
Happy reading....
Litha tertidur beberapa jam. Ia terbangun ketika terdengar adzan Ashar. Ia menatap sekelilingnya.
"Kemana mas Ali pas aku ketiduran tadi ya? Pintu kost di kunci. Apa ia sedang ke warung beli makanan atau kemana?" ucap Litha sambil matanya celingukan.
Tiba tiba Ali muncul dari balik pintu belakang.
"Eh.. udah bangun dek? Kamu lapar nggak? Mas tadi masak. Nggak tau kamu bakal suka apa enggak. Semoga gak bikin perut kamu mual lagi."
"Mas ngagetin aja deh. Ia baru bangun mas. Aku baru nyadar kalau bau ku nggak enak. Aku baru sadar seharian ini aku belum mandi. Aku mau mandi dulu mas. Gerah. Makan nanti aja".
"Baiklah. Mandi biar wangi. Ntar setelah mandi, kamu makan dulu ya. Siapkan tenaga buat jalan jalan ntar malam".
"Seriously?" wajah Litha mendadak berseri.
"Yes my wife"
Litha pun segera mandi. Ia pun senyum senyum. Geli sendiri membayangkannya.
"Ternyata seharian aku belum mandi. Dulu sebelum hamil kalau kena keringat aja nggak bisa tidur. Tadi kok pules banget ya. Bawaan dedek bayi kali ya..heheh" ucap Litha dalam hati. Ia pun masih senyum senyum.
Butuh waktu sekitar 20 menit untuk ritual mandi dan mengganti pakaiannya.
"Aku sudah selesai mas. Ayo kita berjamaah".
"Ayo dek".
Mereka menaiki tangga. Melakukan sholat ashar berjamaah. Setelah selesai segera turun dan menyantap makanan buatan Ali.
"Masak apa tadi mas?"
"Masak mie goreng sama ayam suwir bumbu abon dek".
"Sepertinya menggugah selera. Aku makan ya mas".
"Iya dek. Mas juga".
Hanya terdengar samar bunyi sendok. Mereka makan dalam diam. Setelah selesai mereka berbincang.
"Dek, mas mau tanya"
"Silahkan mas. Mau tanya apa?"
"Dek, tadi kan kamu pingsan terus periksa. Kok tiba tiba dokter menyatakan kamu hamil gitu?"
"Mas nggak suka, istrimu ini lagi hamil lho mas kok pertanyaan kamu seperti itu?" jawab Litha meledak ledak. Mungkin efek hormon bumil yang sensitif.
"Mas bukannya nggak suka. Hanya heran saja dek. Perasaan waktu itu kamu dapet tamu bulanan kan. Terus mas yang beliin jamu. Adek ingat nggak? Jamu buat penghilang nyeri perut. Kalau nggak salah pas mas baru pulang dari luar kota itu. Mas minta jatah ternyata di stop lampu merah?"
"Iya mas. Adek ingat. Ya itu hari haid terakhir ku mas. Setelah itu kamu sering banget minta jatah dan ada lah makhuk kecil nan imut di perut ini. Calon adeknya Lidya" ucap Litha sambil mengelus perutnya.
"Iya dek. Mas faham sekarang".
"Nah nanti kita mau jalan kemana mas? Tadi katanya mau jalan jalan?".
"Adek kan hamil muda, jadi jalan jalan nggak baik dek. Mas takut kandunganmu kenapa kenapa".
"Mas mau bohongin Litha?" Litha menekuk wajahnya.
"Bukan begitu maksud mas, dek. Kita bukan jalan jalan seperti biasanya. Malam ini mas mau ajak kamu ke suatu tempat. Yang mungkin nanti bikin kamu bahagia" ucap Ali dengan senyumannya.
"Mas mau kasih kejutan?"
"Bisa jadi" ucap Ali dengan senyum menyeringai.
"Ya udah mas. Bentar lagi magrib. Kita juga udah makan. Dan sekarang enaknya ngapain ya?"
"Adek siapin pakaian dulu. Sama mas juga Untuk persiapan nanti malam. Jadi kan jalan malamnya?"
"Baiklah".
"Setelah itu, adek temui mas di depan. Sekarang mas akan menyiapkan santai sore kita"
"Iya iya. Bawel banget suami".
Litha pun segera membuka lemarinya. Ia pilih pakaian termanis. Pakaian dengan warna serasi untuknya dan suaminya. Dipilih lah dress biru tua dengan kombinasi putih dan khimar putih. Sedangkan untuk Ali ia memilihkan kemeja yang dominan warna putih dengan kombinasi biru tua di kerah dan lengannya.
"Sudah selesai mas".
"Duduk sini dek"
"Di teras gini?".
"Iya lah. mau dimana emang?".
"Mana persiapan santai sorenya?".
"Tuh di belakangmu. Kresek hitam?".
Litha mengambil kresek itu.
"Makanan semua. Mas mau bikin aku gendat ya? Tadi kan udah makan?"
"Itu ngemil dek. Ada buah, roti dan martabak mie. Minumnya susu biasa aja ya. Ntar kita mampir ke minimarket beli susu hamil buat adek" Ali mengelus kepala Litha.
"Tapi kan-"
__ADS_1
"Tidak ada penolakan. Harus dimakan. Mas mau adek Lidya sehat selalu. Maka ibu dan ayahnya harus perhatian. Nggak boleh egois".
"Baiklah. Kalau mual lagi gimana?"
"Yang penting kan berusaha dek. Ya udah buruan makan. Ngapain malah berdebat?"
"Kamu sih, maksa maksa gitu" Litha memakan camilan yang disediakan Ali. Sedangkan Ali tersenyum puas melihat istrinya banyak makan.
"Ayah menyayangi bayi itu. Jadi ayah harus menjaga dan memperhatikan nutrisi mu kan sayang" ucap Ali dalam hati.
***
Litha kekenyangan dan menguap.
"Kamu ngantuk dek?"
"Enggak mas. Kebawa suasana aja. Perutku kenyang".
"Alhamdulillah nggak mual lagi".
"Iya mas".
Lalu mereka gantian mandi. Sebelum antri.
Hingga waktu berganti malam. Seelah menunaikan shalat maghrib, mereka bersiap. Pakaian warna serasi itu sudah melekat di tubuh Litha dan Ali.
"Aku sudah siap mas".
"Mas ambil kontak motor dulu dan adek tunggu di depat kamar dulu ya. Biar mas yang mengunci pintu kost nanti"
"Ya mas".
Litha keluar kamar. Ia menunggu di kursi kosong depan kamar kost nya.
"Litha sudah keluar, aku akan mengambil kado buat Litha. Aku selipkan di jaket ini saja. Kan ada resleting dalamnya. Jadi Litha tak akan tau kejutan ini" ucap Ali dalam hati.
Setelah di rasa tak ada yang ketinggalan, termasuk hp nya. Ali keluar menemui Litha dan mengunci pintu kost nya.
Klek...!
Sudah terkunci.
"Kost aman. Ayo dek naik motor butut kita" ajak Ali.
"Iya mas".
Litha menaiki jok belakang. Perlahan Ali membawa kuda besi butut itu menjauh dari kost nya.
Motor Ali memang butut. Ia membeli second bekas motor temannya.
Sekitar 30 menit baru sampai. Lama sekali memang. Karena jalanan sedikit macet.
"Buat apa sih mas. Kayak kita masih muda aja ada sweet sweet nya gini?"
"Nurut aja, jangan bawel"
Ali memasangkan kain hitam penutup mata buat Litha. Lalu membawanya ke sebuah taman.
"Sekarang buka matamu setelah kain ini terlepas dek."
Litha mengangguk.
"Satu"
"Dua"
"Tiga"
"Taraaaaaa....buat istri tercinta"
"Mas, ini kamu yang buat?"
"Iya lah"
Litha terkesima. Di taman itu ada dua bangku kosong posisi berhadapan. Di antara kedua bangku itu ada meja . Lampu kerlap kerlip berbentuk hati terpasang di sebelah kursi. Lilin kecil kecil menghiasai mejanya dan taburan bunga ada di bawah bangku dan meja itu. Tak lupa ada tulisan "Happy Pregnant My Wife".
"Mas ini berlebihan".
"Jadi adek nggak suka?".
"Bukan begitu. Kamu menghamburkan uang mas ini. Kamu lupa dengan rumah impian kita? Dan gaji kamu kan aku yang bawa. Terus darimana kamu dapat uang buat menghias taman ini? Tempat romantis ini maksudku?" Litha mendadak emosi. Sabar ya bumil. Jangan marah marah mulu.
"Aku lama tidak merokok dek. Ini pakai uang jatah merokok"
Litha merasa tak percaya.
"Kamu nggak bohong?"
"Lihat mata ini dek, apa ada kebohongan disana?"
Litha menatap mata suaminya.
"Kamu jujur mas".
Litha memeluk Ali dengan erat. Ia tak menyangka suaminya membuat kejutan seperti ini.
Ali melepas pelukan itu.
__ADS_1
"Kenapa dilepas mas? Aku menikmati keromantisan ini. Aku memyayangimu mas. Selalu begini dan jangan pernah khianati aku demi wanita lain yang lebih dari aku ya mas?".
"Iya dek. Mas janji. Ini tempat umum masa pelukan terus? Hhmmm. Mau kejutan lagi nggak? Masih ada lho? Penasaran nggak...penasaran nggak? Penasaran lah masa enggak?"
"Apa?. Iya tentu aku penasaran".
Ali mengeluarkan kotak kado dari dalam jaketnya.
"Ini buat kamu istriku".
"Mas kejutan apa lagi ini, ini cincinnya pasti mahal ya? Dapat uang darimana? Nggak mungkin uang jatah rokok kan?"
"Mas dapat bonus dari pabrik dek. Mas merasa semenjak kamu hamil. Rezeki kita bertambah dek".
"Alhamdulillah mas"
"Sekarang duduk dan akan kupakaikan cincin ini untukmu"
Litha menurut. Ia duduk di bangku nya. Ali memakaikan cincin itu pelan pelan.
"Size nya pas mas. Terimakasih ya".
"Sama sama dek. Suka kan?"
"Banget mas".
"Ada kejutan satu lagi. Kamu mau?"
"Haaa?" Litha melongo
Ali mengambil kardus di bawah meja itu. Ada satu box tanggung disana. Ali mengangkatnya.
"Ini susu hamil?"
"Yes. Kita tak perlu mampir ke minimarket nanti. Stop, jangan tanya uang dari mana lagi. Ini uang halal".
"Baiklah. Kita tidak beli makan dulu? Laper nih?".
"Itu kejutan satu lagi untukmu sayang"
"Tadi kan udah?"
"Di depan sana banyak penjual, kamu tinggal pilih yang mana ntar mas yang belikan?".
"Semua romantis. Tapi makanan beli di penjual pinggir taman mas? Aku kira kamu bawain cake atau apa gitu?" ucap Litha lesu.
"Kamu pengen cake dek? Ntar kita beli pas pulang ya? Sekarang mau makan apa dulu?
"Beliin pentol bakar aja mas".
"Baiklah. Kamu tunggu sebentar".
Ali membelikan pentol bakar dua porsi, untuk dirinya dan istrinya.
"Inilah dek. Makan aja dulu. Ntar kita segera pulang ya setelah makan? Kamu harus istirahat. Besok harus kerja kan kita. Kamu nggak boleh terlalu capek dek".
"Iya mas".
Mereka berdua makan pentol bakar di taman. Hiasan lampu dan bunga masih menjadi background kencannya.
Sebenarnya ini bukan dekorasi Ali sendiri. Ditaman itu ada beberapa pekebun dan pengurusnya. Pengurus mempromosikan taman itu untuk area bermain anak anak dan acara melamar pacar, kencan suami istri, tetapi untuk kencan yang masih belum menikah tidak diperbolehkan menyewa bangku romantis itu.
Jadi dekorasi sedemikian rupa itu adalah dekorasi pekebun yang bekerja di taman itu. Pekerjaan pekebun selain mempersiapkan dekorasi juga menanam bunga, dan membersihkan taman.
Jatah uang rokok Ali, ia pakai untuk menyewa bangku romantis itu setelah tahu istrinya hamil.
***
Setelah selesai acara kencannya mereka pulang. Diperjalanan Litha memeluk Ali. Ia tak melepaskan pelukan itu?
"Kamu kenapa dek? Kayak sesenggukan gitu. Mas minggir kita berhenti dulu ya?"
Ali menepikan motornya. Ia berhenti di depan minimarket.
"Kenapa kamu nangis dek?"
"Aku terharu mas kamu melakukan semua tadi untukku. Perhatian banget suami sholehku" Litha memuji suaminya.
"Jadi adek menangis karena bahagia?"
"Iya mas."
"Alhamdulillah. Mas kira minta cake. Mas masih ingat kok. Kalau gitu ayo beli cake!"
"Udah nggak pengin mas. Udah kenyang. Kita pulang yuk. Kita belum sholat isya lho".
"Baiklah. Jangan nangis lagi ya. Tadi mas khawatir tau. Ya udah pegangan".
Mereka meluncur ke kostannya.
***
Setelah berganti memakai piyama, mereka shalat isya. Lalu tidur supaya saat bekerja esok hari badannya tidak begitu sakit.
🌸🌸🌸
Thanks For Reading.
__ADS_1
Jangan lupa VOTE n KOMEN tulisan receh ini.