Mati Rasa (Lidya)

Mati Rasa (Lidya)
Bab 5 Kembali ke Perantauan


__ADS_3

Jangan lupa like n vote ya teman teman


Happy Reading


🔥🔥🔥


Mereka pulang ke rumah. Di perjalanan akhirnya Lidya tertidur. Ali yang mengetahui Lidya tertidur, segera mengurangi laju kecepatan motornya.


***


Mereka telah sampai rumah. Ali langsung memasukkan motor ke dalam. Lidya sudah bangun lima menit yang lalu. Litha membawa beberapa belanjaannya.


"Assalamualaikum Bu. Kita sampai nih"


"Waalaikumsalam" jawab bapaknya Litha, Mbah Miskun.


"Lhoh, ibu mana pak? Ini Litha bawain es dawet untuk semuanya" sambil memberikan oleh olehnya di kresek.


"Ibumu lagi di belakang. Sedang memasak buat makan malam nanti. Sebentar lagi juga selesai. Ini bapak taruh meja dulu ya, di minum nanti sama yang lainnya".


"Iya pak. Litha mau ke kamar dulu ya, naruh mainan Lidya".


"Silahkan"


Litha memasuki kamarnya dan di dapati Lidya sedang rebahan.


"Nak, udah sore banget ini. Kamu segera mandi ya. Buruan kamu mandi duluan. Nanti yang mau mandi antri banget lho. Terus nanti kita makan malam sama sama".


"Lidya capek bu"


"Makanya mandi dulu sayang, biar seger".


"Iya deh" dengan langkah malas, Lidya beranjak ke lemari ambil pakaian gantinya. Lalu menuju kamar mandi.


Setelah selesai Lidya ke kamarnya lagi. Anggota keluarga yang lain masih mengantri mandi. Di rumah Lidya hanya ada satu kamar mandi, jadi wajar kalo antri.


***


Lidya masih sibuk dgn mainan barunya. Litha menyiapkan makan malam. Ali packing baju di kamar mereka.


"Ayo semua, tinggalkan kesibukan masing masing. Sekarang kita makan sama sama. Setelahnya kita ngobrol santai" ajak Mbah Inem pada keluarganya


Sekarang semua anggota keluarga sudah di ruang makan. Menu makan malamnya sangat lezat. Ada sayur gori, sambal teri, tempe goreng, kerupuk, rempeyek dan buah buahan. Benar benar menggugah selera.


"Nduk, kamu tadi beli es dawet ya. Enak rasanya. Nenek suka" ucap Mbah Rah pada cucunya


"Iya Mbah Alhamdulillah kalau Mbah suka. Yang lain juga suka kan?" tanya Litha dengan menatap anggota keluarganya.


"Iya suka. Kamu dari dulu sama es dawet mah ga ada bosannya" ejek Mbah Miskun


"Yaaa bapak mah gitu, anak sendiri diejek. Lagian gak apa apa. Kesempatan ini tuh. Mumpung lagi pulang kampung. Besok kan Litha sudah balik ke kota pak. Lah di kota gak ada es dawet se lezat yg ku beli tadi. Rasanya tuh kayak khas banget gitu deh. Soal rasa, lidah tak pernah bohong pak"


"Iya iya. Percaya. Jadi besok beneran kamu sama menantu mau balik ke kota?"


"Ehmm..maaf pak, kalau terkesan terburu buru. Tadi atasanku telfon suruh cepat balik. Lusa ada jadwal kirim barang dadakan ke luar kota, jadi terpaksa besok harus balik" jawab Ali bersungguh sungguh.


"Ya menantu. Kami sebagai orang tua hanya bisa merestui. Semoga jerih payah kalian berkah dan bisa punya rumah sendiri. Aamiin"


"Aamiin. Terimakasih pak, bu. Doa kalian semoga di ijabah Allah SWT."


"Iya nak. Sama sama"


"Ali ke kamar dulu ya pak, bu, mbah. Mau lanjut packing barang"


"Lidya mau main yang di beli kemarin ahh. Lidya juga mau ke kamar".


"Kalo semua sudah selesai makan, Litha beresin piring dan gelas dulu ya, sekalian mau di cuci. Lebih baik bapak, ibu sama nenek istirahat aja biar nggak capek"


"Kami mau ke depan Litha. Ini masih lebaran. Kalau ada tamu, nanti siapa yang mau menemui? Hmmm...."

__ADS_1


"Ya sudah silahkan. Nah, nenek istirahat di kamar dulu ya".


"Iya Nduk".


Semua sibuk dgn kegiatan masing masing. Litha masih sibuk di dapur mencuci peralatan makannya. Tak lupa memanasi sayur yang masih tersisa agar tidak basi.


20 menit kemudian, Litha menyusul ke kamar.


"Mas, udah selesai beres beres barang kita?"


"Udah dek".


"Kamu istirahat dulu mas. Aku masih mau ngobrol sama Lidya sebentar".


"Oke"


Tak lama setelah percakapan tersebut, Ali sudah tertidur. Lidya masih asyik dengan mainannya.


"Udah malam, nak. Kamu belum ngantuk? Masih asyik masak aja?"


"Belum bu. Lidya masih ingin main. Lagian Lidya main gini juga mumpung ibu masih disini. Tadi Lidya dengar percakapan ayah, ibu sama kakek. Kalian besok mau balikkan? Mau pergi lagi kan? Mau ninggalin Lidya kan? Sekarang ibu sama ayah disini juga masing masing pada sibuk. Nggak mau nemenin Lidya main" ucap Lidya dengan mata berkaca kaca.


Tak terasa air matanya mengalir di pipi chubby nya.


"Maafin ibu ya nak. Ibu pergi untuk kembali. Ibu pergi untuk mencari nafkah, untuk menyekolahkan kamu, untuk membelikan mainan kamu, untuk menabung buat masa depan kamu, dan doakan semoga ayah dan ibu mampu membeli tanah di kota ya nak. Nanti rumah itu kita tempati sama sama. Setelah lulus SMA nanti kamu juga akan merantau ke kota. Maaf, bukan ibu egois, tapi ini untuk kebaikan kamu nak. Maaf jika kasih sayang ibu menurutmu kurang" Litha menghapus air mata Lidya. Ia juga meneteskan air matanya.


"Lidya nggak paham apa yg ibu bicarakan".


"Kamu masih kecil Nak. Suatu saat kamu akan mengerti".


"Lidya masih mau main. Ibu kalau mau istirahat, istirahat aja. Besokkan ibu mau balik ke kota?"


"Lidya marah sama ibu?"


"Nggak tuh"


"Dengerin ibu ya nak. Lidya nggak boleh kayak gitu. Ibu mau nemenin Lidya main kok".


"Enggak nak. Lagian ini masih sore, siapa yang ngantuk?"


"Tuh bu. Liat! Sudah mendengkur" kata Lidya sambil menunjuk Ali


"Biarkan ayahmu tidur duluan. Biar nggak kecapekan. Besok kan harus nyetir motor nak. Bahaya kalau ngantuk".


"Lah ibu besok juga naik motor. Bahaya kalau ngantuk".


"Terimakasih kamu sudah perhatian Lidya. Tapi ibu belum ngantuk. Jam 19.30 itu bagi ibu masih sore, lagian ibu belum mengantuk".


"Ya udah ayo main Bu. Besok Lidya nggak akan merasakan ini lagi".


"Lidya nggak boleh berbicara seperti itu. Sekarang Lidya yang jadi penjual makanan, terserah ma jualan nasgor, mi goreng, atau apa aja. Itu alatnya pakai mainan yang di beli kemarin. Nah ibu yang jadi pembeli makanan buatan Lidya ya?" usul Litha pada putrinya


"Siap bu"


Kini mereka asyik bermain. Hingga jam menunjukkan pukul 21.15.


"Kenapa belum tidur?" tanya Mbah Inem sedikit heran melihat kamar Litha masih terbuka.


"Lidya masih mau main Bu, jadi Litha mau nemenin Lidya" jawab Litha


"Lidya, sekarang sudah malam. Pintu depan sudah ditutup, jalanan juga sudah sepi. Jadi lebih baik kamu tidur sayang. Besok main lagi. Biar ibu kamu juga tidur".


"Iya Mbah" Lidya menurut. Kebetulan ia juga sudah mengantuk.


Semua sudah terlelap dalam tidurnya.


***


Matahari mulai memancarkan sinarnya. Pagi itu keluarga Lidya sudah bangun sejak subuh.

__ADS_1


Di tengah tengah kesibukan masing masing, Lidya termenung sendiri, seakan berat melepaskan kedua orang tuanya pergi. Lidya sedih. Lidya melamun. Lidya sesekali menampakkan wajah cemberutnya.


"Sayang, kamu ngapain sendirian disini?" tanya Ali.


"Lidya lagi cari angin aja yah".


"Ayah tau Lidya bohong".


"Beneran".


"Ibumu sudah cerita semua apa yang kalian bicarakan saat semalam ayah sudah tidur. Kamu memikirkan itu Nak?"


"Ahh tidak. Itu bukan apa apa ayah. Lidya sudah terbiasa tanpa kalian. Untung ada kakek, nenek dan buyut yang menyayangi Lidya".


"Kamu nggak boleh berbicara seperti itu nak. Ayah sama ibu juga menyayangimu".


"Tapi kalian mau ninggalin Lidya lagi".


"Itu hanya sementara nak"


"Tapi kalian lama, entah kapan akan mengunjungi Lidya lagi" ucap Lidya sambil terisak.


Ia mulai menampakkan sisi rapuhnya. Ia merasakan perpisahan lagi dengan kedua orangtuanya. Ia menangis.


Sang ayah mendekati dan memeluknya.


"Lidya sebentar lagi akan masuk SD lho. Nggak boleh cengeng lagi. Nanti pas liburan sekolah, Lidya boleh main ke kota".


"Bener begitu ayah?" tanya Lidya dengan mata berbinar.


"Tentu sayang. Sekarang kita sarapan yuk. Semua sudah menunggu kita di ruang makan".


"Baik ayah. Gendooong"


"Oke tuan putri".


Ali menggendong Lidya. Hanya beberapa langkah, sekarang semua sudah kumpul di meja makan.


"Ayo makan makanan yang ada. Harus dihabiskan yang di piring masing masing. Jangan sampai tidak habis. Nanti ayamnya mati" kata Mbah Rah, buyutnya Lidya.


Kata kata itu yang selalu di ucapkan pada Litha dan Lidya. Entah itu mitos atau fakta tapi dengan ucapan itu, Lidya dan Litha tidak pernah menyisakan makanan yang tersaji di piringnya. Mereka selalu menghargai makanan.


Beberapa menit kemudian, sarapan telah usai. Peralatan makan di cuci. Makanan yang masih ada di tutupi kojong.


Litha dan Ali menuju kamarnya. Menyiapkan tas mereka untuk di bawa ke depan. Mereka akan kembali ke perantauan. Kembali ke dunia kerja.


Litha dan Ali menyalami kedua orang tuanya. Mencium dengan takzim. Dan yang terakhir, mereka salaman dengan putrinya.


"Ayah dan ibu pamit ya Nak. Kamu baik baik disini. Nurut sama kakek, nenek dan buyut."


"Iya yah".


Mereka bertiga berpelukan.


"Kami pamit Nak. Pak, Bu dan Mbah kita pamit dulu. Jaga diri baik baik ya, jangan sampai kecapekan. Kalau capek ke sawah, sesekali harus istirahat. Jangan memforsir pekerjaan. Doakan kita selamat sampai tujuan". pamit Ali pada keluarga istrinya.


"Doa orang tua selalu menyertai mu, Nak" jawab mbah Miskun.


Ali sudah siap men starter motornya. Litha sudah naik di jok belakang. Mereka berdua melambaikan tangannya sebagai tanda sampai jumpa.


***


Akhirnya Litha dan Ali kembali ke perantauan setelah menempuh beberapa jam perjalanan.


💫💫💫


Terimakasih sudah baca tulisan retjeh ini.


Up 21.06.2021

__ADS_1


23.16 WIB


__ADS_2