Mati Rasa (Lidya)

Mati Rasa (Lidya)
Bab 6 Kembali Bekerja


__ADS_3

Happy reading....


Akhirnya Litha dan Ali kembali ke perantauan setelah menempuh beberapa jam perjalanan. Sesekali mereka istirahat untuk makan minum dan sholat.


Di Kota (perantauan)...


Mereka sampai di kostan. Letak kostan nya dekat area pabrik. Kebetulan Litha dan Ali memilih lokasi yang dekat dengan tempat kerja. Biar efisien waktunya, biar bisa mengirit uang transportasi nya dan cita cita memiliki rumah di kota segera terwujud.


Mereka berdua hidup di kost sederhana. Makan seadanya, yang penting bisa dinikmati berdua. Biaya kost nya juga murah. Pada saat itu sekitar 85.000 rupiah per bulan. Termasuk biaya air dan listrik.


Di kost itu, ada dua lantai. Lantai dasar untuk penghuni kost yang terdiri dari beberapa kamar. Dan lantai atas untuk mushola. Setiap ba'da magrib, Ali mengajar anak anak penghuni kost untuk mengaji dan Ali juga sebagai imam mushola di kost nya.


***


Satu hari setelah balik, Ali benar benar di suruh atasannya untuk mengirim barang ke luar kota.


Litha sudah terbiasa sesekali di tinggal bekerja ke luar kota. Toh itu hanya sementara. Sekitar satu malam atau dua malam saja Litha di tinggal pergi, jika pengiriman barang ke luar kota.


Ali bekerja di salah satu pabrik terkenal dan ternama sebagai sopir pengiriman barang. Gaji nya sepenuhnya di berikan untuk Litha, istrinya. Ia hanya memegang beberapa persen saja. Jika kurang, ia meminta lagi pada Litha. Ali percaya, jika istri yang mengelola gajinya maka bisa menabung. Bukan tanpa alasan, Ali tak mau memegang uang terlalu banyak, di khawatirkan sering membeli rokok. Jika sudah begitu, maka membeli tanah dan membeli rumah akan tertunda.


"Dek, mas mau pamit bekerja ke luar kota. Kamu baik baik di kost ya. Mas bekerja buat nafkahi kamu sama Lidya dan menabung demi membangun rumah pribadi kita, biar kita nggak ngekost terus".


"Iya mas, aku paham. Kamu baik baik di sana ya. Kalau capek, istirahat. Kalau ngantuk, tidur sebentar. Jangan di paksakan. Aku berdoa untuk keselamatanmu mas".


"Terimakasih dek."


"Sama sama mas. Jangan lupa sholatnya ya".


"Iya sayangku".


Litha mencium tangan Ali dengan takzim. Ali mencium kening Litha. Lalu mereka berpelukan.


Kebiasaan setiap berangkat kerja ya begitulah bagi pasangan suami istri itu. Duh, bikin baper ya mak? Yang belum nikah ngga usah bayangin...hehe


Ali sudah menghilang dari pandangan. Litha di kostan merasa suntuk. Pagi pagi sekali, ia di tinggal suaminya bekerja. Daripada suntuk, ia memutuskan membeli sayuran secukupnya. Ya, secukupnya. Karena jika memborong banyak bahan masak, pasti akan basi. Maklum, tak ada kulkas.


Setelah beberapa menit, sayuran di dapat. Litha dengan lihai segera memetiki sayurannya. Menu sederhana planning nya kali ini. Hanya sayur bening, sambal tomat dan lele goreng. Baginya ya ngirit aja lah. Masak banyak banyak malah mubadzir, hanya di makan untuk dirinya sendiri.


Setelah selesai menu sederhana itu, Litha mencuci piring dan membersihkan kost nya.


***


Beberapa hari yang lalu, Ali pamit bekerja ke luar kota. Hari ini Ali sudah pulang.


Tok..tok..tok!


Tok..tok..tok!


"Assalamualaikum dek"


"Waalaikumsalam mas. Alhamdulillah mas udah pulang." Litha mencium tangan Ali dengan takzim.


"Iya dek. Mas capek banget. Mas mau mandi, kamu siapin makanan buat aku ya".


"Iya mas".


Ali bergegas ke kamar mandi. Sedangkan Litha menuju dapur. Kebetulan Litha tidak memasak. Ia merasa kurang baik baik saja. Saat kedatangan tamu bulanan, badan Litha merasa pegal pegal dan perutnya keram.


Di dapur Litha memasak telor ceplok dan nasi goreng dengan bumbu instan. Ia memasak yang gampang saja agar segera bisa istirahat.

__ADS_1


Ali yang sudah keluar dari kamar mandi langsung menuju kamarnya. Litha sudah membawa nasi goreng buatannya ke kamar kost.


"Bikin apa tadi dek?"


"Telor ceplok sama nasi goreng bumbu instan mas. Maaf kalau menunya kurang menggugah selera. Aku bener bener nggak kuat lama lama di dapur. Badan aku pegel pegel, perut aku keram lagi dapet tamu bulanan. Padahal ya mas, gak seperti biasanya pas dapet tamu aku tuh begini. Nggak tau ini kenapa kok ngerasain badan pegel dan perut keram".


"Jawaban kamu panjang banget dek, kayak jawaban ujian Bahasa Indonesia...hehehehe. Iya nggak apa apa, aku pasti makan masakan buatanmu. Aku habiskan semua tak akan tersisa".


"Terimakasih mas. Itu silahkan di makan dulu. Keburu dingin".


"Iya dek. Mas makan ya".


"Iya. Aku lihatin mas makan aja ya".


"Kamu mau? Nih mas suapin.. (ak ak ak...!)"


"(Aeemmm...). Kayak pengantin baru dulu ya mas?" Litha terkekeh


"Iya dek. Kalau kamu mau lagi, mas suapin lagi ya... (ak..ak..ak!)"


"Nggak mas. Mas aja yang makan. Lah, mas tadi kenapa nggak nelfon aku kalau pulang dari luar kota hari ini? Tau pulang hari ini, jika badanku ngga enak gini kan aku bisa beli makan di luar mas".


"Iya dek. Kan kejutan buat kamu. Mas kangen dek. Tapi adek lagi dapet tamu bulanan. Mas nggak bisa nyentuh adek ya? Ngga bisa mant*b mant*b sama adek...hehe"


"Sabar mas. Di tahan dulu. Mas kan kuat imannya?" ucap Litha dengan tersenyum.


"Iya dek. Ohh iya kamu masuk kerja kapan dek?"


"Besok mas".


"Oh besok. Ya udah sekarang kan adek lagi ga enak badan. Adek istirahat aja ya? Apa perlu mas ke luar sebentar beliin jamu kunyit untuk melancarkan tamu bulanan kamu dek? Mas ngga tega lho lihat kamu sesekali meringis gitu karena perutmu yang keram".


"Di jamu j*go atau nyonya m*nir masih buka kali ya dek. Ya udah mas keluar sebentar ya. Adek tiduran aja nunggu mas bawa jamu kunyitnya".


"Hati hati ya mas".


"Iya. Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam"


Butuh beberapa menit saja, Ali sudah kembali dan membawa jamu untuk istrinya.


"Assalamualaikum dek"


"Waalaikumsalam mas. Gimana?"


"Ini dek, kamu tunggu di situ aja ya Mas mau pindahin ke gelas buat kamu minum"


"Terimakasih mas"


"Nah, ini dek udah mas tuang. Adek minum pelan pelan ya. Jangan lupa baca basmallah". Ali menyodorkan gelas yang berisi jamu.


"Bismillahirrahmanirrahim..."


Glek...glek...glek....!


"Udah habis mas. Terimakasih ya, mas perhatian banget. Padahal baru pulang kerja dari luar kota, belum sempat istirahat, sekarang repot repot beliin adek jamu".


"Mas kan udah bilang nggak tega lihat adek meringis kesakitan. Lagian ya dek besok kan kamu udah masuk kerja. Mas pengin adek lekas sehat biar kerjanya semangat. Ingat dek, demi rumah impian kita. Kita harus saling support satu sama lain, harus perhatian kan jika salah satu di antara kita nggak baik baik saja?".

__ADS_1


"Tapi aku inginnya kita tetap saling support dan saling perhatian walaupun sedang baik baik saja mas".


"Iya dek. Ayo sekarang bobok dulu dek. Besok kita harus kerja. Kita nggak boleh terlambat bangun".


"Mas bobok duluan aja. Adek mau ke kamar mandi ganti p*mbalut. Sepertinya jamunya sudah bereaksi mas. Perut adek nggak begitu keram, darahnya mengalir deras sekali".


"Alhamdulillah kalau jamu nya cocok dek. Semoga esok hari pas kamu bangun, badanmu terasa lebih bugar".


"Ini semua berkat perhatian dan kepedulian mu padaku mas. Aku permisi sebentar".


Litha ke kamar mandi sebentar untuk mengganti p*mbalutnya. Butuh beberapa menit saja.


"Mas, kenapa belum bobok?"


"Nungguin kamu dek".


"Kan aku udah bilang, mas bobok duluan. Kok malah nungguin aku?".


"Mas mau peluk guling hidup dek...hehehe"


"Ya udah ayok"


Mereka sudah memejamkan matanya. Berharap mendapat mimpi indah yang menjadi kenyataan.


Hingga pagi menjelang, mereka bobok nyenyak. Berpelukan satu sama lain. Ditinggal bekerja jauh rupanya saling merindukan.


LDR itu ngga enak ya pemirsa? Tetapi demi pekerjaan dan rumah impian, harus sedikit berkorban.


"Mas, ayo bangun. Mas mandi duluan. Adek masak. Sebelum antri kamar mandinya mas."


"Mas masih ngantuk dek".


"Demi rumah impian kita mas"


"Oke lah."


Ali bergegas ke kamar mandi. Litha memasak soto ayam dan menggoreng kerupuk.


Semua sudah tersaji. Gantian Litha yang mandi sekarang. Lalu Ali shalat berjamaah di mushola kost bersama penghuni kost yang lainnya.


Setelah selesai, Ali turun tangga. Lalu sarapan bersama Litha.


Tepat pukul 05.34 Ali mengantar Litha ke pabrik. Lalu menuju tempat kerjanya sendiri. Mereka berdua sama sama bekerja di kawasan industri.


Litha pulangnya bagaimana jika jam kerja nya dengan Ali tak sama?


Litha pulang dengan jalan kaki. Jarak dengan kostannya kan gak begitu jauh.


***


Hari pertama bekerja bagi Litha sangatlah melelahkan. Otot ototnya terasa tegang. Mungkin akibat sekian lama libur lebaran...


💫💫💫


Author, Inshaa Allah update-nya selalu malam yaa. Mungkin setiap malam atau dua malam sekali.


Kalau siang sibuk. Terus momong balita juga.


Thanks for reading

__ADS_1


Jangan lupa di vote atau komen ya... biar Author makin semangat on fire 🔥🔥🔥.


__ADS_2