MATI

MATI
Bagian 27


__ADS_3

“Rena, aku mau ngomong sesuatu ke kamu.”


Dia baru saja ingin menyapa Arsya dan bertanya apa alasannya datang sepagi ini. Bahkan kakaknya baru saja meninggalkan rumah, tapi belum sempat mengatakan apa pun, Arsya sudah bicara duluan.


Rena mengamati Arsya. Air muka pemuda itu sedang serius, rahangnya mengeras dan tatapannya tajam.


“Pasti penting, yah? Kamu datangnya sepagi ini, gak mungkin kalau gak penting,” balas Rena. Dia memang berpikir seperti itu. Memangnya apa lagi? Tidak mungkin Arsya menemuinya secepat ini kalau bukan hal penting, seperti tidak ada waktu lain saja.


Arsya mengangguk, mengangkat buku usang itu dan berkata, “Ini punya kamu? Ketinggalan di mobil kemarin.”


Rena sedikit terkejut melihat buku itu, tapi sedetik kemudian dia menghela napas lega. Baguslah Arsya mengembalikan buku itu dengan cepat. Rena baru sadar beberapa detik kemudian. Arsya datang menemuinya sepagi ini dan membahas buku harian Anna.


Apa sudah terjadi sesuatu pada pemuda itu? Rena bertanya-tanya. Ya, tidak salah lagi. Pasti ada yang sudah terjadi. Mengingat Dara yang membawa buku itu dan terjadi sesuatu yang buruk padanya, pasti ada juga yang terjadi pada Arsya. Rena berharap itu bukanlah hal buruk.


Melihat Arsya baik-baik saja, masih dalam keadaan yang sehat, Rena jadi menebak-nebak hal apa yang sudah pemuda itu alami. Apa pun itu, dia bersyukur tidak sampai membuat Arsya terluka seperti Dara.


“Iya, ini emang punyaku. Dari tadi malam aku cariin gak ketemu-ketemu, ternyata ketinggalan di mobil kamu. Aku emang sempat mikir gitu sih, tapi takutnya aku ceroboh dan ngilangin bukunya di tempat lain. Makasih yah udah mau balikin buku ini, sepagi ini malah,” kata Rena sambil mengambil buku itu dari Arsya.


“Kamu dapat bukunya dari mana?”


“Emangnya kenapa?” tanya Rena balik. Dia merasa kalau Arsya pasti sudah membuka buku itu.


Arsya menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, salah tingkah. Tidak tahu harus mengatakan apa. Kalau dipikir-pikir lagi, dari sudut pandanganya sebagai seorang laki-laki yang berpikir rasional, cerita yang selanjutnya ingin dia sampaikan pada Rena pasti akan terdengar konyol dan tidak masuk di akal. Tentu saja. Bisa-bisa Rena jadi berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya.


Pikiran itu membuatnya jadi ragu untuk bertanya, tapi kalau tidak bicara dia tidak akan tahu apa yang sudah terjadi.


“Sya, kamu baik-baik aja, ‘kan?”


Arsya memandang Rena sebentar. Gadis itu terlihat baik-baik saja, berbeda jauh dengan yang dia lihat dalam mimpinya. Nah, dia mulai lagi mengingat mimpi buruknya semalam. Hal itu sungguh bisa menyiksanya, pikiran dan perasaannya.

__ADS_1


“Sya?”


“Aku mimpiin kamu semalam.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya, yang langsung membuat Arsya ingin merutuki diri sendiri karena mengatakan hal yang ambigu seperti itu. Bisa saja Rena mengartikan kalimatnya dengan arti yang lain.


Dan memang benar, mendengar Arsya mengatakan kalau semalam memimpikannya, Rena jadi merona. Segera dia menunduk, kata-kata kakaknya kembali terngiang di kepalanya.


“Ngomong-ngomong soal Arsya, kamu gak ngerasa kalau dia ada sesuatu gitu ke kamu?”


“Masa kamu gak sadar, sih. Dia itu kelihatannya sengaja pengen narik perhatian kamu.”


Rena berhasil menguasai dirinya beberapa detik kemudian. Dia mengangkat wajah dan bertanya, “Mimpiin aku?”


“Iya, aku mimpiin kamu, tapi ….”


“Tapi?”


“Gimana yah ceritainnya, aku takut kamu mikir yang enggak-enggak ke aku kalau aku cerita.”


Bayangan yang ada dalam kepala gadis itu perihal mimpi Arsya seketika hilang saat mengetahui kalau itu adalah mimpi buruk. Arysa memimpikannya dan itu adalah mimpi buruk? Rena malu sekali sudah memikirkan hal lain tadi.


“Mimpi buruk? Kamu mimpi buruk tentang aku?” Rena tidak menyangka Arsya akan mengalami hal itu. Ini pasti ada hubungannya dengan buku itu, pasti. Rena berpikir begitu.


“Ya udah, kamu duduk dulu. Maaf, aku terlambat nyuruh kamu duduk, soalnya tadi ngebingungin, sih.”


Arsya menurut dan langsung duduk di kursi yang ada di beranda.


“Daffa mana?” tanya Arsya, dia baru menyadari ketidakhadiran anak itu di samping Rena setelah duduk.


“Ada kok di dalam, lagi nonton TV.”

__ADS_1


“Tumben gak ikut keluar.”


“Lagi dapat kartun kesukaannya. Aku juga tadi niatnya cuma pengen nutup pintu aja, kok. Dia kayaknya keasyikan nonton jadi gak sadar kalau aku belum masuk.”


“Oh.” Arsya hanya mengatakan itu.


Mereka diselimuti suasana canggung yang tidak mengenakkan.


“Soal mimpi buruk itu,” kata Arsya memecahkan keheningan antara mereka, “aku gak tahu kenapa bisa mimpi kayak gitu, tapi ….” Arsya menceritakan tentang mimpi buruknya pada Rena.


Jujur saja, mendengar cerita Arsya membuat Rena merinding. Sosok mengerikan yang muncul dalam mimpinya sama seperti yang ingin membunuhnya dulu dan yang mendorong Dara dari tangga. Sosok yang menurutnya dan Dara, juga Kakek Han adalah sosok Sophie.


“Jadi aku nanya dari mana kamu dapat buku itu, soalnya itu bahasa asing dan ada nama William disebut di dalamnya. Itu beneran William yang bangun rumah ini, ‘kan? Atau orang lain?”


Rena menghela napas berat. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan xhal ini dari Arsya setelah Sophie juga ikut mengganggunya. Arsya harus tahu apa yang sudah dia dan Dara alami. Memang sebelumnya Dara mengatakan agar dia tidak menceritakan apa yang sudah terjadi pada Arsya dan Marvin, tapi kalau sudah begini, mau tidak mau Rena harus memberitahu Arsya.


“Buku ini,” Rena meletakkan buku itu pada meja bundar di depannya, “adalah buku harian punya Anna, adik dari Sophie, istri Tuan William, yang membangun rumah ini. Daffa yang nemuin buku ini di loteng, aku juga gak tahu persis kenapa buku ini bisa ada di sana. Mungkin dulu Anna nyimpen bukunya di sana, dan penghuni sebelumnya gak nyoba ngambil atau nyentuh buku ini, tapi buku ini nyimpan banyak informasi tentang apa yang udah terjadi di rumah ini.”


“Tadi kamu bilang kalau Daffa nemuin buku ini di loteng? Loteng? Gimana caranya Daffa bisa naik ke sana?” Arsya memotong saat Rena mengambil jeda sejenak.


Rena mengangguk. “Dia bilang dia gak naik ke sana, tapi aku nemuin dia tidur di sana sambil meluk buku ini.”


Kemudian Rena menceritakan kejadian itu pada Arsya, menyusul kejadian-kejadian lain yang pernah dialaminya. Semuanya, termasuk tentang Dara. Arsya jelas sekali terkejut mendengar penyebab jatuhnya Dara dari tangga yang sebenarnya.


“Jadi di buku ini ada dua arwah yang … dan salah satunya yang aku lihat di mimpi itu?” Arysa menatap buku di depannya dengan mata membelalak.


“Sama kayak yang kubilang tadi,” jawab Rena. “Makanya aku khawatir pas mikir buku ini ada di kamu, aku takut kalau dia juga ngeganggu kamu kayak dia ngeganggu Dara.”


“Tapi—”

__ADS_1


Arsya berhenti bicara, karena dari dalam rumah terdengar teriakan Daffa.


__ADS_2