
Rana masuk ke kamar Daffa sambil menangis. Rena yang duduk di pinggiran ranjang saat itu kaget melihat kakaknya melakukan itu. Rana adalah tipe perempuan yang jarang sekali menangis kalau tidak benar-benar merasa sakit hati, Rena tahu itu.
Rena ingin bertanya, tapi niatnya itu diurungkan. Kakaknya pasti butuh waktu untuk menenangkan diri. Rana memang begitu, lebih suka sendiri saat merasa sedih. Tidak lama setelah Rana masuk ke kamar dan duduk di samping Daffa, kelopak mata bocah itu bergerak-gerak sebentar kemudian terbuka. Daffa bangun.
Rana yang pertama kali melihat itu langsung menghapus air mata dan memeluk anaknya.
“Daffa kamu bangun, Nak,” katanya bahagia.
Rena tersenyum senang, ada air mata yang memenuhi matanya, tapi tidak sampai jatuh. Akhirnya Daffa bangun juga.
“Mama kenapa?” tanya Daffa lirih.
Rana menggeleng, kali ini dia menangis lagi tapi dengan air mata bahagia, bukan sedih, terus memeluk anaknya erat.
“Aku panggil Kak Yudha, yah.”
Rena berlari keluar kamar dan kembali lagi bersama Yudha, air muka pria itu lega, tidak seperti tadi. Rana tidak menatap suaminya, dan begitu pun sebaliknya. Rena sadar apa yang membuat kakaknya sudah menangis. Dia habis bertengkar dengan suaminya.
“Daffa tidurnya lama sekali, papa khawatir banget tadi.” Yudha mendekat setelah Rana melepas pelukannya pada Daffa, dan membawa anak itu ke dalam gendongannya.
“Mimpi apa sih sampai tidak mau bangun?” tanya Yudha.
Daffa terlihat tidak mengerti, tapi sebagai balasan dia tersenyum, lalu berkata, “Daffa lapar.”
__ADS_1
“Tunggu mama ambilin, yah.” Rana dengan cepat keluar kamar. Sampai di dapur dia baru sadar kalau dia tidak sempat memasak untuk makan malam. Beruntung Rena sudah memasak sebelumnya, meski makanan itu sudah dingin.
Sepulang kerja tadi Rana memang langsung ke kamar anaknya dan memanggil dokter yang pernah menangani Daffa beberapa hari lalu waktu dia jatuh dari tangga. Rena sudah menceritakan apa yang sudah terjadi padanya dan Rana merasa itu hal yang aneh, jadi dia memanggil dokter yang lain untuk memastikan dan ternyata kata dokter Daffa memang hanya tidur, bukan pingsan, apalagi koma seperti yang Dara khawatirkan sebelumnya.
Seperti kemarin dan yang sudah dia katakan sebelumnya, Yudha pulang terlambat. Dia datang bersama dokter yang adalah sahabatnya sendiri dari SMA. Rana memang sudah mengabari Yudha tentang apa yang sudah terjadi dengan anak mereka dan apa yang sudah para dokter katakan. Karena merasa hal itu terlalu aneh, Yudha juga memutuskan untuk membawa dokter.
Hasilnya sama, Daffa hanya tidur. Dokter itu juga heran, tidak mengerti kenapa Daffa bisa mengalami hal seperti itu.
“Tapi saya yakin benar kalau Daffa ini sedang tidur.”
Rana kembali mengingat perkataan dokter itu sambil masuk ke kamar anaknya. Dia tersenyum, senang Daffa sudah bangun dari tidurnya. Di tangannya sudah ada nampan berisi sepiring makanan dan segelas air minum.
Yudha menurunkan Daffa ke atas tempat tidur, Rana kemudian duduk di depan anaknya sambil menyuapi.
“Nanti mama tidur sama Daffa, yah,” kata Rana. “Di kamar Daffa.”
“Sama papa juga, yah?” tanya Daffa setelah menelan nasinya.
Rana diam, Yudha tersenyum sebentar. “Ranjangnya terlalu kecil untuk kita bertiga. Gak muat,” balasnya.
“Tapi kita ‘kan bisa tidur di kamar mama sama papa, di sana ranjangnya luas. Muat.”
“Papamu masih ada kerjaan yang harus dia kerjakan, malam ini Daffa tidur berdua sama mama aja,” timpal Rana. Dengan begitu pembicaraan tentang tidur bersama itu tidak berlanjut lagi, berganti topik.
__ADS_1
***
Rana terbangun karena merasa ada sesuatu yang sangat dingin menyentuh pipinya, dingin sekali sampai dia merasa menggigil. Namun tidak ada apa pun. Jam digital di atas meja belajar Daffa menunjukkan pukul tiga lewat, masih dini hari. Daffa sudah tertidur lagi di sampingnya, yang membuat Rana heran karena anak itu masih bisa tidur setelah tidur lama tadi.
Sambil tersenyum, Rana mengusap pelan rambut anaknya, membuat Daffa bergerak kecil dalam tidurnya. Saat melihat wajah anaknya yang tidur dengan lelap, Rana merasa sedikit sesak pada hatinya. Dia merenungkan pertengkarannya dengan Yudha tadi.
Memang benar, suaminya ada benarnya. Rana sadar kalau selama ini dia sangat egois, lebih mementingkan keinginannya untuk menjadi wanita karier daripada mengurus anaknya sendiri. Dulu Daffa pasti sangat merasa sepi dan sekarang sedih karena yang menjaganya bukanlah mama, melainkan tantenya. Melihat anaknya dalam keadaan seperti ini, Rana benar-benar menyesal.
Sekarang dia adalah seorang ibu, punya tanggung jawab untuk mengurus dan membesarkan anaknya. Rana mulai merasa kalau harus merelakan pekerjaannya demi anaknya. Ya, dia berpikir untuk berhenti bekerja demi mengurus Daffa.
“Maafkan mama baru sadar sekarang, Nak,” gumam Rana lalu mencium kening Daffa.
Saat itu dia mendengar ada suara tawa dari kamar Daffa. Suara tawa anak perempuan, melengking dan terdengar menakutkan. Sontak Rana merasa merinding dan bangun dari tidurnya. Suara itu terdengar sangat dekat, seperti berasal dari bawah ranjang.
Pelan-pelan dia turun dan melihat ke bawah ranjang. Rana jatuh ke belakang saking terkejutnya. Di depannya, tepat di bawah ranjang ada sosok menakutkan yang sedang merangkak keluar, mendekatinya.
Gadis kecil, sosok itu adalah gadis kecil yang mukanya pucat sekali dengan bibir kebiruan dan pecah-pecah. Di sekitar matanya ada lingkaran hitam yang membuatnya semakin tampak menyeramkan. Rambutnya yang dikepang dua bergerak-gerak seiring dengan gerakan kepalanya yang sengaja dimiring-miringkan.
Bajunya lusuh, berlengan panjang dan sudah tidak bersih lagi. Banyak noda cokelat hitam di kain putih gading itu, yang Rana tebak adalah darah. Rok cokelat yang dipakainya juga penuh noda darah yang tidak terlalu jelas, tapi masih bisa terlihat.
Rana segera berdiri, tanpa sadar berjalan mundur saat sosok itu terus mendekat padanya.
“Hihihi.” Sosok itu tertawa lagi, memperlihatkan giginya yang ompong di depan dan tidak beraturan.
__ADS_1
Rana tidak mengatakan apa pun, masih terkejut. Dia memang sudah diingatkan tentang rumah itu sebelum membelinya, tapi dia sama sekali tidak peduli. Keluarganya tidak terlalu percaya dengan hal-hal seperti itu, apalagi ayahnya. Ibunya selalu mengatakan kalau di dunia ini memang bukan manusia saja yang hidup, ada makhluk lain. Namun bukan setan atau hantu, melainkan jin. Karena itu Rana juga tidak pernah percaya yang namanya hantu, tapi kini … di depannya sudah berdiri satu sosok menyeramkan yang menggerakkan tangannya naik, menunjuk pada sudut kosong di samping Rana.
Rana menoleh dengan ragu-ragu dan semakin terkejut. Tubuhnya membeku, benar-benar takut. Di sampingnya berdiri sosok yang lain yang tidak kalah mengerikannya. Bahkan sosok itu adalah hal paling mengerikan yang pernah Rana lihat selama hidupnya. Wajah hancur dengan satu mata, bibir robek, lengan putus. Karena tidak tahan, Rana akhirnya pingsan. Sebelum benar-benar tidak sadarkan diri, hal terakhir yang bisa dia lihat adalah wajah mengerikan itu yang menyeringai padanya, berjarak sangat dekat dengan wajahnya.