Mati Rasa (Lidya)

Mati Rasa (Lidya)
Bab 19 Rencana Membangun Rumah


__ADS_3

Happy Reading...


Setelah jual beli tanah kemarin, Ali langsung mengubah nama sertifikatnya menjadi namanya. Itu sudah kesepakatan antara ia dan istrinya, Litha.


Di sela sela kesibukan bekerja dan antar jemput Amad, Ali dan Litha menyempatkan berbelanja di toko bahan bangunan. Tanpa mengajak Amad. Seperti biasa, Amad masih di titipkan ke rumah bu Ipah.


Segala bahan bangunan sudah tersedia di dekat tanah miliknya. Mulai dari pasir, semen, tanah urug, batu untuk foundasi, batako, juga keramik.


"Alhamdulillah dek, sudah selesai berbelanja kita. Sekarang kamu telfon bapak dan ibu ya. Kamu bilang kita butuh kuli bangunan untuk menggarap rumah impian kita" perintah Ali.


"Iya mas. Tapi kenapa tidak orang sini saja mas yang mengerjakan rumah kita?" tanya Litha penasaran.


"Sepertinya tetangga kita di desa kerjanya lebih cekatan dan sungguh sungguh dek. Kita menyuruh mereka, biar mereka juga dapat gaji. Kita harus membantu orang terdekat kita dulu kan?"


Litha mengangguk.


"Ya udah, telfon sekarang dek. Mas mau membersihkan diri dulu. Lengket banget nih badan".


"Iya mas".


Kemudian Litha menelfon tetangganya di desa, mbak Neli. Karena saat itu hanya sedikit orang yang memiliki ponsel.


Tuuutt...


Tuutt...


Tuutt...


Telfon tersambung....


***


Di kediaman mbak Neli.


Mbak Neli sedang memasak, tiba tiba hp nya berbunyi.


"Iya halo. Ada apa mbak Litha?"


"Saya mau bicara penting dengan bapak dan ibu mbak" jawab Litha di seberang sana.


"Oh, nanti saya sampaikan pesan mbak Litha. Mau dipanggilkan sekarang apa nanti mbak?"


"Kalau mbak Neli nggak repot, sekarang juga nggak apa apa mbak?"


"Sebenernya saya lagi masak mbak. Tapi nggak apa apa mbak, saya mau otewe ke rumah mbak dulu. Panggil mbah Inem dan mbah Miskun".


Mbak Neli berjalan ke rumah orang tua Litha.


"Maaf merepotkan ya mbak"


"Gak apa apa mbak. Sebagai tetangga kita harus saling membantu kan?"


"Iya mbak"


"Saya panggilkan dulu orang tua mbak ya, jangan di tutup telfonnya" pesan mbak Neli.


"Iya mbak"


Di kediaman mbah Inem dan mbah Miskun.

__ADS_1


Mbak Neli mengetuk pintu. Yang membukakan pintu adalah Lidya.


"Iya mbak, ada apa ya?" tanya Lidya.


"Ibumu mencari kakek nenekmu Lid. Ibumu telfon mbak nih".


"Kakek dan nenek di belakang lagi ngiket kayu bakar mbak. Ibu nggak mencari aku mbak?"


"Ini hp mbak kalau kamu mau bicara sama ibumu. Mbak panggil kakek nenekmu di belakang ya".


"Makasih mbak".


Lidya sangat senang bisa berbicara dengan ibunya.


"Assalamualaikum ibu. Apa kabar?" tanya Lidya


"Waalaikumsalam Nak. Ibu baik, kamu bagaimana?" jawab Litha.


"Alhamdulillah baik bu. Oh iya bu, sekolahku sudah lho. Sebentar lagi aku kelas 6 bu".


"Wah, kebetulan jika sekolahmu libur. Ibu dan ayah berencana mengajak kakek dan nenek ke kota Nak"


"Dalam rangka apa bu? Ulang tahun adek Amad kah?" tanya Lidya penasaran.


"Bukan Nak. Ibu bicara sama kakek atau nenek dulu. Nanti biar kamu di beritahu ya"


"Baiklah Bu, itu kakek dan nenek berjalan menuju kesini bu. HP nya akan aku kasihkan."


Mbak Neli sudah bersama kakek dan nenek Lidya.


"Hallo, assalamualaikum" ucap mbah Miskun.


"Baik Nak. Kata mbak Neli, kau mencari kami. Ada apa Nak? Sesuatu yang penting kah?"


"Iya pak. Penting banget malah. Aku dan mas Ali sudah membeli tanah dan bahan material. Kami akan membangun rumah impian kami pak"


"Alhamdulillah. Jadi kamu mau memberikan kabar gembira ini?"


"Iya. Sekaligus meminta tolong, carikan kuli dari rumah ya pak. Pak Anto, pak Imron dan yang lainnya"


"Iya. Nanti kalau kuli nya dari sini kurang. Kamu cari kuli orang kota saja ya?"


"Iya pak".


"Rencana kapan pembangunan rumahmu?" tanya mbah Miskun


"Semakin cepat, semakin baik pak. Dan sekolah Lidya juga libur katanya. Jadi dia bisa ikut kesini. Aku kangen pak, sama Lidya anakku" jawab Litha.


"Ohh nanti akan aku bicarakan sama ibumu dan Lidya".


"Katakan pada Lidya saja pak. Sekarang aku mau bicara sama ibu dulu, tolong berikan hp mbak Neli pada ibu ya?"


"Iya"


Mbah Miskun memberikan hp nya pada istrinya.


"Ada apa Nak?" tanya mbah Inem.


"Tadi Litha udah bicara sama bapak bu, kalau aku dan mas Ali sudah membeli tanah dan material. Kami berencana membangun rumah".

__ADS_1


"Alhamdulillah. Lalu apalagi nak?"


"Berhubung sekolah Lidya, ajak juga Lidya kesini ya bu dan Litha juga mau minta tolong sama ibu?"


"Minta tolong apa?"


"Ibu yang masakin kuli nya nanti ya saat aku bekerja. Nenek (Mbah Irah) biar nginep di rumah bu Siti saja dulu".


"Iya sip".


"Ya udah gitu aja bu telfonnya. Nggak enak sama mbak Neli kalau telfon lama lama. Orangnya lagi sibuk masak juga".


"Iya. Hati hati ya Nak. Jaga cucuku Amad dengan baik".


"Iya bu. Tolong berikan hp nya sama mbak Neli bu"


"Neli, ini hape kamu. Litha mau bicara. Terimakasih sudah repot repot kesini. ucap mbah Inem pada mbak Neli.


"Iya Mbah. Sama sama"


"Mbak Neli terimakasih ya. Maaf merepotkan mbak selalu" ucap Litha.


"Iya sama sama mbak. Saya lanjut masak dulu. Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam mbak"


***


Litha bernafas lega, sebentar lagi pembangunan rumah impian segera terwujud.


Ali keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Hanya melilitkan handuk di pinggang.


"Udah selesai telfon dek?"


"Udah mas. Bapak dan ibu sedang mengusahakan kesini secepatnya dengan membawa kuli yang kita butuhkan"


"Iya dek. Kamu lihat sekarang"


"Lihat apa?" tanya Litha penasaran.


"Lihat perkututku"


"Hhmmmm"


"Anakmu sudah bangun tuh, kamu nggak sadar?"


"Mungkin terjadi terganggu saat aku telfon tadi mas" Litha nyengir


. Anaknya bangun sampai ngga nyadar dia.


"Kamu ajak Amad main ke mess nya Joe dulu. Nanti aku nyusul. Sekarang aku mau ganti baju".


"Oke".


Jadi saat membeli material bangunan tadi, Amad dititipkan ke rumah bu Ipah. Setelah membeli material bangunan, lalu menjemput Amad ternyata Amad ketiduran sampai kostan. Di tinggal Litha telfon sebentat, keburu bangun deh.


🌸🌸🌸


Thanks for reading....

__ADS_1


__ADS_2