
Happy reading....
Pagi itu Litha bangun tidur. Badannya terasa pegal pegal dan perutnya terasa nyeri.
"Aku harus semangat, shalat dulu, masak baru mandi deh. Dan mari kerja demi rumah impian..hihi" ucap Litha dalam hati untuk menyemangati dirinya sendiri.
Litha beranjak dari kamarnya menuju kamar mandi. Ia membasuh muka dan segera berwudhu untuk melaksanakan shalat subuh. Ali sudah bangun sebelum Litha. Ali sedang di mushala lantai atas.
Litha menyusul Ali ke mushala kostan nya. Mereka melaksanakan shalat subuh berjamaah dengan penghuni kostan. Setelah selesai Litha turun dan langsung memasak.
Ia meracik bumbu tumis. Ia mengupas bawang merah, bawang putih dan cabe. Ia berencana membuat tumis kangkung, sambal teri dan tempe goreng. Saat mengupas ia merasa biasa saja, tetapi sekarang saat mengiris bawang bawang an, bagi Litha aromanya menguar luar biasa. Ia langsung mual.
Perut yang tadinya merasa nyeri tambah merasa sakit saat di barengi dengan mual yang berkali kali. Matanya berkunang kunang dan kepalanya terasa pusing.
Perlahan Litha berjalan menuju kamarnya.
"Mas, aku nggak kuat. Tolong mas aja yang lanjutin masak. Badanku benar benar drop mas".
"Kamu kenapa dek? Apanya yang sakit?"
"Tadi aku mengiris bawang dan bumbu lainnya mas., perutku yang awalnya nyeri di tambah mual saat bertempur dengan bumbu dapur. Kepalaku juga terasa pusing. Aku mau rebahan tolong mas aja yang masak ya? Kalau mas capek, kita beli sarapan di depan gang aja gimana mas?".
"Ya udah adek istirahat dulu. Mas yang akan memasak. Kalau di rasa nggak enak badan mending kamu izin aja dek".
"Iya mas. Maafin aku ya".
"Gak apa apa sayang. Mas tinggal masak dulu ya"
"Baik mas".
Ali bergegas ke dapur, melanjutkan pekerjaan Litha. Hanya butuh 30 menit semua selesai. Masakan buatan Ali terhidang di meja kamar kost nya.
"Sayang, mas sudah selesai masak. Mas tinggal mandi dulu ya. Nanti kita sarapan sama sama. Kamu belum mandi ya?"
"Iya mas mandi aja dulu. Nanti terlambat belum sarapan juga. Aku memang belum mandi. Aku berencana izin. Badanku benar benar drop. Aku lemes mas".
"Iya dek. Ya udah buruan telfon mandor atau temen mu untuk izin. Mas mau mandi. Bye".
"Oke".
***
Litha sudah menelfon temannya. Ia memberi tahu keadaannya pada mandornya. Dan mandornya membolehkan untuk izin. Mandornya tahu jika anak buahnya sedang sakit. Ia hanya berpesan, saat esok masuk harus membawa surat dokter keterangan sakit. Pabrik tempat bekerja Litha memang ketat aturannya, agar karyawan disiplin dan tidak berbohong saat izin bekerja.
Ali sarapan dengan menu yang ia buat. Tumis kangkung, sambel teri dan tempe goreng.
Litha hanya melihat Ali makan. Saat ditanya, Litha hanya menjawab nggak nafsu saja.
Ali akan pamit kepada Litha untuk berangkat kerja.
"Dek, mas berangkat ya? Kamu nggak apa apa sendirian di kost atau aku minta sahabatmu kemari untuk menjaga dan menemani kamu?"
"Kamu perhatian banget sih suami. Jadi makin sayang deh. Tapi makasih saran mu. Kamu lupa, Ariyanti kan tempat kerjanya sama dengan aku. Pasti dia masuk kerja lah. Nggak mungkin dia mau kesini demi aku. Kalo kena semprot mandornya gimana?"
"Iya juga ya. Mas lupa. Udah setengah tujuh dek. Mas terlambat, mas berangkat ya. Salim dulu".
Lalu Ali memberikan tangannya pada Litha. Litha menerima tangan itu dan menciumnya.
Ali menyambar kontak sepeda motor di meja TV. Menyalakan motornya dan segera meluncur ke tempat kerjanya. Litha yang menyadari HP Ali ketinggalan di kasur segera mengejar Ali yang saat itu masih sampai gerbang kostannya.
"Mas, hp kamu ketinggalan. Ini aku bawakan".
"Astaga dek. Terimakasih. Mas buru buru dek. Kamu baik bai-"
Ali belum selesai bicara, Litha sudah ambruk.
Bruukkkk...!!!
"Kyaa, sayang kamu kenapa?" teriak Ali
"Ini pasti gara gara hp aku ketinggalan dan kamu mengejar aku demi ngasih hp ini ya. Maafin mas dek. Mas harus bawa kamu ke puskesmas yang dekat saja. Aku harus cari bantuan" ucap Ali dalam hati. Ia sangat panik melihat istrinya tiba tiba ambruk. Ia berlari ke kost sebelah kamarnya.
"Mbak, tolongin saya. Litha pingsan di depan mbak. Ayo ke puskesmas. Mbak yang jagain Litha di motor nanti. Ya mbak?" Ali meminta tolong pada Harti, tetangga kost nya.
"Iya mas. Jangan lupa kunci kamar kostnya"
"Iya aku hampir lupa. Aku panik mbak"
__ADS_1
Ali dan Harti mengunci kost kamar masing masing. Ali segera menyalakan motornya. Litha duduk di jok tengah, sedangkan mbak Harti di belakang untuk menjaga Litha.
Hanya butuh waktu 7 menit mereka sampai. Dan Ali membawa ke IGD.
"Dok, tolong istri saya mengeluh kurang enak badan. Tadi tiba tiba pingsan dok".
"Baik pak. Bapak tunggu di luar ya"
"Iya dok".
Ali keluar dari kamar IGD dan menemui mbak Harti.
"Terimakasih bantuannya ya mbak. Dan maaf mbak saya nggak bisa mengantar mbak pulang. Mbak pulang sendiri ya. Saya harus menunggu Litha mbak. Ini saya kasih ongkosnya. Maaf merepotkan mbak" ucap Ali sambil menyodorkan uang lima puluh ribuan.
"Iya saya paham mas. Saya terima ya. Semoga mbak Litha lekas sembuh mas".
"Aamiin. Makasih mbak. Hati hati di jalan".
"Iya mas".
Setelah kepulangan mbak Harti, Ali mengotak atik hp nya mencari kontak mandornya. Ia tekan dial number dan tersambung di seberang sana.
"Iya Ali ada apa. Kenapa kamu belum sampai, Ini sudah jam 7.30. Mau gaji kamu saya potong?" ucap mandor itu dengan galak.
"Ehh jangan di potong pak gajinya. Justru itu saya mau mengabarkan saya tidak masuk. Saya izin satu hari pak. Ini juga dadakan. Istri saya tiba tiba pingsan saat saya mau berangkat kerja pak. Baru sampai gerbang kost tadi. Sekarang saya sedang di puskesmas terdekat pak".
"Iya. Besok harus masuk tepat waktu".
"Terimakasih pengertiannya pak".
"Baiklah. Semoga istrimu lekas sembuh".
"Aamiin. Iya pak".
Ali menutup telfonnya dan pintu IGD terbuka.
"Bapak suaminya?"
"Ia saya pak".
"Silahkan masuk. Mari"
"Istriku sudah bangun dok? Bagaimana keadaannya?"
Dokter muda yang ber-nametag Bayu itu tersenyum tipis.
"Selamat pak. Istri Anda hamil. Bapak tidak usah khawatir. Jangan biarkan ibu Litha kecapekan ya. Resepnya saya tulis dulu nanti silahkan di tebus di apotik dan untuk admistrasi pemeriksaan silahkan langsung ke administrasi pasien UGD saja".
"Baik dok. Bolehkah saya menemui istri saya?".
"Silahkan pak".
Dokter Bayu meninggalkan Litha dan Ali di kamar UGD.
***
"Mas aku hamil" Litha terharu sampai meneteskan air mata.
"Iya sayang. Dan mas berjanji akan memotong rambut gondrong ini jika makhluk kecil di perutmu ini terlahir laki laki" ucap Ali dengan bangga.
"Mas nggak boleh gitu. Laki laki atau perempuan sama mas. Semoga bayi kita diberikan kesehatan ya".
"Aamiin. Semoga ibunya juga. Ayo kita segera pulang dek. Kita lanjut ngobrol di rumah saja. Masa kita ngobrol di ruang UGD?"
"Baik mas".
Ali menggandeng tangan Litha ke luar dan menyuruh Litha duduk di ruang tunggu.
"Mas mau ke administrasi pasien dulu dan tebus obat dan vitamin kamu. Tunggu disini dan jangan kemana mana sebelum mas kembali".
"Iya mas"
Setelah kurang lebih 25 menit, Ali kembali menemui Litha.
"Sudah dapat dek. Ayo pulang".
Butuh 8 menit mereka sampai di kostan.
__ADS_1
***
Di kostan
"Mbak Litha sudah sembuh?" tanya mbak Harti.
"Alhamdulillah Litha nggak sakit mbak" jawab Litha tersenyum sambil melirik Ali. Ali yang di lirik hanya berdehem.
"Ehhhmmm" Ali berdehem.
"Mas Ali, mbak Litha ini gimana nggak sakit. Tadi pingsan gitu. Malah saya yang bantu nolongin tadi" tanya mbak Harti.
"Litha sedang hamil mbak. Tadi ia pingsan mungkin karena waktu mengejar saya pas badannya lagi drop" jawab Ali.
"Alhamdulillah selamat ya mbak Litha. Lagian mas Ali kenapa meluncur aja kalau mbak Litha sedang mengejar?"
"Tadi itu saya nggak tau mbak kalau Litha mengejar. Itu karena hp saya ketinggalan. Baru tadi pas saya juga sampai gerbang".
"Ya udah kamu istirahat ya mbak Litha. Semoga dedek bayi dan mamahnya sehat selalu dan lancar persalinannya"
"Terimakasih mbak. Kami permisi".
Ali dan Litha memasuki kamarnya untuk beristirahat.
***
Tak terasa setelah dari puskesmas tadi ternyata Litha dan Ali ketiduran.
Mereka bangun pukul 12.30
"Dek ayo kita shalat dzuhur dulu baru makan".
"Iya mas"
Mereka berwudhu dan menunaikan kewajibannya.
Setelah selesai, Ali ke warung membeli lauk saja karena tadi pagi sudah memasak nasi.
15 menit kemudian, ia kembali.
"Ayo makan dek"
"huwekkk...huuwweekk...kamu beli apa sih mas, baunya nusuk gini?"
"Ini telor dadar bumbu bali dek. Ini biasanya juga kesukaan kamu. Ngga boleh bilang gitu ke makanan dek. Nggak baik".
"Tapi aku ngga suka. Mas aja yang makan. Aku pingin roti aja mas. S*ri roti kayanya boleh juga tuh. Beliin gih".
"Kenapa ndak bilang dari tadi dek?".
"Pinginnya sekarang suami ku..hehe"
"Baiklah. Demi buah hati ku".
Ali menuju minimarket terdekat. Dipilihnya s*ri roti dengan macam macam rasa. Vanilla, pandan, coklat ia borong. Mulai yang berbentul bantal, setengah lingkaran hingga yang berbentuk lonjong.
Ali membayarnya di kasir lalu pulang dengan sumrimgah. Berharap kali ini istrinya mau makan. Karena tadi pagi saja, istrinya hanya melihat tanpa mau sarapan.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Masuk mas. Waw..banyak banget ini mas. Makasih ya aku makan semua nih. Boleh?"
"Semua ini memang untukmu dek".
Litha menarik kresek yang dibawa suaminya. Satu persatu ia makan. Sejak pagi memang Litha belum sarapan, karena nggak nafsu. Ia hanya ingin makan roti saja.
Apa pun itu, asal bumil tetap harus makan. Kalau nggak masuk nasi, bisa di ganti ubi, mie, jagung, atau roti. Nggak harus nasi yaaa. Yang penting asupan nutrisi buat si kecil terpenuhi.
Dan satu lagi. Vitamin dari dokter harus di minum rutin. Kalsium mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi. Sedangkan pil TD (tambah darah) nantinya menstabilkan HB (hemoglobin) ketika persiapan akan melahirkan. Sehingga bisa mencegah terjadinya pendarahan. Serta vitamin vitamin untuk pertumbuhan dan perkembangan otak bayi juga wajib diminum.
Setelah memakan semua rotinya. Litha meminum obat penguat kandungan dan vitamin vitamin yang lainnya. Kini ia merasa bugar. Ia tak mual lagi.
Namun itu hanya beberapa saat. 10 menit kemudian, Litha mual lagi dan memuntahkan sebagian roti yang di makannya.
Litha benar benar lelah. Ia pun tertidur.
🥳🥳🥳
__ADS_1
Jangan lupa VOTE dan KOMEN ya. Biar author makin semangat nulisnya. Thanks for reading...