Mati Rasa (Lidya)

Mati Rasa (Lidya)
Bab 16 Bang Jo Merantau


__ADS_3

Happy Reading...


Keesokan harinya Litha dan Ali ke rumah bu Ipah untuk menitipkan Amad.


"Assalamualaikum Bu" Litha mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam Nak. Silahkan masuk" jawab Bu Ipah.


"Iya Bu" Litha dan Ali memasuki rumah Bu Ipah.


"Silahkan duduk dulu. Tadi udah sarapan belum?" tanya bu Ipah.


"Kami sudah makan bu" jawab Litha dengan tersenyum.


"Ini suamimu Nak?"


"Iya bu. Perkenalkan namanya mas Ali"


Kemudian Ali mengulurkan tangannya.


"Saya Ali Bu. Suaminya Litha."


"Ayahnya bayi Amad sama tampannya dengan Amad" Bu Ipah tersenyum.


"Hehe...iya bu. Ehmm... Litha semalam sudah cerita tentang Ibu. Dan saya sudah menyetujui Amad akan di asuh ibu. Tapi tolong jaga anak kami dengan baik ya Bu" pinta Ali.


"Pasti Nak" jawab bu Ipah.


"Kami permisi ya bu. Mau berangkat kerja, nanti keburu terlambat" Ali dan Litha berpamitan dan mencium Amad.


Kemudian Litha dan Ali pamit dan meninggalkan rumah bu Ipah.


"Tampan dan baik hati sekali suamimu Litha, pasti beruntung ya kamu jadi istrinya" ucap bu Ipah dengan tersenyum.


"Andai suamiku dulu seperti suamimu Lith. Dia juga sopan lho. Apakah aku dosa mengagumi suami mu Lith? Tapi ibu kan sudah menganggapmu anak. Jadi suamimu juga aku anggap sebagai anak kan? Ahh anganku terlalu berlebihan. Buat apa berandai andai suami orang. Astaghfirullah hal adziim..." Bu Ipah bermonolog sendiri.


Daripada fikiran jadi gak karu karuan, bu Ipah mengajak Amad bermain. Di ambilnya keranjang besar berisi mainan. Mainan itu yang sering ia berikan untuk mainan anak anak asuhannya yang sebelumnya sudah ia cuci dahulu. Bu Ipah memang selalu menjaga kebersihan apapun yang di pakai anak asuhnya.


"Hay bayi Amad. Main dulu sama budhe ya"


Amad pun mengangguk dan antusias.


***


Sedangkan di kampung....


Pagi pagi sekaliii.


"Ayah, ibu. Abang nanti mau berangkat merantau ya. Kan sekolah abang sudah selesai. Abang mau cari kerja di kota" ucap bang Jo pada kedua orangtua dan adiknya.


"Kenapa seperti dadakan sekali?" tanya bu Siti, ibunya bang Joe dan Dewi.


"Nggak kok Bu. Ini rencana udah sejak kemarin sebenernya. Dan baru bilang sekarang."


"Rencana kamu mau kemana?" tanya pak Maman, ayahnya bang Joe dan Dewi.


"Ikut ke kota mbak Litha pak, kayaknya. Kemarin mbak Litha mengabari kalau ada bengkel di sekitar kostannya yang butuh pegawai"


Flashback On


Bang Jo sudah lulus STM bagian otomotif. Ia bingung mau cari kerjaan dimana, kemudian terlintas di fikirannya ikut mbak Litha (kakak sepupu-nya). Kemudian ia mencari kontak mbak Litha dan kirim pesan.


^^^Joe^^^


^^^Assalamualaikum mbak^^^


Mbak Litha


Waalaikumsalam Joe. Ada apa?


^^^Joe^^^


^^^Mbak, di dekat tempat tinggalmu apa ada bengkel yang butuh pegawai? Aku udah lulus mbak. Butuh kerjaan banget ini.^^^


Mbak Litha


Kebetulan ada di dekat gang depan. Barusan mbak lihat tuh. Ini baru pulang kerja.


^^^Joe^^^


^^^Serius nggak nih mbak?^^^


Mbak Litha


Iya serius lah. Kesini aja kalo mau.


^^^Joe^^^


^^^Besok otw kesana. Anterin nglamar kerja kesana ya mbak.^^^


Mbak Litha


Mbak pasti capek lah Joe. Kamu lupa sekarang sudah ada bayi Amad? Mbak pulang kerja sibuk mengurus Amad. Sama mas Ali aja ya?


^^^Joe^^^


^^^Oke mbak. Makasih ya infonya. Besok aku kesana nitip apa mbak?^^^


Mbak Litha


Ga usah Joe. Mbak gak nitip apa apa.

__ADS_1


^^^Joe^^^


^^^Oke mbak.^^^


Kemudian bang Joe menutup HP nya dan kembali rebahan.


Flashback Off


"Kamu berangkat jam berapa?" tanya bu Siti.


"Nanti jam 9 bu. Ini lagi mau beberes baju sama ijazah"


"Ya baik lah. Asal harus hati hati ya di kota. Jangan merepotkan kakak sepupu mu sama suaminya itu"


"Pasti bu".


***


"Joe... kamu tiduran apa tidur beneran?" Bu Siti menggoyangkan punggung anaknya


"Astaga...ketiduran Bu. Capek banget beberes baju. Tuh udah masuk tas semua".


"Buruan mandi terus makan. Jangan lupa nanti pamit sama nenekmu, pakdhe dan budhe mu, juga Lidya ya"


"Iya Bu".


Bang Joe kemudian bergegas mandi. Mengguyurkan air pada tubuhnya yang lengket. Hanya membereskan pakaian 1 tas besar saja sudah membuatnya merasa lelah. Oh mungkin akibat begadang mikirin rencana berangkat merantau nya jadi kurang tidur, badannya auto lelah.


"Joe sudah mandi Bu. Dewi kemana?"


"Main di rumah Lidya"


"Anak itu, abangnya mau merantau bukannya betah betahin di rumah. Malah main ke rumah Lidya. Haduhhh" bang joe sok frustasi.


"Udah buruan makan, samperin ntar aja. Lagian kamu juga dadakan".


"Baiklah. Lha bapak kemana Bu?"


"Bapakmu lagi keluar sebentar, nyariin oleh oleh buat mbak mu".


"Buat mbak Litha? Kemarin tak tanyain katanya mbak Litha nggak nitip apa apa bu" jawab bang Joe sambil mengunyah makanannya.


"Jangan polos polos amat kalau mau numpang di kostan nya mbak mu Nak. Kamu pasti tinggal sementara di sana kan? Masa nggak bawa apa apa, keterlaluan itu namanya" Bu Siti menoyor kepala bang Joe


"Aduh sakit Bu...aaawww" bang Joe pura pura kesakitan.


"Udah habisin dulu makanan mu".


"Nih udah habis Bu".


"Bawa piring ke belakang dan temui bapakmu di depan"


"Oke"


"Pak, beli apa buat mbak Litha?" tanya bang Joe.


"Mbak mu sukanya tempe keripik dan ini ada tahu khas desa sini".


"Di sana juga banyak kali pak. Kok nggak beli yang lainnya aja?" bang Joe protes.


"Kamu nggak beliin banyak bac*t aja" pak Maman nge-Gas.


"Ampun Pak...hehehe"


"Udah bawa tas besar kamu. Oleh olehnya taruh kardus sini aja biar aman. Jangan di injak atau di banting. Nanti hancur keripik nya".


"Oke Pak".


Bang Joe mengambil tas besarnya. Ia sandingkan dengan kardus berisi keripik dan tahu.


"Sudah pak. Joe mau ke rumah Lidya dulu".


"Ya".


***


"Dewii...Lidyaa. Kalian dimana??" bang Joe teriak teriak di rumah Lidya


"Di kamar Lidya bang" Dewi berteriak juga menjawab teriakan bang Joe.


Lidya POV


Aku sedang bermain dengan Dewi di kamarku. Kami sedang bermain monopoli. Mainan khas dengan mengelilingi beberapa negara di dunia, dadu dan uang mainan. Saat asyik asyiknya bermain tiba tiba aku mendengar teriakan bang Joe.


"Dewii...Lidyaa. Kalian dimana??" bang Joe teriak teriak di rumahku.


"Abang mu teriak tuh. Ada apa sih heboh banget? Nggak biasanya?" tanyaku pada Dewi berbisik.


"Mana ku tau" Dewi menjawab pelan.


"Ya udah jawab atuh. Biar nggak berisik dia" aku benar benar risih dengan teriakannya.


"Dewiii...."


"Lidyaa..."


"Pakdhee..."


"Budhee..."


"Nenek..."

__ADS_1


Bang Joe semakin berteriak.


"Di kamar Lidya bang" Dewi berteriak juga menjawab teriakan bang Joe.


"Sini aja bang. Kita disini." aku pun jadi ikut berteriak.


"Kalian ini. Pagi pagi udah main ginian?" bang Joe seakan mengejek permainanku dengan Dewi.


"Abang mau ajak kita main ke kota? suruh kita bersiap siap ya? Mau traktir makanan ya?" tanyaku berbinar.


"Sebenarnya abang mau pamit sama kalian. Abang mau ke kota, mau ke tempat ibumu Lid" bang Joe mengelus rambutku.


"Kenapa mendadak bang? Kenapa nggak sejak kemarin bilang sama aku? Aku boleh ya ikut abang? Lidya kangen sama ayah dan ibu bang. Sama adek Amad juga" aku memohon sama bang Joe.


"Rencana abang juga dadakan Lid. Kemarin ibumu bilang ada lowongan di dekat kostan nya. Abang harus gerak cepat untuk mendapatkan pekerjaan itu".


"Beneran abang mau berangkat hari ini, jam sekarang?" tanya Dewi.


"Iya Wi. Abang kesini karena mau pamit sama kalian".


"Yaaaach,,,, aku nggak diajak Wi. Sedih deh, nggak bisa ketemu ibu dan ayahku. Padahal sekolah kita juga libur lho. Seandainya aku diperbolehkan sama kakek nenekku. Apa kamu juga mau ikut ke kota Wi?" tanyaku pada Dewi.


"Kalian lho belum siap siap. Nggak mungkin bisa ikut. Lain kali saja ya?" bujuk bang Joe.


"Iya deh" jawabku dan Dewi bersamaan, lalu bersalaman dengan bang Joe sebagai ucapan sampai jumpa.


"Pakdhe, budhe dan nenek buyutmu kemana Lid?"


"Lagi di dapur semua bang" jawabku.


"Abang mau pamit sama mereka ya. Permisi. Bye!" Bang Joe keluar dari dari kamarku.


"Bang" ku panggil bang Joe. Dia menoleh.


"Mana uang saku buat kita. Aku dan adik tersayang mu si Dewi" aku tersenyum.


"Dasar kecil kecil njowo duet." (ngerti uang).


"Buat jajan lah bang".


"Adikku saja nggak minta, malah kamu berani minta sama abang?"


Bang Joe mengeluarkan 2 lembar uang 5000 an. 1 untukku. 1 untuk Dewi.


"Hehe..." aku nyengir puas dong.


"Ya sudah abang mau ke dapur" bang Joe beranjak pergi dari kamarku, aku menahannya lagi.


"Bang.... tunggu!" ku panggil bang Joe lagi. Dia menoleh namun ekspresinya di luar dugaan.


"Apa lagi Lidyaaa.... sudah keburu siang ini, nanti terlambat" ekspresi bang Joe kayak ingin memakan orang. Aku pun merasa ngeri.


"Terimakasih bang. Lidya nitip salam buat ayah, ibu dan dedek Amad ya bang".


"Ya. Abang mau pamit nih".


"Iya bang" aku dan Dewi melanjutkan permainan kami.


***


AUTHOR POV


Bang Joe melangkah ke dapur Lidya. Di lihatnya budhe Inem dan Pakdhe Miskun yang sedang menyembelih ayam. Dan mbah Irah sedang mengupas bawang merah putih.


"Dhe...saya mau pamit ke kota"


"Lho dadakan sekali. Ada apa?" tanya pakdhe Miskun, pakdhe nya bang Joe.


"Merantau Dhe. Nanti sementara tinggal sama mbak Litha dulu sebelum dapet kost".


"Ya udah. Hati hati ya"


"Iya Dhe".


"Bilangin sama mbak mu, ibu dan bapak nggak nitipin apa apa. Kamu dadakan banget Joe" ucap budhe Inem.


"Ya budhe. Tadi ibu dan bapakku sudah beliin oleh oleh buat mbak Litha dan keluarganya kok Dhe".


"Joe pamit ya Dhe" bang Joe berpamitan pada Budhe Inem dan Pakdhe Miskun.


Lalu menghampiri mbah Irah.


"Nek, Joe mau ikut mbak Litha merantau ke kota. Doain Joe segera dapet kerja ya Nek".


"Iya Lee¹. Jaga diri baik baik disana ya. Sering sering pulang kalo lagi libur kerja" pesan Mbah Irah pada cucunya.


"Iya Nek".


***


Bang Joe sudah berpamitan dengan keluarga di desa. Ia menunggu bus yang melintas di depan rumahnya menuju terminal dan segera berangkat ke perantauan.


Semoga rencana bang Joe ke perantauan segera mendapat pekerjaan seperti yang ia harapkan. Aamiin.


🌷🌷🌷


Lee¹: Sebutan untuk anak laki-laki (B.Jawa).


Thanks for reading ...


Jangan lupa VOTE and KOMENT yaa biar author semangat.

__ADS_1


Oh iya, author lama gak update ya. Maaf, kemarin sedang benerin akun FB.


__ADS_2