
Rana terbangun dengan tubuh lemas. Kepalanya sakit sekali dan badannya rasanya pegal-pegal, lelah. Dia ingin bangun, tapi tidak bisa. Terlalu lemah baginya untuk melakukan itu. Rana tidak pernah seperti ini sebelumnya, memang selama tinggal di rumah ini, dia mendapatkan banyak hal yang menjadi pertama kali baginya.
Dia baru sadar kalau di sampingnya sudah tertidur Yudha, yang memeluknya. Pantas dia merasa ada sesuatu berat yang menindih perutnya, ternyata itu adalah lengan Yudha. Kenapa pria itu ada di sini? tanya Rana dalam hati. Ah, pasti dia merasa menyesal.
Rana sudah memaafkan suaminya, seperti yang selalu dia lakukan. Memang semalam dia sangatlah marah, tapi dengan semua yang sudah dialaminya semalam, Rana merasa terlalu letih untuk tetap marah. Dia juga tidak ingin larut dalam kesedihan atau amarah terlalu lama.
Perlahan dia menyingkirkan tangan suaminya dari perutnya, berniat bangun. Gerakannya barusan membuat Yudha ikut terbangun. Pria itu membuka matanya yang masih berat.
“Kamu udah bangun?” tanya Yudha, suaranya serak sekali.
Rana mengangguk kecil.
“Semalam ada apa? Kok kamu tidur di bawah?” tanya Yudha lagi. Pria itu berbalik, menatap istrinya hangat. Ada senyum manis yang terukir di wajahnya. Sayangnya, Rana tidak sempat menikmati bagaimana menggodanya senyum suaminya, juga tidak bisa merasa bahagia ketika melihat raut muka itu setelah bagaimana kerasnya muka Yudha saat bertengkar dengannya semalam. Ingatan akan kejadian mengerikan itu memenuhi kepala, mengirim kengerian kembali menjalari seluruh badan.
Rana memilih tidak menjawab, hanya diam saja sambil membalas tersenyum. Dia berdiri kemudian berjalan lunglai keluar kamar tanpa mengatakan apa-apa.
***
Rena merasa ada yang aneh dengan kakaknya. Saat dia masuk ke dapur, Rana sudah berdiri di depan kompor, memasak seperti hari-hari sebelumnya. Namun saat dia menyapa, Rana tidak membalas sapaannya, juga tidak tersenyum. Tidak merespon, padahal Rena yakin sekali kalau kakaknya sedang tidak melamun. Dia mengucapkan selamat pagi dengan suara yang riang, tidak terlalu keras, tapi cukup untuk didengar kakaknya. Jadi tidak mendengar tidak cocok untuk dijadikan alasan untuk tidak menjawab. Lalu apa?
Karena tidak ingin berpikir macam-macam, Rena tetap berdiri di samping kakaknya, membantu memasak. Saat itu dia sadar kalau Rana seperti orang yang lelah, kemudian berpikir kalau kakaknya mungkin memang kelelahan, sampai tidak merasa perlu untuk membalas sapaannya.
Sampai makanan selesai dihidangkan, Rena tidak mengatakan apa pun yang termasuk basa-basi pada Rana, hanya mengatakan yang penting-penting saja, seperti tentang masakan yang mereka masak.
__ADS_1
Rana pun hanya menjawab seadanya, dengan kalimat putus-putus yang jelas, singkat dan padat. Yudha turun bersama Daffa yang masih memakai piyama.
“Harum sekali,” kata Yudha dengan sikap yang dibuat-buat, merujuk pada aroma masakan. “Wah, masak banyak.”
“Mama yang masak semuanya?” Daffa yang didudukkan pada salah satu kursi di meja makan, bertanya dengan senang.
Lagi-lagi Rana tidak menjawab, ataupun tersenyum. Dia sama sekali tidak merespon Yudha dan Daffa. Apa kakaknya itu terlalu lelah sampai-sampai mengabaikan suami dan anaknya juga? Rena bertanya-tanya dalam hati, mulai memikirkan hal ini lagi. Dia mengambil tempat di samping Daffa, bersamaan dengan Rana yang duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
Yudha duduk di kursi kepala keluarga, berusaha membangun percakapan-percakapan ramah, tapi tetap saja Rana tidak membalas. Hanya Rena yang berusaha mengajak bicara kakak ipar dan keponakannya dengan sama ramahnya.
“Nanti malam papa pulang cepat?” tanya Daffa, memandang Yudha dengan pandangan berharap.
Yudha menggeleng, jelas ada raut bersalah dalam wajahnya. “Papa masih harus pulang telat, minggu ini lagi sibuk-sibuknya.”
“Nanti pulang papa bawain mainan lagi, gimana?” tawar Yudha.
Anaknya hanya mengangguk kecil, tidak telalu berminat tapi juga tidak menentang.
“Jangan sedih gitu, dong. Daffa ‘kan bisa main sama Tante Rena sebelum papa pulang. Lagian mama—”
Yudha tidak melanjutkan kalimat, terpotong oleh Rana yang menyimpan sendok di piringnya dengan kuat sehingga membuat suara keras. Dia memandangi istrinya yang sedang minum dengan heran. Padahal tadi saat bangun Rana masih tersenyum padanya, kenapa jadi marah-marah begini?
“Mama kenapa?” tanya Daffa, wajah polosnya memandangi mamanya dengan bingung.
__ADS_1
Rana tidak menjawab, berdiri dan berjalan meninggalkan dapur. Piringnya masih penuh, tidak banyak yang dia makan dan dia menyudahi sarapannya dengan sikap yang tidak ada satu orang pun dalam ruangan itu yang mengerti.
“Mama cuma capek aja, kok,” kata Rena langsung saat Rana sudah tidak terlihat lagi. Pandangannya berpapasan dengan Yudha yang juga menatapnya. Dalam tatapannya, Rena meminta penjelasan pada kakak iparnya atas sikap Rana barusan.
Dia ingat tadi malam Rana bertengkar dengan Yudha. Mungkin saja sikap aneh Rana karena dia masih marah.
“Maaf, Kak. Aku gak bermaksud buat ikut campur dalam masalah keluarga Kak Yudha, tapi sikap Kak Rana barusan beneran aneh. Gak biasanya dia marah sampai begitu, apalagi ini sampai bawa-bawa Daffa juga.”
Mereka sudah selesai sarapan dan Yudha baru saja ingin berangkat ke kantor saat Rena mengatakan itu.
“Aku tahu semalam kalian bertengkar, aku gak tahu apa masalahnya dan gak pengen tahu juga, tapi aku harap Kak Yudha bisa mulai—”
“Aku tahu maksud kamu, Ren.” Yudha memotong. “Kamu kira Rana masih marah sama aku karena pertengkaran tadi malam? Tapi dia udah gak marah, kok. Tadi pagi waktu bangun dia masih senyum ke aku. Dia gak akan begitu kalau masih marah. Lagian kamu lihat sendiri ‘kan tadi kakak iparmu ini udah nyoba bicara sama kakak kamu. Kami emang bertengkar, tapi gak pernah bisa lama. Aku juga sebenarnya heran dengan Rana, kelihatannya dia sakit dan sekarang kayaknya dia milih gak masuk kantor. Aku cuma mau kamu jaga kakakmu dengan baik, yah. Aku minta maaf karena lagi-lagi harus ngerepotin kamu buat jaga Rana padahal masih harus jaga Daffa juga.”
Rena menggeleng keras. “Gak ngerepotin, kok. Kak Rana ‘kan kakakku sendiri, Daffa keponakanku juga, masa ngurus keluarga sendiri ngerepotin.”
Yudha tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Dia dan Rena bicara di depan rumah, karena Rena tadi menahannya saat ingin masuk ke mobil. Dan kini, dari tempatnya berdiri, Yudha bisa melihat Rana mengintip mereka dari jendela di kamarnya.
Rena mengikuti pandangan Yudha, mendapati Rana berdiri di balik jendela sambil memandangi mereka. Perasaannya saja, atau memang saat itu Rana sedang melotot marah.
Setelah Yudha ke kantor, Rena langsung menuju kamar kakaknya. Namun pintu kamar dikunci. Sudah diketuk-ketuk, tapi tetap saja tidak di buka. Mendadak dia merasa ada sesuatu yang berdiri di belakangnya. Daffa berada di ruang tengah di lantai satu, menonton TV, tidak mungkin anak itu yang ada di sana.
Rena berbalik dan terkejut. Seorang wanita cantik dengan gaun putih berenda dan rambut pirang ditata rapi berdiri di depannya sambil menatap sedih. Dia sosok yang tanpa mata itu, yang menyanyi dengan nada menyayat hati, yang mendatangi Dara di rumahnya, Anna. Namun sekarang, sosok itu tidak terlihat menakutkan sama sekali. Matanya ada dan cantik.
__ADS_1
Belum sempat mengatakan apa pun, Anna sudah menerjang ke arahnya dan Rena tidak bisa melihat atau merasakan apa-apa.