Mati Rasa (Lidya)

Mati Rasa (Lidya)
Bab 11 Sembilan Bulan


__ADS_3

Happy Reading....


Litha sangat merasa bahagia atas kehamilannya. Suaminya jadi lebih perhatian. Banyak kejutan yang ia dapatkan.


Setelah mendapatkan kejutan semalam, Litha harus bekerja. Di kondisi hamil muda seperti ini Litha tetap harus lebih berhati hati. Semua ia lakukan demi menjaga calon buah hatinya.


Semua kewajiban sudah ia lakukan. Mulai membangunkan suami, sholat subuh, memasak dan sarapan. Litha sudah bisa memasak. Ia memaksa untuk bisa memasak walaupun bau bau bumbu menyeruak ke indera penciumannya. Litha selalu memakai masker tiga lapis agar bau bumbu tidak terhirup.


"Kamu yakin mau masuk dek, kamu kayaknya kemarin parah lho morning sickness nya?" tanya Ali yang sedang memakai sepatu.


"Iya masuk lah mas. Lagian aku juga harus mengantar surat dokternya kan karena kemarin nggak masuk? jawab Litha.


"Tetapi kamu jangan kecapean ya, kamu minta pengurangan jam kerja atau gimana gitu biar sedikit ringan?".


"Inshaa Allah mas. Mas tenang aja. Mas lupa, aku dulu pernah hamil Lidya juga sambil bekerja?"


"Iya tapi kamu harus tetap jaga kondisi ya, jangan sampai kamu kecapean atau pingsan lagi".


"Pasti itu mas. Makasih ya perhatiannya. Aku sayang mas. Lebih perhatian banget semenjak hamil adiknya Lidya...hehe"


"Jadi dulu dulu, menurutmu aku nggak perhatian? ...hhhmmm"


"Ya nggak juga sih. Aku bilang lebih perhatian. Artinya dulu juga perhatian. Bukan nggak perhatian. Gimana sih kamu mas?"


"Iya bumil sensitif. Dikit dikit gampang marah..haha" ejek Ali


"Kamu sih sukanya godain adek. Ntar tak aduin sama dedek bayi lho. Ayahnya suka godain ibunya. Bikin ibunya marah".


"Jangan gitu sayang. Dedek bayi, maafin ayah yaa?" ucap Ali sambil mengelus perut rata Litha.


"Iya ayah" jawab Litha dengan menirukan suara khas bayi.


Mereka pun tertawa bersama.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 05.30, Litha dan Ali bergegas pergi ke tempat kerjanya. Karena jam masuknya mulai pukul 06.10.


Lebih baik berangkat terlalu pagi daripada terlambat. Begitu kata mereka.


Tak lupa Ali memasangkan helmnya untuk Litha.


Ceklek...!


Helm terpasang sempurna. Keduanya mengemudi menyusuri area perindustrian.


"Sudah sampai dek. Hati hati ya" ucap Ali sambil mengulurkan tangannya.


Litha menciumnya dengan takzim.


"Iya mas. Mas juga hati hati ya".


"Iya sayang. Jaga calon bayi kita ya"


"Iya mas".


Ali meninggalkan tempat kerja Litha menuju ke tempat kerjanya sendiri. Hari ini pengiriman barang ke beberapa kota dalam provinsi saja.


***


Litha memasuki area kerjanya. Ia bertemu dengan sahabatnya.


"Hay Litha, aku dengar kamu kemarin kamu izin karena sakit ya? Sekarang bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik? Kamu sakit apa?" sapa Ariyanti dengan tembakan banyak pertanyaan.


"Iya Ari aku kemarin nggak masuk. Aku pingsan dan di bawa mas Ali ke puskesmas terdekat".


"Kamu sakit? Nggak biasanya kamu pingsan. Kalau capek biasanya juga pijet terus sehat lagi kan. Nggak sampai pingsan?"


"Aku hamil Ri" jawab Litha dengan pelan.


"Apaaaa?" Ariyanti berteriak sehingga teman kerja yang lainnya menoleh le arah mereka berdua.


"Kamu jangan teriak teriak. Aku nggak budek" jawab Litha kesal.


"Heheh...iya maaf. Aku terkejut".


"Biasa aja kali. Kan ada suaminya"


"Iya deh. Yuk kita masuk ke dalam."


"Ayo".


Mereka memasuki ruang produksi. Pekerjaan segera di mulai. Sang mandor mendekati Litha.


"Mana surat dokternya?" todong sang mandor.


"Ini bu" Litha menyerahkan hasil pemeriksaan nya.


"Kamu hamil?"


"Iya bu"

__ADS_1


"Berhubung kamu sedang hamil muda. Dari jam kerja normal 7 jam, untukmu ku kasih 6 jam ya. Target harus selesai sesuai dengan yang di tulis disini (buku absen). Kamu bekerja 6 jam selama kondisimu masih morning sickness. Setelah nggak morning sickness, kamu tetep bekerja 7 jam".


"Terimakasih bu".


"Iya. Dan agar calon bayimu tetap sehat nanti dikasih cuti periksa kehamilan. Satu bulan satu kali. Paham?".


"Paham bu".


"Menjelang kelahiran nanti juga ada cuti melahirkan. Jadi saat usia kandungan mu sudah delapan bulan, kamu diperbolehkan cuti utk mempersiapkan mental dan fisikmu untuk melahirkan. Sesuai peraturan di perusahaan kita ini. Karyawan produksi yang cuti melahirkan tetap mendapat gaji utuh sesuai pendapatan gaji perbulannya."


"Ah iya bu".


"Sekarang berapa usia kandungan mu?"


"7 minggu bu".


"Semoga janinnya sehat selalu".


"Terimakasih bu".


"Ya, sekarang kembali lah bekerja".


"Baik bu. Saya permisi".


Litha menyelesaikan pekerjaannya. Ia harus bekerja keras di tengah kondisi morning sickness.


***


Sesuai peraturan perusahaan, karyawan yang hamil selama morning sickness akan bekerja 6 jam, setelah pulih akan bekerja 7 jam. Litha melakukan pekerjaannya dengan baik.


Kini kehamilan Litha memasuki usia 7 bulan. Litha mengadakan syukuran kecil kecilan. Orang tuanya dan Lidya anak sulungnya pun berkunjung ke kota untuk menengok keadaan Litha.


Menu untuk syukuran sore ini ada ayam panggang, rujak serut, lumpia, lemper dan makanan berat maupun makanan ringan yang lainnya.


Litha memasak di bantu Ariyanti dan tetangga kost nya.


Makanan itu di taruh kardus sterofoam dan dibagikan pada tetangga sekitar saja.


Kehamilan kali ini Litha lebih bersyukur. Dulu saat mengandung Lidya, kondisi keluarganya tidak seperti sekarang ini. Dulu ia dan suaminya masih di desa dan saat itu mencari pekerjaan agak susah.


Sekarang mereka berdua sudah mapan dan memiliki pekerjaan tetap.


Setiap bulan bisa memeriksakan kandungan di spesialis kandungan. Ya, Ali menyuruh Litha periksa ke spesialis kandungan sejak usia kandungannya memasuki 20 minggu.


Flasback On


"Sayang, gimana kehamilan mu? Apakah masih mengalami morning sickness?".


"Alhamdulillah dek. Kapan jadwalnya kontrol lagi?"


"Minggu depan mas?"


"Oke. Minggu depan dan seterusnya ke spesialis kandungan saja ya? Mas akan anterin terus dan ingin memantau bayi kita".


"Tapi kan mas-" Litha belum menyelesaikan ucapannya tetapi Ali memotongnya.


"Tidak ada penolakan. Mas ingin yang terbaik buat bayi kita. Bukannya mas ngga percaya kepada bidan atau nakes lainnya dek. Tetapi biasanya di bidan ngga ada USG nya. Mas kan ingin kandungan mu di USG biar bisa lihat dia di dalem".


"Baiklah, Litha menurut saja asal mas yang bayar. Jangan pakai gaji ku".


"Kamu sama anak sendiri pelit, sayang?"


"Bukan begitu mas. Tapi kita juga harus menabung kan biar tidak mengontrak. Aku juga udah nggak pegang uangmu beberapa bulan ini kan. Semua sudah kamu sendiri yg atur untuk biaya kost, makan dan pemeriksaan aku. Jadi lebih baik gaji ku untuk di tabung saja".


"Iya deh. Kamu benar dek. Nanti setelah bayi kita lahir, gaji nya semua kamu yang pegang untuk keperluan kita. Termasuk buat bangun rumah impian kita" kata Ali sambil mengusap pucuk kepala Litha.


"Iya mas".


Flashback Off


***


Kondisi Litha sangat baik sampai usia 7 bulan. Di usia kandungan 8 bulan, Litha merasa mudah lelah. Mungkin karena berat janin yang semakin berat dan punggung nya juga merasakan pegal yang aduhai rasa nya.


Ia dan suaminya tak pernah absen untuk kontrol. Cuti dari perusahaan ia manfaatkan dengan baik. Litha tak pernah melewatkan jadwal minum vitamin. Betapa disiplinnya dan patut di contoh. Semua ia lakukan demi kesehatan dan tumbuh kembang bayinya.


Jika setelah pulang kerja, badannya terasa lelah, Litha istirahat sebentar hingga keringatnya kering. Lalu mandi dan rebahan. Bahkan ia kadang tertidur dan bangun saat Ali pulang kerja.


Kalau dulu sehabis pulang kerja, Litha memasak untuk dirinya sendiri dan suami. Sekarang tidak lagi. Bukan karena malas, tetapi setelah bekerja badannya terasa lelah dan remuk ia tak akan memaksakan untuk memasak. Jadi setiap sore membeli lauk di depan gang kostan nya. Nasi sudah tersedia di magic com. Memasak nasi sendiri lebih praktis dan menghemat pengeluaran untuk warga kostan. Iya kan, reader? Author sudah ngalami ini waktu ngekost pasca pengantin baru. Masak nasi sendiri lebih hemat.


***


Di usia kandungan 8 bulan jalan 9 bulan ini, Litha sudah menghadap ke HRD untuk mengajukan cuti melahirkan.


Tok too tok!


"Assalamualaikum Pak" Litha mengetuk pintu ruangan yang tertulis Ruang HRD.


"Waalaikumsalam. Silahkan masuk".


"Iya Pak"

__ADS_1


"Silahkan duduk"


"Baik Pak"


"Ada perlu apa Anda kesini. Ada perlu apa?" tanya Pak Diman kepala HRD perusahaan.


"Saya mau mengajukan cuti melahirkan Pak".


"Oh iya, mana buku periksa kehamilan mu?"


"Ini pak" Litha memberikan buku khusus periksa kehamilan nya.


"Semoga persalinannya nanti lancar ya


. Dan sesuai peraturan dari perusahaan ini, setiap wanita hamil yang akan melahirkan di beri cuti selama 3 bulan. Dan mulai besok kamu saya izinkan cuti sampai anakmu usia 2 bulan. Kamu tetap di gaji dari perusahaan melalui rekening seperti biasanya" Pak Diman menjelaskan panjang kali lebar kepada karyawannya itu.


"Baik Pak. Terimakasih sudah di izinkan".


"Sekarang kamu tanda tangani surat cuti ini" Pak Diman menyodorkan surat cuti yang bernama Lithania Agustin.


"Iya Pak" Litha menanda tangani dan menyerahkan pada HRD.


"Sudah selesai dan kamu boleh keluar sekarang".


"Iya pak. Saya permisi"


Litha meninggalkan ruang HRD dan kembali ke ruang produksi.


"Bu, saya sudah izin ke HRD"


"Targetmu sudah selesai? Jika sudah kamu boleh pulang dan istirahat".


"Sudah Bu. Saya pamit ke teman teman dulu ya"


"Iya".


Litha berpamitan kepada teman temannya. Dan terakhir ia berpamitan pada sahabatnya, Ariyanti.


Litha dan Ariyanti bekerja di perusahaan biskuit bagian produksi. Mereka satu kelompok jadi setiap hari bertemu.


"Ri, kamu baik baik ya. Aku mulai besok sudah cuti. Kalau kamu punya waktu luang bolehlah main ke kost ku".


"Iya Lith. Semoga lancar dan bisa lahiran normal ya"


"Aamiin. Terimakasih doanya".


Mereka berpelukan dan Litha meninggalkan perusahaan tempat ia bekerja.


***


Sejak cuti bekerja, Litha jarang memasak. Ali yang sering memasak, jika capek tinggal beli di depan gang saja. Semua pekerjaan rumah Ali yang menghandle. Mulai mencuci, menyapu dan memasak. Ali benar benar ingin Litha istirahat setelah bekerja.


Memasuki usia kandungan 9 bulan membuat Litha sedikit gugup. Walaupun ia pernah mengandung sebelumnya namun tetap saja ia gugup. Waktu melahirkan Lidya, Litha merasakan kontraksi hingga hampir 24 jam.


Litha rutin jalan jalan pagi sekitar jalan di komplek kostan nya. Hanya sampai gang depan lalu balik lagi. Begitu seterusnya hingga ia lelah. Jika sudah lelah, maka langsung rebahan.


Di usia kehamilan menuju 9 bulan, Litha periksa di antar suaminya setiap satu minggu sekali.


Seperti hari ini, Litha memeriksakan kandungannya di spesialis kandungan langganannya.


"Bagaimana dok, keadaan bayi saya?" tanya Litha


"Begini Bu. Sekarang usia kandungannya sudah 37 minggu. Sudah waktunya bayi lahir jika ia segera lahir. Namun ibu tak perlu khawatir. Tidak apa apa jika ia belum mau lahir. Rentang aman hingga 37-39 minggu Bu. Bahkan ada yang sampai 40 baru mau lahir, itu pun karena induksi atau caesar Jika bayi lahir di bawah usia kandungan 37 minggu dan beratnya kurang dari 2.500 gram bisa di katakan prematur."


"Lalu posisi bayi gimana dok?"


"Saya jelaskan semua ya Bu. Posisi bayi sungsang. Air ketuban cukup, plasentanya sudah mengalami sedikit pengapuran dan tidak ada lilitan tali pusar. Berat badannya sekarang 2.500 gram" Dokter itu menjelaskan secara rinci.


"Kalau plasenta mengalami pengapuran gimana dok?"


"Wajar Bu. Karena sudah akan melahirkan. Selama dipantau terus dan tidak membahayakan bayi tidak perlu di khawatirkan Bu?" .Kira kira begitu ya, berdasarkan pengalaman author waktu itu. CMIIW🙏


"Baik dok".


"Ini vitamin dan pil TD nya wajib diminum ya bu?"


"Iya dok. Kami ke depan dulu untuk mengambilnya" pamit Ali dan Litha pada dokter Angga.


"Silahkan".


Ali dan Litha ke apotik kecil di sebelah ruangan dokter Angga. Menyerahkan resep dan membayar ke administrasi nya.


Lalu mereka pulang ke kostan setelah sebelumnya mampir ke kedai es krim.


***


Thanks for reading...


Jangan lupa dikasih VOTE dan KOMENTAR ya biar author makin semangat.


Please don't be silent reader...!!! hehehe

__ADS_1


__ADS_2