata dengan model yang rumit, tapi anehnya terlihat indah. Sosok itu tiba-tiba terdiam, hening beberapa saat.


Dalam keheningan yang mencekam itu, Dara beberapa kali menelan ludahnya sendiri. Suara-suara lain seakan hilang, hanya detak jantungnya yang  bisa dia dengar. Menjadi musik latar yang menambah ketegangan.


Masih memunggungi Dara, sosok itu mengatakan sesuatu dalam bahasa asing. Dara tidak mengerti apa yang dikatakannya, tapi kalau dari nada suaranya, itu seperti sebuah kalimat larangan atau ancaman, atau seperti itu. Terdengar seperti orang yang marah.


Dara tersentak saat sosok itu berbalik dan menatap dengan rongga kosong di wajahnya. Tidak ada mata di tempat seharusnya ada bola mata, hanya lubang hitam. Wajahnya pucat dengan bibir membiru yang terus saja mengatakan sesuatu dengan keras.


Dara mundur perlahan seiring sosok itu yang bergerak maju, mendekat ke arahnya. Dengan cepat tangannya mengambil ponsel yang ada di atas meja belajar dan langsung menghubungi kakeknya.


“Kakek di mana? Cepat pulang sekarang, Dara mau bicara,” kata Dara dengan gemetar saat kakeknya menjawab panggilannya.


“Kamu kenapa?” tanya kakeknya di ujung sana.


“Dara gak … halo? Halo? Kakek? Halo, Kek? Kakek ngomong apa?” Panggilannya terganggu. Suara yang Dara dengar tidak jelas, seperti radio rusak. Menyusul dengungan panjang, kemudian ponselnya mati. Dara berusaha menyalakan kembali ponsel itu, tapi tetap tidak bisa.


Saat menoleh, sosok itu sudah berada tepat di depannya. Dara sontak bergerak mundur, tapi badannya tertahan oleh meja. Sebelum sempat lari ke arah lain, Dara sudah ditahan oleh lengan pucat yang terasa sangat dingin.

__ADS_1


“Lepasin! Sebenarnya mau lo apa? Lo itu siapa?!” Dara memberontak, berusaha melepaskan diri. Dia bukanlah gadis lemah, berteman dengan Arsya dan Marvin membuatnya sering melatih diri. Namun kali ini tenaganya kalah kuat oleh wanita tanpa mata di hadapannya.


Bibir biru pecah-pecah sosok itu bergerak pelan, mengeluarkan suara halus dan berat yang membuat merinding. Dara tetap tidak mengerti apa yang diucapkan sosok itu.


“Gue gak ngerti, jadi mending lo lepasin gue dan pergi. Gue sama sekali gak takut sama lo!”


Setelah berusaha mengumpulkan semua keberaniannya, Dara dengan suara keras mengatakan hal itu. Entah sosok itu mengerti atau tidak, tapi yang jelas dia ingin sosok itu tahu bahwa dia tidak cukup lemah untuk ditakut-takuti. Di awalnya dia memang merasa ngeri, tapi sekarang tidak lagi. Entah kenapa Dara merasa kalau sosok itu tidak akan menyakitinya.


“Berhenti!” kata sosok itu kemudian dengan aksen asing. Refleks Dara mengikuti apa yang sosok itu katakan, tidak bergerak lagi. “Berhenti. Jangan campuri urusan ini. Kau bisa mati.”


Dara tidak mengatakan apa pun untuk beberapa saat, masih terkejut mendengar sosok itu bicara dengan bahasa Indonesia.


“Lo siapa?” tanya Dara setelah sadar dari keterkejutannya.


Tiba-tiba sosok itu melepaskan pegangannya di lengan Dara, lalu memegang kepalanya dan menjerit kesakitan. Keras sekali, sampai Dara dengan cepat menjauh dari tempat sosok itu berdiri.


“Pe—pergi!” seru sosok itu, lalu teriak lagi. Suaranya terdengar begitu kesakitan.


Dara tidak mengerti sosok itu berbicara padanya atau pada sesuatu yang membuatnya kesakitan. Dia baru sadar ketika sosok tadi mendadak berubah penampilan. Wajahnya yang semula retak-retak, berubah menjadi hancur. Rongga matanya yang tadinya kosong, kini yang di sebelah kanan mulai terisi bola mata yang mencuat keluar seperti ingin melompat dari tempatnya. Sementara sebelah kiri terus mengeluarkan darah yang menghitam.


Mulutnya yang robek menyeringai seram. Ada hewan-hewan kecil yang bergerak-gerak di antara gigi dan gusinya yang busuk, ulat dan belatung. Lebih parahnya lagi, kedua lengan sosok itu seketika terlepas dan jatuh ke lantai, seakan sudah ditarik paksa. Darah kembali mengucur dengan deras dari pangkal lengannya.


Dara bergidik. Kini dia kembali merasakan ngeri yang sempat dirasakannya tadi dan kali ini kengerian itu terasa berkali-kali lipat. Sosok itu menggerak-gerakkan kepalanya dengan cara yang seram. Saat dia berhenti dan kembali menyeringai lebar, dia berkata dengan suara serak dan berat.

__ADS_1


“Mati ….”


Sosok itu menerjang dengan cepat. Dara langsung berlari membuka pintu dan keluar kamar. Dia terkejut ketika sampai di pertengahan anak tangga, sosok itu sudah berada tepat di belakangnya. Dengan satu kali gerakan, dia mendorong Dara. Dara berguling sampai anak tangga terbawah.


Sosok itu sudah tidak terlihat lagi. Dara bersyukur kakinya hanya terkilir. Tempatnya terjatuh memang tidak terlalu tinggi. Saat itu pintu terbuka dan kakeknya muncul dengan raut khawatir.


“Dara!” seru kakeknya ketika melihat Dara sudah terduduk di anak tangga terbawah, masih menggunakan handuk sambil memegangi kakinya. “Kamu kenapa?”


Dara tidak langsung menjawab, hanya menatap kakeknya. Dari tatapan itu, kakeknya tahu kalau ada sesuatu yang sudah terjadi pada cucunya.


“Cerita semuanya sama kakek,” kata kakeknya dengan nada tegas, yang berarti tidak ada penolakan.


***


“Karena itu gue ceritain semuanya ke kakek.”


Rena terkejut mendengar cerita Dara. Sebelumnya dia memang sudah punya firasat kalau jatuhnya Dara dari tangga pasti sama seperti jatuhnya Daffa dari tangga. Disebabkan oleh sesuatu yang tidak kasat mata. Namun mendengar langsung dari mulut Dara, tetap saja mengejutkannya.


“Kata kakek, sebelumnya hantu dari rumah itu gak pernah muncul di tempat lain, yang bikin mereka bisa muncul di rumah ini itu karena gue bawa buku dari sana. Buku itu jadi kayak semacam media buat mereka tinggal. Jadi ke mana pun dibawa, mereka bakalan bisa ikut. Tapi yang bikin gue bingung itu … selain Anna, siapa sosok yang satu lagi?”


Rena dan Dara sama-sama terdiam, sampai beberapa saat kemudian mereka saling memandang dan membelalak.


“Mungkin dia ….”

__ADS_1


Rena tidak melanjutkan kalimatnya, meski begitu Dara tahu nama siapa yang akan Rena sebutkan, Sophie.


__ADS_2