Mati Rasa (Lidya)

Mati Rasa (Lidya)
Bab 15 Menitipkan Amad di Baby Sitter


__ADS_3

Happy reading....


Amad kecil di titipkan di rumah Bu Ipah. Pengasuh yang di gaji Litha dan Ali ini kira kira berusia 40 tahun. Beliau telaten mengurus Amad.


Sejak bercerai dari suaminya, kemudian Beliau berprofesi menjadi catering dadakan dan baby sitter. Bukan tanpa alasan. Tetapi ia dan suaminya dulu tidak segera di beri momongan, akhirnya suaminya meninggalkan Bu Ipah dan memilih wanita lain. Sehingga sekarang ia memilih menjadi baby sitter saja agar merasakan memiliki anak.


Kehadiran Amad membuat Bu Ipah bahagia. Waktu itu tak sengaja Litha bertemu Bu Ipah di minimarket. Kejadiannya cukup singkat.


"Aduh sayang, kalo di gendong ibu jangan banyak gerak nanti jatuh" ucap Litha pada Amad saat menuruni tangga.


Lalu tak sengaja Litha terpeleset di tangga. Untungnya sudah hampir sampai bawah. Jadi tidak ada drama jatuh terguling.


"Ibu nggak apa apa? Mari saya bantu berdiri! Bu Ipah mengulurkan tangannya dan membantu Litha berdiri.


Litha menerima uluran tangan Bu Ipah.


"Ah tidak apa bu. Hanya bokong saya yang sedikit sakit"


"Lalu anaknya?" tanya Bu Ipah.


"Baik baik saja Bu, tadi dia hanya jatuh di perut saya".


"Alhamdulillah. Lain kali hati hati ya Bu. Apalagi bawa anak bayi"


"Iya Bu. Oh perkenalkan nama saya Litha" Litha menjabat tangan Bu Ipah.


"Panggil saya Bu Ipah"


"Panggil saya Litha aja Bu. Saya juga masih pantes, seperti anak ibu...hehe"


"Litha....hikss hikss"


"Loh, kenapa ibu menangis? Saya minta maaf jika saya ada salah bicara ya Bu" Litha merasa bersalah.


"Panjang ceritanya Nak" Bu Ipah menghapus air matanya.


"Saya sungguh sungguh minta maaf ya Bu"


"Iya nggak apa apa. Apa belanja kamu sudah selesai?"


"Sudah Bu. Ini lagi mau pulang".


"Mau kah kamu mampir ke rumah Ibu Nak? Rumah ibu dekat dari minimarket ini".


"Iya Bu".


Kemudian mereka berjalan beriringan menuju rumah Bu Ipah.


Rumah Bu Ipah terletak di belakang minimarket. Rumahnya nggak terlalu besar. Hanya terdiri 4 ruangan yaitu ruang tamu, kamar mandi, kamar dan ruang menonton TV. Terasnya juga tak begitu luas.


Bu Ipah kemudian mengajak Litha masuk.


"Beginilah rumah ibu nak. Masih ala kadarnya" bu Ipah tersenyum.


"Bersyukur saja Bu. Alhamdulillah walaupun ala kadarnya tapi sudah milik sendiri" jawab Litha.


"Ibu buatkan teh hangat dulu ya Nak. Dan lihatlah anakmu tertidur. Baringkan di kamar ibu saja. Nggak usah sungkan" tawar bu Ipah.

__ADS_1


"Tidak usah repot repot membuatkan minuman untuk saya Bu" tolak Litha dengan halus.


"Ahh nggak apa apa. Ibu tinggal ke belakang ya. Bawa bayimu ke kamar".


"Ahh iya bu. Maaf merepotkan".


4 menit kemudian....


"Ini tehnya di minum dulu. Mumpung masih hangat"


"Iya bu. Terimakasih".


"Oh iya, nama bayimu siapa Nak?"


"Namanya Amad Khan Bu. Panggil Amad saja".


"Ohh Amad. Usianya berapa?"


"3 tahun lebih bu".


"Pasti lagi aktif aktifnya ya Nak?" tiba tiba mata bu Ipah berkaca kaca.


"Maaf, jika boleh tau kenapa ya sejak tadi Ibu sepertinya sedih jika membahas soal anak? maaf jika pertanyaan Litha kurang sopan, atau lebih tepatnya seperti mengorek tentang kehidupan ibu. Litha hanya tidak ingin jika Litha salah bicara dan tidak tau dimana letak kesalahan ucapan Litha Bu".


"Bukan salahmu Nak" Bu Ipah tersenyum kecut. Ia mengingat kejadian beberapa tahun silam di hidupnya.


"Lalu kenapa bu?"


"Ibu sudah cerai Nak. Kami cerai karena mantan suami tidak mau sabar saat rumah tangga kami sedang di uji... hikss hikss"


"Jangan di teruskan jika itu membuat hati ibu sakit"


"Tapi kita baru kenal bu. Apa ibu yakin mau cerita dengan saya? Apa ibu percaya sama saya?"


"Ibu percaya sama kamu Nak".


"Terimakasih atas kepercayaannya Bu".


"Iya Nak. Waktu itu Ibu sudah menikah kurang lebih 3 tahun. Setelah menikah, selang sebulan langsung hamil. Tetapi keguguran. Lalu beberapa bulan kemudian hamil lagi. Namun itu tak bertahan lama. Ibu keguguran lagi. Mantan suami ibu menyalahkan Ibu karena dianggap ibu tak bisa menjaga janin di kandungan ibu. Ia kemudian sering marah marah. Ibu jadinya stress Nak. Walaupun seringkali melakukan hubungan, tapi ibu tak bahagia. Ibu selalu merasa bersalah. Ibu merasa stress, tertekan dan mungkin itu lah yang menyebabkan ibu tak kunjung hamil. Lalu dengan tiba tiba mantan suami ibu menceraikan langsung".


"Serumit itu ya bu. Maaf jika gara gara kehadiran saya dan Amad membuat luka hati ibu menganga kembali" Litha menunduk.


"Tak perlu minta maaf Nak. Ibu sudah biasa melihat pemandangan ibu dan anak begitu mesra nya" Bu Ipah mengangkat dagu Litha.


"Iya Bu".


"Lalu suamimu kemana Nak? Tidak mengantarmu ke minimarket tadi?"


"Suami saya bekerja bu. Kebetulan hari ini lembur".


"Ohh..kapan kapan boleh lho diajak main kesini. Biar ibu juga mengenalnya.


"Iya. Baik bu-" Litha belum menyelesaikan pembicaraannya. Dari dalam kamar tiba tiba...


Huuu....Buuu... I....Bu.... Buu.... Huuaaaa


Bayi Amad menangis.

__ADS_1


"Permisi, saya mau ambil Amad dulu Bu"


"Iya Nak".


Litha membawa Amad di pangkuannya.


"Anak Ibu sudah bangun. Nangis ya...duh sayang. Anak ganteng gak boleh nangis" Litha menghibur Amad.


"Cah Bagus...sini yuk sama budhe" ajak Bu Ipah pada Amad


Amad langsung melompat ke Bu Ipah.


"Wah... anakmu langsung mau sama Ibu ini Nak".


"Ngerasa cocok kali ya bu"


"Ibu sudah jatuh cinta padamu Amad ganteng" Bu Ipah menghujani Amad dengan ciuman di area pipi dan kening.


"Ngomong ngomong, ibu asli warga sini?" tanya Litha


"Iya Nak" jawab Bu Ipah yang masih asyik mencium Amad.


"Ibu bekerja sebagai apa Bu?".


"Pekerjaan ibu tidak tetap Nak. Ya jika ada yang butuh pesan makanan, ya ibu layani. Jika ada yang butuh ibu mengasuh anaknya, ibu menerima juga. Namun jika ibu sudah menerima sebagai pengasuh, saat ada yang memesan ibu tidak langsung bisa melayani. Se free nya ibu aja. Kalau sempet ya ibu nerima pesenan makanan. Jika tidak bisa, ya ibu langsung menolak saat itu juga" jelas Bu Ipah.


"Saya mau menawarkan ibu sebagai pengasuh bayi Amad apakah ibu mau? Setiap pagi sebelum saya kerja, saya kesini bawa Amad. Nanti pulang kerja, saya jemput Amad. Dengan syarat, saat sore Amad harus sudah mandi, ganteng dan wangi. Jika sempat, ibu suapin sekalian. Jika tak sempat pun tak apa. Yang penting sudah mandi?"


"Ibu mau Nak. Horeee...bayi Amad. Kita akan sering ketemu" Bu Ipah sangat bahagia.


"Tapi ibu janji bakal jagain Amad dengan baik ya Bu".


"Pasti Nak. Ibu tau, kamu pasti kurang percaya sama ibu. Karena kita baru kenalkan? Ada KTP ibu, nanti kamu bawa sebagai jaminan" bu Ipah memberikan KTP nya pada Litha.


"Tak perlu seperti ini Bu. Tadi kan saya sendiri yang menawarkan Ibu sebagai pengasuh Amad?" Litha merasa tidak enak. Tapi iya merasa was was juga, karena baru kenal.


Tapi saat ingat perceraian ibu Ipah dengan mantan suaminya, ia kembali percaya dengan Bu Ipah.


"Ibu tidak mau di curigai saja Nak".


"Baik Bu. Ini KTP ibu saya bawa ya" Litha memasukkan KTP Bu Ipah dalam dompetnya.


"Semoga pengasuh mu baik dan menjagamu seperti ibu yang menjagamu ya Nak. Ibu harus bekerja keras demi membangun rumah, juga untuk kakakmu Lidya dan biaya sekolahmu nanti" ucap Litha dalam hati.


"Eh iya Bu. Ini nomer hp saya" Litha memberikan kartu namanya pada Bu Ipah.


"Iya Nak. Eh ibu manggil kamu Nak aja ya. Ibu sudah menganggapmu seperti anak sendiri".


"Iya bu. Dan kami pamit pulang ya Bu. Besok pagi pagi aku kesini lagi sebelum berangkat kerja".


"Hati hati ya Nak. Jangan lupa perkenalkan suamimu pada ibu".


Mereka pun berjabat tangan dan Litha meninggalkan rumah Bu Ipah.


🥳🥳🥳


Thanks for reading...

__ADS_1


Jangan lupa VOTE and KOMEN yaa..biar author semangat .


__ADS_2