Mati Rasa (Lidya)

Mati Rasa (Lidya)
Bab 3 Lebaran Bersama di Masa Kecil


__ADS_3

Kini waktu telah berganti menjelang magrib. Segala menu buka puasa sudah disajikan, jajanan untuk suguhan di meja sebagian sudah di buat. Istilah sekarang disebut makanan homemade.


Adzan magrib telah berkumandang. Keluarga Lidya buka bersama di dapur. Alhamdulillah untuk nikmat puasa di tanggal 27 Ramadhan ini. Tak terasa 3 hari lagi menjelang lebaran.


***


2 hari telah berlalu. Hari ini bertepatan tanggal 29 Ramadhan. Segala sesuatu untuk menyambut hari raya nan fitri telah dipersiapkan. Mulai dari beli jajan, aneka macam roti dan biskuit, air putih kemasan, rempeyek, kacang telur, minuman kemasan maupun syirup sudah siap sedia untuk di suguhkan kepada tamu esok hari.


Juga ada acara masak masak untuk genduri / bancaan / syukuran / megengan ke mushola terdekat. Mbah Inem dan Litha masih sibuk di dapur. Mbah Miskun keluar bersama menantunya, Ali. Membeli bunga untuk nyekar di makam saudara yg sudah meninggal. Lidya masih saja santai makan camilan. Belum puasa yaa. Lidya masih kecil. Hehehe...


***


Acara megengan dan mengunjungi makam telah terlaksana dgn baik. Malam ini mereka berkumpul di depan rumah. Biasanya menunggu acara takbir keliling yg dilengkapi sound system.


30 menit kemudian, acara takbir keliling sudah terpampang di depan mata. Seluruh suara takbir menggema di bumi. Bahagia, itulah yg dirasakan setiap manusia. Hari kemenangan segera tiba dan yg pasti selalu berkumpul dgn orang orang tersayang.


Keluarga Lidya segera masuk kamar masing masing. Perlahan tapi pasti, mata mereka terpejam. Semua tidur dgn nyenyak. Berharap esok pagi menyambut dgn kebahagiaan yg tiada tara.


Waktu menunjukkan pukul 03.30 dini hari. Suara takbir menggema di penjuru dunia. Termasuk di desa Lidya. Samar samar Lidya mendengar ibunya dan neneknya sudah bangun. Mereka sedang menata ruang tamu dan hidangan suguhan para tamu.


Setelah adzan Subuh berkumandang, Lidya segera cuci muka, shalat dan nyantai di rumah.


Seperti biasa, keluarga Lidya mengikuti Sholat Id di masjid terdekat. Setelahnya acara sungkeman di rumah. Dgn penuh haru Lidya mengucapkan permintaan maafnya kepada orangtua dan kakek neneknya.


"Ayah, Ibu... saya minta maaf bila punya kesalahan ke kalian semua. Mohon maaf lahir batin ya?" Ucap Lidya kepada kedua orangtuanya


"Iya Nak. Sama sama. Kami juga mohon maaf lahir batin. Maaf bila selama ini kurang dalam memberikan kasih sayang kami untukmu. Jadilah anak baik yg berbakti kepada orangtua dan Mbah mu ya Nduk" Jawab Litha dgn haru lalu mencium kening Lidya


Lalu kedua orang tua Litha memeluk Lidya.

__ADS_1


"Kakek dan nenek, Lidya juga mohon maaf lahir batin. Maaf bila Lidya kurang nurut sama kakek dan nenek, maaf karena Lidya selalu merepotkan kalian. Kalian sungguh sabar menghadapi Lidya. Maafkan Lidya ya Kek, ya Nek" Ucap Lidya bersungguh sungguh .


"Gak apa apa Nak. Kami sudah memaafkan semua. Mungkin saat ini kamu masih kecil, jadi wajar bila kamu kadang kadang marah jika maumu tidak dituruti. Nanti setelah kammu besar, kamu akan tau Nak, kenapa kakek dan nenek tidak menuruti semua keinginanmu. Dan kamu sekarang harus rajin belajar Ingat, sebentar lagi kamu akan masuk SD." Jawab Mbah Miskun dgn bersungguh sungguh. Ya, dia sangat menyayangi cucunya tapi beliau dan istrinya tidak melulu menuruti semua keinginannya.


Mereka semua pun berpelukan. Lidya yg terharu sampai meneteskan air matanya. Berharap keluarganya akan seperti ini selamanya. Saling menyayangi satu sama lain. Saling memaafkan satu sama lain.


Setelah acara sungkeman, Mbah Inem memanggil anak dan menantunya


"Lidya, Ali sekarang kalian keliling ke tetangga terdekat dulu ya. Ini gawan nya sudah disiapkan. Jgn lupa ajak Lidya. Tentu dia nanti akan sangat senang.


"Iya Bu".


Ali dgn lembut berkata kepada putri nya.


"Nak, ayo kita ke rumah tetangga untuk silaturohmi"


"Ayo Yah. Lah, ibu mana?"


"Siap ayah".


Lalu dari ruang belakang Litha berteriak.


"Mas, tolong sini bentar"


"Iya Dek." jawab Ali dgn suara teriaknya juga.


"Nak, kamu tunggu sebentar disini ya. jangan kemana mana. Ayah dipanggil ibu ke belakang"


"Iya Yah. Kalian jgn lama lama. Aku bosan sendirian kalo kelamaan nunggu"

__ADS_1


"Iya Nak."


"Maaaassss....kesini, bantuin" Litha berteriak lagi


"Iya dek"


Ali sekarang sudah nyamperin Lidya.


"Haduh dek. Kenapa kamu teriak teriak? Aku sedang menemani Lidya. Kamu kenapa nggak nyamperin aku sih?"


"Maaf mas, gak bermaksud bikin kamu sport jantung. Jadi gini, ibu sudah menyiapkan gawan nya, kamu tolong yg bawa ya. Nanti aku yg gandeng tangan Lidya. Setelah sampai di rumah tuan rumah, aku yg bawa masuk. Berat banget ini soalnya. Masa kamu tega, aku bawa barang segini banyak?"


"Iya dek. Ayo kita berangkat. Lidya sudah menunggu di depan. Kasian dia lama nunggu".


"Ayok mas. Ahh kita malah kek asyik ngobrol gini ya?


"Yaudah ayook". Jawab Ali dgn semangat.


Lalu mereka berdua menyusul Lidya.


"Lidyaaa sayang, ayo Nak kita berangkat. Lidya digandeng ibuk ya. Ayah sedang bawa banyak gawan untuk tetangga kita"


"Iya bu."


Kini mereka bertiga sedang bertamu ke rumah tetangga. Banyak obrolan yg mereka bicarakan setelah mengucapkan "Minal Aidzin Wal Faidzin" . Sebelum dzuhur mereka kembali pulang. Di rumah pun juga masih ada tamu, jadi Ali dan Litha ikut menemani tamu ngobrol dan mempersilahkan mencicipi hidangannya.


Begitulah tradisi lebaran di daerah Lidya, kita bertamu ke tetangga dgn membawa gawan. Para tetangga juga bertamu ie rumah kita dgn membawa gawan. Jangan ditanya soal angpau. Pasti hampir semua tradisi masyarakat menerapkan hal ini. Namun jgn di salah artikan. Kita sebagai orang tua tidak boleh mengajarkan anak untuk mengemis di hari lebaran. Contohnya nih: "Nak, itu paman kamu kemari, kamu nggak minta angpau ke paman?". Nah, secara nggak langsung itu mengajarkan anak mengemis. Mengajarkan anak meminta minta.


Namun di hari lebaran memberikan sedikit angpau adalah kesempatan kita membahagiakan anak, bukan berarti memberi uang adalah sepenuhnya memberikan kebahagiaan untuk anak. Tetaplah kasih sayang dan pendidikan adab serta ilmu yg utama. Dihari lebaran adalah dimana semua keluarga bertemu, maka itulah kesempatan berbagi rezeki dgn sanak saudara. Begitulah pemikiran author.

__ADS_1


***


Hari lebaran di hari pertama sangat melelahkan bagi Lidya. Bagimana tidak? Selama sehari ia dan ayah ibunya bertamu di semua tetangga terdekatnya. Dan besok adalah hari kedua, saatnya Lidya bertamu ke saudara yg rumahnya jauh. Sangat melelahkan. Tetapi alhamdulillah hati Lidya bahagia. Hari hari Lidya selalu bersama kedua orangtuanya.


__ADS_2