Mati Rasa (Lidya)

Mati Rasa (Lidya)
Bab 13 Persalinan


__ADS_3

Happy Reading...


Keesokan harinya, Lidya dan kedua orang tua Litha menuju rumah sakit setelah di kabari Mbak Neli, tetangga Litha di desa. Lidya saat itu izin tidak masuk sekolah.


Perjalanan dari desa ke kota membutuhkan kurang lebih 6 jam. Semua merasa lelah. Karena dari terminal langsung menuju rumah sakit. Ali tidak bisa menjemput ke terminal karena menunggu Litha di rumah sakit.


"Gimana Nak, keadaan Litha? tanya mbah Inem pada menantunya


"Masih istirahat bu. Litha baik baik saja" jawab Ali


"Kapan operasi di laksanakan. Ibu tadi dengar dari dokter akan di operasi kan? Tapi ibu tak sempat tanya. Kelihatannya dokternya masih sibuk menangani pasien.


"Operasinya nanti sore Bu. Doakan semoga lancar ya?"


"Pasti itu Nak".


"Lidya capek ya Nak? Habis perjalanan jauh?" tanya Ali pada Lidya.


"Iya yah".


"Kita gelar tikar di sebelah sana yuk. Dekat taman. Ada silir angin nanti sangat cocok untuk beristirahat" Ali menunjuk lorong rumah sakit yang dekat dengan taman. Lokasinya tidak begitu jauh dari ruang ranap Litha.


"Ayo ayah. Nek, Kek, ayo kita istirahat disana" Lidya mengajak nenek dan kakeknya


"Iya sayang" ucap nenek dan kakek Lidya bersamaan.


Sebenarnya setelah mendapat kamar ranap, Ali langsung menelfon Mbak Neli untuk memberitahukan keadaan Litha pada keluarga di desa. Setelah melihat Litha tidur nyenyak, Ali izin pada suster jaga untuk pulang ke kostan, mengambil semua keperluan untuk persalinan istrinya.


Ali membawa tas besar berisi pakaian calon anaknya, daster busui untuk Litha, beberapa surat penting dan tikar plastik.


Sekarang mereka sudah sampai di lorong rumah sakit yang dekat dengan taman. Ali menggelar tikar kecil itu.


"Nah, selesai. Sekarang ayah, ibu dan Lidya istirahat disini dulu ya. Saya permisi mau beli makanan untuk kalian."


Lalu Ali meninggalkan tempat istirahat keluarganya. Ia membeli makanan 4 bungkus dan air mineral 4 botol. Ia berencana makan bersama.


"Ini makanannya. Sekarang kita makan dulu ya".


Ali membuka kresek berisi nasi kuning beserta lauk pauk nya. Dibagikan satu per satu dan minumannya. Mereka makan dalam diam. Sesekali Ali melirik Lidya yang menikmati makanannya.


"Nak, kamu lapar ya sayang?"


"Iya yah. Tadi Lidya nggak nafsu makan di bus. Padahal kakek sudah beberapa kali menawari".


"Gak apa nak. Yang penting sekarang makan yang lahap. Biar nanti nggak pingsan..heheh".


Saat sedang asyik makan bersama tiba tiba dokter Puteri mendatangi Ali.


"Maaf pak, operasi kita laksanakan sekarang".


"Bukannya nanti sore ya dok? Ini kan masih siang?"


"Bayinya hampir keracunan air ketuban pak. Barusan para suster sudah membawa ke ruang operasi. Kalau sudah selesai makan siang, bapak menyusul ke lantai 2 ya. Silahkan menunggu di ruang tunggu".


"Baik dok".


"Bapak, Ibu, Litha akan segera di operasi. Setelah selesai makan, ayo ke lantai 2 menunggu Litha".


"Iya Nak" jawab Mbah Miskun


"Lidya, habiskan makanannya nak. Adikmu segera lahir".


"Iya yah"


Kemudian mereka menunggu di ruang tunggu. Setelah beberapa jam, dokter spesialis anak membawa bayi Litha ke luar dengan tergesa. Bayi itu di bawa ke ruang NICU dan di baringkan di inkubator. Kondisinya sangat lemah.


Dokter Puteri juga keluar dari ruang operasi. Lalu menemui Ali dan keluarganya.


"Bagaimana operasinya dok? Kenapa tadi ada dokter yang berlari sepertinya tergesa gesa?"


"Operasinya lancar pak. Ibu Litha segera di bawa ke kamar perawatannya lagi. Tetapi-..." dokter Puteri menghembuskan nafas kasar.


"Dedek bayi kondisi nya lemah pak. Sekarang di ruang ICU. Di inkubator beberapa hari saja. Jika nanti sore keadaannya sudah membaik, akan langsung di bawa ke kamar rawat ibunya".

__ADS_1


"Jenis kelaminnya apa dok?"


"Laki laki pak".


"Alhamdulillah Yaa Allah. Akan ku buktikan janjiku padamu istriku. Rambut gondrong ini akan ku pangkas setelah anak kita membaik" ucap Ali dalam hati


"Bolehkah saya menemui istri saya?"


"Boleh. Setelah di pindahkan ke kamar rawat pak".


Litha yang kondisinya juga kurang baik baik saja keluar dari kamar operasi. Ia di bawa suster menggunakan brankar dorong.


"Sekarang ibu makan yang banyak dulu ya. Biar ASI nya lancar. Ibu tidak bisa IMD (Inisiasi Menyusui Dini) karena kondisi bayi kurang memungkinkan. Setelah selesai makan, ibu langsung perah ASI nya dan taruh di dot sini ya bu. Biar bayinya nggak kelaparan". ucap suster Gina pada Litha


"Iya sus".


Lalu Litha makan dengan lahap memakan menu makanan yang di sediakan pihak rumah sakit.


Kedua orang tua Litha, Ali, dan Lidya menatap ke arah Litha.


"Yang sabar ya Nduk. Cucu kedua ku pasti baik baik saja" hibur Mbah Inem


"Iya bu" jawab Litha lesu.


"Dek, bayi kita laki laki. Sesuai janjiku. Setelah kalian baik baik saja, akan ku pangkas rambut gondrong ku ini"


"Iya mas. Sekarang aku mau perah ASI dulu ya. Kalian semua tolong keluar. Lidya nanti ketemu ibu lagi ya Nak?"


"Iya bu".


Mereka semua keluar. Di kamar itu hanya ada Litha seorang. Ia dengan telaten memerah ASI nya dengan pumping.


Sebelumnya, Litha dan Ali mempersiapkan semua termasuk pumping dan dot.


Setelah satu jam memerah, Litha merasa puas bisa mendapatkan ASI 195 ml.


"Lelah sekali. Lukanya juga terasa nyeri. Obat bius nya sudah hilang kali ya. Dulu saat mengandung Lidya, ku tak merasakan begini. Aku nggak boleh mengeluh, anak ku masih lemah. ASI ini harus ia minum setelah bangun" Litha mengeluh sekaligus menyemangati dirinya sendiri.


Kemudian Litha memencet bel di atas brankarnya.


"Ini sus, saya sudah memerah ASI. Hanya dapat 195 ml selama satu jam".


"Oh iya bu. Saya bawa ya botolnya. Dan ibu tak perlu khawatir, setelah menyusui langsung nanti ASI akan deras sendiri kok bu. Jumlah ASI sesuai permintaan bayi. Semakin sering disusui, ASI semakin deras. Yang penting tidak stres pikirannya bu"


"Iya sus"


"Saya permisi bu"


Litha mengangguk.


Lalu ia tertidur.


***


Dokter Puteri kembali ke kamar ranap Litha.


"Bu, dedek bayi nya sudah membaik keadaannya. Nanti akan di bawa suster ke sini untuk di susui".


"Alhamdulillah..." ucap semua keluarga Litha bersamaan.


"Mumpung masih sore, mas izin keluar dulu ya dek? Bapak, ibu, ehm... saya titip Litha ya".


"Mau kemana nak?" tanya Mbah Miskun.


"Ada perlu sebentar pak. Lidya, ayo ikut ayah keluar Nak" Ali menggandeng tangan Lidya.


Sepanjang perjalanan Lidya hanya diam. Ingin bertanya namun tak berani.


"Kenapa diam terus dari tadi nak?" tanya Ali pada putrinya.


"Sebenarnya kita mau kemana sih yah? Dari tadi jalan nggak nyampek nyempek? Lidya capek".


"Yuk..ayah gendong"

__ADS_1


Ali menggendong Lidya dengan perasaan bahagia.


"Sayang, kamu antar ayah ke tukang pangkas rambut di sebelah rumah sakit ini ya. Setelah itu, ayah mau ngajak kamu ke toko mainan. Beli boneka yang kamu inginkan waktu lebaran itu. Sama beliin mainan buat adekmu ya"


"Horeee... makasih ayah" Lidya mencium pipi ayahnya.


Lalu mereka berdua menuju tukang pangkas rambut di sebelah rumah sakit. Setelah di rasa cocok. Ali mengucapkan terimakasih.


"Terimakasih pak. Ini ongkosnya. Kami permisi."


Ali terlihat tampan dengan rambut sasaknya.


"Istriku pasti pangling nanti...hehehe" ucap Ali dalam hati.


Sesuai janjinya pada Lidya, ia akan ke toko mainan. Lidya memilih boneka barbie dan membelikan icik icik untuk adeknya. Setelah membayar ke kasir mereka pergi ke pedagang makanan di pinggir jalan. Masih sore tetapi sudah ramai. Mungkin karena para karyawan sudah saatnya pulang kerja.


Ali memilih ke pedagang bakso. Setelah membeli, ia membayar dan kembali ke rumah sakit.


Ali dan Lidya berjalan berdampingan menuju kamar ranap Litha. Wajah Lidya terlihat benar benar capek.


"Mari makan. Ini saya belikan bakso. Air mineral masih ada di nakas" Ali mengajak anggota keluarganya makan.


"Rambut kamu mas-".


"Kenapa? Tampan ya?".


"Biasa aja" jawab Litha. Namun dalam hatinya "Kamu terlihat tampan bahagia mas. Aku pun juga. Tak apa aku rasakan sakitnya operasi ini untuk melahirkan anakmu. Ini semua demi cintaku padamu mas. Tetaplah bersikap manis dan jangan ada pengkhianatan diantara kita ya mas" Litha tersenyum.


Acara makan sore selesai.


"Selamat sore Bu, ini bayinya sudah di mandikan. Silahkan di susui dulu".


"Terimakasih sus"


"Sama sama".


"Eh..tunggu sus. Apa bayi saya sudah di adzani?"


"Belum Bu. Tadi kondisinya mengkhawatirkan. Jadi kita selamatkan dulu nyawanya".


"Iya sus. Silahkan balik dulu. Saya mau menyusui bayinya".


"Iya Bu. Permisi".


Suster itu keluar dari kamar ranap Litha. Di dalam Litha masih menatap anak kedua-nya.


"Mas, ini kamu adzani dulu ya" Litha menyerahkan bayinya pada suaminya.


"Iya dek" Ali mengambil bayinya dari Litha untuk di adzani.


Setelah selesai, ia menyerahkan kembali pada istrinya.


"Ini dek, kamu susui dulu. Kelihatannya ia sangat kehausan".


"Iya mas".


Litha menyusui bayinya dengan penuh kasih sayang. Lidya yang melihatnya pun juga terlihat gemas dan menyayanginya.


"Bu, dulu pas aku bayi apakah juga seperti dedek gitu?" tanya Lidya pada ibunya.


"Iya sayang. Kamu malah kuat banget minum ASI nya" jawab Litha.


"Bu, dedek nya dikasih nama siapa?" tanya Lidya lagi.


Litha tersenyum.


"Ayah dan ibu sudah sepakat jika adikmu laki laki di beri nama Amad Khan sayang".


"Namanya kayak nama orang India ya Bu.. hehe"


"Iya sayang" Litha mengusap kepala Lidya.


Litha sudah selesai menyusui bayinya. Lalu di baringkan di box bayi di sebelahnya.

__ADS_1


Orang tuanya bergantian mendekati Amad. Lidya kecil juga tak henti henti nya mengelus pipi adiknya.


__ADS_2