
Happy reading...
Hari kelahiran Amad Khan sangat membahagiakan bagi keluarga Lidya. Sampai sampai Ali memangkas rambut gondrongnya.
Sesudah satu minggu Litha di RS, sekarang waktunya Litha diperbolehkan pulang. Ia kembali ke kostannya. Menghabiskan waktu merawat Amad kecil. Sedangkan Lidya bersama kakek dan neneknya kembali ke desa. Karena disana lah kehidupan mereka. Lidya rajin ke sekolah, rajin belajar juga rajin membantu kakek neneknya di desa.
Cuti Ali pun sudah habis masanya, ia kembali bekerja seperti biasanya. Litha di kostan hanya merawat anak bungsunya itu. Luka operasi caesar belum kering sepenuhnya. Namun ia tetap harus merawat bayinya kan?
Sebelum Ali berangkat bekerja, ia mencuci baju, memasak, memandikan anaknya dan menjemur baju. Setelah berangkat, semua Litha yang melakukan. Masa cutinya ia manfaatkan dengan baik, khususnya dalam memberikan ASI ekslusif.
Pagi ini setelah Ali berangkat, Litha membawa bayi mungil itu di depan kostan. Ia mengajaknya berjemur setelah dimandikan ayahnya barusan. Menjemur bayi di pagi hari sangat menyehatkan asal jauh dari polusi udara. Tak perlu lama lama. Sekitar 10 sampai 15 saja sudah cukup.
Lalu Litha menyusui bayinya lagi. Ia mengelus pipi bayi mungil itu.
"Sayangnya ibu. Kamu laper ya nak? Duh kenceng amat nenennya?"
"NgASI yang banyak ya nak, biar BB mu makin montok. Ibu senang Nak. Bisa mengASIhi mu. Dulu kakakmu Lidya hanya sebentar ngASI nya karena ibu harus merantau nak" Litha meneteskan air matanya.
Litha mengenang masa masa saat meninggalkan Lidya untuk pergi merantau.
***
Setelah dipastikan bayi Amad tidur dengan pulas, Litha duduk di sampingnya. Ia duduk di ranjang. Perlahan ia menyeka tubuhnya lalu memakan makanan yang di sediakan Ali sebelum berangkat kerja. Litha melahap semua masakan Ali. Hari ini Ali memasak sayur bening, dadar jagung dan telur ceplok. Litha benar benar merasa lapar, mungkin efek sebagai busui. Ia harus banyak makan biar ASI mengalir deras.
Litha merasa bosan, akhirnya ia menonton TV. Acara hari itu cuma talk show.
"Hah.. membosankan sekali"
Kemudian Litha mematikan TV nya. Dan tertidur di sebelah bayi Amad.
Litha terbangun saat mendengar Amad menangis meminta ASI. Setelahnya ya tidur lagi, jika merasa lapar ya makan lagi.
***
Sedangkan di desa, di kediaman Lidya ia merasa suntuk.
"Kamu kenapa Nduk?" tanya Mbah Inem.
"Lidya capek Nek, setelah perjalanan dari kota"
"Istirahatlah, besok harus sekolah kan?"
"Baiklah Nek. Lalu kakek kemana?"
"Kakekmu sedang keluar, beli es katanya tadi"
"Wah, segar pasti. Aku tunggu kakek aja ya Nek?"
"Istirahat dulu Lid. Nanti nenek panggil kamu jika kakekmu sudah pulang bawa es nya".
"Tapi Nek-".
"Tidak ada tapi tapian".
LIDYA POV
Aku benar benar merasa suntuk. Tadi di bus kan sudah tidur. Selama perjalanan aku hanya tidur. Dan sekarang sama nenek aku di suruh tidur lagi. Aku kan nggak ngantuk. Ya aku tau besok masuk sekolah. Tapi ini kan masih sore. Ngapain tidur? Ahh...nenek benar benar tak mengerti aku. Kalau aku tidur sekarang malah nanti malam aku nggak bisa tidur bukan?
"Tapi Nek-"
__ADS_1
"Tidak ada tapi tapian".
"Nek, kalau sekarang aku tidur nanti malam aku nggak bisa tidur. Besok ke sekolah kesiangan gimana? Nenek mau tanggung jawab?"
"Benar juga kamu Nduk".
"Aku hanya suntuk Nek. Bingung mau ngapain".
"Maen ke rumah Dewi aja sama kasih oleh oleh ini untuk keluarga Dewi".
"Ya Nek"
Lidya beranjak ke rumah Dewi. Membawa setengah kilo apel malang dan wafer 2 bungkus di kresek hitam.
"Wi..Dewiii...Dewii...Wii... Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam Lid" Dewi membukakan pintu rumahnya.
"Kamu sudah pulang Lid?" tanya Dewi.
"Iya barusan. Ini ada oleh oleh buat keluarga mu Wi" aku menyerahkan kresek hitam itu pada Dewi.
"Yuk masuk yuk" ajak Dewi.
"Maen ke rumahku aja yuk. Tadi kakekku beli es kata nenekku. Kamu mau kan?"
"Bolehlah. Baiklah aku pamit dulu".
"Ibu,, aku mau ke rumah Lidya" pamit Dewi pada ibunya.
"Iya jangan pulang malam malam"
"Lah, Dewi kamu ikut kesini" ucap kakekku, Mbah Miskun.
"Hehe...iya pakdhe. Diajak Lidya".
"Sini Wi. Ayo makan makan" ajak nenekku.
AUTHOR POV
Mereka makan gorengan dan es kelapa muda bersama di rumah Lidya. Hingga menjelang Maghrib. Dewi pun izin pulang sebelum ibunya menjewer telinga nya.
"Pakdhe, budhe...Dewi pamit pulang ya. Sudah mau magrib. Saya juga belum mandi...hehehe" pamit Dewi.
"Iya Nduk".
"Wi, nanti malam kamu kesini lagi ya. Aku kan ketinggalan pelajaran. Nanti kamu bawa buku bukunya yang perlu aku catat materi sekolah yang ketinggalan waktu aku izin ke kota itu".
"Baiklah".
Dewi pulang dan kembali ke rumah Lidya untuk memberikan buku bukunya pada Lidya.
"Ini Lid".
"Segini banyak yang harus aku catat?".
"Iya lah".
Kemudian Lidya dengan telaten menulis materi sekolahnya.
__ADS_1
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 20.36, Lidya mengantuk.
"Wi. Ini bukumu. Makasih ya?".
"Sama sama. Kita kan saudara. Jadi saling bantu. Asal bukan contek mencontek saat ulangan" kata Dewi bijak.
"Tumben kamu mendadak bijak. Kita nih masih bocil. Sok kamu" ejek Lidya
"Tapi bener kan?"
"Iya deh. Ya udah pulang sono".
"Wah, kamu ngusir aku?"
"Sudah malem Wi. Aku ngantuk, aku juga capek. Baru pulang, nyampek nya tadi sore tuh".
"Ya udah. Selamat istirahat ya
Besok masuk sekolah jangan sampai kesiangan kamu".
"Oke"
Kemudian Lidya menuju kamarnya dan tidur nyenyak.
***
Mentari telah menampakkan sinarnya. Artinya pagi hari telah menyapa.
Lidya selalu bangun subuh. Sholat dan membantu kakek neneknya di rumah.
Setiap pagi ia berangkat ke sekolah dengan Dewi. Berjalan kaki, tak lagi di antar kakeknya. Jarak sekolah SD nya tak begitu jauh. Hingga kelas 5 SD, Lidya di belikan sepeda baru. Sebelumnya ia hanya meminjam sepeda milik tetangganya.
Di tempat lain
Luka caesar Litha sudah sembuh sejak beberapa tahun lalu. Hanya saja buat bekerja terlalu berat, ia merasakan nyeri perut dan punggungnya.
Pekerjaannya dengan suami berjalan lancar. Dana untuk membangun rumah sudah terkumpul. Mereka membeli tanah di kota dan sudah membeli beberapa material untuk pembangunan rumah 2 lantai. Rumah impian Ali dan Litha memang seperti itu.
Di kota membeli lahan luas, mahal di dana. Sehingga mereka membeli tanah berukuran sedang. Namun bisa di tumpuk. Alias di tingkat sampai 2 lantai.
Untuk memperkerjakan pembangunan rumah, Litha sepakat dengan Ali bahwa pekerja nya di datangkan dari desa. Yaitu tetangga nya mbah Inem dan Mbah Miskun.
Apa kabar Amad kecil yang dulunya bayi lahir dgn kondisi lemah??
Amad menjadi anak yang aktif. Tak henti hentinya ia berjalan. Sekarang usianya 3 tahun. Ia sedikit sedikit juga bisa bicara.
Selama Ali dan Litha bekerja, Amad di titipkan ke baby sister. Setelah pulang kerja, baru di jemput.
Kehidupan keluarga Lidya sangat membahagiakn.
Keinginan membangun rumah impian ayah ibunya segera terwujud.
✍️✍️✍️
Thanks for reading...
jgn lupa VOTE dan KOMEN ya gess...
sebentar lagi menuju awal konflik.
__ADS_1