MATI

MATI
Bagian 26


__ADS_3

“Aku gak kuat lagi, Sya.”


Rena menangis. Arsya tidak tahu harus melakukan apa, dia sendiri bingung dengan sikap Rena yang aneh itu. Tadinya dia hanya berniat singgah sebentar untuk mengembalikan buku Rena yang sempat tertinggal di mobilnya, karena kebetulan lewat di depan rumah Rena. Sampai di sana, Arsya mendapati rumah itu kosong. Mulanya dia pikir begitu. Dia baru saja ingin pergi saat pintu terbuka dan Rena keluar dari dalam rumah. Matanya sembab dan bengkak. Wajahnya pucat.


“Kamu kenapa, Na?” tanyanya, tapi Rena tidak menjawab. Hanya diam dan terus menangis.


“Rena, kamu kenapa?” ulangnya lagi sambil memegang kedua bahu gadis itu, sedikit mengguncangnya untuk mendapat jawaban.


“Mati, aku bakalan mati, Sya!” kata Rena lagi, histeris. “Semua bakalan mati! Mati!”


Gadis itu berlari masuk ke dalam rumah setelah mengatakan itu. Arsya sama sekali tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Rena sampai sikapnya aneh begitu. Mati? Kenapa dia terus-terus mengatakan itu, Arsya tidak tahu. Yang dia tahu, dia harus segera menyusul Rena.


Arsya berlari masuk, menaiki tangga menuju lantai dua. Dia melihat Rena masuk ke kamarnya.


“Rena, kamu kenapa?!” teriak Arsya.


Rena berdiri di dekat jendela yang sudah terbuka lebar, mengambil posisi untuk melompat. Arsya dengan cepat menahan tubuh Rena agar tidak melompat.


“Kamu gila, yah? Kamu kenapa? Apa yang udah terjadi di sini? Cerita sama aku, Na. Jangan malah kayak gini.”


Rena memberontak, masih terus menangis.


“Lepasin! Aku bakalan mati. Semuanya bakalan mati! Mati!”


Arsya mempererat pelukannya, mulai bicara dengan suara yang lebih keras daripada tadi. “Rena! Berhenti!”


Seketika tubuh Rena menegang dan dia berhenti bergerak, juga terdiam. Mulanya Arsya mengira itu respon Rena karena mendengar bentakannya, tapi dia sadar ketika melihat pandangan Rena yang menembus tubuhnya, kalau gadis itu diam karena hal lain.

__ADS_1


Arsya ikut menoleh, melihat ke arah yang sama dengan Rena. Tubuhnya ikut menegang. Tidak jauh dari tempatnya berdiri ada sosok mengerikan yang menyeringai, seringai yang semakin terlihat lebar karena robekan di mulutnya.


Mata sebelah kiri kosong, memperlihatkan lubang daging yang sudang menghitam. Sedangkan yang di sebelah kanan menatap tajam, terlihat menyeramkan karena menyembul keluar.


“Mati ….”


Sosok itu mengeluarkan suara serak yang membuat badan merinding. Berat dan dalam, menyeramkan.


Rena berteriak saat tubuhnya terlempar ke arah pintu tanpa ada yang menyentuhnya. Arsya refleks memanggil Rena dan berlari ke arah gadis itu. Langkahnya terhenti, sosok menyeramkan tadi tiba-tiba muncul di depannya, menghalangi jalannya.


Di belakang sosok itu Rena mengaduh kesakitan karena badannya menabrak pintu yang mendadak tertutup bersamaan dengan munculnya sosok tadi.


“Mati …,” kata sosok itu lagi.


Arsya tidak berniat untuk tetap diam saja, tapi nyatanya tubuhnya diam, tidak bisa digerakkan. Banyak sekali yang ingin dikatakannya, kepalanya penuh dengan pertanyaan. Namun tubuhnya dikuasai ketakutan yang teramat sangat. Sehingga yang bisa tubuhnya lakukan hanyalah membeku di tempat.


“Mati ….” Rena bicara, tapi yang keluar dari mulutnya bukanlah suaranya. Melainkan suara sosok mengerikan tadi.


“Rena.” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Arysa.


Arsya menatap takut pada Rena. Di belakang gadis itu sudah berdiri sosok yang menyeramkan tadi, memegang pundak Rena dengan lengannya yang terpisah dari badan. Darah yang mengucur dari pangkal lengan itu terus jatuh ke lantai, banyak sekali dan berbau amis yang menyengat.


“Mati!” Rena berteriak dan berlari menerjang Arsya.


Arsya masih tidak bisa bergerak. Tubuhnya terdorong jatuh ke belakang. Dia terbangun dari tidur dengan sakit di


punggungnya. Ternyata tadi hanya mimpi dan barusan dia jatuh dari tempat tidur.

__ADS_1


“Rena.” Kata pertama yang diucapkannya saat bangun.


Pandangannya jatuh pada buku usang di atas meja dekat ranjangnya. Kemarin dia menemukan buku itu di mobilnya, berpikir kalau itu punya Rena. Dia memang belum menanyakan tentang itu pada Rena, karena masih belum memiliki nomor ponselnya. Namun dia yakin kalau itu dibawa Rena dari rumah Dara, jadi tetap milik gadis itu.


Arsya masih heran, kenapa dia bermimpi seperti itu dan kenapa bersama Rena. Arsya memang tahu kalau rumah yang ditempati Rena sekarang memang angker, tapi menurutnya itu bukanlah hal yang bisa dijadikan alasan mimpi buruknya barusan. Kalau rumah Rena angker memangnya kenapa? Toh dia tidak melakukan apa pun yang mengganggu penunggu di sana, pikir Arsya. Kecuali kedatangannya ke sana dianggap gangguan, tapi … tetap saja aneh.


Dia sudah datang ke rumah itu dari beberapa hari yang lalu, tapi baru mimpi seram seperti itu tadi malam. Jadi karena apa? Arsya masih bertanya-tanya. Dia ingin mengabaikan mimpinya itu sebenarnya, sangat ingin malah. Hanya saja, adegan-adegan di dalamnya benar-benar mengganggu.


“Siapa sosok nyeremin itu dan apa hubungannya dengan Rena?” gumam Arsya. “Apa mungkin dia salah satu penunggu rumah itu? Tapi kenapa Rena malah ngomong mati mulu? Jangan-jangan … argh!”


Arsya kesal sendiri lalu mengambil buku itu. Dari kemarin dia memang belum membukanya sama sekali karena merasa tidak punya kepentingan, tapi sekarang dia penasaran buku apa yang diambil Rena dari rumah Dara.


Dibukanya halaman pertama dan langsung membuatnya mengernyit, heran.


“Bukan bahasa Indonesia,” katanya. “Rena bisa bahasa asing?”


Dibukanya terus halaman dengan cepat sampai pada halaman terakhir yang ada tulisannya. Tidak banyak halaman kosong yang tersisa, hanya empat lembar lagi. Arsya tadinya iseng membaca tulisan di halaman terakhir itu, tapi dia kembali penasaran saat melihat nama William dituliskan di sana.


Dia tahu seseorang yang bernama William, setidaknya pernah mendengar nama itu disebut-sebut sebagai pemilik awal rumah yang sekarang ditempati Rena dan keluarganya. Kakek Han memanggilnya Tuan William di setiap ceritanya. Jika memang benar William yang dimaksud di buku ini adalah William yang itu, berarti buku ini ada hubungannya dengan rumah Rena.


Arsya yakin begitu, ditambah fakta bahwa Rena yang membawa buku itu dari rumah Dara, membuatnya semakin yakin.


“Pasti ada sesuatu di sini,” kata Arysa sambil menutup buku itu dan meletakkannya kembali di atas meja. “Kayaknya gue emang harus ngomong ke Rena. Waktu Kakek Han ngajak dia bicara berdua juga rasanya udah aneh.”


Setelah mandi, Arsya langsung berangkat menuju rumah Rena, tidak bisa menunggu sampai waktu selesai sarapan. Memang masih terlalu pagi untuk bertamu, mamanya saja sempat bertanya kenapa dirinya terlihat buru-buru begitu. Arsya memang tergesa-gesa, ingin segera bertemu Rena dan mencari tahu apa yang sudah terjadi. Berharap gadis itu mau bercerita padanya.


Sambil memegang buku usang di tangan kiri, Arsya turun dari mobil dan berjalan menuju rumah Rena. Pintu terbuka lebar dan terlihat Rena baru saja ingin keluar rumah. Gadis itu tersenyum menyambutnya. Arsya mempercepat langkah.

__ADS_1


“Rena, aku mau ngomong sesuatu ke kamu,” katanya cepat setelah jarak mereka sudah dekat. Bahkan sebelum Rena sempat menyapa.


__ADS_2