Mati Rasa (Lidya)

Mati Rasa (Lidya)
Bab 4 Mengunjungi Alun Alun


__ADS_3

Hari lebaran di hari pertama sangat melelahkan bagi Lidya. Bagimana tidak? Selama sehari ia dan ayah ibunya bertamu di semua tetangga terdekatnya. Dan besok adalah hari kedua, saatnya Lidya bertamu ke saudara yg rumahnya jauh. Sangat melelahkan. Tetapi alhamdulillah hati Lidya bahagia. Hari hari Lidya selalu bersama kedua orangtuanya.


Untuk memulihkan tenaganya, kini Lidya, Litha, Ali merebahkan tubuhnya di karpet sambil menonton TV. Namun masih dgn pakaian yg bisa dibilang pakaian bagus. Mbah Inem, Mbah Miskun, Mbah Rah sengaja duduk di ruang tamu untuk menyambut kedatangan tamu. Ya, walaupun malam memang masih ada beberapa tamu yg berkunjung. Mungkin sekitar sampai jam 21.00 WIB rumah Lidya menerima tamu.


"Nduk, kalau kamu capek tidur aja. Besok pagi masihbharus keliling ke saudara Mbah yg rumahnya jauh lho." kata Mbah Inem pada cucunya


"Iya Mbah. Lidya ke kamar dulu. Nanti ayah sama ibu nyusul Lidya ya?


"Iya Nak. Ayah sama ibu masih menyambut kedatangan tamu. Sambil nemenin kakek nenek dan buyutmu" Ucap ayah Lidya


"Iya ayah. Lidya tidur sekarang. Ini kan udah jam 8 malem. Kalau Lidya nggak cepet bobok, ntar malah nggak bisa bobok"


Lidya pun beranjak ke kamar. Sedangkan Ali, Litha, Mbah Rah, Mbah Inem dan Mbah Miskun masih terjaga di ruang tamu.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 21.00. Setelah dipastikan tidak ada tamu, Litha menutup jendela dan pintu. Ali sudah menyusul Lidya di kamar.


"Lidya sudah tidur mas?" tanya Lidya pada suaminya.


"Udah dek".


"Aku juga mau tidur mas".


"Iya. Mas juga kok. Besok kita jalan jalan ya. Lidya pasti akan sangat bahagia. Sebentar lagi kita kan kembali ke perantauan".


"Iya mas. Besok aku kasih tau Lidya"


Sekarang mereka bertiga sudah tidur nyenyak. Semua penghuni rumah sudah terlelap hingga pagi menyapa.


"Kukuuuuruuuyuuuuukkk"


"Petokkkk... pettoookkk...petthhoookkk"


"Kiyeeekkk kiyyeekkk kiyyekkk"


"Embeeekkkk"


"Mbeeekkkk.. emmbeekkkk"


Suara ayam dan kambing dari belakang rumah Lidya sudah membangunkan keluarga itu. Ya, kakek dan nenek Lidya suka memelihara hewan ternak. Sebagai tabungan dan hobi aja. Jika sewaktu membutuhkan uang ketika lagi gak punya pegangan, beliau menjualnya ke pasar terdekat.


Semua anggota keluarga bersiap. Ada yg mandi, membersihkan ruangan, memasak, manasi motor untuk silaturahmi ke saudara yang jauh dan menata ruang tamu.


"Litha, ini nanti kamu bawa ya gawan nya ke rumah bulek mu"


"Iya bu. Cuma 3 rumah aja ya?"


"Iya Nduk"


"Aku izin ke alun alun ya nanti bu. Setelah selesai silaturahminya?"


"Iya Nduk".


***


Sekarang keluarga kecil Litha bersiap ke rumah buleknya. Litha dan Lidya memasang hijabnya. Ali hanya menunggu di depan.


"Nak, nanti setelah kita silaturahmi, ayah dan ibu mengajakmu ke alun alun. Kamu mau, sayang?" Kata Litha dgn mengelus pipi putri kecilnya


"Mau ibuu. Nanti beliin mainan ya. Aku pingin masak masakan sama perahu ethek ethek" jawab Lidya dgn mata berbinar.


"Iya sayang."


Setelah ibu dan anak memastikan hijabnya pas. Mereka segera ke depan.


"Mas, kita sudah siap. Ayo berangkat sekarang. Nanti keburu panas di luar"


"Kalau panas, tinggal dinginin pakek es dawet dek"


"Ahh ngomong ngomong soal dawet, itu kesukaan aku mas. Kamu pekaaa banget".


"Lah kamu sih, keburu berangkat aja. Ayo salim sama bapak dan ibu sama buyutnya Lidya."


"Iya mas. Ayo sayang kita pamit dulu" jawab Litha sambil mengajak Lidya bersalaman dengan orangtua nya.


***


Mereka sudah pamit dan mengunjungi saudaranya. Sekarang mereka akan menuju alun alun.


Sepeda motor Ali membelah jalanan di siang yang terik. Tak terasa sudah 45 menit, mereka sampai di alun alun.


Lidya kecil sangat bahagia. Di sana ramai sekali. Ada yg jualan baju dewasa, baju anak, baju khas daerah kota tempat tinggal Lidya, aneka mainan, aneka jajanan tradisional, berbagai wahana mainan, dan lain lain.


"Kita sudah sampai Nak. Kita turun dan tunggu ayah memarkirkan motor ya".


"Iya bu".


Ali memarkirkan motor di parkir terdekat. Beberapa menit kemudian, ia menghampiri istri dan anaknya"

__ADS_1


"Hai duo kesayangan ayah. Lama ya nunggunya. Di parkiran tadi ramai banget. Jadi maaf ya, ayah lama".


"Gak apa apa yah. Kita maklum kok. Hari ini kan hari raya jadi wajar kalau ramai".


"Sekarang Lidya sama ayah ya. Digendong ayah mau? Kita nyeberang dulu".


"Iya ayah"


Ali menggendong Lidya. Tangan kanan nya menggandeng Litha. Wah... pemandangan yang sangat harmonis ya pemirsa?


"Nah, kita sudah sampai sayang. Kamu turun dulu ya Nak. Punggung ayah sakit"


"Iya ayah. Maaf ya, Litha berat banget ya yah sehingga bikin ayah kesakitan?"


"Ayah becanda sayang" jawab Ali sambil mengelus pucuk rambut putrinya.


"Ehhmmm... Dek, sekarang kita kemana dulu? Jalan jalan atau cari makan minum dulu?" tanya Ali pada istrinya.


"Kita beli es dawet dulu Mas. Aku haus....hehe. Lidya juga haus kan Nak?"


"Iya bu. Lidya haus banget. Beliin yang seger seger dulu".


"Ya udah ayo".


Ali mengajak Litha dan Lidya ke kedai es dawet. Wajah Litha terlihat sumringah alias bahagia. Bagaimana tidak? Es dawet adalah favoritnya. Dan rasa yang tiada duanya. Es dawet khas kota kelahirannya bak candu baginya. Jadi sangat disayangkan bila pulang ke kota kelahirannya tanpa membeli es dawet.


"Dek, kamu seneng banget kayaknya?"


"Iya mas. Ini kan favorit aku"


"Lidya, kamu kenapa diam aja sayang?"


"Lidya, tadi ibu mau beliin aku mainan. Lidya pengin punya masak masakan dan perahu ethek ethek yah".


"Kita habiskan es dawetnya dulu Nak. Nanti kita keliling cari mainan yang kamu inginkan. Tapi janji dulu, habisin tuh minuman. Daaaannnn... kamu nggak mau bakwan sayur? Lihat tuh ibumu bak orang kelaparan?" kata Ali sambil mengelus pucuk rambut putrinya.


"Iya yah. Janji ini akan Lidya habiskan. Lidya jadi semangat, jadi boleh ya ambil 2 biji bakwan nya? "


"Silahkan sayang. Yang penting kamu kenyang dulu baru boleh minta mainan".


"Asyik... Ayah sama ibu baik banget. Lidya hari ini benar benar bahagia".


Lidya merasa bahagia. Dalam hatinya, walaupun jauh, semoga orangtuanya tetap menyayangi seperti ini.


"Mas, aku sama Lidya udah selesai makan. Kamu juga udahkan? Aku pesen lagi ya? Dibungkus untuk orang di rumah?"


"Buk, bungkus es dawet 5 bungkus dan bakwan sayur 10.000" kata Litha kepada ibu penjualnya.


""Ditunggu dulu ibu"


"Iya bu. Sama totalannya sama yang kita makan disini berapa bu?"


"Yang diminum disini 3, dibungkus 5 jadi 8x3.000\=24.000. Bakwannya dimakan disini berapa bu?" tanya sang penjual.


"Tujuh bu"


"7x500\=3.500 dan dibungkus 10.000 jadi 13.500 sama dawetnya tadi 24.000 ya bu? Semuanya 37.500 bu"


"Iya, ini uangnya bu" Litha membayar semua totalan nya.


"Ini pesanannya bu" Kata sang penjual sambil menyerahkan es dawet dan bakwan kepada Litha.


"Terimakasih bu" Jawab Litha dengan menerima dawet dan bakwan yang sudah dibungkus kresek.


Sekarang mereka bertiga keliling mencari penjual mainan. Lidya terlihat antusias sekali.


"Ayah, Ibu itu di depan ada yang jual perahu. Itu Bu, perahunya muter muter di bak. Lidya mau itu" ucap Lidya dengan menunjuk penjual perahu.


"Ayo kesana, sayang".


"Iya Bu".


Lidya masih memperhatikan perahu yang muter muter di bak.


"Lidya, kamu mau warna apa Nak?" tanya Ali pada putrinya


"Hijau aja yah"


"Oke. Pak beli yang hijau 1 ya. Dan tolong di coba dulu"


"Iya pak." penjual itu sedang mencoba perahu pilihan Lidya. Perahu Lidya muter seperti perahu perahu yang dicoba sebelumnya.


"Bungkus pak. Berapa harganya?"


"20.000 pak"


"Ini uangnya. Terimakasih pak. Semoga laris dagangannya ya pak".


"Aamiin. Sama sama dan terima kasih doanya ya bapak dan ibu. Semoga keluarga kalian selalu diberi kebahagiaan".

__ADS_1


"Aamiin"


Lidya meng-aamiin-i doa bapak penjual perahu. Ia juga berharap keluarga nya menjadi utuh till jannah".


"Terimakasih yaa ayah, ibu. Sekarang kita jadi beli mainan masak masakan buat Lidya kan?".


"Jadi dong sayang".


"Di depan ada itu Bu, penjual mainan. Banyak banget mainannya. Ayo kesana."


"Ayoooo"


"Nah, kita sampai Bu. Lidya milih dulu ya. Ayah sama Ibu tunggu sebentar".


"Iya Nak. Jangan lama lama milihnya. Nanti kita pulang nya ke sore an".


"Baik Bu".


Lidya memilih mainan pilihannya. Lidya memilih yg ada rak bertingkatnya. Jika dibandingkan dengan yang lain, itu lah paling komplit isinya.


"Ibu, Lidya mau yg ini. Lihat Bu, lengkap banget kan. Ada rak bertingkat, wajan, sotil, serok, panci, teflon, piring, gelas, kompor gas, sendok dan dapat bonus teko...hehehe"


"Teko nya bukan bonus Nak. Itu memang dapat dari sananya".


"Eh..kirain bonus..uppsss. Ya udah bu. Lidya mau ini ya. Lidya boleh minta boneka nggak?" Lidya merengek lagi minta dibelikan boneka.


"Kapan kapan lagi sayang. Ini kamu udah beli dua mainan lho".


"Iya deh bu".


"Sekarang Lidya sama ayah dulu. Ibu mau bayar mainan kamu".


"Ya bu"


"Pak berapa mainan ini?".


"25.000 bu".


"Ini uangnya pak".


"Terimakasih bu".


"Sama sama pak. Mari...!".


Litha menghampiri Lidya dan Ali.


"Lidya, ini mainan kamu semua ibu yang bawa. Sama es dawet dan bakwan tadi. Sekarang Lidya di gendong ayah lagi ya Nak. Kita pulang. Keburu sore ntar".


"Iya bu"


"Ayo yah, gendong Lidya lagi. Tapi jangan pura pura sakit lagi ya yah. Nanti Lidya jadi gak tega".


"Iya sayangnya ayah. Kamu cerewet banget...hehe" Ali bergegas menggendong Lidya.


Lidya di gendong punggung dan tangan kanan Ali menggandeng Litha. Kita membayangkan keluarga harmonis lagi pemirsa. Mereka berjalan perlahan menyeberangi jalanan kota. Mengambil motor yang di titipkan di parkiran setempat. Setelah beberapa menit kemudian mereka sampai di parkiran motor tersebut. Lantas, Ali menurunkan Lidya dari punggungnya.


"Tunggu disini ya Nak. Sama ibu. Ayah ambil motor dulu. Dek, kamu jaga Lidya"


"Iya yah"


"Iya mas"


Lima menit kemudian, Ali keluar dengan sepeda motornya. Menghampiri Litha dan Lidya yg terlihat kelelahan.


"Lidya, ayo naik. Pegangan ayah ya"


"Iya ayah".


"Dek, belanjaannya di gantung depan sini. Biar kamu gak kerepotan".


"Iya mas".


"Aku naik sekarang ya".


"Iya dek. Lidya kelihatannya kelelahan. Kamu jaga dia kalau ngantuk nanti".


"Siap. Ayo pulang. Keburu sore nih".


"Dek Litha dan Lidya, pegangan semua. Kita pulang".


Mereka pulang ke rumah. Di perjalanan akhirnya Lidya tertidur. Ali yang mengetahui Lidya tertidur, segera mengurangi laju kecepatan motornya.


💫💫💫💫


1591 kata. Alhamdulillah. Maaf ya kalo author agak lama update nya. Lagi sibuk juga. Dan alurnya masih sedikit santai. Kita ikuti dulu yaaa...


Salam sayang.


Jangan lupa di vote ya.

__ADS_1


__ADS_2