MAUREN

MAUREN
Salah Menilai


__ADS_3

Pagi hari yang akan meninggalkan dinginnya embun, rumah mewah kediaman keluarga Shaquile rupanya mendapat kehangatan dari perbincangan antar keluarga karna hari ini sang anak bungsu tengah bebas dari tugasnya untuk beberapa pekan ke depan setelah selesai memerankan seorang tokoh utama pria dalam drama yang di bintanginya dan juga sang kepala keluarga sengaja meliburkan dirinya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah merasa lelah setelah perjalanan jauh ke luar negri yang di tempuhnya selama beberapa minggu ini. Keadaan ini membuat perbincangan melibatkan mereka.


Nyonya Shaquile rupanya tidak fokus dengan topik pembicaraan yang sedang di perbincangkan kedua anaknya karna ia lebih fokus terhadap phone cellnya yang di pakainya untuk sebuah percakapan pesan singkatnya.


“Mama apa lagi selingkuh? liat HP sampe senyum-senyum sendiri gitu?” Jeffrey sang anak yang terkenal dengan sifat periangnya mencoba menggoda ibunda tercintanya ketika melihat ibunya yang selalu tersenyum setelah phone cellnya mendapat suara panggilan tanda pesan masuk tersebut.


“Mama lagi bujuk Mauren buat temanin mama ke acara arisan siang ini” penjelasan Liana dengan nada lembutnya setelah menaruh phone cellnya di atas meja yang tersedia karna sudah mendapat persetujuan dari menantu kesayangannya.


“Mama jangan terlalu manjain dia” ketus Garvin


“Sudah satu bulan ini kakak kamu ga pulang ke rumahnya, jadi sekarang tugas mama buat menghibur Mauren” jelas Liana.


Garvin tertawa bengis menyikapi pernyataan ibundanya.

__ADS_1


“Dia ga akan stress kalo di tinggal abang, toh mereka ga saling mencintai” kembali lagi Garvin berkata dengan nada ketusnya.


“Mama tau mereka tidak saling mencintai, setidaknya hukum alam mengatakan kalau mereka pasangan syah” jelas Liana kembali.


“Ya hukum alam, kalo tubuhnya udah di sentuh orang lain apa kita masih harus membelanya dengan alasan hukum alam?” Masih saja Garvin berkata dengan ketusnya.


Jeffrey tertawa terbahak mendengar pernyataan terakhir dari adik bungsunya, tawanya membuat seluruh penghuni membisu.


“Dia bilang dia ga pernah di sentuh abang, tapi aku pernah liat tanda merah di lehernya” Garvin mengutarakan isi hatinya yang sudah 1 bulan ini di pendamnya hingga membuatnya bersikap dingin terhadap kakak iparnya.


Jeffrey terperanjat dalam kejutan hingga membuatnya berfikir sesuatu untuk memaknai perkataan adik bungsunya.


“Kapan? Sebulan yang lalu kah?” Senggal Jeffrey

__ADS_1


“Dari mana kamu tau sebulan yang lalu? Jangan-jangan kamu yang nyentuhnya” Garvin memutar balik perkataan kakak pertamanya.


Akhirnya Jeffrey mencoba menceritakannya kepada adiknya kejadian tentang curhatan Mauren yang menyatakan bahwa ia pernah di sentuh lehernya oleh suaminya namun tidak sempat berhubungan intim karna Mauren yang sudah menyerang suaminya. Penjelasan Jeffrey membuat kedua orang tuanya tertawa, lain dengan Garvin yang menjanggal.


“Apa benar kejadiannya gitu? Apa kamu udah tanya abang?” Garvin yang bersifat seperti Devand tidak mudah percaya dengan omongan orang lain sebelum mendapat bukti ia mengutarakan kejanggalannya.


“Bukan nanya lagi, besoknya abis kejadian itu aku yang nganter dia ke dokter kandungan” Jeffrey tertawa kecil di akhir kalimatnya mengingat kejadian saat membawa adik pertamanya ke sebuah rumah sakit ternama dengan meminta pihak bersangkutan menyembunyikan kejadian yang menimpa pada adik pertamanya.


Garvin tidak mampu berkata lagi setelah mengingat kedua abangnya yang berpapasan di sebuah rumah sakit satu bulan yang lalu, ia segera berlalu meninggalkan keluarganya tanpa pamit.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2