MAUREN

MAUREN
Harus Bagaimana


__ADS_3

Nicky hanya bisa memenuhi perintah atasannya yang sudah di ikutinya selama 5thn ini.


Sementara di tempat Mauren, ia sudah kembali ke bar untuk bekerja. Seperti yang di lakukan sebelumnya, sebelum mulai melakukan kegiatannya di dalam bar tersebut, Mauren akan menunggu sejenak di sebuah ruang yang di essediakan untuk karyawan setempat, di temani seorang pria yang tak kalah tampannya dengan Devand.


Hans Gio melihat Mauren wanita yang sudah di incarnya beberapa bulan silam mendapati raut wajah Mauren yang murung serta mata yang membengkak. Hans Gio duduk di samping Mauren yang sudah duduk terlebih dahulu di sebuah bangku di ruang loker.


“Flow, mata kamu kenapa?” Ucap Hans Gio lelaki yang bekerja sebagai pengantar lantunan musik di bar tersebut.


“Ga liat mata aku sembab abis nangis apa?” Canda Mauren yang akan selalu berkata dengan sahabat lelakinya dengan nada demikian.


“Iya tau maksudnya kenapa bisa nangis?” Janggal Hans Gio merasa penasaran dan ingin tahu.


Sebelum bercerita, Mauren menarik nafasnya, lalu menghembuskannya perlahan.


“Hans Gio apa kamu percaya kalo sahabat sendiri bisa ngejebak kamu?” Rupanya Mauren sudah mendapati kecurigaan terhadap Sisca sahabatnya.


“Sahabat kamu siapa? Sisca, Swan apa adik aku?” Hans Gio kembali menjanggal

__ADS_1


“Sisca,” ucap singkat Mauren seraya menolehkan wajahnya pada Hans Gio.


“Aku udah bilang jangan terlalu deket sama orang, apa lagi cewe.” Hans Gio kembali mengingatkan perkataan yang sudah pernah di ucapkannya kepada Mauren.


Kembali lagi Mauren menarik nafasnya sedalam-dalamnya lalu menghembuskannya secara perlahan. Hatinya kalut dan kacau.


“Emang jebakan apa yang udah dia bikin?” Karna Mauren hanya terdiam, Hans Gio kembali membuka suaranya.


Mauren menjelaskan tentang kejadian sebelumnya yang sudah di alaminya tanpa menyebutkan nama pelaku pria yang sudah menyentuh tubuhnya tersebut.


“Apa Steven udah tau?” Masih saja Hans Gio menjanggal meski Mauren sudah menceritakan sepenuhnya.


“Kamu harus mengakuinya Ren, cepat atau lambat kebenaran pasti akan terungkap," baru kali ini Hans Gio mengelus tubuh Mauren mencoba menenangkan hati Mauren.


“Aku harus mengumpulkan keberanian dulu” baru kali ini juga Mauren tidak menepis elusan Hans Gio.


Perbincangan berlangsung hingga mereka harus memulai pekerjaannya.

__ADS_1


***


Pagi yang masih buta untuk Devand yang biasanya ia akan berada di tempat kerjanya setelah mentari meninggalkan sinar ultra violetnya, kali ini karna ia mendapat seorang tamu, ia sudah bersiap menyambut tamunya ketika aktifitas karyawan tengah di mulai.


“Mr.Lidant anda sudah mengambil wanitaku, apakah yang akan anda lakukan jika saya menyebar beritanya?” Ancam Steven yang saat itu sudah duduk di kursi tamu besebrangan dengan kursi kebangsaan Devand.


“Wanita anda?” Devand mengakhiri katanya dengan senyuman miring dari sudut bibirnya.


Steven tidak menjawab kejanggalan lawan bicaranya, ia segera meraih rokoknya lalu di bakarnya.


“Biarkan saya menyimpan saham di DE Cruise 10% maka saya akan membungkam para awak media” ancam Steven kembali.


“Mr.Richard anda terlalu berambisi untuk mendapat saham itu, namun itu tidak semudah yang anda kira.” Meski nadanya melembut, Devand mengatakan sesuatu hanya untuk gertakan lawan bicaranya.


“Baiklah Mr. Lidant kita tunggu pertunjukan selanjutnya,” Steven berlalu begitu saja mendapati kekecewaannya setelah mematikan kembali rokoknya.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2