MATI

MATI
Bagian 24


__ADS_3

“Nah, sekarang cuma ada kita berdua. Lo bisa cerita apa yang sebenarnya udah terjadi sama lo.”


Arsya, Rena dan Daffa sudah meninggalkan rumah Dara. Marvin memutuskan untuk tetap tinggal. Masih ada yang ingin dia tanyakan pada gadis itu. Memang sedari tadi Dara mengatakan kalau dia terjatuh dari tangga karena terpeleset, tapi Marvin merasa kalau yang terjadi tidaklah begitu.


Dari kecil dia sudah berteman dengan Dara. Dia mengenal baik sifat gadis itu yang kadang berbohong untuk membuat orang di sekitarnya tidak khawatir. Marvin merasa kalau kali ini Dara melakukan itu lagi, berbohong.


“Udah gue bilang kalau gue jatuh itu cuma karena kepeleset. Ngeyel banget sih jadi orang.”


“Ya udah, kalah lo masih gak mau cerita, gue tanya aja langsung sama Kakek Han.”


Saat itu kakek Dara keluar dari kamarnya. Marvin berdiri dari duduknya dan langsung menghampiri pria itu.


Hanif Purnama bukanlah seorang yang pendiam, bukan juga orang yang banyak bicara. Namun dia lebih suka mendengar daripada bercerita, meski pada kenyataannya selama ini dia lebih banyak bercerita dibanding mendengar dari orang-orang.


Berbadan tegap dengan tinggi sedang. Matanya tajam, dengan alis tebal yang sama putihnya dengan rambut pendeknya. Meski rambutnya sudah putih semua, Hanif kadang masih bertingkah seperti pria yang lebih muda dari umurnya sekarang dan beramah-tamah pada anak muda. Karena itulah Marvin tidak segan berbicara dengan Hanif.


“Kakek Han, jangan ikutan bohong juga kayak Dara. Dara gak jatuh dari tangga karena kepeleset, ‘kan?”


Hanif mengernyitkan keningnya yang sudah keriput, lalu menghela napas dalam.


“Marvin, memangnya kamu tahu kalau Dara bohong?”


“Tahulah. Marvin bukan anak kecil lagi, Kek. Yang kayak gini tuh kentara banget kalau Dara lagi bohong. Pasti ada sesuatu. Iya ‘kan, Ra?”


Dara hanya mengedikkan bahu, memilih bersikap tidak peduli.


“Kalau mau tahu langsung tanya sama Dara saja, biar dia yang cerita.”


Setelah mengatakan itu, Hanif langsung berjalan ke dapur. Meninggalkan Marvin yang kini menyeringai pada Dara.


“Gue bilang juga apa. Lo itu bohong, Ra. Nah sekarang ceritain apa yang udah terjadi. Kenapa lo bisa jatuh dari tangga?”


***


“Kok bisa Dara jatuh dari tangga?” tanya Rana yang saat itu sedang memasak untuk makan malam. Rena membantunya dan Daffa duduk melihat mereka berdua memasak.

__ADS_1


“Kepeleset, Kak. Tapi untungnya gak parah, sih. Gak sampai kayak Daffa yang kakinya patah, Dara cuma terkilir. Dia naik kursi roda mendiang neneknya karena kakeknya yang suruh.”


“Kasihan, yah. Kamu hati-hati, Na. Jangan sampai begitu juga.”


“Iya, Kak. Aku juga kaget soalnya Dara tadi bilang cuma mau pulang mandi sama ganti baju doang, tapi habis itu gak datang lagi. Ternyata jatuh dari tangga.”


“Ngomong-ngomong soal Arsya, kamu gak ngerasa kalau dia ada sesuatu gitu ke kamu?”


“Maksudnya?”


“Ya gitu. Masa kamu gak sadar, sih. Dia itu kelihatannya sengaja pengen narik perhatian kamu.”


Rena terkejut. Memandang kakaknya dengan pandangan tidak percaya. Tidak menyangka kakaknya akan mengatakan hal seperti itu.


“Aku gak ngerasa gitu, kok. Arsya kayaknya emang sengaja pengen deket sama Daffa karena keingat sama adiknya yang meninggal satu tahun lalu.”


“Dia bilang begitu ke kamu?”


Rena mengangguk.


“Ya iyalah dia bilang begitu ke kamu,” lanjut Rana lagi. “Gak mungkin dia bakalan ngomong terus terang kalau lagi pengen ngedeketin kamu. Kakak ipar kamu juga dulu begitu, katanya pengen dekat karena hal lain, tahu-tahunya karena suka. Tapi gak apa-apa, sih. Kalau kakak lihat Arsya itu anak baik-baik.”


“Nah ‘kan. Jangan bilang kalau kamu juga mulai suka sama dia.”


Rena menunduk, wajahnya pasti memerah sekarang. Dia memang mulai suka dengan Arsya, tapi tentu saja malu jika perasaannya diungkit-ungkit seperti itu.


“Kak Rana apaan, sih. Baru juga kenal berapa hari, masa langsung suka aja. Semuanya butuh proses.”


“Yee, kalau suka mah suka aja, gak usah pakai proses-proses segala. Ada kok orang yang sekali lihat langsung suka. Contohnya kakak iparmu, tuh. Katanya langsung suka pada pandangan pertama. Nanti menjalin hubungannya yang baru butuh proses.”


“Itu mah Kak Yudha, doang. Kalau aku ‘kan butuh proses dulu baru bisa suka sama orang. Emangnya Kak Rana langsung suka juga sama Kak Yudha? Pasti ada prosesnya dulu. Semuanya ‘kan butuh proses, termasuk perasaan juga.”


“Kamu ngomong gitu kayak yang udah ahli masalah perasaan aja.”


Rena memajukan bibirnya, berusaha bersikap begitu untuk menutupi perasaan yang sebenarnya. Sementara Rana hanya tertawa, lalu melihat ke arah Daffa yang duduk menghadap pintu. Bocah itu sedang memainkan sendok ketika wajahnya berubah senang dan berteriak.

__ADS_1


“Papa pulang!”


Rana dan Rena refleks ikut menoleh ke pintu. Yudha muncul dari sana dengan air muka lelah.


“Pulangnya kok telat?” kata Rana sambil memberikan senyuman manis untuk suaminya.


“Kantor lagi sibuk-sibuknya. Kayaknya setelah ini bakalan sering pulang telat,” jawab Yudha setelah menciumi anaknya.


“Ya udah. Ganti baju dulu, habis itu mandi, baru turun ke sini.”


Yudha mengangguk, lalu beralih pada Rena. “Oh iya, tadi teman kamu datang, tapi kok sikapnya aneh, Na?”


“Teman?” Rena menoleh pada Rana, kemudian kembali ke Yudha. “Teman yang mana yah, Kak? Dari tadi Rena di dapur bareng Kak Rana dan gak ada tuh teman Rena yang datang.”


“Loh, tadi ada, kok. Dia baru keluar dari rumah gitu pas aku datang.”


“Hah? Cowok apa cewek, Kak?”


“Cewek, rambutnya panjang. Pakaiannya aneh, sih. Kayak baju-baju zaman dulu gitu. Karena ingat dandanan Dara, aku mikirnya kalau teman kamu unik-unik.”


“Tapi Rena gak ada teman yang kayak gitu. Di sini, teman Rena cuma ada tiga, yang cewek cuma Dara, doang. Teman kampus juga gak ada yang tahu rumah ini. Emang tadi dia bilang kalau dia temannya Rena?”


Kini Yudha yang terlihat bingung. “Aku sih sempat nanya siapa dia, dia bilangnya teman kamu. Habis itu langsung ke luar rumah.”


***


“Lo serius, Ra?” Marvin membelalak. Terkejut mendengar cerita Dara tentang apa yang sudah terjadi sebenarnya.


Hari itu, ketika dia dan Arsya dari rumah Rena, Marvin-lah yang langsung menceritakan pada Dara kalau rumah angker di perumahan mereka sudah ada yang menempati dan mereka kenal salah satu penghuninya. Dara yang dari dulu memang sudah terobsesi, langsung memaksa Marvin untuk mengajaknya bertemu dengan Rena.


Awalnya Marvin berpikir kalau Dara hanya ingin mengenal orang yang tinggal di rumah itu saja, tanpa ada maksud yang lain. Ternyata Dara sudah melakukan hal di luar pikiran Marvin. Dia tidak menebak kalau Dara berniat membantu Rena menyingkirkan semua hantu yang ada di sana.


“Dara, lo udah gila apa? Rumah itu udah angker selama bertahun-tahun. Pasti yang nungguin juga udah bejibun. Lo mau ngusir mereka? Gak gampang, Ra. Lihat sekarang, lo aja baru bermalam di sana sehari udah diganggu kayak gini, apalagi kalau mau ngusir mereka? Mending gak usah, Ra. Berhenti sekarang sebelum nantinya tambah parah.”


Dara memandang Marvin dengan pandangan tidak suka. “Jadi lo mau Rena sama keluarganya diganggu terus sampai mereka pindah? Habis itu rumahnya kosong lagi, gitu?”

__ADS_1


“Yah … gak juga sebenarnya, tapi mau gimana lagi? Rumah itu udah terlanjur angker.”


“Terserah lo, Vin. Tapi yang jelas gue mau bantu Rena.”


__ADS_2