Mati Rasa (Lidya)

Mati Rasa (Lidya)
Bab 20 Berangkat ke Kota


__ADS_3

Happy Reading...


Litha langsung mengajak Amad ke mess bang Joe. Kebetulan bang Joe sudah sampai di mess nya.


"Joe, nih aku ajak Amad kesini. Nanti mas Ali nyusul kesini juga".


"Iya mbak. Jadi ada perlu apa mbak kesini?"


"Kamu tanya gitu tuh, kesannya kayak mbak kesini kalau butuh saja. Kalau nggak butuh, nggak nyamperin kamu gitu ya?"


"Mbak jangan paham. Tumben banget gitu lho, biasanya kalo kesini juga salah satu diantara dari mbak dan mas Ali. Lah ini dua duanya kesini. Pasti ada info penting nih"


"Sebenarnya juga itu tujuan mbak kesini. Tadi mas Ali nyuruh mbak kesini dulu. Dia nanti menyusul. Yah, mungkin mau bicara santai tapi serius juga".


"Jangan berbelit belit lah mbak. Jadi apa tujuannya mbak? Ada info penting apa?"


"Tunggu mas Ali kesini dulu ya. Mungkin sekarang lagi otewe kesini".


Tak lama, yg di tunggu pun muncul.


"Baru selesai mandi, jadi datang ngga barengan" ucap Ali tiba tiba.


"Jadi ada info apa mas? Mbak Litha di tanya berbelit belit. Katanya nunggu mas dulu".


"Jadi gini Joe, kita sudah beli tanah dan mau membangun rumah. Nanti orang tua Litha dan Lidya juga kesini. Kebetulan Lidya libur sekolahnya".


"Alhamdulillah akhirnya bangun rumah juga. Nanti aku dapet tumpangan rumah gratisan nggak ya? Di mess, ruangannya pengap sekali. Kurang luas....hahahaiiii" canda bang Joe.


"Boleh Joe, asal sudah layak di tempati" jawab Litha.


"Berhubung hari ini weekend dan kita sudah ngumpul, gimana kalau kita makan makan. "Bakso Aneka Rasa" di dekat perempatan sana enak lho. Banyak varian baksonya. Ada pedes berlevel, beranak, mercon, bakso biasa, bakso mangkok, bakso jumbo, dan lain lain. Amad pasti juga doyan tuh. Tapi yang traktir mbak sama mas ya? Anggap aja bancaan untuk perayaan memiliki tanah sendiri....hahahaha".


"Ya sudah, berangkat yuk" ajak Ali.


Kini mereka menuju ke kedai "Bakso Aneka Rasa" untuk menikmati makanan favorit Joe.


***


Di kediaman Lidya


Lidya dan kakek neneknya belum sempat bicara soal kepentingan ibunya telfon tadi. Ia terlalu asyik main dengan Dewi sehingga lupa menanyakan hal tersebut.


Malam ini ia putuskan ada apa sebenarnya ibunya telfon tadi. Soalnya kakeknya riwa riwi dari rumah ke rumah, seperti sedang menemui seorang tetangganya.


Sekarang mereka berkumpul di ruang keluarga, menonton TV. Tetapi Mbah Irah, nenek buyut Lidya hanya sedang duduk duduk di luar rumah.


"Nenek buyut, masuk yuk. Malam malam jangan di luar, nanti kedinginan. Masuk yuk. Kita ngobrol bersama sambil nonton TV" ajak Lidya pada nenek buyutnya.


"Iya Nduk".


Lalu mbah Irah pun masuk juga ke ruang keluarga bergabung bersama mbah Inem dan mbah Miskun.

__ADS_1


"Nek, Lidya mau bertanya. Jadi ada apa ibu telfon tadi? Kenapa mengajak Lidya ke kota? Kenapa Lidya tidak di beri tahu hal apa yang membuat Lidya harus kesana?"


"Ibumu mau membangun rumah. Kita semua kesana, kecuali nenek buyut. Nanti nenek buyut nginep di rumah Dewi selama kita tinggal ke kota".


"Dewi nggak di ajak Nek?"


"Enggak Nak. Ibumu menyuruh nenek kesana untuk memasakkan tukang tukang yang membangun rumah ibumu di kota. Sedangkan kakek nanti juga mau bantu bantu kuli nya. Kamu mau bertemu ibumu, sedangkan Dewi dari dulu juga nggak kerasan jika lama lama dikota kan? jadi Dewi nggak ikut ya.".


"Terus kenapa tadi kakek ketuk pintu ke rumah rumah tetangga? Mau pamit sama tetangga? tanya Lidya pada mbah Miskun.


"Kakek sedang menawari tetangga kita jadi kuli Nak. Dan sudah bisa semua yang kakek tawari pekerjaan dari ibumu".


"Jadi kapan kita berangkat ke kota? tanya Lidya antusias.


"Inshaa Allah besok pagi jam 08.00. Tadi kakek sudah berbicara dengan tetangga kita yg akan membantu menguli".


"Horeee"


"Sekarang sudah malam Lid. Kamu tidur atau packing baju baju yg akan kamu bawa besok. Ingat bawa baju yg bagus bagus saja"


"Baiklah Nek"


Lidya menuruti keinginan neneknya, segera packing baju untuk pergi besok. Liburan ke kota setelah semester an. Ahh ini sangat menyenangkan.


***


Mbah Inem berbicara dengan mbah Irah sebelum tidur.


"Ya".


"Besok pagi setelah sarapan, aku antar ke rumah Siti. Sekalian mau pamit"


"Ya, sudah sekarang kamu tata bajumu dan suamimu. Pastikan baju Lidya yg di bawa Lidya patut untuk di pakai di kota biar Litha ibunya tidak malu. Masa udah punya rumah, baju anaknya nanti compang camping"


"Iya bu. Saya pamit ke kamar".


Di kamar, Mbah Inem menyiapkan baju untuknya dan suami. Setelah dipastikan oke semua dan KTP tidak tertinggal, segera mbah Inem menengok Lidya di kamarnya.


"Ternyata anak itu sudah tidur. Aku cek dulu tas mu Lid" ucap mbah Inem dalam hati.


Setelah di cek dan dipastikan tidak ada yang ketinggalan, mbah Inem mengecup kening Lidya.


"Selamat tidur cucuku, esok akan jadi hari yg menyenangkan untukmu karena bertemu dengan kedua orang tua dan adikmu"


Mbah Inem tersenyum, meninggalkan kamar Lidya. Kemudian menuju kamarnya dan berbicara dengan suaminya.


"Lidya sudah tidur. Baju dan barang yang akan dibawa sudah oke semua. Sekarang kita juga harus tidur, besok harus bangun pagi pagi sekali untuk menyiapkan sarapan dan berangkat ke kota".


"Ya udah ayo kita tidur" ajak mbah Miskun.


"Yuk"

__ADS_1


Semua sudah terlelap dalam tidur masing masing.


***


Mentari telah menampakkan cahayanya, artinya hari sudah berganti pagi.


Mbah Inem sudah menyiapkan sarapan lalu membangun Lidya.


"Pinter amat cucuku, sudah bangun"


"Iya dong Nek. Hari ini ke kota kan. Jadi Lidya nggak boleh terlambat".


"Lidya sudah siap sarapan Nek. Ini tas Lidya sekalian ku bawa ke depan ya"


"Yuk"


Kini mereka sudah berada di ruang makan. Semua makan dalam diam. Hanya sesekali terdengar bunyi sendok dan piring beradu.


Setelah acara sarapan selesai, mereka mengantarkan mbah Irah ke rumah Bu Siti. Lalu berpamitan untuk pergi ke kota selama beberapa minggu.


***


Mereka sudah menunggu bus di depan rumah Bu Siti. Karena mbah Miskun sudah janjian dengan para kulinya untuk menunggu bus di depan rumah Bu Siti saja.


Letak rumah Bu Siti menghadap ke jalan raya, jadi memudahkan untuk memberhentikan bus.


Bus yang mereka tumpangi melaju dengan tenang, namun sesekali jika jalanan sepi, bus melaju dengan kencang.


Perjalanan yang di tempuh lumayan lama. Kini mereka di terminal kota tujuan Litha. Dan butuh ganti kendaraan, yaitu mikrolet.


Hanya butuh beberapa menit saja, sudah tiba di gang kostan Litha. Lidya sangat kelelahan masih harus jalan kaki masuk gang kostan. Namun, ia berusaha menyemangati dirinya.


"Sedikit lagi sampai kostan ibu. Aku nggak boleh merepotkan kakek dan nenek" Lidya, semangat ya sayang. Author selalu nyemangati Lidya kok.


🚶


🚶


🚶


🚶


🚶


"Uhhh.... akhirnya sampai kostan ibu juga". Lidya bernafas lega.


💮💮💮


Thanks for reading....


Semangat yoookkk,,

__ADS_1


__ADS_2