Mati Rasa (Lidya)

Mati Rasa (Lidya)
Bab 18 Membeli Tanah Milik Bersama


__ADS_3

Happy Reading....


Sesuai kesepakatan kemarin, akhirnya bang Joe membawa barang barangnya untuk dipindahkan ke mess-nya. Bang joe bersyukur, dengan fasilitas mess bisa mengirit pengeluarannya.


Letak mess dengan bengkel juga tidak terlalu jauh. Hanya kurang lebih 500 meter. Ilmu otomotif dari sekolahnya di desa dulu, akan ia manfaatkan dengan baik. Bang Joe bercita cita memiliki bengkel sendiri, tak apa jika saat ini harus ikut orang dulu. Hitung hitung untuk menabung dan mengumpulkan modal membeli alat perbengkelan.


Bang Joe sangat menekuni pekerjaannya, setiap ada waktu luang, ia bermain ke kost kakak sepupunya. Jika libur 2-3 hari dimanfaatkan untuk mudik, menjenguk keluarganya di desa.


***


Waktu silih berganti. Tak terasa bang Joe sudah 2 tahun merantau di kota.


Litha dan Ali pun juga bahagia, adik sepupunya itu ternyata betah tinggal di kota yang terkesan padat penduduk, selalu ramai dan cuacanya lumayan panas.


"Mas, aku nggak nyangka. Ternyata si Joe betah juga ya di kota ini".


"Kan disini sumber uang tabungannya dek. Kayak kita ini, betah juga bertahun tahun disini. Itu juga karena sumber tabungan kita disini Dek".


"Hmmm...mas benar juga. Ngomong ngomong soal tabungan, kayaknya uang kita cukup lah mas buat beli tanah size minimalis. Soalnya kalau beli tanah yang luas pun dana kita kurang. Butuh buat beli material dan bayar kuli juga kan nanti?. Dan aku pinginnya nanti rumah kita di tingkat saja mas. Karena lahan yg akan kita beli minimalis".


"Baiklah dek. Kebetulan besok kan weekend, gimana kalau kita survey tanah yg akan kita beli?"


"Iya mas. Kita cari lokasi dekat daerah perindustrian aja gimana? Biar nggak jauh dari tempat kita kerja?"


"Oke dek. Yuk kita juga tidur. Sudah malam ini. Lihat dek, Amad sudah pulas itu tidurnya".


"Iya mas. Ayo".


Litha mematikan lampu kamar kost nya, ia memang tidak bisa tidur jika lampu masih menyala.


Ali memeluk Litha dengan erat.


"Mas, kita ini mau tidur. Jangan peluk erat erat. Engap nih, susah napas...uhh huuh uhk...uhukk..uhk".


"Ayo kita olahraga malam dek. Mas lagi ingin. Besok jadwal kita padat, nggak ada waktu buat olahraga bareng" Ali memelas pada Litha. Pekerjaannya hari ini membuat frustasi, ia benar benar lelah setelah mengantar barang ke luar kota tadi. Apalagi saat melihat pemilik toko malah mesra mesra-an saat sepi pembeli. Gara gara itu ia merasa kesal dan harus menyelesaikan hasratnya pada istrinya. Daripada frustasi mikirin yang ia lihat siang tadi.


Litha pun mengangguk. Kemudian mereka olahraga bersama mencapai hasrat yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi.


Setelah olahraga selesai, mereka membersihkan diri lalu tidur.


***


Hari ini adalah hari Minggu alias weekend. Semua pekerja pasti merasa senang jika sudah hari weekend karena libur bekerja. Ada yang jalan jalan bersama keluarga, masak masak di rumah, maupun jalan jalan ke mall.


Tapi itu tidak untuk Litha dan Ali. Mereka berdua mencari tanah yang akan di jual yang dekat area perindustrian. Amad di titipkan ke rumah bu Ipah.


"Mas, kita masuk gang itu yuk. Kalau nggak salah sekitar ini deh alamatnya yang jual tanah?" Litha menunjuk gang samping SPBU.


"Yakin dek?"


"Iya mas. Aku tau yang jual tanah itu orang sini karena dikasih tau Ariyanti. Pemilik tanah itu, teman suaminya Ariyanti"


Flashback On


Saat kerja beberapa bulan lalu, Litha bertanya pada sahabatnya, Ariyanti.


"Yan, ada yang jual tanah sekitar area industri nggak ya? Aku pingin beli tanah untuk membangun rumah minimalis. Budget ku 60 juta"


"Oh kebetulan ada. Temannya suamiku ada lho yang jual. Nanti aku sms-in alamatnya dan nomer yang bisa dihubungi"


"Makasih ya Yan?"


"Sama sama".


Setibanya pulang kerja, Ariyanti mengirim pesan pada Litha.

__ADS_1


Ariyanti


Hy Bun. Lagi sibuk momong Amad apa sibuk momong bapaknya Amad?


^^^Litha^^^


^^^Kalau tanya di filter kek, bapaknya Amad udah gede. Nggak di momong juga bisa mandiri. Gimana yang tadi?^^^


Ariyanti


Lhooo jangan salah. Walaupun beliau mandiri, tapi harus kamu timang timang lho, maksudnya di urus. Iya...iya sabar lah sedikit. Nanti aku kirim kok info pemilih tanahnya".


^^^Litha^^^


^^^Iya suamiku pasti ku urus. Ku cukupi kebutuhannya. Buruan mana alamat dan nomer yang bisa di hubungi".^^^


Ariyanti


Jalan semongko, kec buah, kab buah musiman, nomer 12-B. Nomer yang bisa dihubungi, Pak Randy 082-332-xxx-xxx-xx.


^^^Litha^^^


^^^Makasih sahabatku tersayang.^^^


Ariyanti


Sama sama.


Flashback Off


"Yaudah ayo"


Mereka berhenti di alamat yang Ariyanti berikan.


"Salah mu juga mas. Semalam ngapain ajak olahraga? Jadi capek, terlambat bangun. Sampai nggak kepikiran hal yang beginian".


"Haduh... ngapain malah salah salahin aku sih dek? Kamu juga menikmati banget gitu".


Pipi Litha memerah bak kepiting rebus. Ia malu karena ucapan suaminya.


"Kita ngapain malah diskusi, buruan kamu hubungi nomer pak Randy mas".


"Eh iya" Ali mengambil ponsel di saku jaketnya. Menghubungi dial number milik pak Randy


Panggilan tersambung.


"Assalamualaikum"


"...."


"Ini benar bapak Randy, pemilik tanah di Jalan semongko, kec buah, kab buah musiman, nomer 12-B?"


"...."


"Saya Ali pak. Berencana membeli tanah yang bapak jual. Saya sudah stay di alamat itu pak. Bapak dimana sekarang?"


"...."


"Oh. Jadi rumah bapak juga sekitar sini cuma beda gang saja?"


"...."


"Baik pak. Saya tunggu".


"...."

__ADS_1


"Ya pak. Assalamualaikum".


"..."


Panggilan telepon sudah mati. Ali dan Litha mengobrol lagi.


"Pak Randy mau kesini dek. Kita negosiasi nanti. Semoga tanahnya bisa di nego ya dek"


"Aamiin mas. Budged beli tanah hanya segini mas. Semoga cukup ya"


"Aamiin".


Seseorang yang mereka tunggu akhirnya datang juga.


"Selamat pagi Pak Randy" Ali mengulurkan tangannya untuk berjabat


"Pagi juga pak Ali" Pak Randy menerima uluran tangan itu.


"Perkenalkan, sebelah saya ini istri saya. Namanya Litha".


"Saya Randy"


"Litha".


Randy tak segera melepas uluran tangan Litha.


"Mari, untuk bernegosiasi kita duduk disana. Ada bangku di samping tanah saya".


Mereka bertiga duduk di bangku yang dituju pak Randy.


"Pak, berapa harga tanahnya?" tanya Litha.


"70 juta, nego"


"Apa boleh kami beli 60 juta?" tawar Ali


"Tambahin aja lah, masa nego selisih 10 juta?" pak Randy menolak secara halus.


"65 juta aja ya pak? tawar Ali lagi.


"Tambahin sedikitlah"


"Segitu aja ya pak. Budget kami juga mepet banget. Untuk pembangunan rumah juga nanti pak. Kami butuh biaya banyak. Sementara kami punya hanya segitu" Litha memohon.


Pak Randy melirik Litha. Litha yang dilirik jadi begidik.


"Kalau bapak tidak setuju, kami pamit saja pak. Kami cari tanah yang lainnya saja pak. Uang kami memang mepet segitu soalnya. Dan saya juga nggak mau bila akad jual beli tanah ini nanti dilandasi rasa keterpaksaan" ucap Litha tegas.


"Dek, kamu jangan gegabah. Biarkan pak Randy mikir dulu" ucap Ali tenang.


"Mas, kamu nggak sadar apa, istrimu ini diperhatiin dari tadi? pas salaman tadi nggak mau ngelepasin tanganku, sekarang lirik lirik kayak kucing ngelirik ikan asin. Aku nggak nyaman mas, aku ingin kita akhiri keadaan canggung disini. Lagian aku ini sudah beranak dua. Jijik aku diperhatiin kayak gitu sama laki laki lain" ucap Litha dalam hati.


"Baiklah. 65 juta. Deal" pak Randy bersuara dengan lantang.


"Jadi bapak setuju?"


"Iya. Ini sudah saya bawa akta tanahnya. Supaya kita saling percaya, bagaimana jika jual beli tanah ini segera kita selesaikan?" tawar pak Randy.


"Baik pak" kata Ali.


Litha pun mengangguk.


***


Setelah akad jual beli selesai, Litha dan Ali bernafas lega. Rumah impian akan segera di bangun.

__ADS_1


__ADS_2