MATREALISTIC GIRL

MATREALISTIC GIRL
Bab 50


__ADS_3

Apple Knox 50


Setelah makan malam, mereka berempat duduk di beranda belakang di mana cuaca cukup bagus dan tak terlalu dingin.


Apple mengambil selimut yang ada di sofa ruang tengah dan menutup tubuhnya karena dia memakai dress pendek.


Knox yang melihat hal itu tentu saja mendekat ke arah Apple dan merengkuh bahu Apple.


Apple yang merasa nyaman dengan hal itu, menyandarkan kepalanya di bahu lebar Knox.


"Lea, maukah kau mengantarku berjalan jalan di kota Moskow? Aku lebih suka melihat pemandangan dari pada kedua manusia yang sedang dimabuk asmara ini," ucap Julian.


Lea tertawa mendengar ucapan Julian.


"Oke, ayo. Kuajak kau keliling kota. Oh ya, kau tak punya kekasih, bukan? Karena aku tak ingin ada salah paham nantinya dengan kekasihmu" ucap Lea.


"Tidak, dia baru saja putus cinta," sahut Knox.


"Shut up, Knox!!" ucap Julian yang beranjak dari sofa.


"Baiklah, ayo kita jalan jalan saja," kata Lea tersenyum.


"Bye, Lea," kata Apple pada sahabatnya itu.


"Bye," sahut Lea dan mencium pipi Apple seperti biasanya.


"Aku pergi dulu, Knox," ucap Julian.


"Kalau bisa kau jangan pulang ke sini. Pulanglah ke apartemen Lea untuk sementara," kata Knox.


Julian tak menanggapi ucapan Knox dan pergi dari sana bersama Lea.

__ADS_1


*


*


"Kau ingin menonton film di sini?" tanya Knox.


"Apakah bisa?" tanya Apple balik.


"Ya. Ada proyektor dan layar di sini," jawab Knox.


"Baiklah," ucap Apple tersenyum.


Lalu Knox mengambil sesuatu di bawah meja dan menyalakan tombol remotnya.


Tak lama kemudian ada layar besar yang muncul dari tiang di depan mereka.


"Aku akan betah tinggal di sini," ucap Apple.


Knox tersenyum dan memeluk Apple dari belakang.


"Thriller saja," jawab Apple.


"Mengapa tak drama romantis saja? Bukankah wanita suka film drama semacam itu?" tanya Knox.


"Akan berbahaya jika menontonnya bersamamu," jawab Apple.


Knox tertawa pelan dan mengecup puncak kepala Apple.


"Oke, terserah kau saja," sahut Knox dan dia pun memilih film bergenre thriller yang akan ditontonnya bersama sang kekasih.


Dan mereka pun menikmati sepanjang malam berdua dengan menonton film saja.

__ADS_1


*


*


Lea mengajak Julian berjalan jalan di Sveta Park. Sebuah taman yang banyak terdapat lampu di dalamnya.


Taman ini disinari oleh cahaya gemerlap dari ratusan lampu bulat yang indah. Biasanya lampu di taman ini akan dimatikan jika musim white night tiba. White night adalah waktu malam di Rusia, namun matahari tetap bersinar dan langit sangat cerah hingga waktu subuh tiba.


"Ini adalah Taman Sveta. Dan Sveta artinya cahaya dalam bahasa Rusia. Taman ini masih tergolong baru maka dari itu masih cukup ramai yang datang kemari," ucap Lea menjelaskan tentang tempat yang mereka datangi itu.


Lea menggelung rambut panjangnya agar tak tertiup angin semilir.


Julian melihat hal itu dan tersenyum.


"Kau tak suka dengan rambut panjangmu?" tanya Julian sambil berjalan.


"Ya, tapi nenekku menyukainya," jawab Lea.


"Nenekmu tinggal di mana?" tanya Julian.


"Bersama kedua orang tuaku di Afrika Selatan. Ayahku bekerja di sana," jawab Lea.


"Jadi kau sendirian di Rusia?" tanya Julian lagi.


"Ya, bersama Apple," jawab Lea tersenyum.


"Kau akan bekerja di Moskow, Julian?" tanya Lea.


"Ya, mengurus perusahaan keluargaku," jawab Julian.


"Kau kerabat Knox?" tanya Lea.

__ADS_1


"Jika ditelisik, keluarga kami masih berhubungan," jawab Julian.


Lea mengangguk dan kemudian mereka duduk di sebuah kursi taman.


__ADS_2