
Pagi menjelang siang yang begitu cerah menyambut Mauren yqng sedang gundah. Kehidupannya kali ini sungguh membuatnya merasa jengah mengingat harus melakukan rencananya meski tanpa celah. Namun keputusan di ambilnya sudah, kini ia hanya bisa berdiri pasrah.
Karna hari ini hari libur untuk Mauren dari mengurus seorang actor adik iparnya, ia terbangun saat mentari mulai meninggalkan sinar ultravioletnya.
Baru saja ia membuka matanya dengan setengah nyawa yang masih tertinggal di alam mimpinya, ia mendapati sebuah panggilan dari phone cell nya. Tangannya meraih phone cell miliknya yang terletak di sebuah meja.
Mauren mencoba menjawab panggilannya meski nomor ponsel yang memanggilnya tidak tersimpan di dalam buku memory benda pipih dan kotak tersebut.
“Hallo,” Mauren menyapa lawan bicaranya dengan suara yang masih parau.
“Mauren, ini mama. Apa kamu lagi nangis?” Ucap Liana sang mertua ketika mendapati suara Mauren yang tidak seperti bisanya.
“Oh mama, aku baru bangun mah, ” jelas Mauren masih dengan nada paraunya meski nyawanya sudah terkumpul sepenuhnya karna mendapat kejutan dari sang mertua yang sudah memanggilnya saat matanya baru saja terbuka.
“Mama tau kamu libur hari ini makanya mama mau ajak kamu pergi” ucap Liana.
__ADS_1
“Oh ia mah nanti aku ke rumah mama” tanpa bisa menolak Mauren berfikir untuk menemui mertuanya segera.
“Baiklah mama tunggu” ucap Liana sebagai penutup perbincangan.
Tanpa menunggu waktu lama Mauren segera merapihkan dirinya, masih tanpa sarapan terlebih dahulu ia bergegas menuju rumah sang mertua.
30 menit waktu yang di tempuh Mauren dalam perjalanan dengan menggunakan kendaraan umum, akhirnya ia sampai di tempat tujuan. Sesampainya ia di rumah mertuanya, ia mendapat sambutan hangat dari sang kakak ipar yang sudah menyukainya selama 6bln ini.
“Flow, ngapain kamu ke sini?” Tanya sambutan dari Jeffrey seraya berjalan menghampiri Mauren yang sudah duduk manis di sofa ruang tamu bersama Nyonya Shaquile.
Sebelum Jeffrey mengeluarkan katanya kembali untuk menjawab candaan Mauren, Garvin berjalan menuju pintu yang memisahkan ruang tamu dan ruang keluarga tersebut.
“Vin” sapa Mauren.
Garvin hanya menoleh sejenak dan langsung berlalu pergi tanpa mengucapkan sapaan atau balasan sapaan Mauren.
__ADS_1
“Kenapa dia?” Jeffrey sebagai kakak yang mengetahui bahwa adiknya memiliki kedekatan dengan wanita pujaannya, setelah melihat tingkah adiknya yang berubah dingin terhadap Mauren iapun mengungkapkan kejanggalannya.
“Lagi ada masalah kali” Mauren mencoba melerai kekhawatiran Jeffrey yang padahal iapun menjanggal seperti Jeffrey.
Hanya perbincangan tentang kehidupan Nyonya Shaquile beserta keluarganya yang menjadi topik bahasan mereka. Setelah beberapa jam berlalu, Nyonya Shaquile yang melihat pakaian Mauren tampak sudah pernah di kenakannya pada hari pernikahannya, dengan inisiatifnya ia mengajak Mauren untuk berbelanja ke sebuah mall.
Tentu saja Mauren tidak akan menolak, selain untuk menghargai mertuanya, iapun sangat membutuhkan beberapa pakaian yang layak di gunakan olehnya setelah statusnya menjadi Ny. Lidant.
Acara bersenang-senangpun berakhir ketika sang Fajar mulai menyusut.
***
Sore hari menuju malam yang sungguh melelahkan bagi Mauren yang sudah menemani sang mertua bersenang-senang. Iapun kembali menuju rumah suaminya, meski sangat enggan ia menginjakan kakinya kembali di rumah tersebut. Atas bujukan ibu mertua yang mengharuskannya tetap tinggal di dalam sangkar emas tersebut akhirnya Mauren hanya bisa mengikuti kemauan mertua yang sudah sudi menumpahkan ketulusannya kepadanya.
***
__ADS_1
Bersambung