MATI

MATI
Bagian 36


__ADS_3

“Rena!”


“Kita harus dobrak pintunya!”


“Cepat!”


Teriak-teriakan itu terdengar saling bersahutan, menyusul suara pintu yang terus digedor-gedor dari luar. Sementara di dalam rumah, Rena lagi-lagi berusaha untuk melepaskan diri dari cekikan Sophie.


Kakek Han menyingkir, memberikan akses untuk Arsya dan Marvin yang sudah mengambil ancang-ancang ingin mendobrak pintu. Pada hitungan ketiga, dua pemuda itu langsung menerjang dan menabrakkan diri ke pintu dengan keras.


Mereka berhasil membuka pintu pada percobaan pertama meski badan mereka cukup  terasa sakit. Namun tidak ada waktu untuk mengaduh kesakitan. Setelah pintu terbuka, Arsya segera berlari, membantu Rena melepas cengkeraman Sophie pada lehernya. Ditariknya lengan Sophie dengan keras. Marvin juga melakukan hal yang sama. Berdua, Arsya dan Marvin mendorong Sophie menjauh dari Rena.


Rena terbatuk-batuk saat lehernya bebas, lalu mengambil napas banyak-banyak. Dipandangnya Arsya dan Marvin, dia ingin sekali menangis saat itu. Sungguh, semua yang Sophie lakukan padanya berhasil membuatnya ketakutan setengah mati.


“Udah, tenang aja. Kita semua udah ada di sini, jangan takut.” Arsya bertingkah seperti pacar yang penyayang, memeluk Rena dan mengelus pelan kepalanya.


Marvin memutar mata melihat tingkah sahabatnya itu, tidak pernah berpikir kalau Arsya bisa-bisanya modus di saat saat seperti ini. Arsya melihat respon Marvin dan langsung melepas Rena. Mendadak dia sadar kalau tingkahnya barusan pasti terlihat seperti sengaja mencari kesempatan, tapi dalam lubuk hatinya Arsya tidak ada berniat melakukan hal seperti itu. Dia sungguh-sungguh ingin menenangkan Rena dan sepertinya terbawa suasana.


Pintu tiba-tiba tertutup lagi, membuat mereka yang ada di dalam sana sontak memusatkan pandangan pada satu tempat. Saat perhatian tidak tertuju padanya, Sophie berlari seperti singa yang mengejar mangsa. Mengincar Marvin yang berada paling dekat dengannya.


Kakek Han yang dari tadi diam-diam terus memerhatikan Sophie dari sudut mata ketika para anak muda itu fokus pada hal lain, dengan cepat berjalan memotong jarak antara Sophie dan Marvin. Dia mengangkat tangan kiri dan menggumamkan sesuatu yang tidak begitu jelas dengan suara pelan.


Itu membuat gerakan Sophie terhenti, dia ditahan oleh kekuatan yang tak kasat mata untuk beberapa saat.


“Mati!” Sophie berteriak lalu meraung-raung tidak jelas dalam bahasa Belanda.

__ADS_1


“Berhenti!” Kakek Han balas berteriak. Rahangnya mengeras dan matanya melotot tajam. Wajah tuanya menyiratkan kalau dia benar-benar marah.


Diteriaki seperti itu, Sophie terdiam. Dia menelengkan kepala sambil menyeringai lebar. Arsya terkejut, Marvin melompat mundur sambil mengumpat. Baru kali ini mereka betul-betul melihat rupa Sophie. Dari tadi, ketika mereka berhasil masuk ke dalam rumah, wajah wanita itu ditutupi oleh rambut hitam, yang mereka lihat hanyalah samar samar.


Arsya dan Marvin tadinya mengira kalau wanita itu adalah Rana yang sedang kesurupan, seperti yang Daffa katakan padanya lewat telepon. Sekarang rambut tidak lagi menutupi wajah itu, menunjukkan rupa yang sebenarnya. Memang yang berdiri di depannya adalah Rana, tapi wajahnya berbeda, menakutkan dan menyeramkan.


Arsya ingat wajah itu, itulah sosok yang dilihatnya di mimpi, yang bersama Rena. Jadi benar, dia mimpi buruk karena sudah membawa buku itu bersamanya dan kini mimpi buruknya menjadi kenyataan. Meski yang terjadi tidaklah sama, Sophie benar-benar nyata. Ada dan sedang berdiri di depan mereka.


Sophie tertawa dengan keras, tawa yang mengerikan.


“Mati! Mati! Mati!” serunya lagi. Tangannya bergerak seperti melepas belenggu yang sempat menahannya di tempat. Dia kembali menyeringai, beberapa belatung berjatuhan dari mulut ketika tawanya kembali membahana.


Tanpa seorang pun yang menduga, Sophie berlari menaiki tangga. Benar-benar tidak terlihat seperti manusia, langkahnya cepat dan seperti tidak menyentuh lantai.


Tidak perlu dijelaskan lagi, Arsya, Marvin dan Kakek Han sudah mengerti maksud Rena. Apalagi dari tadi mereka belum melihat Daffa, tentu saja anak itu ada di ruangan lain di rumah ini.


“Cepat!”


Kakek Han yang pertama kali bergerak, menyusul Sophie.


“Daffa di mana?” tanya Arsya.


“Di kamarnya.”


Setelah mendapat jawaban, Arsya berlari dengan sekuat tenaga, melewat pria tua dan Rena yang berlari lebih dahulu. Marvin menyusul Arsya. Saat ini mereka harus bergerak dengan cepat atau Sophie akan melakukan hal buruk pada Daffa.

__ADS_1


Suara langkah mereka menggema, menjadi suara latar adegan yang menegangkan itu. Arsya dan Marvin sampai lebih dulu di kamar Daffa daripada Rena dan Kakek Han, tapi mereka terlambat. Pintu kamar terbuka, Sophie sudah berdiri sambil menahan Daffa dalam cengkeramannya.


“Lepaskan anak itu, Sophie!” Kakek Han yang baru sampai berteriak. Dari saku jubah hitamnya dikeluarkan benda kecil yang pernah Rena lihat di ruang duduk pria itu. Bentuknya seperti ceker ayam, tapi Rena tahu kalau itu adalah akar pohon. Entah pohon apa.


“Mati ….”


Jendela kamar tertutup, tapi tirai jendela bergerak-gerak seperti ditiup angin kencang. Ruangan perlahan menggelap, di luar sana mendung. Awan-awan hitam berkumpul. Kilat mendadak menyambar dengan keras, lalu tiba-tiba hujan turun dengan deras. Atmosfer ruangan berubah. Mereka bisa merasakan aura marah yang mencekam menguar dari tubuh Rana yang ada Sophie di dalamnya.


Seringai lebar terus saja menghiasi wajah Sophie yang hancur. Matanya yang tinggal satu dan mencuat keluar bergerak-gerak. Di depannya, Daffa hanya berdiri sambil menatap kosong, sepertinya Sophie sudah melakukan sesuatu pada anak itu.


“Sophie!” Kakek Han maju dan menjulurkan benda kecil itu ke arah Sophie sambil kembali menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, mantra.


Sophie terdorong mundur, Daffa ikut terpental bersamanya karena pundaknya ditarik. Mereka menabrak dinding dengan keras, membuat Sophie menggeram. Tirai bergerak semakin kencang, pun benda-benda yang ada di sana. Ranjang, lemari, meja, kursi, semuanya bergetar hebat seolah sedang ada gempa yang dahsyat.


“Arghhh!” Sophie berteriak marah, berdiri dan melotot pada Kakek Han.


“Kau tidak bisa membunuhku,” kata Sophie dengan bahasa Belanda. “Tidak pernah bisa. Kau mungkin bisa menyakitiku dengan benda itu, tapi tidak bisa membunuhku. Aku tidak akan pernah mati. Kalian yang akan mati sebentar lagi, sama seperti orang-orang rendahan yang sudah kubunuh. Kalian semua sama, orang-orang rendahan, akan aku bunuh!”


Sophie berteriak, dia keluar dari tubuh Rana yang langsung pingsan di sebelah Daffa yang juga tidak sadarkan diri. Gaun hitamnya melayang-layang seperti ditiup angin, lengannya yang putus kini sudah berada di leher Arsya dan Marvin yang berusaha melepaskan diri.


Saat masuk dalam tubuh Rana, Sophie tidak bisa leluasa bergerak karena Rana juga berusaha melawannya di dalam sana. Namun sekarang, tidak ada lagi yang bisa menghalanginya. Dia sudah dipaksa keluar dan sangat marah, ingin membunuh mereka semua dengan tangannya, berhenti main-main seperti tadi.


Sophie menghilang dan muncul tepat di depan Kakek Han. Dia hanya melotot dan pria tua itu sudah tidak bisa bergerak. Rena kembali teringat dengan apa yang sudah Anna tunjukkan padanya. Sophie meninggal dengan bunuh diri, menyerahkan jiwanya pada iblis dan menjadi iblis itu sendiri. Dia sudah terlalu lama bergentayangan dan membunuh banyak orang, karena itu dia menjadi kuat.


Dalam bayangan masa lalu itu, Rena juga melihat kematian Anna dan dari situ dia sadar, mungkin ada sesuatu yang bisa dia lakukan untuk melenyapkan Sophie.

__ADS_1


__ADS_2