MAUREN

MAUREN
Kemarahan Devand


__ADS_3

Devand bangkit dengan kedua kaki yang masih merengkuh, ia memegangi selangkangannya dengan tangan kanannya yang rupanya biji kejantanannya merasakan sakit yang luar biasa akibat tendangan kuat sang istri, sedang tangan kiri Devand menutup kedua matanya untuk menahan air matanya yang dirasanya akan mengalir membasahi raut wajah tampannya.


Mauren yang merasa bersalah dari sikapnya kepada Devand di depannya, ia ikut bangkit dan duduk dengan gelisah di hadapan Devand.


“KELUAR!!!!!” Pekik Devand hingga menyayat telinga Mauren.


Mauren hanya terdiam membisu tanpa kata, benaknya berperang ingin sekali membujuk suaminya untuk mengobati sakit yang di rasakan dari selangkangannya. Namun ia masih ragu untuk melakukannya jika saja suaminya akan menolaknya. Perkataan Devand yang memekik seakan membungkam telinganya karna otaknya terlalu fokus pada bayangannya.


“Keluar, apa kamu ga denger??!!!” Karna emosi yang di dapati dari kekasih hatinya di tambah lagi dengan kesakitan yang di dapatkan dari istrinya, tanpa di sadari Devand mencekik kuat leher Mauren yang masih terdiam di hadapannya.


“Devand, su.ami.ku aku akan per...gi.. tapi.. lepasin du...lu tangan ka...mu” Mauren berusaha mengatakan sesuatu meski nafasnya sudah tersenggal seakan jiwanya akan terlepas dari raganya. Kedua tangannya memegangi tangan Devand yang masih mencengkam keras lehernya.


Mendengar perkataan Mauren serta melihat wajah Mauren yang sudah memerah dan juga bulir bening menetes dari sudut matanya, Devand segera melepas genggaman tangannya dari leher istrinya.

__ADS_1


Tanpa menunggu lagi, Mauren segera meninggalkan Devand sendiri yang kembali memegang selangkangannya.


Mauren merasa bersalah, dan merasa tak nyaman, tapi mau bagaimana lagi, dirinya juga terintimidasi dengan sikap Devand.


***


Pagi yang sangat buta Mauren terbangun dari tidurnya karna suara gemerisik dari beberapa pelayan wanita yang sedang membersihkan ruang sekitarnya.


Matanya terbuka secara perlahan hingga menampakan ilustrasi kejadian dengan suaminya semalam. Nyawanya sesaat terkumpul setelah mengingat kesakitan leher akibat cengkraman tangan kekar suaminya masih terasa sakitnya.


“Lina itu apa?” Janggal Mauren segera mengungkapkannya.


“Ini tuan yang nyuruh saya buat mindahin ke brankas gudang nyonya” lembutnya suara Lina membuat Mauren seakan memiliki teman baru.

__ADS_1


“Boleh aku lihat?” Kembali lagi Mauren menjanggal dengan sebelah tangan yang menengadah.


Lina tidak menjawab pertanyaan Mauren, ia menyerahkan kotak merah tersebut kepada Mauren. Setelah di raihnya, Mauren membuka lipatan kotak tersebut hingga memperlihatkan sebuah cincin yang sebelumnya telah di pasangkannya kepada jari Devand saat pernikahannya berlangsung.


“Dia ga mau mengakui statusnya. Andai aku juga bisa, aku juga mau melepaskannya. Tapi tanpa cincin ini Steven Richard tidak akan berhenti menggangguku” Mauren bergumam dalam benaknya setelah melihat benda yang berada di balik kotak merah yang kini telah di genggamnya.


Mauren mengembalikan kotak merah tersebut kepada Lina setelah menutupnya kembali.


Selesai dengan gerakan tubuh ciri khas nya saat terbangun dari tidurnya, Mauren bergegas pergi meninggalkan rumah mewah yang terasa bak bui nya tanpa melakukan sarapan terlebih dahulu, namun ia membersihkan dirinya dan memakai pakaian yang sudah di kenakannya sebelum acara pernikahannya terlebih dahulu.


Karna kini ia tinggal bersama Devand tanpa membawa pakaiannya ikut serta pindah bersama dirinya, hingga menyulitkannya saat ingin mengganti pakaiannya.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2