MATI

MATI
Bagian 35


__ADS_3

Rena bergerak ke samping dengan cepat ketika Rana menerjang ke arahnya. Dia berlari menuruni tangga, menuju lantai satu, berniat melindungi Daffa. Anna sudah menghilang entah ke mana, dan Rena tidak tahu harus melakukan apa, yang dia tahu dia hanya harus melindungi keponakannya.


Dia terus bertanya bagaimana cara melenyapkan Sophie? Apakah dia harus membunuh kakaknya juga? Tidak, Sophie adalah arwah yang merasuki tubuh Rana, membunuh kakaknya tidak akan memberikan efek apa pun pada Sophie selain kesenangan. Lagi pula Rena tidak mungkin membunuh Rana. Dalam keadaan apa pun.


“Tante kenapa?” tanya Daffa dengan bingung.


“Kita harus pergi!” seru Rena cepat. Tidak ada waktu untuk menjelaskan semua pada Daffa. Mereka harus keluar dari rumah itu dulu jika ingin selamat.


Remot digenggaman Daffa terjatuh saat melihat Rana muncul dari tangga, mengejar Rena yang kini menggendongnya menuju pintu keluar. Wajah mamanya sudah berubah, matanya melotor marah dan mulutnya terus meracau tidak jelas. Anak itu tahu kalau yang mengejar mereka itu bukanlah mamanya. Mamanya tidak akan pernah melakukan hal seperti itu.


Rena berteriak terkejut saat pintu di depannya menutup dengan keras, padahal dia sudah sedikit lagi keluar dari rumah. Dengan satu tangan dia coba membuka pintu, memutar-mutar kenopnya, mendorong, melakukan apa pun yang dia bisa. Namun pintu itu tetap tidak mau terbuka, entah bagaimana bisa terkunci.


Daffa berteriak keras saat Rana menerjang ke arah mereka. Rena berbalik dan menghindar di waktu yang tepat.


“Kak Rana sadar! Ini aku sama Daffa, Kak Rana jangan mau dikendaliin sama iblis itu. Sadar, Kak!” teriak Rena terus berjalan mundur, tapi badannya menabrak sofa. Dia tidak bisa mundur lagi.


“Mati ….” Hanya itu yang terus dikatakan Rana.


Kepala kakaknya bergerak-gerak dengan cara yang mengerikan. Daffa mulai menangis melihat tingkah mamanya. Sebisanya Rena menenangkan keponakannya, lalu berlari menaiki tangga saat melihat ada kesempatan baginya kabur dari Rana.


Agak sulit baginya naik tangga dengan berlari sambil menggendong Daffa juga. Dia bersyukur tidak sampai jatuh dan bisa ke kamarnya. Rena sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Rana sedikit lebih jauh darinya. Sebenarnya dia sendiri heran, seharusnya kakaknya itu bisa mengejarnya yang tidak terlalu bebas untuk berlari. Namun nyatanya Rana tidak secepat itu untuk menyusulnya.


Sebelum masuk ke kamar, Rena menoleh lagi pada Rana. Kakaknya itu terdiam di tempat dan bergerak-gerak seperti seorang yang berusaha melepaskan diri dari ikatan. Lalu saat sorot tajam Rana berubah menjadi sorot sendu dan dalam milik kakaknya, Rena tahu kalau kakaknya juga berusaha untuk mendapatkan kembali akses penuh untuk tubuhnya. Kakaknya sedang berjuang melawan Sophie dalam tubuhnya.


Rena membuka pintu kamarnya dan menurunkan Daffa.


“Mama kenapa, Tante?” Daffa bertanya, sedikit terisak.

__ADS_1


Dielusnya pelan kepala anak itu, lalu berkata, “Mama gak apa-apa. Daffa di sini dulu, yah.” Rena mengeluarkan ponsel dari saku belakang celana dan memberikannya pada Daffa. “Tante mau keluar sebentar, kamu telepon Kak Arysa, yah. Suruh dia ke sini, oke? Daffa kunci pintunya, yah.”


Daffa mengambil ponsel itu dengan tangan gemetar. Rena menutup pintu dan dari dalam Daffa langsung menguncinya. Bocah itu terduduk di belakang pintu, mencari-cari kontak Arsya sambil ketakutan.


Di luar kamar Rena bersyukur sudah mengambil kontak Arsya saat pemuda itu datang kemarin. Dia juga tidak tahu apa yang bisa Arsya lakukan, tapi untuk meminta bantuan, yang terpikirkan olehnya adalah pemuda itu.


Pandangannya kembali pada Rana yang lagi-lagi melontarkan sorot mata tajam dan marah. Badannya terlihat sulit untuk digerakkan. Gerakan-gerakannya lambat dan seperti tertahan oleh sesuatu.


Tadi Rena berpikir untuk membantu Rana lepas dari Sophie. Gadis itu terlalu khawatir sampai tidak memikirkan apa yang bisa dilakukannya untuk mengeluarkan Sophie dari dalam badan kakaknya. Sekarang dia hanya berdiri tanpa tahu harus melakukan apa.


“Hancurkan Sophie,” bisik Anna yang tiba-tiba muncul di samping Rena.


Rena terkejut karena kehadiran Anna yang mendadak. Setelah menguasai dirinya, gadis itu bertanya, “Bagaimana caranya?”


Belum sempat Anna menjawab, Rana kembali menerjang Rena dengan cepat. Terlalu cepat sampai gadis itu tidak bisa menghindar. Rena terdorong ke belakang dengan kuat, memekik kesakitan saat punggungnya dipaksa menabrak lantai dengan keras. Dia terjatuh, dengan Rana yang duduk di atas tubuhnya, mencengkeram erat lehernya.


“Mati ….”


Di tengah sesak napasnya, Rena berkata dengan kalimat yang terpotong-potong, “I … ini … Re … Rena …, Kak. Sa … dar—argh!” Dia memekik saat kepalanya diangkat dan dibenturkan ke lantai dengan keras oleh Rana.


Kepalanya sakit dan pening, pandangannya mulai kabur. Paru-parunya sudah menjerit meminta untuk diisikan udara. Pegangannya pada lengan Rana mengendur, dia tidak kuat lagi. Di saat-saat seperti itu, Rena berpikir kalau sebentar lagi dia akan mati, lalu menyusul keluarga kecil kakaknya. Tragedi di rumah ini kembali terjadi, Sophie lagi-lagi berhasil memakan korbannya. Nantinya rumah ini akan kembali kosong dan dicap angker seperti dulu.


Rena menangis dalam ketidakberdayaannya. Dia tidak ingin pasrah sebenarnya, jika bisa dia ingin terus melakukan perlawanan sampai detak terakhir jantungnya. Namun dia tidak bisa, jangankan mengangkat tangan, bernapas saja dia susah.


Air mata turun dari sudut matanya, jatuh ke lantai. Dalam hati Rena berdoa untuk keselamatan keluarga kakaknya. Seandainya ada kesempatan untuk membebaskan diri, sedikit saja, Rena tidak akan menyia-nyiakannya. Gadis itu hanya terus berdoa dan berharap.


Dadanya semakin sesak, kepalanya sakit. Rana terus memperkuat cekikannya, tapi tiba-tiba cekikan itu terlepas. Rana memegang kepalanya sambil meraung-raung. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, Rena langsung mendorong Rana setelah mengambil napas banyak-banyak.

__ADS_1


Dorongannya tidak begitu kuat, tapi cukup untuk membuat Rana terjatuh dari tubuhnya. Rena berdiri, memegang leher dan kepalanya yang kesakitan.


“Argghhh!”


Rana terus memekik, menarik-narik rambutnya. Rena khawatir kakaknya akan melukai dirinya sendiri jika terus melakukan hal seperti itu.


“Kak Rana berhenti!”


“Rena lari! Bawa Daffa pergi dari sini!” Rana berteriak di sela pekikan kesakitannya.


“Kak Rana ….”


“Lari—arrghhh!”


Pekikan itu berhenti. Rana tidak lagi menarik-narik rambutnya. Dia menunduk sebentar lalu dengan gerakan yang lambat mengangkat wajah dan tersenyum lebar. Wajah itu sudah bukan lagi wajah Rana, melainkan Sophie. Wajah yang hancur, mata yang hanya satu, mulut robek. Memang lengannya tidak putus seperti sebelumnya, tapi itu adalah Sophie!


Rena terkesiap. Tanpa sadar dia berlari menuju tangga. Sophie langsung mengejarnya dengan cepat. Mereka berlarian di tangga. Rena lebih dulu sampai di pintu keluar. Ternyata di luar sana sudah ada Arsya, Marvin dan Kakek Han yang berusaha masuk.


“Rena itu kamu, ‘kan? Buka pintunya!” teriak Arsya.


“Gak bisa, pintunya terkunci. Aku juga gak bisa buka!” Rena balas berteriak sambil menarik-narik kenopnya.


“Lo baik-baik aja, Na?” tanya Marvin dengan suara yang cemas.


“Aku—akhh!”


Sophie berhasil menarik Rena menjauh dari pintu, lagi-lagi mencengkeram lehernya.

__ADS_1


__ADS_2