MAUREN

MAUREN
Perbincangan


__ADS_3

“Baiklah Mr.Lidant kita tunggu pertunjukan selanjutnya” Steven berlalu begitu saja mendapati kekecewaannya setelah mematikan kembali rokoknya.


Tanpa pengantaran kepada seorang pengusaha yang lebih besar darinya, karna Devand merasa jengah terhadap lawan bicaranya, tidak memandang status maka ia tidak dapat menghormati tamunya. Namun ia mengangkat tubuhnya dari tempat duduknya untuk berdiri di hadapan meja kerjanya.


“Berani-beraninya bersekongkol sama cewe buat dapat saham aku” Devand memukul meja yang berada di hadapannya dengan kedua tangannya yang sudah di kepalkan sekuat tenaganya.


“Sir, apa yang harus kita lakukan?” Keadaan ini memang sungguh sudah biasa bagi Nicky ketika harus melihat atasannya melampiaskan amarahnya pada suatu benda tidak bernyawa.


“Cari tau data wanita kemarin” perintah Devand dengan nada tegasnya.


Nicky hanya mengangguk menyetujui perintah atasannya dan segera meraih note book nya untuk mengerjakan tugasnya.


“Dia tidak akan mendapat kemenangannya. Tunggu saja besok !” Devand kembali menyeringai dengan senyuman iblisnya.


Tidak butuh waktu lama untuk Devand mendapatkan yang di inginkannya dari Nicky karna setelah Nicky mengotak atik note booknya, setengah jam kemudian suasana hening terlerai.

__ADS_1


“Sir, nama wanita itu Mauren Tessalonica, dia anak yatim piatu, punya adik wanita satu yang kuliah di Jepang. Pekerjaannya sebagai asistant artis dan juga pelayan bar,” jelas Nicky panjang lebar.


“Pelayan bar?” Devand mengulang perkataan Nicky setelah Nicky memberitahukan pekerjaan Mauren yang di rasanya sungguh menjanggal karna seorang wanita yang memiliki hubungan dengan Steven Ricard harus bekerja di sebuah bar, jelas Devand menebak bahwa Steven dan Mauren memiliki sebuah siasat buruk terhadapnya.


“Yes sir, dia bekerja di bar Armor milik Steven Richard, untuk aktris yang mempekerjakan dia adalah adik kandung anda sir,” kembali lagi Nicky menjelaskan


“Hebat, mereka telah menjebakku, maka aku akan mengembalikannya. Mereka fikir mereka sedang bermain dengan siapa?” Devand menyeringai, kembali lagi senyuman iblisnya terlontar.


Sementara tidak ada perbincangan yang di bahasnya lagi, Devand bergegas pergi menemui kekasih hatinya. Tidak lupa selalu di buntuti oleh asistant nya, sedang sekertarisnya akan menghandle segala pekerjaan yang bisa di tinggalkannya.


***


Sebelum hidangan yang di pesannya tiba, Devand mencoba memperbincangkan maksud kedatangannya menemui kekasih hatinya.


“Babe, aku lagi kesulitan, apa kamu mau membantuku?” Tanpa basa basi Devand mengutarakan isi hatinya.

__ADS_1


“Selama bisa aku bantu” Sisca tersenyum di akhir kalimatnya, namun setiap senyuman yang terlontar kepada Devand hanyalah fiksi belaka.


“Permintaanku kali ini akan menyakiti hatimu sayang, tapi kamu harus tau kalo hatiku cuma buat kamu,” Devand mencoba melerai kegelisahannya dengan mengajak becanda wanita pujaannya.


“Aku percaya sayang,” seperti sebelumnya, Sisca selalu berkata di akhiri senyum manisnya.


“Aku harus menikahi seseorang, hanya untuk menjaga perusahaan dan reputasiku” jelas Devand dengan lirihnya serta sedikit keraguan menyeringai dalam nada bicaranya.


“Apa dia akan selalu berada di sampingmu?” Seperti khawatir akan hatinya, sebenarnya Sisca merasa lega jika seorang wanita akan berada di samping kekasih palsunya untuk menggunakan kesempatannya menghindari kehadiran orang yang tidak di cintainya.


“Dia akan selalu berada di rumahku, tapi aku yang akan selalu menghindari rumahku” jelas Devand sedikit gelisah.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2