
Happy Reading...
Setelah pemeriksaan minggu lalu, Litha akan memeriksakan kembali kandungannya karena sudah mendekati HPL (Hari Perkiraan Lahir).
Hari ini bertepatan hari Sabtu. Litha terpaksa berangkat sendiri ke alamat praktek dokter Angga menaiki mikrolet. Pada zaman itu belum ada ojek online seperti sekarang.
Ali terpaksa tak mengantarkan Litha, karena ia pun harus menyelesaikan izinnya kepada HRD di perusahaan tempatnya bekerja. Litha memaklumi itu.
"Sayang, mas terpaksa gak nemenin kamu ya. Mas harus ngurus izin cuti. Mas harus nemenin kamu lahiran kan?"
"Iya mas. Gak apa apa. Aku bisa berangkat sendiri".
"Nanti setelah mas mengurus izinnya, mas akan menyusul kamu ke tempat dokter Angga".
"Iya mas"
"Hati hati ya istriku tersayang. Semoga kandungan mu baik baik saja".
"Iya. Mas juga hati hati ya?".
"Litha berangkat mas. Assalamualaikum" kemudian mencium tangan suaminya.
"Waalaikumsalam".
Litha berjalan ke gang depan menunggu mikrolet lewat. Hanya sekitar lima menit baru muncul mikrolet yang di tunggu.
"Pak ke Jalan Pelangi, Gang 2".
"Baik bu".
Pak supir mikrolet menuju tempat yang dituju Litha. Setelah sampai lokasi tujuan, Litha menyerahkan uang 2000 untuk pembayaran. Saat itu uang 2000 sangat banyak nilainya ya gaess daripada zaman sekarang.
"Terimakasih bu".
"Sama sama pak".
Litha berhenti di Jalan Pelangi, Gang 2. Kemudian berjalan sedikit mencari nomer 3-B, ke alamat dokter Angga praktek.
"Assalamualaikum dok"
"Waalaikumsalam. Silahkan masuk bu"
Beruntungnya saat itu memang tidak ada antrian. Jadi Litha di perbolehkan masuk. Litha berangkat pagi pagi sekali.
"Mari saya periksa. Silahkan ibu berbaring. USG dulu ya bu".
Litha berbaring. Seorang asisten dokter yang berperawakan langsing, cantik nan ramah itu sedikit membuka baju Litha. Menutupi area bawahnya dengan selimut. Perut buncit Litha di olesi gel khusus oleh asisten cantik itu. Lalu dokter Angga memeriksanya dengan USG.
"Bu, ini bayinya sungsang, air ketuban mulai sedikit dan ada satu lilitan tali pusar. Berat badan janin 2.700 gram. Secara usia kehamilan sudah cukup bulan bu. Berat badan janin juga mendukung untuk dilahirkan. Minimal kan 2.500 gram ya? Dan bayi ini bisa dilahirkan dalam usia kehamilan 38 minggu melalui operasi caesar. Jadi saya sarankan untuk melahirkan caesar segera bu".
"Apa nggak ada pilihan lain dok? Selain caesar?" tanya Litha.
"Tidak bisa bu. Karena posisi bayi sungsang dan ada satu lilitan tali pusar, air ketuban juga sudah mulai sedikit bu. Ini sangat membahayakan bayi ibu".
"Lalu saya harus bagaimana dok?" tanya Litha lagi.
"Saya beri surat rujukan ke rumah sakit ya bu. Disini belum menyediakan peralatan untuk operasi caesar. Nanti ibu langsung kesana. Ke rumah sakit Ibu dan Anak terdekat sini ya bu?"
"Iya dok. Saya hubungi suami saya dulu".
__ADS_1
Litha menelfon suaminya.
Tut...tut...tut...
Panggilan tersambung.
***
Sedangkan di tempat Ali, Ali sudah di ruang HRD nya.
"Pak, saya izin cuti. Istri saya HPL nya hari ini tetapi belum ada tanda tanda melahirkan. Saya ingin jadi suami siaga pak. Namun tetap tidak melanggar aturan perusahaan. Jika diizinkan, saya mulai cutinya hari ini ya pak?" ucap Ali pada Pak Samsuri, HRD perusahaannya.
"Baiklah. Saya beri cuti dua minggu".
Mereka belum selesai berbicara, tiba tiba HP Ali berbunyi...
Kring...kring...kring...
"Hallo dek. Bagaimana pemeriksaannya?"
"Aku diberi surat rujukan ke rumah sakit Ibu dan Anak mas. Harus segera operasi caesar kata dokter Angga. Karena di tempat praktek dokter Angga peralatan untuk operasi caesar belum ada".
"Tunggu disitu dek. Mas jemput sebentar lagi"
"Iya mas".
Tut... panggilan terputus.
"Maaf pak, apa izin cuti saya di acc hari ini juga? Istri saya harus di rujuk ke rumah sakit pak karena harus operasi caesar segera."
"Baiklah. Saya izinkan kamu cuti dua minggu ya. Ini tanda tangani dulu surat cutinya...! Pak Samsuri menyerahkan surat cuti itu pada Ali.
"Sudah saya tanda tangani pak" Ali kembali memberikan surat cuti yang sudah ditanda tangani itu.
"Terimakasih pak. Alhamdulillah rezeki bayiku" Ali sujud syukur.
"Pak saya izin permisi. Istri saya sudah menunggu" Ali berpamitan pada HRD nya.
"Ya. Semoga persalinan istrimu lancar".
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam".
***
Di ruang praktek dokter Angga.
Litha sudah menunggu Ali dengan surat rujukan ke rumah sakit. 15 kemudian suaminya datang.
"Dek, sudah lama nunggu?"
"Belum mas".
"Ayo naik. Hati hati ya. Nih mas pakaikan helm dulu" Ali memakaikan helm pink untuk Litha.
Ceklek...
Helm sudah terpasang sempurna. Mereka menuju rumah sakit Ibu dan Anak.
__ADS_1
Di rumah sakit Ibu dan Anak
Ali menggandeng istrinya. Kemudian menuju pengambilan nomer antrian. Serta tujuan poli. Tujuan ke poli obgyn/kandungan.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya nama Litha di panggil suster.
"Ibu Lithania Agustin silahkan masuk"
Litha memasuki poli kandungan ditemani Ali. Dokter cantik bername tag Dokter Puteri itu memeriksa perut Lidya.
Setelah beberapa menit memeriksa. Ia menyampaikan hasil pemeriksaannya.
"Bu, inshaa Allah besok harus operasi caesar. Kondisi ibu sama seperti surat rujukan ini".
"Kenapa nggak segera dilakukan dok, bukannya harus segera yq? Lebih cepat lebih baik?"
"Ruang operasi nya terbatas bu. Jadi antri dengan pasien bumil yang lainnya. Nanti ibu saya izinkan di rawat disini, agar saya atau suster bisa memantau kondisi ibu".
"Baik dok. Lakukan yang terbaik untuk istri dan bayi saya" ucap Ali pada dokter Puteri.
"Iya Pak. Sus tolong siapkan kamar perawatan untuk Ibu Lithania ya" ucap dokter Puteri pada suster Gina.
"Iya dok."
Setelah lima menit, suster Gina kembali.
"Ruangan sudah siap dok"
"Silahkan antar ibu Litha dan suaminya ke kamar rawat inap sus" titah dokter Puteri.
"Baik dok".
Lalu suster Gina mengantar ke kamar rawat inap Litha.
Kamarnya terletak di dekat taman rumah sakit. Berada di ruang Silver-01.
"Ibu tolong istirahat ya. Monggo berbaring dulu. Saya pasangi infus agar ibu tetap bugar. Kondisi ibu sedikit lemah".
"Iya sus"
Lalu suster Gina memasang infus di lengan kiri Litha.
"Sudah selesai bu. Saya tinggal ya. Jika ada keluhan, silahkan pencet bel nya"
"Terimakasih sus"
"Sama sama"
Setelah suster Gina keluar, di kamar itu hanya ada Ali dan Litha. Litha yang sedari tadi penasaran, langsung bertanya pada Ali.
"Mas, ini benar benar di luar dugaan. Aku harus operasi caesar seperti surat rujukan dari dokter Angga. Dokter Puteri pun juga mengatakan hal yang sama. Lalu bagaimana dengan biaya operasinya nanti mas? Pasti mahal. Tabungan kita untuk membangun rumah kan? Tapi bayi kita juga penting mas."
"Jangan banyak fikiran dek. Tadi mas dapet bonus dari boss. Lumayan bisa buat biaya persalinan dedek bayi".
"Alhamdulillah ya mas".
"Iya dek. Sekarang sudah siang. Adek mau makan apa? Mas beliin di kantin nanti".
"Adek nggak lapar mas. Cuma ngantuk aja. Mau tidur ya. Besok pagi jangan lupa telepon ke rumah mbak Neli agar memberitahukan pada ayah, ibu dan Lidya".
__ADS_1
"Iya dek."
Litha lalu tidur nyenyak di atas brankar. Ia benar benar lelah setelah riwa riwi.