
“Setelah kematian Anna, Tuan William kembali ke Netherland, apalagi waktu itu juga ada desas-desus tentang pergerakan Nippon. Rumah ini dikasih ke Kakek Gun, yang waktu itu udah dianggap kayak saudara sendiri sama Tuan William. Pokoknya selama masa-masa yang sulit itu keadaannya benar-benar parah. Setelah Indonesia merdeka dan keadaan kembali membaik, Kakek Gun mulai memperbaiki rumah ini, terus disewain. Tapi keluarga yang tinggal di sini gak pernah ada yang betah karena banyak hantunya. Kakek Gun coba ngusir Sophie, tapi naasnya kakek meninggal waktu itu. Jadi nenek buyut ngejual rumah ini. Sekarang sih yang punya kakak kamu.”
Sudah beberapa hari setelah kejadian yang hampir merenggut nyawa itu berlalu. Dara sering-sering datang untuk bertamu dan hari ini dia baru menceritakan semuanya pada Rena. Rena juga baru saja menceritakan apa yang sudah dia alami tentang kilasan masa lalu itu pada Dara. Mereka memang sengaja ingin mendiami masalah ini untuk beberapa hari. Entah apa alasannya, Dara yang pertama kali mencetuskan ide tersebut.
“Nah lo udah cerita, ‘kan? Sekarang giliran gue yang bicara sama Rena.”
Arsya muncul di depan dua gadis itu, membuat Dara mendelik sebal.
“Apaan sih, lo? Mau bicara? Ya udah bicara aja.”
“Tapi gue mau bicara berdua.”
“Dih, modus. Jangan mau, Na.”
“Eh, jangan sembarangan. Gue mau bicarain hal yang penting yah, bukan mau modus.”
“Terus kenapa gak di sini aja?”
“Karena ada lo.”
__ADS_1
“Nih curut kayaknya minta ditampol, nih.”
Rena tertawa melihat interaksi dua sahabatnya itu. “Udah, Ra. Biar aku bicara dulu sama Arsya. Kasihan tuh Marvin kamu cuekin mulu, lagian ini udah beberapa hari. Jangan marah lagi, lah. Lagian itu ‘kan karena Kakek Han yang ngelarang kamu buat ke sini, jadi dia juga gak bantu kamu. Jangan emosi mulu, lah.”
“Rena bener, tuh. Lo harusnya terima kasih sama gue karena masih jemput lo,” sahut Marvin yang duduk di sofa yang agak jauh dari mereka.
“Lo jemputnya telat, harusnya lebih cepat. Biar gue bisa lihat mereka semua yang ada di sini pamitan.”
Arsya segera menarik Rena untuk keluar—mereka memang sedang di ruang tamu saat itu. Mereka berhenti di beranda, berdiri bersebelahan.
“Ngedengerin mereka debat gak bakalan ada habisnya,” ucap Arsya.
“Dia mau ngungkapin perasaan itu,” celetuk Marvin yang ternyata sudah berdiri di belakang mereka.
“Lo ngapain ngikut ke sini?” Arsya melotot marah pada Marvin, sedang yang dipelototi hanya mengedikkan bahu.
“Disuruh keluar sama Dara, daripada gue diamuk. Lagian gelagat lo itu terlalu kentara, Sya. Kita semua udah tahu kalau lo suka sama Rena lagi. Kentara banget, ada apa-apa lo selalu keingat Rena. Rena juga tahu kali kalau lo pengen ngungkapin perasaan. Iya ‘kan, Na? Gimana, lo mau jadi pacarnya Arsya?”
“Berengsek banget sih lo, Vin! Kalau kayak gini gue berasa gak jantan karena ditembakin sama sahabat.”
__ADS_1
“Nah ‘kan gue benar. Gimana, Na? Lo mau gak jadi pacar Arsya?”
Arsya memiting leher Marvin, kesal dengan sikap sahabatnya. Rena hanya tertawa, dalam lubuk hatinya dia senang karena ternyata Arsya juga menyukainya.
“Sya, kalau lo gak lepasin gue, gue gak bisa napas. Kalau gak bisa napas, gue bisa mati. Kalau gue mati, lo masuk penjara. Emang lo mau masuk penjara gara-gara bunuh sahabat sendiri? Lagian Rena kayaknya gak bakalan mau punya suami yang udah masuk sel.”
Arsya segera melepas pitingannya dengan wajah merah. Dia malu dan kesal, tapi memilih untuk tidak melakukan apa-apa lagi pada Marvin yang cengegesan. Saat itu terdengar suara teriakan dari dalam rumah. Tentu saja bukan dari Dara, karena suara itu milik Rana. Setelah kejadian itu Rana memang memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus menjaga Daffa. Sekarang Rana sedang memasak untuk mereka. Kenapa wanita itu berteriak?
Arsya, Rena dan Marvin saling bertukar pandang, lalu berlari ke dapur. Dara ternyata sudah bergerak lebih dulu. Mereka mendapati Rana berdiri di depan pintu yang mengarah ke halaman belakang dengan wajah pucat.
“Kenapa, Kak?” tanya Rena.
Rana tidak mengatakan apa pun, tapi dia tahu kalau dirinya baru saja melihat sesuatu. Tadi dia mendengar gedoran di pintu dan langsung membukanya—karena mengira itu Rena atau teman-temannya yang pergi ke halaman belakang. Namun alangkah terkejutnya ketika dia mendapati yang berdiri di balik pintu bukanlah para remaja itu, melainkan sosok menyeramkan.
Memang sekarang sudah hilang, tapi tadi Rana yakin sekali kalau di depannya baru saja berdiri pria bersimbah darah dan ada lobang tepat di jantungnya. Wajah pria itu membengkak dan biru, berbau busuk.
“Kak Rana kenapa?” tanya Rena lagi.
Rana masih tidak menjawab. Mendadak dia merasa ada sesuatu aneh yang menjalari tubuhnya.
__ADS_1